Into Your Arm – Chapter 21

Ren meletakan kuas dari tangannya dan tersenyum lebar menatap lukisan yang baru ia selesaikan. Sebuah lukisan yang didominasi warna orange dan emas berukuran 90 cm. Ia tidak tahu apa akan ada yang mengenal cowok yang ia gambar di dalam sana. Ia hanya mengambil sosok belakang cowok itu dan merubah sedikit warna pakaiannya. Tapi itu tidak penting. Yang penting ia puas.

Dua hari penuh Ren habiskan untuk mengambar. Ia tidak keluar dari kamar, tidak juga pergi mandi. Kalau tidak ada Sandra yang masuk dan mengantar makanan mungkin ia juga akan mati lemas karena lapar. Ia terlalu terpaku dengan lukisannya hingga lupa bahwa bumi masih berputar dan masih ada orang lain yang membutuhkan perhatiannya.

Seperti Samuel, karena ada ratusan miss call dari cowok itu. Dan pesan singkat, menanyakan dirinya dan kemudian berubah menjadi marah-marah tidak jelas. Ren menyesal sudah mendengar pesan dari Samuel, membuat kotor telinganya saja.

Kemudian ada sms dari Gina juga, mengajaknya pergi kemarin. Ia sempat tegang memikirkan apa yang akan Gina lakukan. Tapi rupanya, tidak terjadi apa-apa. Ia akan mencari cewek itu nanti setelah tiba di kampus.

Ia sedikit kecewa karena tidak ada sms ataupun telepon dari Ben. Cowok itukan setidaknya bisa menghubunginya walau cuma untuk mengatakan happy april fool dan bukan menyelamati ulang tahun, erang Ren. Tapi siapa dia sampai berharap cowok itu akan menghubunginya.

Ren bersiap-siap untuk ke berangkat ke kampus. Selesai mandi, ia turun ke meja makan. Rasanya sudah pulahan tahun ia tidak pernah duduk di kursi ini bersama Papa dan melihat Sandra masak. Meja makan mereka menghadap langsung ke dapur terbuka.

“Ini untuk kamu, selamat ulang tahun ke 21.” ucap papa sekaligus menyodorkan kunci mobil pada Ren.

Ia menghabiskan sarapan buburnya dan keluar terburu-buru. Kapan lagi ia mendapat hadiah mobil. Sedan Alfa-Romeo, warna putih. Apapun bentuknya Ren tidak akan protes. Ia tidak begitu mengerti mobil, yang penting ia bisa mengendarainya.

“Papa mau kasih ini kemarin, tapi Sandra bilang lebih baik tidak menganggu kamu dulu. Jadi, kamu suka?”

Ren memeluk Papa dan mengucapkan terima kasih. Mulai sekarang ia tidak perlu berdesakan dengan banyak orang atau mengkhawatirkan nasib lukisan dan karya-karya lainnya.

Ia kembali ke kamar dan mendapati Sandra sedang berdiri di depan lukisannya. Entah bengong atau melamun. Pastinya cewek itu tidak bergerak.

“Kenapa? Aneh yah?”

Melihat Sandra mengeleng, Ren merasa lega. Ini lukisan dengan manusia yang pertama kali ia buat.

“Dia Ben atau Samuel?”

“Menurut kamu?” tanya Ren balik sambil tersenyum usil, ia mengulung lukisannya ke dalam pan yang biasa ia gunakan untuk membawa lukisan.

“Ah… Kasih tahu dong Ren…” erang Sandra sepanjang jalan Ren menuju mobil. Anak tirinya itu malah tambah usil dan tidak membocorkan sama sekali siapa cowok yang sudah ia lukis. Ia bisa merasakan besarnya rasa kagum Ren terhadap cowok itu. Ren memang berbakat. Mudah-mudahan cita-cita anak itu untuk mendapat beasiswa dan pergi ke Venice tercapai.

Ren melambaikan tangan pada Sandra dan Papa dari dalam mobil. Mobil pribadi memang enak. Nyaman dan wangi kulit baru. Ia suka interior berwarna coklat susunya. Lalu aksen kayu yang mendominasi dashboard. Semua warna kesukaannya.

Ia sampai di kampus, memarkirkan mobil dan menghampiri dosennya. Berharap dengan lukisannya ini ia bisa mengikuti lomba untuk mendapat beasiswa.

