Into Your Arm – Chapter 16

Ren duduk di buritan. Jangkar sudah diturunkan dan perahu berhenti total. Mereka berada di tengah laut. Yang terlihat di sekitar Ren hanya laut dan langit yang biru. Kata Yunna tadi, mereka bisa berenang di tempat ini, main jet ski atau apapun juga. Tempat ini aman. Tidak ada ikan hiu atau ikan jenis lainnya yang berbahaya.

“Kamu tidak ganti baju?” tanya Keiko.

Ren suka dengan cewek ini dan temannya, mereka ramah dan tidak sombong. …

“Aku tidak membawa baju renang.”

“Mau aku pinjamkan?” celetuk Yunna bergabung dengan mereka. Duduk di buritan.

Tidak enak menolak tawaran Yunna, Ren mengikutinya ke kamar dan menatap bikini yang dikeluarkan Yunna. Yunna tidak membawa baju renang jenis lain. Lagi pula tubuh Yunna kurus, ia tidak perlu takut ada lemak yang menyembul berbeda dengan Ren.

“Aku tidak bisa mengenakan bikini.” erang Ren ketakutan. Membayangkan tubuhnya hanya mengenakan BH dan celana dalam seperti melihat buntelan bakpau.

“Kamu bisa mengenakan kembali kaos gombrongmu kalau mau. Setidaknya dengan bikini kamu tidak perlu khawatir tubuh kamu terlihat. Kamu mengertikan maksudku.”

Ren mengangguk dan berganti pakaian. Seperti saran Yunna, kaosnya berhasil menutup lemaknya dengan baik. Ia kembali bersatu dengan Yunna dan Micky. Keiko serta Jack sudah turun ke bawah, berenang di laut lepas.

“Begitu lebih baik. Kamu mau naik jetski? Samuel sendang menyalakan motor mesin. Berguna juga dia.” ucap Yunna.

Ren bisa melihat Yunna meledek Micky dengan memuji-muji Samuel. Tapi Micky cuek saja. Mungkin dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Yunna.

“Tapi dia tidak bisa membuat kamu nyaman seperti inikan?” tanya Micky dan mulai memijit pundak Yunna. Pacarnya itu langsung mendesah keenakan. Melihat dua orang itu, pipi Ren jadi bersemu merah. Astaga, kenapa acara pijit memijit bisa terlihat seksi seperti itu. Ren memutuskan untuk menyingkir. Menjenguk Gina mungkin?

Ia mengetuk pintu, Ben masih ada di dalam dan terlalu kurang ajar jika ia menerobos masuk. Cowok itu membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Gina masih tertidur tapi raut wajahnya lebih baik. Sudah tidak sepucet tadi.

“Dia sudah membaik.” lapor Ben tanpa mengalihkan pandangannya dari Gina. Menolak keinginan dirinya untuk memandangi Ren. Tidak tahan, ia kembali memandangi pungung Ren. Ia bisa melihat bikini merah yang dikenakan cewek itu. Ia ingin memeluk Ren. Punggung cewek itu terlalu mengoda. Buru-buru dipalingkan wajahnya ketika melihat Ren membalikkan badan.

“Kamu mau ikut main jetski? Samuel sedang menyiapkan 2 motor.”

Mendadak ia merasa perutnya seperti ditonjok ketika mendengar nama Samuel keluar dari mulut Ren. Ia menangguk dan berkata akan menyusul setelah berganti pakaian. Gina sudah bisa ditinggal.

Saat ia keluar, Micky dan Yunna sedang menduduki satu jetski dan satunya lagi dinaiki oleh Samuel.

Padahal Ben belum membuka mulutnya untuk bertanya, tapi cewek itu seperti bisa membaca pikirannya dan berkata, “Aku kalah suit. Jadi mereka pergi duluan.”

Ia mengangguk mengerti. Tidak masalah.

“Jack dan Keiko sedang berenang, entah kemana sekarang. Aku tidak menemukan mereka.”

“Mungkin mereka ke taman laut di depan sana.” unjuk Ben. Ia tahu ada taman laut di sekitar sini karena ia pernah membaca dalam pamlet pulau ini.

Gantian Ren yang menangguk. Setiap gerakan Ren, tidak luput dari mata Ben. Ia baru sadar kalau kaki Ren yang sebelah kanan ada lecek. Entah apa yang dilakukan cewek itu. Kenapa Ren begitu cuek dan tidak menjaga badannya seperti cewek-cewek lainnya.

Sekoyong-koyong, ombak besar menghantam mereka. Ben sempat menarik Ren dan melindungi cewek itu dari siraman air laut. Membuat tubuhnya basah kuyup. Tapi ia tidak peduli, malah lebih mengkhawatirkan Ren. Tubuhnya tidak cukup besar untuk menutupi Ren rupanya, karena cewek itu tetap basah, membuat kaosnya tembus pandang. Ia bisa melihat bikini merah itu lebih jelas sekarang.

