Into Your Arm – Chapter 22

Semua rencana Ren harus dibatalkan ketika ia tiba di rumah. Ia tidak menyangka akan menemukan Ben sekaligus keluarganya di sana. Ia tidak curiga dengan mobil Alphard yang terparkir di luar sana saat ia memakirkan mobilnya sendiri.

“Nah itu anaknya pulang.” ujar Papa Ren sambil tertawa senang, menarik anak semata wayangnya itu duduk di sampingnya. Ia menepuk-nepuk tangan Ren ketika putrinya berbisik dann bertanya apa yang terjadi di tempat ini.

“Wah, Ren, kamu semakin cantik yah.” puji Mama Ben.

Ren tidak bisa menebak tante itu benar-benar memuji dirinya atau hanya berbasa-basi. Ia menatap Ben yang terlihat tersiksa. Duduk di samping orang taunya tapi terus menerus menatap ke langit-langit. Membuatnya ikut mendongkak, mengira ada yang bocor. Padahal langit-langitnya mulus, bahkan sarang laba-laba pun tidak ada di sana.

“Nah, tadi anda ingin membicarakan apa?” ujar Papa Ren mengawali berita mengejutkan yang membuat Ren bengong dan mematung.

“Saya datang untuk menjodohkan anak kita berdua. Tidak perlu tergesa-gesa, mereka bisa bertunangan dulu dan berpacaran, menikahnya nanti saja. Mungkin setelah popularitas Fox-T agak memudar. Bukannya saya mendoakan hal tersebut.” ucap Mama Ben dan tertawa.

Papa Ren ikut tertawa tapi tidak Ren dan Ben.Mereka saling bertatapan dan kebingunan. Kenapa mendadak mereka dijodohkan

“Wah, kita tidak perlu menjodohkan anak kita berdua hanya untuk mengesahkan perjanjian bisnis kita. Saya tidak mau memaksa anak saya ini.” ujar Papa Ren dan kembali tertawa.

“Aduh, maafkan saya kalau saya terlalu lancang. Tapi saya pikir mereka berpacaran, karena dua kali saya menemukan mereka pergi berduan.”

Penyataan tadi membuat Papa Ren memandangi anaknya. Ia sama sekali tidak pernah mendengar anaknya berhubungan dengan cowok manapun.

“Kalau mereka memang saling mencintai maka saya tidak keberatan.”

Mama Ben langsung tertawa senang. Para orang tua terlibat pembicaraan serius dan semakin lama duduk di sana, kuping Ren rasanya semakin panas. Tidak tahan, ia pergi dari ruang tamu dan masuk ke kamarnya.

Baru saja meletakkan tas, pintu kamarnya diketuk.

“Masuk.” seru Ren.

Ben masuk ke kamar Ren, duduk di tempat favoritenya, kasur cewek itu. Ia melirik sekeliling, rasanya kamar ini lebih bersih dan rapi. Tidak tercium lagi bau tiner dan cat.

“Kamu bisa jelaskan apa yang terjadi di atas tadi?”

Ben tersenyum mendengar keterus terangan Ren. Cewek itu memang tidak pernah membuang waktunya.

“Mama mendapat laporan dari Papa soal kedatangan kamu ke restaurant kemarin dan menyimpulkan sendiri kalau kita berpacaran. Aku tidak bisa membantah, tidak sempat membantah karena Mama langsung menculikku dari airport dan taaadaaaa… di sinilah aku sedang melamar kamu.”

“Kenapa kamu tidak menghentikannya di atas tadi?” tanya Ren tidak puas.

“Boleh jujur?” tanya Ben, setelah melihat Ren mengangguk, ia melanjutkan, “Aku tidak mau menghentikan Mama. Aku pikir itu ide yang bagus. Aku ingin berpacaran dengan kamu. Jangan bilang kalau kamu pacaran dengan Samuel, karena aku tahu kalian cuma bersandiwara demi kepentingan cowok itu.”

“Lalu bagaimana dengan Gina? Kamu lupa kamu sudah punya pacar dan Gina itu juga berteman denganku?” tanya Ren semakin sewot. Ben sedikit keterlaluan kalau tidak mempertimbangkan Gina dalam rencannya ini.

“Dan apa maksud kamu ingin berpacaran denganku?”

“Aku suka sama kamu Ren. Aku tidak tahu kapan aku mulai memikirkan kamu, tapi jelas aku tidak pernah berhenti memikirkan kamu. Soal Gina, aku akan menjelaskan padanya nanti. Rencanaku memang ini memutuskan hubunganku dengannya hari ini, tapi Mama keburu mengajakku ke sini.”

“Kamu pasti sudah gila! Apa yang membuat kamu berpikir aku mau pacaran dengan orang yang menduakan temanku sendiri?!”

“Apa kamu tidak menyukai, Ren?”

Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Ben yang satu ini. Jadi Ren merapatkan bibirnya, menyilangkan tangan di dada dan jalan mondar-mandir.