“Kamu bawa mobil sekarang?” sapa Randy yang bertemu dengannya di lapangan parkir. Tepatnya Randy berlari dan berteriak menyuruhnya berhenti dan menunggunya selesai parkir. Kemudian cowok itu membantunya membawa pan-lukisan menuju ruang kelas.

“Hadiah ulang tahun. Kamu tidak lupa aku ulang tahun kan?”

“Tentu saja. Nih hadiah kamu. Kupon masuk ke Everland untuk 2 orang. Valid sampai tahun depan.” ujar Randy bangga. Ia memberikan tiket itu karena tahu Ren suka sekali dengan wahana rollercoaster di sana.

Ren bersorak kesenangan dan merangakul leher Randy hingga cowok itu kesulitan bernafas. Ia perlu menepuk lengan Ren berkali-kali baru cewek itu sadar dan melepaskannya. Kadang pusing juga punya teman cewek super tomboy seperti Ren.

“Ada apa? Kenapa senang sekali?” tanya Gina tiba-tiba bergabung. Ia langsung menjelaskan kehadirannya di gedung Ren karena ia mencari sahabatnya itu.

“Sorry, 2 hari kemarin aku menyelesaikan ini.” ucap Ren bangga.

“Itu untuk beasiswa kamu?” tanya Randy penasaran.

Ren menangguk antusias, “Kalian mau lihat? Mau ikut ke ruang dosen denganku?”

“Mauuuuu…” teriak Gina dan Randy serempak. Melihat Ren yang begitu semangat, rasa penasaran mereka semakin besar.

“Kalau ini sampai disetujui dan aku dapat beasiswanya. Aku bisa ke Venice akhir tahun ini.” ujar Ren, kemudian berteriak, “VENICE…”

Biar saja dua temannya itu mentertawai tingkahnya. Ia terlalu senang hari ini.

Mereka ke ruang dosen dan sama-sama tegang, menunggu hasil penilaian dosen gambar Ren. Dosen itu juga cuma berdeham lalu mengusap-usap jenggotnya dan kembali berdeham.

Diam-diam sang dosen berdecak kagum pada hasil karya terbaru dari Ren ini. Muridnya sudah berhasil menangkap ekspresi manusia dan mengambarkannya dengan gayanya sendiri. Diam-diam dia sudah menjadi pengemar karya Ren. Menurutnya Ren adalah muridnya yang paling berbakat dan memiliki kans besar untuk menjadi pelukis yang mengharumkan nama bangsa. Tapi sebagai dosen, ia harus tetap objektif jadi ia hanya berkomentar, “Bagus… Berbeda dengan karya kamu yang biasa, tapi bagus. Saya akan merapatkan  karya kamu ini berikut dengan karya murid lainnya.”

Ren berserta teman-temannya keluar dari ruangan dosen dan berteriak-teriak. Bahkan Gina ikut memeluk Randy dan Ren, menari berputar-putar di lorong. Sangat tidak feminim, tapi ia terlalu senang mendengar ucapan si dosen tadi.

“Dia setuju kan? Dia setujukan?” tanya Ren berulang-ulang kegirangan.

“Iyah, tolol! Memangnya dia pernah protes sama lukisan kamu?” ledek Randy membuat Ren senyum-senyum bodoh.

“Kalau begitu hari ini kita pergi bertiga. Merayakan ulang tahun Ren sekaligus ini.” usul Gina dan langsung disetujui oleh Randy dan Ren.

Mereka berpisah, Ren dan Randy ke ruang kelasnya dan Gina kembali ke gedungnya sendiri.

Saat Gina mengeluarkan barang-barangnya dari tas, ia baru teringat dengan tujuannya mencari Ren. Ia menatap potongan koran yang dibawanya dari rumah. Foto Samuel mencium Ren menjadi highlight pertunjukan Bobby Kim.

Ia menatap potongan koran itu dan tentu saja ia tidak bisa melarang jika teman-temannya menjadi tertarik dan membaca artikel tersebut kencang-kencang disertai pekikan dan teriakan tidak penting lainnya.

Sejak berteman dengan Ren, ia merasa kalau teman-teman ceweknya ini norak dan sering bertindak keterlaluan. Ia menarik kembali potongan koran itu dan memasukannya ke tas.

