Into Your Arm – Chapter 19

Kalau Ben berpikir ia bisa melanjutkan pembicaraan dengan Ren di rumahnya, ia salah besar. Ia bisa melihat sebuah porshe Panamera merah terparkir di luar rumah Ren. Ia tidak akan ambil pusing kalau seandainya dia tidak melihat cowok yang baru saja membuang putung rokok dan menjejaknya dengan kesal begitu melihat mobilnya mengarah masuk menuju rumah Ren.

“Sepertinya kamu sudah ditunggu…”

Ren mengerang begitu melihat ke arah Samuel. Ia masih kesal dengan sikap cowok itu tadi siang. Kebetulan sekali cowok itu datang sekarang, jadi dia bisa menampar Samuel lagi.

Dengan kemarahan yang tiba-tiba terkumpul, Ren turun dari mobil Ben, ia langsung menunjuk Samuel dan berkata, “Kamu! Pergi! Urusan kita sudah selesai!”

Ren terlalu naif jika berpikir Samuel akan pergi begitu saja setelah mendegnar ancaman Ren. Ia mendengus dan melempar buket mawar merah dari mobilnya, ke dada Ren. Sehingga cewek itu tidak bisa menolak dan hanya bisa mengangkap buket tersebut.

“Aku tidak butuh bunga untuk permintaan maaf kamu!” dengus Ren dan melempar kebali buket tersebut ke arah Samuel. Agak sayang, karena itu buket pertama yang pernah diterimanya.

“Aku memberi kamu bunga, bukan untuk minta maaf. Aku tidak menyesal sudah mencium kamu. Aku mendapatkan kontrak eksklsif dengan Bobby Kim, semua berkat kamu. Ini ucapan terima kasih.” ujar Samuel.

Kali ini ia menghampiri Ren dan menyerahkan buket tadi ke pelukan Ren. Memastikan kalau cewek itu tidak akan melempar buketnya lagi. Kemudian, ia melirik Ben yang berdiri di belakang Ren.

“Terima kasih kamu sudah mengantar pacarku pulang. Aku tidak akan memberitahu Gina soal ini. Jadi kita impas.”

“APA MAKSUD KAMU?” tanya Ben dengan penekanan luar biasa di setiap suku kata yang diucapnya. Ia tidak suka diancam, apalagi jika yang mengancam adalah Samuel.

Samuel tertawa nyaring dan terdengar menyebalkan di kuping Ben. Ia maju dan mencengkram kerah Samuel, “ APA MAKSUD KAMU?!”

“Seharusnya aku yang tanya! Kamu pacaran dengan Gina kan? Tapi kenapa aku selalu lihat kamu dengan Ren?!” tanya Samuel dan melepaskan cengkraman Ben kemudian balik memutar tangan Ben dan menguncinya di punggung Ben serta mendorong cowok itu hingga seluruh muka Ben menempel ke kap mobilnya. Sayang mesin mobilnya sudah dingin, kalau tidak rasa panasnya pasti membuat Ben lebih kesakitan. Ia menunggu terlalu lama di tempat ini. Sekitar 3 jam, rekor terlama untuknya dalam hal menunggu.

Ben mengerang kesakitan tapi cowok masih bisa membalas dengan mengunakan lengannya yang bebas dan menjambak rambut Samuel. Gantian dia yang mengerang kesakitan.

“Brengsek! Aku masih ada pemotretan besok!” maki Samuel.

Ia meninju perut Ben. Pukulannya tidak terlalu telak, karena Ben sempat menghindar. Ben menendang luar lengan Samuel dan meninju (upper cut) rahangnya. Mereka terus saling memukuli sampai sebuah buket terlempar ke arah mereka.

“COWOK TOLOL!!!!!” marah Ren. “Kalau kalian tidak berhenti sekarang, aku akan memanggil polisi dan memintanya untuk mengusir kalian.” ancam Ren sambil terisak.

Ia sudah ketakutan dari tadi. Melihat dua orang yang dikenalnya saling baku hantam amat berbeda dengan melihat Samuel menghantam orang jahat. Berbeda pula dengan menonton aksi laga aktor favoritenya Jacky Chan yang sedang membasmi kejahatan.

Teriakannya cukup mempan, karena dua cowok itu berhenti saling pukul. Tapi sebagai gantinya mereka menatap Ren memelas perhatian dan ampuannnya.

“APA?!” tanya Ren sengit, ia tidak mengerti apa yang dua cowok itu ingin ia lakukan.

“Boleh masuk ke rumah? Aku perlu mengompres ini, kalau tidak mau rahangku bengkak besok. Managerku tidak akan senang melihat luka di wajah dan tubuhku.” ucap Samuel yang lebih berani menuntut.

Ben hanya melempar tatapan memohon sebelum menghapus pundak Ren, “Maaf, kamu harus melihat kejadian tadi. Jangan menangis yah.”

Ren mengangguk dan memejamkan matanya, memaksa agar airmatanya tidak jatuh. Kemudian ia membuka pintu kamarnya dan mempersilakan dua cowok itu masuk. Ia pikir mereka akan kembali berebut siapa duluan yang masuk, tapi ternyata tidak. Ben mempersilakan Samuel untuk masuk terlebih dahulu.

“Aku boleh pinjam toilet?” tanya Ben, kemudia Ren menunjuk kamar mandinya.

Ben masuk ke kamar mandi, membuka baju dan jaketnya. Bekas tonjokan Samuel meninggalkan bekas yang lumayan. Ia meraba memar tersebut, mungkin butuh 2 minggu sebelum semua memar ini menghilang. Dibasuh mukanya dan menggunakan handuk yang disampir di sisi washtafel.

