Into Your Arm – Chapter 18

Ren….?” tanya Ben.

Cewek itu hanya mendongkakkan wajahnya ketika dipanggil tapi begitu tahu Ben yang berdiri di depannya, cewek itu langsung memeluk Ben dan menangis di pundaknya.

Tadinya Ben tidak yakin Ren yang sedang berjongkok dengan pakaian kumal seperti pengemis. Jadi ia melambatkan mobilnya hanya untuk memastikan.

Kemudian ia mengenali gelang kaki yang selalu dipakai Ren waktu mereka di pulau kemarin, jadi memutuskan untuk turun dan menghampiri cewek itu.

Dalam usahanya menenangkan Ren, ia memikirkan berbagai kemungkinan alasan dari Ren yang menangis di pinggir jalan. Hanya ada 1 penjelasan yang masuk akal, dan itu membuat ia geram.

“Kamu ke sini dengan Samuel?” tanya Ben yang langsung membuat Ren berhenti menangis dan menegang dalam pelukannya. Ben mendorong Ren, agar dia bisa melihat wajah Ren lebih jelas.

Dari raut wajah Ren, Ben tahu ia tidak salah menebak. Samuel yang mengajak Ren pergi ke rumah Bobby Kim. Samuel seorang model, wajar jika diundang ke after party seorang perancang. Ia juga diundang, tapi sedikit terlambat karena bentrok dengan jadwalnya. Yang tidak dimengerti oleh Ben adalah kondisi berpakaian Ren saat ini dan airmatanya. Sebaiknya Ren punya penjelasan yang masuk akal. Jika tidak, ia tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada Samuel.

Ia meminta Ren masuk ke mobilnya. Mereka perlu berbicara ke tempat yang lebih pribadi. Tempat dimana ia bisa mendengarkan cerita Ren tanpa harus merasa was-was ada yang mengenalinya. Tempat yang cukup tertutup dan aman.

“Kamu mau diantar pulang?” tanya Ben, dan Ren mengangguk. Cewek itu tidak menangis tapi tampangnya masih tetap cemberut dan sekarang Ben merasa cewek itu lebih terlihat kesal dibanding sedih. Memancingnya untuk berkata, “Apa yang Samuel lakukan padamu?”

Wajah Ren langsung memucat, sepucat kertas A4 yang biasa dia buar coret-coret menulis lagu. Sepucat gelang mutiara yang dikenakan cewek itu. Sejak kapan Ren mengenakan gelang yang feminim seperti itu? pikir Ben. Menurutnya warna mutiara itu malah membuat kulit Ren makin terlihat pucat dibanding terlihat segar.

“Gelang itu juga dari dia?” tanya Ben, suaranya terdengar lebih tenang dibanding perasaan kesal, cemburu dan emosi lainnya yang saling bertabrakan. Membuatnya semakin ingin tiba di rumah Ren.

Tapi jarak dari pantai tadi ke rumah Ren amat jauh, perlu waktu 2 jam. Ben menolak untuk diam-diam saja kali ini. Tempat ini cukup amat untuk pembicaraan apapun juga. Ia cukup memasang topi cap di kepala Ren, maka orang tidak akan mengetahui siapa cewek yang duduk di sampingnya.

Karena memperhatikan pakaian Ren, Ben kembali bertanya soal gelang tadi. Ren masih belum menjawab pertanyaannya tadi. Malah tepatnya Ren belum menjawab apapun juga sedari tadi. Apa sih yang ingin disembunyikan oleh Ren? Memangnya dia pikir, seorang Ben tidak akan mengetahui skandal yang dibuat oleh Ren jika ia mau bertanya. Mengingat bahwa bisa saja skandal itu yang terjadi, Ben kembali gemas. Ia menggigit bibir bawah, memaksa dirinya untuk tenang. Mendesak orang seperti Ren hanya akan membuatnya semakin takut untuk membuka diri.

“Kamu tidak mau cerita?”

“Bukan begitu. Aku cuma bingung mau mulai darimana.” ucap Ren gelagapan, ia terlalu asyik menatap Ben. Ia seperti kembali mengenal cowok ini. Pakaian Ben memang amat sederhana, hanya kaos dengan jaket dan celana jeans. Tapi potongannya itu rasanya begitu pas, begitu mencerminkan karater Ben yang seksi dan kharismatik.