“Jadi Ren pacaran dengan sepupu kamu sekarang?” tanya Tasya dengan nada nyolot, Gina lupa temannya yang satu ini masih tergila-gila dengan Samuel walau mereka sudah lama putus.

“Belum tahu, belum tanya. Kalau yang aku baca, mereka bersandiwara.”

Gina sendiri belum mengetahui kebenaran berita itu. Pastinya tulisan itu sangat tidak masuk akal, hingga ia pergi mencari Samuel dan mendapati muka cowok itu lebam-lebam. Walau ditanya apapun juga, Samuel tidak mau menjelaskan ciumannya dengan Ren dan tidak memjawab siapa yang membuat sepupunya babak belur. Samuel malah menyuruhnya bertanya pada Ren.

“Apa sih yang dilihat Samuel dari cewek bar-bar dan kumel seperti Ren?” tanya Ziggy, teman Gina yang lebih sering membeo ucapan Tasya dan dirinya.

“Ren baik.” jawab Gina singkat, untuk menghindari perdebatan diantara teman-temannya ini. Tidak ada yang mengerti betapa baiknya Ren selain dirinya.

Teman-teman Gina tidak sempat bertanya lebih lanjut karena guru mereka sudah datang, dan tidak ada yang boleh berbicara selama kelas berlangsung.

Seperti biasa Gina tampil gemilang. Ia selalu menyanyi tanpa cacat. Begitu bubar kelas, ia buru-buru merapikan barangnya dan keluar kelas.

“Mau kemana?” tanya Tasya.

“Pergi ke Reizo sama Ren.”

“Sama BEN?”

“Ren, Ben di Jepang. Sudah yah, nanti aku telat.”

Gina setengah berlari keluar kelasnya, menyebrang ke kelas Ren sambil menerima beberapa bingkisan dari pengemarnya. Hal yang biasa terjadi.

Ia menemukan Ren dan Randy sudah duduk di taman belakang, dekat tempat parkir, tempat mereka biasa janjian. Hari ini, mereka menggunakan mobil Ren. Ia cukup terkejut melihat mobil tersebut. Alfa-Romeo bukan mobil murah dan itu membuktikan kalau Ren anak orang kaya. Ia makin kagum pada Ren. Anak orang kaya tapi mau kerja sambilan dan mencari beasiswa. Itu baru luar biasa.

“Kita mau kemana?” tanya Ren meminta petunjuk dari Gina.

“Reizo, aku sudah membuat reservasi. Kamu sudak shabu-shabu kan?”

“Mantap…” erang Ren kesenangan. Hari ini betul-betul hari baiknya.

Bertiga, mereka masuk ke Reizo, meja pesanan Gina letaknya persis di tengah restaurant dan berbentuk panggung. Hanya ada beberapa meja yang dirancang khusus seperti itu.

“Silahkan pesan yang kamu mau Ren. Hari ini aku dan Randy yang traktir.” ujar Gina.

“Eh??? Kapan aku bilang mau ikutan bayar?” tanya Randy tidak terima. Tapi ia langsung berubah pikiran karena Gina menginjak kakinya.

Mata Ren langsung berbinar-binar, ia memesan 4 jenis daging dalam ukuran besar. Hari ini ia harus sepuasnya menikmati traktiran teman-temannya. Hari baik harus selalu dinikmati.

“Eh, Gina….. Kamu di sini juga?” ucap Tasya basa-basi. Ia berhasil menemukan cabang Reizo yang dimaksud oleh Gina setelah 2 kali salah masuk. Ia tidak berpikir kalau Gina akan memilih cabang di daerah yang tidak berkelas seperti Sichon ini.

Tasya berhasil memaksa untuk bergabung dengan Gina dan makan bersama. Suasana jadi sedikit canggung dengan kehadirannya tapi ia tidak peduli. Yang penting ia bisa memperhatikan Ren lebih dekat. Ia perlu pencerahan tentang hubungan Ren dan Samuel.

“Samuel tidak datang? Hari ini kamu ulang tahun kan?” tanya Tasya asal ceplos.

Ren sampai terbatuk-batuk mendengar pertanyaannya. Ia hanya mengoper tissue untuk cewek itu, itu pun karena Ren memintanya.

“Tahu darimana aku ulang tahun?”

“Gina.”

“Aku? Masa?”

