Into Your Arm – Chapter 23

Sesuai perkiraan, Ren bergadang semalaman. Ia hanya sempat mencuci muka dan berganti pakaian lalu berangkat ke kampus. Ia hanya mengeguk segelas susu untuk sarapan. Dan cukup bersyukur karena ia tidak perlu mengendarai mobil pagi ini.

Tidur di bus bisa menjadi pilihan yang menggoda. Setidaknya 20 menit itu lumayan untuk mengistirahatkan matanya. Kalau macet maka sekitar 30 menit. Semuanya boleh, ia  masih punya waktu sebelum masuk ke kelas pertama.

Ren betul-betul pulas ketika tertidur di dalam bus. Padahal ia berdiri dan hanya menyandar di tiang pegangan. Mungkin dia akan terus tertidur di sana jika tidak ada nenek-nenek yang membangunkannya.

“Handphone kamu, dari tadi bunyi, berisik.” ujar si nenek.

Ren mengucapkan maaf ribuan kali sebelum mengangkat ponselnya. Ia tidak melihat nama si penelpon tapi cukup hafal dengan suara bariton Ben.

“Ada apa?”

“Kamu dimana?”

“Aku masih di bus, ke kampus.”

“Di bus? Kamu tidak kuliah? Ini sudah jam 11 lho. Aku pikir kamu sudah pulang duluan. Kamu ketiduran yah?” tebak Ben lalu tertawa sebelum mendengar jawaban Ren. Menurutnya sedikit mustahil untuk cewek itu bisa tertidur di bus, seberapapun teledornya cewek itu. Tapi karena Ren berteriak dan menuduhnya berbohong. Ben mengaruk-garuk kepalanya.

“Ren, kamu benar-benar tertidur di bus? Sekarang kamu dimana?”

“Di dekat Itaewon. Ya ampun, aku mutar kemana ini, kenapa bisa nyasar sampai ke sini?!” seru Ren. Ia kembali dimarahi oleh nenek-nenek tadi. Kembali meminta maaf pada penumpang bus tersebut.

Atas perintah Ben, ia turun di bus stop berikutnya. Cowok itu sudah menunggu di dalam mobil, di gedung parkir tertutup. Tempat parkir itu memang terbuka tapi sangat sepi. Jadi tidak akan ada banyak orang yang memperhatikan mereka di sana.

Ia langsung mengenali mobil miliknya dan melompat masuk. Ben memarahinya panjang pendek, membuat kuping Ren berdengung. Kepalanya pening dan merasa berputar-putar akibat kurang tidur dan tiba-tiba berlari.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Ben begitu melihat Ren memejamkan matanya seperti orang menderita sakit kepala. Mungkin ia harus berhenti memarahi cewek ini dan menenangkan pikirnya.

Ben bersenandung rendah dan memijit Ren. Awalnya tangannya memang ditepis dicubit dan dipukul tapi setelah ia membentak dan memaksa, akhirnya Ren menurut. Ia memijit cukup lama sampai urat-urat tegang di leher dan pundak Ren membaik.

“Kamu….” ujar Ben tapi langsung dipotong oleh Ren.

“Iyah, aku tahu aku salah. Aku menyelesaikan tugas semalaman. Sama sekali tidak tidur. Aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi berhenti berteriak. Ada apa mencariku?”

“Lho aku harus mengembalikan mobil kamu kan?”

“Kalau begitu kenapa tidak antar ke rumah saja?”

“Sekalian jemput pacar. Masa tidak boleh?” ledek Ben sambil tersenyum jahil.

“Menjemput Gina dengan mobilku? Kamu sedang cari gara-gara yah?”

“Gina? Apa urusannya dengan Gina?” Ben segera sadar kalau Ren masih menganggapnya bercanda soal pertunangan mereka. “Ren, kita benar-benar bertunangan. Aku tidak bercanda untuk masalah seperti itu. Aku sudah putus dengan Gina.”

Ren mengedip beberapa kali, ia mencerna ucapan Ben, kata demi kata. Ia dan Ben bertunangan. Kalimat itu diulang berkali-kali sampai ia berteriak dan menolaknya lagi.

“Tidak! Ben, tidak! Aku tidak bisa bertunangan dengan mantan pacar temanku sendiri.”

“Ini sudah terjadi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk memper..”

“Bisa. Tentu saja bisa. Kamu tinggal bilang ke Mama kamu kalau kamu tidak serius. Kamu hanya mengerjai aku dan aku juga akan mengatakan hal yang sama ke Papa.”

“REN…!” bentak Ben tidak sabar, ia muak mendengar penyangkalan Ren. “Aku dan kamu bertunangan. Bahkan aku sudah membeli cincin untuk kamu. Cincin pertunangan sekaligus hadiah untuk ulang tahun kamu.”

Ren mematung melihat cincin yang keluarkan Ben dari saku celananya, sepasang dengan cincin yang ada di jari Ben. Cowok itu juga menyematkan cincin tersebut ke jari Ren tanpa bisa ia tolak. Otaknya seperti siput, lambat sekali menerima semua kejadian itu.