Astaga, Ren baru saja mengatakan kalau Ben itu seksi….

“Bagaimana kalau kamu mulai dengan gelang itu?” ujar Ben tidak sabar. Ia menarik gelang tersebut dengan ujung jarinya dan menjepretnya kembali ke pergelangan Ren. Sebetulnya dia ingin menarik gelang itu hingga copot tapi akal sehatnya masih bekerja dan melarangnya bertindak tidak sopan.

“Itu dari asisten Bobby Kim…” dan mengalirlah cerita singkat soal pengalaman yang masih begitu jamak untuk Ren. Ia bahkan tidak mengerti apa yang dia lakukan di atas panggung tadi. Rasanya itu bukan peragaan busana.

Seakan mengerti kebingungan Ren, Ben berkata, “Itu namanya showcase. Ada banyak jenis, mungkin yang kamu lakukan tadi adalah opening shownya, kamu bilang kamu melukis di atas kain lebar dan besar kan, mungkin Bobby Kim akan membuat baju dari kain tersebut dengan corak buatan kamu.”

Otomatis senyum merekah di bibir Ben setelah melihat wajah terkejut Ren. Cewek itu selalu bisa membuatnya tertarik, tidak peduli apa yang dibuatnya.

“Lalu kamu menangis dan kabur karena dicium oleh Samuel?”

“Oh please, jangan diingatkan lagi. Aku ingin muntah sekarang.” erang Ren sambil bercanda.

Tentu saja Ben tertawa, mana mungkin dia bisa diam saja mendengar protes Ren. Ia senang cewek itu tidak menyukai ciuman Samuel. Tapi bagaimana dengan ciuman darinya, bukankah mereka juga pernah berciuman dulu.

Sial, kok jadi memikirkan ciuman itu sih. Ia memperbaiki posisi duduknya dan memalingkan muka dari Ren. Berbicara dengan cewek itu tidak perlu melihatnya terus bukan? Lagipula ia perlu melihat jalan, ia sedang menyetir bukan? Dan kenapa dia perlu semua alasan itu hanya untuk memalingkan matanya dari Ren????

“Kamu ingin buang angin yah? Kok mendadak tidak bisa diam begitu sih?”

Tuduhan Ren tentu saja membuat Ben tertawa ngakak. Ampun deh…

Masa dia dituduh ingin kentut di mobil. Memangnya dia, Alex yang memang tidak tahu malu banget atau Jack yang memang tidak pinter mengontrol tubuhnya.

“Beeeeennnnnn…….. kita mau kemana sih? Tol yang ke arah rumah aku sudah kelewatan tuh.”

Alis Ben terangkat sedikit sebelum ia tersenyum licik. “Perasaan aku tidak pernah bilang kalau aku akan mengantar kamu pulang….”

“Tapi….”

“Kita mau ke rumah Gina. Aku tidak mungkin mengantar kamu pulang dengan pakaian seperti itu. Orang rumah kamu bisa berpikir yang tidak-tidak.” ucap Ben yang langsung disesalinya. Kenapa ia harus membawa-bawa nama Gina?

Yang merasa ide Ben buruk bukan hanya Ben. Mood Ren langsung melorot ke perut dan membuatnya kembali merasa mual. Ada apa dengan perutnya hari ini, rasanya terus menerus menekan tengorokannya. Ia mengelus perutnya, berpikir kalau dengan gerakannya itu bisa membuat perasannyanya membaik.

Ia sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ren, setiap beberapa menit, ketika dirasanya jalanan cukup aman, ia akan kembali memperhatikan cewek itu.

“Kenapa? Perut kamu sakit? Kamu sudah makan?” tanya Ben.

“Belum…” ucap Ren malu-malu. Ia sendiri baru sadar kalau hari ini ia belum makan apa-apa kecuali kopi panas tadi pagi.

“Kita makan di spangethi dulu deh. Kamu suka spagethi?” tanya Ben, ia bermaksud mengajak Ren ke restaurant ayahnya. Bukannya ingin irit, tapi karena searah.

“Aku makan segalanya. Spagethi kelihatannya enak.” ucap Ren. Ia akan menyetujui apa saja yang diusulkan Ben asal ia tidak perlu ke rumah Gina. Kalau pun seandainya Ben mengusulkan untuk makan di ujung dunia pun ia akan tetap setuju. Nanti ia bisa mencari taxi dan pulang ke rumahnya sendiri.

