Into Your Arm – Chapter 17

Beberapa hari berlalu sejak acara liburan mendadak ke pulau. Ren kembali ke kehidupannya sehari-hari. Ancaman Samuel terbukti hanya bualan belaka. Sampai detik ini, cowok itu tidak pernah menunjukan batang hidungnya. Ren amat lega, karena ia tidak perlu memusingkan apa yang harus ia lakukan jika ia benar-benar menjadi tameng Samuel dari cewek-cewek kejarannya.

Tapi hari-hari tenangnya hanya bertahan 5 hari, tepat hari Jumat, Samuel muncul di kampus, membuat kehebohan yang bikin panas.

Awalnya Ren tidak tahu cowok itu datang. Hanya saja setiap orang yang melihatnya langsang tertawa cekikikan. Membuatnya bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya.  tapi begitu melongo dari lantai atas, dari kelasnya. Ren bisa melihat cowok itu memakirkan mobilnya mobil porche Panamera berwarna hitam yang entahlah berapa harganya, pastinya tidak murah. Ren mendengus begitu melihat pakaian cowok itu. Singlet putih dan sweater abu-abu dan celana digulung seperti orang habis kebanjiran.

Yang membuat Ren tidak tahan, Samuel mengunakan TOA, speaker dan meneriakan namanya dengan diimbuhi panggilan bodoh, tolol, ajummah, cewek berisik, dan makian lainnya.

Tidak tahan, Ren berlari keluar dan meninggalkan kelasnya. Ia terus berlari walau dosennya memanggilnya. Pokoknya dia akan membuat cowok itu menyesal sudah mempermalukannya.

Samuel langsung bisa mengenali Ren walau ada banyak cewek yang berkumpul di hadapannya. Dengan rambut panjang tergerai, Ren memang terlihat berbeda dengan Ren yang biasa ditemuinya kemarin-kemarin. Tapi wajah jutek Ren terlalu khas.

Sebetulnya Samuel sudah ingin menagih janji Ren sejak kepulangan mereka tapi ia sibuk dengan pekerjaan yang tertunda dan baru berhasil menyempatkan diri hari ini.

Cewek itu mendengus dan melipat tangan di depan dada. Terlihat luar biasa jengkel. Masih dengan jeans belel, robek-robek dan kemeja gombrong kota-kotak. Betul-betul tidak ada feminimnya, Bobby Kim bisa menangis melihat cewek seperti ini akan dibawanya nanti. Tapi daripada membawa cewek lain yang pasti akan membuat dia pusing, lebih baik Ren deh.

Samuel tidak banyak berbicara, ketika Ren sampai di hadapannya. Ia hanya tersenyum dan membukakan pintu mobil untuk Ren. Dan cewek itu masuk dengan patuh.

Lihat, betulkan, ia bahkan tidak perlu menjelaskan apa-apa mengenai kedatangannya di kampus Ren, cewek itu bisa mengetahui dengan pasti, kalau ia ingin menagih janji.

Mobil Samuel berhenti di rumah pantai milik Bobby Kim yang dipakai untuk after party  show mereka kemarin. Samuel mendapat kehormatan menjadi model perancang busana tersebut.

“Dimana?” tanya Ren, menolak untuk turun, padahal Samuel sudah membukakan pintu cewek itu. Ia mendengus dan menarik paksa Ren masuk ke dalam rumah. Setiap orang yang melihatnya, menatap bingung. Tapi Samuel tidak peduli, ia terus menarik Ren sampai menemukan kursi kosong dan mendudukan Ren di sana.

“Sakit, bodoh!” gerutu Ren, sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang digenggam Samuel tadi. Cowok itu cuma tersenyum di balik kacamatanya lalu duduk di sebelahnya. Kalau bangku yang mereka duduki bentuknya normal bukannya sebuah beach-bench, Ren pasti tidak akan terlalu mengubris cowok itu, tapi karena ini bench, dan Samuel melongsorkan tubuhnya di sampingnya, memamerkan senyum sok ramah serta otot-otot lengan yang melekat di sweaternya, membuat Ren mengedik geli. Perutnya merasa mulas dan ingin muntah.