“Ah, darimana itu tidak penting. Sekarang kasih tahu aku, kamu pacaran dengan Samuel? Dimana cowok itu?”

Ren mengerutkan dahinya. Tidak senang dengan gangguan yang diberikan oleh teman Gina ini. Tapi ia tidak bisa membiarkan cewek ini menyebarkan gosip tentang dirinya.

“Yes, Ren is my girlfriend.”

Ren memutar kepalanya dan menemukan Samuel berdiri di sana dengan buket mawar merah dan lavender. Cowok itu juga mengenakan jas sopan. Sayang memar di rahang dan bibir Samuel belum sembuuh total. Ren bisa melihat warna biru berbayang dibalik handyplastnya.

Samuel mengusir Randy dan duduk di sebelah Ren, meletakan uket tersebut ke pangkuan Ren dan mengeluarkan kotak kecil.

“Ini hadiah kamu.” ucap Samuel sebelum mengambil mangkuk, sumpit dan mulai makan. Padahal belum ada seorangpun yang menyuruh cowok itu untuk duduk apalagi makan.

Ren menatap kotak di depannya. Ini terlalu aneh, kenapa ada dua orang yang seharusnya tidak tahu menahu tentang ulang tahunnya bisa ada di restaurant ini, ia menatap Gina. Satu-satunya tersangka yang bisa dipikrkan oleh Ren. Tapi cewek itu malah mengeleng dan berbisik kalau dia tidak menyuruh dua orang ini datang.

“Kamu jangan protes mengenai isinya. Aku baru tahu tadi soal ulang tahun kamu dan buru-buru membelinya. Thanks to Tasya! Kalau dia tidak menelpon, aku tidak akan tahu kamu, pacarku berulang tahun!” cibir Samuel disela-sela suapannya. Maklum, ia belum makan apa-apa dari pemotretan pagi tadi.

Karena Ren tidak juga membuka hadiah darinya, Samuel turun tangan sendiri dan membuka kotak tersebut. Ia membelikan Ren kalung berbentuk hati keluaran dari Tiffany&Co. Memakaikannya ke leher Ren tanpa disuruh lalu kembali duduk.

“Kamu membelikan dia Tiffanny?!” oceh Tasya tidak terima, bahkan dulu ketika ia pacaran dengan Samuel, cowok itu tidak pernah mengeluarkan duit sedikitpun. Melihat Samuel tidak menjawab pertanyaannya, ia melempar tissue ke mangkuk Samuel.

Kalau tujuan Tasya adalah menarik perhatian Samuel, maka ia sudah berhasil. Cowok itu memelototi Tasya garang dan mulai marah-marah.

“Apa-apaan sih?!” protes Samuel.

“Kamu kasih dia Tiffany? Apa kamu menjual semua hadiah dariku untuk membelinya?”

“Itu bukan urusan kamu!” dengus Samuel.

Ia mengambil mangkuk baru yang diserahkan pramusaji dan kembali mengisi mangkuk tersebut. Kali ini, Tasya bukan lagi melempar tissue. Cewek itu menuang satu mangkuk cabe ke mangkuknya untuk membuatnya kesal. Cewek itu tahu dengan pasti ia tidak menyukai cabe.

“Brengsek! Mau kamu apa sih?!” bentak Samuel tidak sabar.

“Apa bagusnya cewek itu dibanding aku?!” ucap Tasya sengit dan dengan suara tinggi. Ia berdiri dan menuding Ren.

Samuel tidak mengubris Tasya, ia malah mengajak Ren bicara.

“Sekarang kamu percayakan kalau aku selalu dikelilingi cewek gila?”

Ren cuma mengangguk. Bingung mau menanggapi apa. Acara ulang tahunnya berubah menjadi pertengkaran pasangan gila yang bahkan bukan tamu undangannya. Ia menatap Gina meminta bantuan cewek itu untuk melerai mereka.

“Tasya sudah dong. Kita di tempat umum. Malu.” lerai Gina. Lumayan, Tasya kembali duduk.

“Kamu pulang dengan siapa? Mau aku antar?” tanya Samuel pada Ren dan kembali membuat Tasya naik pitam.

“Cukup! Kalau kamu dan kamu cuma mau membuat aku marah, lebih baik aku pergi dari sini.” bentak Ren.