“Aku harus melakukan apa supaya kamu percaya Ren? Mama bahkan sudah sibuk memilih tempat, E.O dan sebagainya di rumah. Membuat Papa sebal karena tidak mendapat sarapan yang layak hari ini.”

“Tap…Tapi….”

Ben mengenggam tangan Ren lembut tapi juga tegas. Menyakinkan cewek itu kalau semua akan baik-baik saja. Ia harus bisa menangani salah paham kecil ini sebelum melangkah lebih jauh.

“Ren, Park Seo Ren, kalau kamu memang ingin menolak pertunangan kita,” Ben menghela nafas, suaranya menjadi berat seiring dengan menegangnya syaraf-syaraf di otaknya, “menolak untuk berpacaran denganku, kalau kamu tidak menyukai aku, aku bersedia, saat ini juga, membatalkan semua ini.”

Tidak perlu waktu lama untuk melihat Ren mengeleng. Ia bisa merasakan udara mengalir kembali ke paru-parunya.

“Aku…. Aku tidak bisa Ben. Mempertaruhkan kebahagian orang lain untuk diriku sendiri, itu aku tidak bisa. Tapi yang lebih penting dari semua itu. Aku tidak mengerti kamu. Kamu begitu tergila-gila pada Gina. Kenapa mendadak berubah? Apa kamu hanya bermain-main dengan Gina?”

Ben menghela nafas. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan dirinya. Ia sudah salah mengartikan emosi yang dirasakannya terhadap Ren. Dulu dipikirnya Ren itu menggangu karena ia tidak bisa tidak terlibat masalah ketika bersamanya, padahal itu semua karena ia tidak bisa membiarkan cewek itu terluka. Setiap argumen yang ia lakukan dulu adalah penyangkalan yang dikirim oleh otaknya. Ia punya sosok cewek ideal yang terus dikejarnya, padahal sosok ideal itu tidak benar-benar membuat dirinya bergairah. Tubuhnya jauh lebih jujur menanggapi gejolak perasaannya pada Ren. Tubuhnya jauh lebih mengerti siapa sebenarnya yang ia inginkan untuk menghabiskan sisa hidupnya.

“Ya sudah. Aku akan menelepon Mama dan membatalkan semua ini. Tidak ada gunanya memaksa kamu untuk menikah denganku kalau kamu tidak menginginkannya.”

Ia menelpon Mama-nya, baru saja ia mengatakan Hallo, ponselnya sudah direbut oleh Ren. Cewek itu berbincang-bincang dengan Mama dan kemudian menutup telepon.

Dasar, apa ia harus selalu melakukan hal se-ekstrim ini untuk meyakinkan Ren? Walau menggerutu, seulas senyum tersungging di wajah Ben. Ia berhasil memenangkan hati cewek itu. Tapi ia salah. Ia belum memenangkan apa-apa. Ren kembali menolaknya.

“Ben, tolong minta orang tua kamu memundurkan tanggal pertunganan kita sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Aku harus memikir semua ini. Aku belum mengenal kamu untuk bisa memutuskan apa-apa. Lalu aku masih ingin melakukan banyak hal dan menikah tidak termasuk di dalamnya.”

Ben tertegun tapi kemudian mengangguk juga. Ia hanya pura-pura mengalah. Serta merta, ia menarik Ren dan mencium cewek itu. Ciuman yang sama, yang selalu membuat dirinya menginginkan lebih. Ciuman yang sama yang telah menyadarkannya.

Hanya satu yang ingin Ben pastikan saat ini. Apakah Ren juga menginginkan dirinya sebesar dirinya menginginkan cewek itu. Menginginkannya seperti menginginkan udara untuk hidup.

Ia senang luar biasa ketika mendapati Ren bereaksi persis seperti yang diinginkannya.  Setidaknya satu hal yang pasti, Ren juga menginginkannya. Mungkin dia memang harus melakukan ini dengan perlahan. Mungkin Ren juga seperti dirinya dulu, berusaha menyangkal seluruh gairah dan hasrat yang hanya bisa ditimbulkan saat mereka bersama.

Tiba-tiba ada orang yang mengetuk kaca mobil. Laki-laki dengan seragam keamanan. Buru-buru Ben mengenakan kacamata hitamnya dan menjalankan mobil. Ia tidak mau tertangkap dan menciptakan skandal. Ia tidak mau mengulang kejadian Keiko

lagi.

Ben keluar dari gedung parkir dengan kecepatan tinggi. Ia tidak memikirkan tujuan mereka, yang penting mereka tidak ditangkap atau diintrogasi. Tapi tidak dengan Ren, cewek itu terus mengarahkan dirinya menuju entah kemana. Ben hanya mengendarai dengan patuh.