“Tunggu, kalian, kok bisa ada di sini?” tanya Yunna dan tentu saja dengan Micky.

Rasanya mustahil melihat pasangan yang satu ini terpisahkan. Ren tersenyum pada dua orang itu dan membiarkan Samuel yang menjelaskan semuanya. Heran juga kenapa sikap cowok itu berubah penuh hormat kalau di depan Yunna. Tapi Ren juga maklum akan hal itu, Yunna mengeluarkan aura penuh wibawa yang tidak bisa dijelaskan oleh Ren. Menuntut semua orang untuk bersikap patuh dan tunduk padanya.

“Aku lupa kamu seorang model. Mau duduk bareng?” tawar Yunna.

Melihat Samuel menolak, tanpa sadar, Ren menghela nafas. Ia bukan tidak suka bersama Yunna, tapi ia takut bertemu dengan teman Micky yang satu itu.

Sejak pulang dari pulau kemarin, rasanya ia tidak pernah bisa memandang Ben dengan cara yang sama. Setiap kali Gina menyebut nama pacarnya itu, ia selalu terkejut dan terbengong-bengong. Ia tidak yakin bisa menjaga sikap jika ia bertemu dengan Ben lagi.

Ren melihat-lihat tempat ini, rumah dengan kolam renang dan halaman super luas. Heran bagaimana tempat ini terasa sejuk walau tepat di pinggir pantai dan ia tidak mencium sama sekali bau amis.

“Kalau kamu penasaran siapa yang punya tempat ini, itu orangnya datang. Dan tolong jaga sikap kamu. Kamu tidak mau menyinggung perancang terkenal itu.”

Ren langsung mengerti maksud Samuel, ketika ia melihat cowok dengan baju putih kembang-kembang dan berlian di kuping serta kalungnya. Ia sampai harus menutup mulutnya untuk tidak melongo, melihat dandanan ajaib Bobby Kim.

“Ini cewek yang kamu ceritakan kemarin?” tanya Bobby Kim kemudian menilai Ren dari kepala sampai ke ujung kaki. Kemudian ia menepuk tangannya meminta cewek itu berdiri.

Ren perlu ditark oleh Samuel untuk menyadari kalau ia harus berdiri, untuk menanggapi tepukan tangan tersebut. Dengan ogah-ogahan, Ren berdiri dan ia sempat menatap Samuel garang. Entah apa yang lucu dari kejadian tadi, tapi Bobby Kim tertawa dan mengedipkan mata dengan Samuel.

“Ini akan menarik. Kalian harus ikut denganku sekarang.” ujar Bobby Kim kemudian menepuk tangannya lagi.

Ren menoel lengan Samuel meminta petunjuk. Ia sama sekali buta dengan isyarat yang dilepar Bobby Kim tadi, tapi pastinya bukan sesuatu yang baik, karena sekarang Samuel tertawa terpingkal-pingkal dan mengusak-usak rambutnya.

Mereka masuk ke dalam rumah dan melewati lorong penuh mural yang fantastis. Ren seperti masuk ke dunia fantasi dengen elf, pixy dan unicorn.

Entah apa yang dipikirkan oleh pemilik rumah dan artisnya, tapi sungguh amat sayang. Kalau ia diberikan lahan luas seperti ini, ia akan memindahkan ladang hijau ke dalam sini. Sehingga si pemilik rumah bisa mendapatkan alam yang berbeda. Tapi ia suka mural itu. Membangkitkan sisi kekanak-kanakannya sendiri.

Dasar, Samuel, cowok itu memang tidak bisa melihat orang senang, dia malah menarik Ren. Mencekal lehernya mungkin lebih tepat.