Ia menaikkan dagu Ren dengan tangannya, niatnya hanya ingin memastikan keadaan Ren. Diterpa ombak sebesar tadi sudah pasti membuat siapa saja terkejut dan bisa saja Ren kelilipan terkena air laut atau meminum air tersebut.

Ia merapikan rambut Ren yang menempel di pipi cewek itu. Membersihkan air yang mengenai mata Ren. Dan seharusnya ia berhenti di sana, bukannya menyentuh bibir Ren,  mempersempit jarak diantara wajah mereka dan mencium Ren.

Ben tidak pernah tahu kalau ciuman bisa menyebabkan orang sesak nafas. Ia tidak tahu kalau ciuman bisa membuatnya ingin merengkuh cewek di hadapannya ini. Ciumannya dengan Gina pernah tidak bergejolak seperti ini. Ciumannya dengan Gina tidak pernah membuatnya ingin menculik cewek itu dan mengurungnya di dalam kamar berduaan. Ciumannya dengan Gina lebih seperti ia mencium ibunya, hanya dipenuh perasaan sayang dan hormat.

Ben melepaskan Ren sesaat hanya untuk mengambil nafas, tapi ia mendengar bunyi mesin Jetski datang mendekat. Buru-buru ia melepaskan diri dari Ren dan melambai-lambaikan tangan pada Micky.

Membantu Yunna dan Micky naik kembali ke kapal. Lalu membantu Samuel naik juga. Micky mengajarinya dan Ren cara mengendarai motor air itu dan setelah siap, mereka melesat berdua. Ia sempat mendengar Samuel bertanya pada Ren, apa cewek itu perlu ditemani atau tidak dan ia senang Ren menolak cowok itu. Dengan demikian, dia bisa kembali berduaan dengan Ren.

Ren memacu jetski dengan perlahan dan Ben mengikuti cewek itu. Takut kalau terjadi sesuatu padanya. Kalau dulu dia membantu Ren dengan terpaksa dan sering kali tanpa sadar. Sekarang ia sepenuhnya ingin menjaga Ren.

“Ben….” teriak Ren untuk mengalahkan suara ombak dan deru mesin, “Kita lomba sampai ke sana.”

Ren menunjuk taman laut yang tadi ia unjuk. Ben mengangguk dan langsung menjejak pedal gas, membuat motor itu melesat dan terbalik. Ben terlempar dari motornya. Ia sempat mendengar teriakan Ren sebelum tubuhnya terhempas ke dalam laut.

Dadanya terasa sesak karena tekanan air laut. Kupingnya berdengung dan matanya merasa perih. Tangannya kebas dan berat untuk digerakan. Namun Ben berhasil berenang kembali ke permukaan. Ren membantunya naik ke atas jetski yang ditumpangi Ren.

“Kita kembali dulu… Biar Jack yang mengambil jetskiku…” erang Ben memberi perintah pada Ren. Ia memeluk pinggang Ren, merebahkan kepalanya di punggung cewek itu. Bersandar sepenuhnya pada Ren. Ia tidak bisa membayangkan kalau seandainya saat ini ia bersama Gina, cewek itu pasti akan berteriak panik dan menangis.

Tapi dengan Ren, cewek ini bisa dengan tenang mengantarnya kembali ke kapal, bercerita tanpa tergagap dan kembali ke lokasi kejadian dengan Samuel untuk mengambil motornya. Walau ia ingin menghentikan Ren dan menyuruhnya untuk tetap di sisinya, suaranya tidak bisa keluar. Ia melihat Gina keluar menyambutnya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Gina, ia sudah cukup enakan dan keluar dari kamar karena mendengar ribut-ribut.

Walau Ben mengeleng dan tidak terluka tapi raut wajah Ben terlihat cemas. Entah mengapa, Gina bisa menebak apa yang dicemaskan cowok ini. Ren….

Samuel dan Ren datang dengan jetski mereka. Ren langsung naik dan menghampiri Ben. Tapi ketika melihat Gina duduk di samping Ben, ia hanya tersenyum dan melambai ke pasangan tersebut. Ia malah duduk di samping Samuel yang sedang mengecek jetski tadi. Entah sejak kapan cowok itu berubah menjadi mekanik. Pasangan lainnya juga hilang entah kemana.

“Kenapa diam begitu?” tanya Samuel, setelah menengok sebentar ke Ren.

“Ada yang rusak?” tanya Ren ala kadarnya.

Samuel menjelaskan terlalu terperinci sampai menyebut nama mesin yang tidak bisa dimengerti oleh Ren, ia hanya mengerti bahwa jetski itu harus diperbaiki.

“Kenapa kamu tidak naik ke atas? Memang tidak panas?” tanya Samuel lagi, ia menjulurkan kepalanya untuk melihat ke geladak kapal, Ben dan Gina ada di sana. Ia mendegus karena mendadak mengerti apa yang sedang dihindari Ren.