Ketika membenamkan wajahnya di handuk teresebut, ia dapat mencium wangi lavender. Ia juga suka lavender. Wanginya menenangkan. Setelah selesai membersihkan diri, Ben keluar.

Ia melihat Ren sedang memakaikan salep ke rahang dan bibir Samuel. Posisi mereka yang membuat Ben merasa ditusuk-tusuk. Ren berdiri diantara kaki Samuel, sedangkan cowok itu duduk di atas sofa. Sambil sesekali mengaduh dan memarahi Ren jika cewek itu terlalu kasar. Ia tidak suka melihat kedekatan mereka. Seakan-akan hubungan Ren dan Samuel sungguhan.

Ben berdeham untuk menunjukan ia sudah keluar dari kamar mandi. Gantian Samuel yang masuk ke sana dan ia duduk di kasur Ren. Ia lebih suka tempat itu dibanding sofa tempat Samuel duduk tadi.

“Kamu juga mau aku pakaikan?”

Ben mengangguk dan membuka kembali kaos yang ia pakai. Ren mendekatinya dan meminta dia berdiri. Setiap sentuhan Ren membuat kulit Ben terasa terbakar. Tubuh Ren tidak wangi seperti Gina, tapi ia bisa mencium wangi yang berbeda yang keluar dari tubuh Ren. Bukan wangi parfum, lebih seperti wangi tubuh manusia pada umumnya. Tapi wangi tersebut lebih memabukan dibanding parfum mana pun yang pernah ia cium.

Ia menghirupnya dalam-dalam, memenuhi relung dadanya dengan Ren. Berada sedekat ini dengan Ren membuat ia gila. Ia ingin memeluk Ren, merebahkannya di atas kasur, mencium cewek itu lagi. Tanpa sadar ia mengerang.

Ren panik begitu mendengar Ben mengerang. Luka di bagian perut Ben lebih parah. Dan semua salah Samuel! Cowok itu kelewatan sekali mengajak berkelahi orang yang tubuhnya jauh lebih kecil dibanding Samuel. Walau ia sudah membuat Samuel berjanji untuk tidak mengayunkan tinjunya lagi, tapi rasanya belum cukup. Luka Ben terlalu parah. Ia mungkin harus membuat Samuel berlutut meminta maaf.

“Tck, Semua salah Samuel.” umpat Ren saat ia mendongkak.

Ia tidak menyangka kalau Ben akan langsung menariknya dan menciumnya. Ciuman Ben kali ini jauh lebih cepat dan bergairah. Ia seperti ditarik ke pusaran paling dalam. Lagi-lagi ia tidak berdaya dalam pelukan Ben. Dibiarkannya Ben meremas pantatnya, membekapnya hingga ia bisa merasakan kejantanan Ben yang menegang. Menekan miliknya. Membiarkan bibir Ben menjelajahi tengkuknya.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” bentak Samuel.

Ia menarik Ren menjauhi Ben, memposisinya dirinya diantara dua orang itu.

“Kalau kamu belum tahu, Ren itu pacarku! Dan sebelum itu, kamu pacaran dengan Gina, sepupuku!” ucap Samuel, menuding Ben.

Kalau ia belum berjanji pada Ren tidak akan memukul Ben, tinjunya pasti sudah kembali menghantam cowok itu. Meninju rahang Ben dan membuat cowok itu pingsan.

“Sekarang keluar!” perintah Samuel.

Ben menurut. Dan sebaiknya memang Ben menurut. Ia tidak yakin sanggup menahan emosinya lebih lama lagi.

Setelah Ben keluar dari kamar Ren, Samuel langsung menguncang-guncangkan tubuh Ren, “Kamu… Apa yang kamu pikirkan Ren? Kamu tahu dia tergila-gila dengan Gina kan? Atau kamu tidak peduli akan hal itu?”

Ren malah menangis mendengar ucapan Samuel. Cowok itu benar, apa yang ia pikirkan tadi. Ben punya Gina, dan siapa dirinya hingga bisa bersaing dengan bidadari itu?

“Aku sudah meminta padamu dulu, untuk melupakan cowok itu! Pacaran denganku adalah yang terbaik untukmu. Kamu tidak perlu memusingkan cowok dengan ribuan fans fanatiknya. Kamu juga tidak perlu merubah dirimu. Aku betul-betul suka sama kamu Ren.” erang Samuel membabi buta. Ia tidak suka Ren menangis. Apalagi airmata itu disebabkan cowok lain. Ren hanya boleh menangis dan tersenyum karena dirinya.

“Kamu juga pulang dulu Sam….” elak Ren, memalingkan mukanya. Meresapi patah hatinya sendirian. Tapi seharusnya ia tahu, Samuel tidak pernah menuruti ucapannya. Cowok itu malah memeluknya erat hingga ia kesulitan bernafas.

“Saa..mm…. Sa…kit..”

“Aku serius Ren, aku benar-benar suka sama kamu.”

“Aku tahu, beri aku waktu untuk berpikir. Kamu pulang dulu, please…”

Samuel menatap Ren lama…. sampai akhirnya ia menyerah dan pulang. Ia tidak akan membiarkan masalah ini mengantung. Kalau dia tidak bisa menghentikan Ben, ia tahu orang yang bisa melakukan hal itu.

Ren adalah miliknya dan hanya miliknya.

Advertisements

One thought on “Into Your Arm – Chapter 19

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s