Masuk dalam kamar, Ren disuruh duduk dan dirias paksa, kemudian pakaiannya dicopot serta diganti dengan kain putih penuh debu dan bercak lumpur. Ren tidak bisa berkutik karena dikepung oleh tiga cewek besar. Setelah selesai, ia ditarik lagi oleh cewek-cewek itu dan dilempar ke tengah ruangan penuh lampu, kamera dan manusia.

Ia tidak bisa melihat dengan pasti berapa orang yang ada di sana, ada lampu sorot yang menyorot langsung ke wajah Ren, nyaris membuatnya buta.

“Model wanita kita sudah tiba. Bawa ini, dan bersikap biasa saja. Anggap tidak ada siapa-siapa di sini.” perintah cewek besar tadi dan menyerahkan palet lukisan serta kuas ke tangan Ren.

Mau tidak mau Ren berjalan menuju kanvas berukuran 120 cm yang ditempel ke dingding dan berdiri di sana beberapa saat.

Ia yakin orang-orang mulai tegang melihat dirinya hanya mematung di sana, tapi jujur saja, ia tidak ada ide ingin mengambar apa di kain putih tersebut.

“Daripada bingung, gimana kalau kita semprot saja cat ini ke sana.” ujar Samuel yang sudah bergabung dengan Ren, berikut beberapa model cowok lainnya.

Ren perhatiakan pakaian Samuel sama kacaunya dengan dirinya, hanya saja, cowok itu masih mendapat celana jeans untuk bawahan sedangkan tubuhnya hanya diikat dengan kain kucel tadi.

Ia menaikan bahu, “Terserah…”

Dan seperti dikomando, cowok-cowok itu menyibak kuas cat dengan aneka warna ke arah kain putih tadi. menjadikan lukisan abstrak campur aduk dan paling tidak beraturan yang pernah ditemui Ren. Tapi ia malah bergerak mendekat ke kain tersebut, kemudian mengunakan kuasnya membentuk percikan-percikan tadi menjadi bentuk yang lebih jelas.

Ia berhasil membuat bunga matahari, tulip, mawar, beberapa pohon, mobil dan jalan raya. Tentu saja ia meminta bantuan Samuel untuk menambahkan beberapa warna di tempat yang disetujuinya.

Decak kagum berkumandang di tempat itu ketika Ren menyelesaikan lukisan asalnya. Betul-betul asal. Bunga bertebaran dan tidak beraturan. Tapi ia puas.

“Tunggu, ada cat menempel.” ujar Samuel sambil mengelap bibir Ren. Membuat mereka disorot puluhan kamera dan pipi Ren memerah.

Samuel tersenyum dan mengenggam tangan Ren kemudian mengecup keningnya.

Kejadian itu begitu cepat. Pikiran Ren masih kosong bahkan ketika ia kembali ke belakang panggung. Namun tubuhnya lebih sadar dibanding otaknya, karena ia sukses mendaratkan tamparan kencang ke pipi Samuel dan membuat cowok itu berdiri mematung  di sampingnya.

Ren berlari keluar dari rumah tersebut. Pokoknya secepat mungkin pergi dari tempat ini.

Ia tidak memperhitungkan kalau sekarang mereka ada di pinggir pantai, yang artinya ia harus berjalan sejauh 200 m untuk sampai ke jalan utama, dan entah berapa ratus m lagi ia baru bisa menemukan bus-stop.

Sambil berjongkok dan memeluk lututnya, Ren menangis di pinggir jalan.

Sebal….

Ren menahan sekuat tenaga, ia tidak mau menangis! Ia tidak ingin mencucurkan airmata karena cowok kurang ajar seperti Samuel. Tapi rasa kesalnya terlalu menumpuk. Samuel sudah kelewatan kali ini. Cowok itu MENCIUMnya di depan orang banyak. Apa yang akan dipikir orang-orang jika melihatnya besok.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 17

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s