“Daripada mikirin cowok yang tidak mungkin itu, lebih baik kamu ke dalam, ambilkan minuman untukku.”

Ren bangun dan melakukan yang disuruh Samuel. Melewati pasangan Gina dan masuk ke dalam dek. Mengambil beberapa makanan dan minuman untuknya dan Samuel. Yunna memberitahu kalau kapal sedang menuju kembali ke daratan.

“Acara senang-senang kita jadi banyak masalah yah.” ujar Yunna sambil tersenyum.

Ren mengeleng, “Tidak, ini liburan terbaik yang pernah aku jalani.”

“Aku senang mendengarnya. Kalau sudah kembali ke Seoul, tetap berhubungan yah. Aku suka denganmu.”

Tentu saja Ren mengangguk. Ia tidak mungkin menolak berteman dengan orang menyenangkan seperti Yunna.

“Ngomong-ngomong Ren, Ben kenapa bisa sampai mental?” tanya Micky, ikut bergabung.

“Itu salahku, aku mengajaknya berlomba…”

“Hei, itu salah Ben sendiri, dia selalu terlalu bersemangat jika menyangkut lomba. Bahkan mungkin kalau lomba itu mengenai siapa yang paling cepat buang angin, dia juga akan terpancng.” hibur Micky.

Ren tersenyum mendengar kelakar aneh dari Micky walau sepertinya mungkin saja Ben memang akan ikut terpancing dan memaksakan diri buang angin.

“Ren, lama amat sih…!” tegur Samuel dan buru-buru minta maaf. Ia tidak tahu ada orang lain di sana kecuali Ren. Cewek ini juga bagaimana sih, disuruh mengambilkan makanan malah mengobrol di sini.

“Makan nih. Aku ganti pakaian dulu. Dingin juga di dalam sini.”

Selesai mandi, Ren bertemu dengan Gina yang sedang tidur-tiduran di kamar. Khawatir kalau Gina masih sakit, Ren menawari lagi obatnya.

“Tidak, aku sudah enakan. Tapi Ren….”

“Hemmmm?” tanya Ren sambil mengeringkan rambutnya. Gina menghampirinya dan membantu mengeringkan rambut dengan blower. Ia tidak biasa diurus orang lain, jadi ketika Gina berdiri di sampingnya sambil mengeringkan rambutnya, Ren tersenyum.

“Kamu jangan sama Ben yah…” ucap Gina lirih.

“Apa?” tanya Ren, suara Gina terhalang bunyii blower di samping kupingnya. Gina mengulang kembali ucapannya tapi ia tetap tidak bisa mendengar,jadi ia mengambil hair dryer tersebut dan mematikannya.

“Apa?” ulang Ren.

“Ben baik yah.”

Sebelah alis Ren terangkat, “Ya, Ben baik. Kamu beruntung punya pacar seperti dia.”

“Benarkah?” tanya Gina lebih kepada dirinya sendiri. Lalu kenapa dia malah menginginkan orang lain, erang Gina dalam hati.

Ren tertawa mendengar pertanyaan Gina. “Don’t worry girl. Ben selamanya akan bersama kamu. Dia memujamu. Semua orang bisa melihatnya.”

Yah, ia juga tahu Ben memujanya, jawab Gina dalam hati. Tapi kenapa rasanya itu tidak cukup. Rasanya ada yang salah, beberapa hari dengan Ben malah membuat dia uring-uringan. Ia malah ingin berada di tepat lain. Berada bersama Ren malah terasa lebih menyenangkan.

“Ngomong-ngomong Gina, aku mau tanya soal Samuel. Dia itu orangnya seperti apa sih?“

Gantian dahi Gina yang menyerengit. Ada urusan apa antara Ren dan Samuel.

“Maksud aku, apa dia punya pacar? Apa banyak cewek yang mengejarnya?”

“Dia itu playboy. Tidur dengan semua jenis cewek dan tidak malu menerima bayaran jika ada yang mau membayarnya.” ucap Gina tanpa menutupi, ia tidak ingin Ren mempertimbangkan sepupunya tersebut. Untuk menegaskan maksudnya Gina menambahkan, “Bahkan ada banyak cewek yang terus mengikuti dia kemana pun dia pergi.”

Gina tidak tahu kalau ucapannya itu malah meyakinkan Ren kalau Samuel kalau cerita cowok itu benar adanya. Kalau begitu, ia bersedia membantu Samuel. Hitung-hitung untuk membalas pertolongan Samuel kemarin.

Mereka tiba di daratan saat matahari sudah menyelinap ke balik cakrawala, mempersilakan bulan mengantikan tugasnya. Dan seperti biasa Yunna menyampaikan jadwal mereka, besok siang mereka sudah kembali ke Seoul.

Ren merasa lega, kalau kembali ke Seoul, maka ia tidak perlu lagi berhubungan dengan Ben. Ia tidak perlu lagi berpikir kalau dia menginginkan pacar sahabatnya itu.


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 16

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s