Niat Ren tetap sama sampai ia bertemu dengan ayah Ben di restaurant tersebut dan dikenalkan padanya. Lalu duduk bersama, makan bersama, ikut masuk ke dalam ruang staff, berganti pakaian dengan baju pramusaji dan ikut membantu berjualan.

Seumur hidupnya belum pernah Ren menjadi pramusaji! Ia terlalu kikuk dan ceroboh.

Betul saja, belum 15 menit ia turun tangan, ia sudah salah mengantar pesanan 3 kali dan menabrak pramusaji lain. Untung mereka tidak sedang membawa makanan, kalau tidak Ren harus menganti rugi piring dan makan yang terbuang sia-sia.

“Kamu, sebaiknya segera ganti pakaian dan kita pulang. Aku tidak mau orang berkomentar kalau restaurant kami memiliki pelayanan yang buruk.” usir Ben dan tentu saja Ren mendumel sambil masuk kembali ke ruang staff. Walau sebetulnya ia lega luar biasa karena sudah terbebas dari ancaman menganti rugi. Tapi Ben tidak perlu tahu ia tertolong dengan sikap Ben.

Selesai berganti pakaian, Ren keluar kembali. Ia mendapat pinjaman kemeja dari Ben dan dengan mencengangkan, celana Ben muat untuknya. Ia satu ukuran dengan cowok itu! Entah ia harus bersyukur atau merasa malu. Walaupun celana Ben dikenakannya sebagai hipster, tetap saja itu tidak membuat kenyataan berubah kalau ukuran celana mereka sama, 29. Pinggang Ben 29 dan pinggul dia 29.

Ampun deh…..

Ren tiba-tiba teringat, kalau dia pulang dengan Ben, ia harus pergi ke rumah Gina. Apa yang harus dia katakan pada Gina nanti, kalau dia datang dengan pacarnya?

“Ada apa?” tanya Ben yang melihat Ren ragu-ragu masuk ke mobilnya.

“Ben, setelah dipikir-pikir, aku tidak jadi ikut dengan kamu. Aku pulang sendiri saja.” ujar Ren dan buru-buru jalan ke arah yang berbeda dengan tempat Ben berdiri. Berlawanan arah juga dnegan rumahnya.

Dengan menahan malu, Ren membalikan badan dan berjalan kembali ke tempat Ben berdiri dan mengucapkan selamat siang serta berpamitan sekali lagi.

Ben tertawa melihat gaya konyol Ren. Ia menarik tangan Ren, menahan langkah cewek itu.

“Sudahlah, kamu masuk saja ke mobil. Kamu mau kemana aku antar. Aku tidak percaya kamu bisa pergi kemana pun tanpa terluka atau tersesat.” paksa Ben lebih keras, ia tidak bisa berhenti tertawa.

Sekarang rasanya ia lebih bisa menikmati berada di sekitar Ren. Segala musibah yang dibuat Ren ternyata tidak terlalu buruk jika ia bisa melihat sisi baiknya. Malah rasanya lebih baik tertimpa masalah dengan Ren dibanding diam-diaman saja dengan Gina.

Benar, mungkin itu masalahnya dengan Gina. Mungkin sekali-sekali ia harus membuat masalah dengan Gina sehingga mereka bisa bertengkar dan berbaikan kembali lalu ia jadi punya alasan untuk berciuman atau bermesraan dengan pacarnya. Mungkin ciuman Gina bisa merubah menjadi lebih bergairah seperti ciumannya dengan Ren.

Sial, lagi-lagi ia memikirkan ciumannya dengan Ren, umpat Ben dalam hati.

Untuk mengalihkan pikirannya, Ben mulai bersenandung dan menghitung waktu yang diperlukan untuk ke rumah Ren. Kalau tidak macet 20 menit. Tapi Ben malah berbelok ke jalanan yang padat dan ramai. Mengantri dalam kemacetan. Herannya ia tidak marah-marah, malah terus tertawa mendengar cerita Ren tentang teman-teman kampusnya dan hal-hal kecil lainnya.

Ini, seharusnya hubungannya dengan Gina seperti ini….


Advertisements

3 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 18

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s