Ia sudah menahan diri terlalu lama kali ini. Ia bangkit dan menarik Gina serta Randy keluar restaurant. Samuel tidak mengejar, dia masih sibuk bertengkar mulut dengan Tasya.

“Mereka itu gila yah?” tanya Randy. Setelah masuk ke mobil Ren. Ia baru berhasil menemukan suaranya kembali setelah menyaksikan pertengkaran mulut paling heboh yang pernah dilihatnya seumur hidup.

“Mereka memang seperti itu, makanya cepet putus.” ujar Gina memberi penjelasan.

“Gila, mereka kok bisa tahu kita ada di sana sih?”

“Ehmm…. itu mungkin gara-gara aku. Aku tidak sengaja memberitahunya kemana aku akan pergi tadi. Tapi sungguh, aku tidak tahu Tasya akan datang dan menelpon Samuel juga.”

Ren cuma bisa menghela nafas mendengar penjelasan Gina. Ia tidak bisa menyalahkan cewek itu kalau Gina memang tidak sengaja. Ia mengantar Randy kembali ke kampus karena mobil cowok itu masih ada di sana. Kemudian mengantar Gina ke rumahnya.

Ia agak terkejut karena Gina memakai waktu yang singkat itu untuk menanyainya tentang Samuel. Tentu saja Ren menjawab sejujur-jujurnya.

“Jadi kalian tidak berpacaran tapi Samuel sudah menyatakan perasaannya padamu?” ulang Gina.

“Yeap…. Bagaimana menurut kamu?”

“Ehmmmm, kamu masih mau mempertimbangkan Samuel setelah kejadian tadi?” tanya Gina hati-hati.

“Iya juga yah. Menurut aku dia memang terlalu emosian. Tapi Gina, memangnya Samuel selalu seperti itu?”

“Tentu saja, apa kamu pernah melihat dia tenang?” jawab Gina cepat.

“Yah, kadang dia bisa luar biasa baik dan dia juga cukup bertanggung jawab untuk setiap kata yang dia ucapkan.”

“Ehmmmmmm, Samuel memang cowok yang selalu menepati ucapannya kalau itu yang kamu maksud. Tapi apa betul dia tipe kamu?” tanya Gina mulai khawatir Ren serius mempertimbangkan Samuel.

“Well, tidak juga, kalau kamu tanya cowok seperti apa yang aku suka, aku lebih memilih cowok yang humoris.” seperti Ben, sambung Ren dalam hati.

“Nah kalau begitu lupakan Samuel. Cowok itu tidak ada sisi lucu dan manisnya.”

Ren tertawa mendengarnya. Rasanya setiap kali membicarakan cowok yang dekat dengan Gina, cewek itu tidak pernah setuju. Ada saja cacat yang dilihat Gina. Ia percaya pada penilaian Gina karena cewek itu memang terbukti tidak pernah salah. Gina selalu berhasil membuktikan padanya kalau cowok-cowok itu memang hanya mendekati Ren untuk bisa berkenalan dengan Gina.

Tapi ia tidak berpikir kalau Gina juga tidak akan setuju ketika Samuel mendekatinya. Bukannya Ren sedang mempertimbangkan Samuel tapi ia penasaran saja bagaimana sikap cowok itu jika di depan orang lain.

“Pokoknya Ren, lupakan Samuel. Dia tidak pantas mendapat cewek sebaik kamu.” pesan Gina sebelum turun dari mobil Ren.

Ren mengangguk dan tertawa. Kadang Gina keras kepala juga, gugam Ren dalam hati. Tapi Gina tentu saja keras kepala untuk hal yang positif, kalau tidak Gina pasti tidak mungkin masih bertahan menunggu direkrut oleh talent scout.

Karena membahas mengenai cowok yang ia suka, pikiran Ren kembali pada cowok yang selalu membuatnya tertawa belakangan ini. Ia melirik ponselnya, masih berharap Ben akan menghubunginya sebelum hari ini berakhir. Ia mengerutu, sudahlah lebih baik ia melupakan cowok itu.

Sekarang, ia bisa pulang dan kembali dengan lukisan-lukisannya. Masih ada tugas harian yang belum selesai ia kerjakan. Seperti gambar pantai dan bunga yang ia temukan di pulau kemarin.

Advertisements

One thought on “Into Your Arm – Chapter 21

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s