“Tetap saja, aku tidak mungkin berpacaran dengan mantan temanku. Apa yang akan dikatakan Gina kalau tahu kamu putusin dia lalu berpacran denganku? Tidak! Aku tidak bisa!”

Ben memperhatikan Ren terus mondar-mandir. Ia berdiri dan menarik cewek itu agar duduk di sampingnya, sebelum ia pusing mengikuti gerakan cewek itu.

“Kita bisa bilang kalau Mama menjodohkan kita. Gina pasti mengerti. Pokoknya biar aku yang selesaikan masalah ini. Anyway, selamat ulang tahun.”

Ben merangkul Ren dan mengecup pipi cewek itu. Ia baru tahu Ren ulang tahun dari Papa Ren tadi. Ia berjanjii pada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi kebodohan ini. Tidak tahu ulang tahun pacarnya sendiri.

“Tidak, aku tidak bisa!” ucap Ren lalu kembali berdiri. “Aku tidak akan berpacaran dengan kamu kalau kamu belum putus dan menjelaskan maslah ini pada Gina. Aku tidak bisa.” erang Ren.

Ben berdiri, “Ok, aku akan menelpon dia sekarang.”

Dan Ben benar-benar menelpon Gina dan memutuskan cewek itu melalui sambungan telepon. Ren tidak tahu apa reaksi Gina. Ia tidak bisa mendengar tapi sepertinya tidak ada teriakan atau jerit tangis. Pembicaraannya juga amat singkat.

“Selesai. Aku sudah putus dengan Gina. Sekarang kita bisa pacaran?”

Ren tidak habis pikir dan menolak untuk percaya. “Tidak, aku harus mendengar apa yang dikatakan Gina. Aku tidak percaya dia mau menerima diputuskan untuk alasan bodoh seperti tadi.”

“Kamu tidak percaya, cek sendiri saja handphoneku.” sodor Ben.

Ren memeriksanya dan memang barusan Ben menelpon Gina. Ia semakin tidak mengerti. Apa semudah itu memutuskan hubungan?

“Ren, aku harus memberitahu satu lagi. Masalah pertungan kita juga sudah disetujui oleh perusahaan. Kamu tahu tidak kalau Papa kamu termasuk pemegang saham di Lime.Co, perusahaan tempat Fox-T bernaung? Mereka tidak bisa menolak dan siap membantu menutupi hubungan agar tidak bocor sebelum waktunya.”

Ren cuma bisa mengeleng untuk setiap pertanyaan Ben. Ia tidak mengetahui apa saja yang dikerjakan oleh Papa. Ini semua tidak masuk akal. Tidak sengaja, ia melihat kalender. Hari ini tanggal 1 April.

Ia tertawa, merasa bodoh. “Kamu benar-benar kelewatan. Ini semua becanda kan? Kamu cuma mau mengerjai aku kan.”

“Apa maksud kamu?” gantian Ben yang bingung.

“Sudah, kamu pulang saja. Aku tersanjung dan aku sudah tertawa. Ajak Mama kamu sekalian. Bingung, kamu bisa ajak orang tau kamu untuk bercanda seperti ini.”

Ren menarik dan mendorong Ben keluar dari kamarnya. Sudah tidak ada orang di luar sana. Bukti kalau Ben memang bercanda dengannya. Tidak mungkin orang tua Ben pulang meninggalkan anaknya sendiri di sini kalau niatnya memang melamar Ren.

“Nah, silahkan pulang Ben. Pakai mobilku saja, besok suruh orang mengantarnya kembali.” ucap Ren sambil menyerahkan kunci mobilnya dan mengeluarkan Ben dari rumahnya.

Ia kembali tertawa, benar-benar. Kenapa ia bisa lupa kalau hari ini April Fool. Seharusnya ia tahu kalau Papa ikut bercanda untuk menikahkan dia di usia 21 tahun.

Ren masuk ke kamarnya dan kembali ke rencana semula. Mengerjakan tugasnya.

Ia sudah membuang banyak waktu untuk mendengar kelakar dan lelucon Ben. Kalau lukisannya tidak bisa ia selesaikan hari ini, ia akan membuat perhitungan dengan Ben. Apalagi kalau dia sampai mendapat nilai jelek menjelang kelulusannya ini.

Ren menarik kuas dan mulai mengambar. Medianya tidak terlalu besar tapi cat yang harus digunakan itu yang menjadi tantangan. Dosennya meminta mereka mengunakan bahan baru, cat dengan glitter dan satu lagi at glow in the dark.

Nah pusingkan….

Dua-duanya bukan cat biasa dan perlu teknik khusus untuk mencairkan dan menyiapkannya sebelum siap dipakai. Tapi Ren tidak menyerah, ia menunggu dengan sabar dan menyelesaikan tugasnya itu walau akhirnya tidak tidur semalaman.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 22

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s