Into Your Arm – Chapter 20

Langit dipenuhi kabut tebal ketika Ren mendongkak. Ia tidak langsung masuk ketika selesai mengantar Samuel pulang. Ia malah duduk-duduk di ayunan depan rumahnya yang menghadap ke halaman belakang. Rumah Ren termasuk unik, karena letaknya di atas bukit dan sengaja dirancang seakan-akan ada di antara bumi dan langit. Ia Seharusnya ia tidak berada di tempat itu, ketika gerimis mulai turun. Jadi ia tidak perlu bertemu dengan Sandra.

Mama tirinya memakirkan mobil persis di samping Ren, turun dengan payung kuning. Tapi Sandra tidak segera masuk, ia bingung melihat Ren duduk di ayunan. Anak tirinya tidak pernah berada dimanapun yang memungkin untuk dirinya bisa melihat Ren lebih dari 5 menit.

Ia sedikit menyesali keputusan untuk memilih cinta di atas persahaban. Ia rindu bergosip dan cekikikan dengan Ren. Setiap usahanya untuk berbaikan dengan Ren selalu ditolak oleh anak itu. Ia terus mencoba setiap ada kesempatan, termasuk kali ini

Ia maju dan memayungkan Ren, anak tirinya mendongkakan kepala dan menatapnya sebentar, sebelum kembali melihat ke arah taman. Sandra tetap berdiri di sana, walau bajunya mulai kebasahan.

“Cinta itu apa sih San?” tanya Ren tiba-tiba.

Sandra kaget Ren mau berbicara dengannya. Bertanya pula apa itu cinta. Ia tersenyum, mungkin kali ini ia benar-benar bisa berbaikan dengan Ren.

“Cinta itu manis dan pahit. Kamu tidak bisa berhenti memikirkan orang itu, kamu bahkan tidak bisa menolak memikirkannya. Mendadak seluruh dunia kamu hanya dipenuhi dengan apa yang dipikirkan oleh orang itu. Semua mengenai orang itu menjadi begitu penting, melebihi kepentingan diri sendiri dan orang lain.”

“Itukah yang kamu rasakan soal Papa?”

“Itu yang aku rasakan soal Papa… Ren, aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu dengan keputusan aku menerima lamaran Papa. Tapi aku tidak bisa melihat Papa menderita, dia butuh seseorang untuk membantunya, mengatur hidupnya.”

“Aku tahu… Aku bisa melihat keadaan Papa sekarang. Ia lebih sehat dan lebih banyak tertawa. Makanya aku sedih karena bukan aku yang membuat Papa bahagia.” ujar Ren, kemudian ia tersenyum pada Sandra, “San, kita baikan yah.”

Ren mengambil payung dari tangan Sandra dan mengajaknya kembali ke rumah, melalui kamar Ren. Ini pertama kalinya ia membiarkan Sandra masuk ke sana. Jadi melihat wajah terkejut cewek itu, membuat Ren tertawa.

“Berantakan banget yah?” tanya Ren malu-malu.

“Lumayan… Apa gara-gara ini kamu tidak kasih aku masuk kemari?” ledek Sandra.

Mereka sama-sama tertawa dan duduk di kasur Ren, setelah berganti pakaian tentunya. Ren menceritakan perasaannya pada Ben, soal Samuel dan Gina. Semuanya. Sandra menyimak dengan baik. Semua sama seperti dulu. Seakan-akan pertengkaran diantara mereka tidak pernah ada.

“Kalau menurut aku sih, kamu kasih kesempatan buat Samuel kalau kamu memang tidak mau terlibat cinta segitiga. Tapi hebat juga yah, kamu membuat Be, anak Fox-T tertarik. Aku tidak tahu anak tiriku sekarang jadi begitu hebat.” ledek Sandra.

“Dasar, mulut kamu tidak berubah yah. Usil.”

“Aku serius, aku tidak terlalu senang melihat Ben berani mencium kamu dua kali padahal dia masih punya pacar. Kalau satu kali, aku masih bisa menganggap dia terbawa perasaan, tidak sengaja, kalau dua kali?” Sandra mengangkat bahu, ”Itu lain lagi ceritanya.”

“Tapi Samuel lho San. Orang kasar dan emosian begitu. Apa kamu tidak takut dia main tangan denganku?”

Sandra tertawa mendengarnya, kemudian mengeleng, “Aku rasa tidak. Dia menolong kamu kan dulu? Membawakan bunga? Dia tergila-gila padamu, Ren!” ucap Sandra dengan mata berbinar-binar.

Ren mendengus, “Samuel itu G-I-L-A! Bukan tergila-gila, San.”

Cewek itu kembali tertawa, membuat Ren gemas. Ia mengelitik Sandra, membuat mama tirinya kegelian dan memohon ampun. Ren berhenti ketika mendengar pintu kamarnya dibuka.

Papa masuk dan menatap mereka bingung, hanya berhasil mengucapkan satu patah kata, “Kalian…?”

“Iyah, kami istri dan anak kamu. Kamu sudah pulang?” tanya Sandra dan ia menghampiri suaminya itu.

“Dicoba dulu saja…” ucap Sandra sambil mengedipkan mata dan membawa keluar suaminya itu.

“Coba apa?” tanya Papa Ren, semakin bingung dengan perubahan mendadak hubungan dua wanita terpenting dalam hidupnya itu.

“Itu Ren…” goda Sandra dan segera dipotong dengan teriak-teriak mengancam dari Ren. Ia keluar dari kamar Ren sambil cekikikan geli. Lega karena hubungnya kembali normal dengan anak tirinya itu.

Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama, jadi ia tidak akan menceritakan mengenai masalah percintaan Ren pada suaminya. Ia hanya bercerita bagaimana mereka berbaikan.

Ren mengirim sms ke Sandra, kembali mengancam akan memusuhinya jika papa sampai tahu, ia menyukai Ben. Papa kenal dengan orang tua Ben dan urusan ini bisa menjadi panjang jika Papa ikut campur.

Ia menatap buku sketsanya, membuka-buka kembali gambar yang dulu ia buat waktu pergi ke pulau. Belum ada cukup waktu untuknya memindahkan lukisan itu ke kanvas. Besok hari Sabtu, ia punya 2 hari kosong untuk membuat lukisan sebanyak yang ia mau.

Awalnya, Ren melukis pantai dan gambar pemandangan lainnya, tapi ia terus menerus merasa tidak puas. Pikirannya terus ternganggu dengan satu gambar yang tidak berani ia lihat namun juga tidak mampu ia lupakan.

Menyerah, Ren mengambil kanvas baru dan mulai menarik garis kapal, mengambar sesosok orang yang tanpa sadar telah ia gambar. Cowok yang sedang berdiri menghadap matahari terbenam di atas kapal sambil mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sudah memenangkan medali Olimpiade.

Ren tersenyum mengingatnya…

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 20

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s