Mereka tiba di Anyang, salah satu tempat pemakaman umum di Seoul. Ben tidak sempat bertanya untuk apa mereka kemari. Dipikirnya Ren ingin pergi ke penjual ramen yang ada di atas bukit. Mienya enak, kuahnya kental dan kimchi diberikan gratis. Tempat favoritenya dan Micky jika kelaparan di malam hari.

Ren berjalan dalam diam. Ini pertama kalinya ia membawa seseorang ke makan ibunya. Ben orang pertama. Mama meninggal ketika Ren berusia 17 tahun, tabrak lari. Biasanya ia datang sendirian dan seringnya ketika ia menginginkan ketenangan dan pencerahan untuk pikirannya yang kusut.

“Maaf aku membawa kamu ke sini, tapi ini satu-satunya tempat yang terpikirkan jika aku ingin menyendiri.” ujar Ren tanpa memalingkan wajahnya dari nisan sang Mama.

“Dia Mama kamu? Cantik.” puji Ben polos.

“Terima kasih. Sekarang aku akan memperkenalkan kamu ke Mama.” ujar Ren kemudian tersenyum. “Mama, ini Ben, temanku.”

“Pacar.” koreksi Ben.

Ren memelototi cowok di sampingnya, “Mama jangan dengarkan dia. Ben hanya teman. Dia pacaran dengan Gina, sahabat Ren yang baru.”

“Sudah putus Ma. Aku serius mengejar Ren.” ralat Ben lagi.

“Mama tidak mungkin mendengarkan kamu.” tuding Ren, kemudian terkekeh. Senang karena Ben tidak menganggapnya bodoh karena berbicara dengan nisan.

“Tentu saja Mama bisa mendengarkan aku. Malah dia meminta aku untuk menjaga kamu, Ren terlalu ceroboh untuk ditinggal sendirian.”

Ren mendengus, “Mama tidak mungkin bicara seperti itu, dan kamu,” Ren menunjuk hidung Ben, “Berhenti memanggilnya Mama.”

“Tidak, dia Mama kamu berarti Mamaku juga.” Ben memasang tangan di samping kupingnya seakan-akan sang batu nisan berbisik padanya, “Beres, Ma. Aku pasti mengingatkan Ren untuk mandi dan makan 3 kali sehari. Iyah dia memang suka jorok.”

“Boudoh…” maki Ren tapi tidak kuasa menahan airmatanya.

Ia mengisap ingus di hidungnya dan mengelap air matanya. Ia terharu. Melihat kekonyolan Ben dan matanya yang dengan tulus memandang Ren, ia cuma bisa tertawa lirih.

“Nah, Ren, untuk melaksanakan tugas pertama, bagaimana kalau kita makan? Aku lapar.”

Ren tersenyum lagi sebelum memukul telapak tangannya yang menunggu uluran nya disambut oleh cewek itu. Ia tersenyum, mengerti kalau Ren masih menjaga jarak dengan dirinya. Tidak apa, ia akan melakukannya dengan perlahan. Kalau yang Ren minta adalah waktu maka Ben akan mencurahkan seluruh waktu sengangnya untuk cewek itu.

Ben mengajak Ren ke toko ramen di atas bukit. Untungnya tempat itu sudah buka walau hari belum terlalu sore. Sang pemilik menyambut Ben hangat dan mempersilahkan mereka duduk. Buru-buru memasak ramen dan menyediakannya di meja berikut dengan kimchi andalan.

“Itu ramen terenak yang pernah kumakan.” komentar Ren saat mereka menuruni bukit.

“Kamu tahu rahasianya?” tanya Ben dengan senyum iseng tersungging di bibirnya.

Ren mengeleng, ia tidak tahu ada resep rahasia untuk membuat ramen enak.

“Dia mengunakan daging mayat untuk kuah dan tanah kuburan sebagai tungkunya.” celetuk Ben asal dan tentunya ia berharap Ren memarahinya karena sudah membuat lelucon tidak lucu, bukannya malah menatapnya dengan wajah pucat dan mata melotot.

“Ada apa?”

Ren megap-megap seperti ikan kekurangan air, membuat Ben panik dan mengendong Ren sambil menuruni bukit terburu-buru. Kemudian mendudukan Ren di dalam mobil.

“Ada apa?” tanya Ben, kepanikannya belum hilang sepenuhnya.

“A… a… aku cuma mau bilang, baboh

, bodoh, idiot, siapa yang akan percaya cerita kamu. Aku melihat dengan jelas iga sapi yang digunakannya.” ujar Ren kemudian tertawa kencang.

Ia senang sekali sudah membalas lelucon Ben. Senang juga melihat cowok itu panik dan ketakutan melihat dia mendadak sesak nafas.

“Kenapa kita tidak berteman saja, Ben? Segalanya akan lebih mudah…” ucap Ren tiba-tiba.

Ben tertegun.

“Aku tidak mau membagi kamu dengan cowok lain.”

Ren tersenyum, mendengar sisi posesif dari Ben. Tapi itu tidak beralasan, ia tidak punya cowok lain. Tidak alasan baginya untuk berpacaran di saat seperti ini, apalagi Ben juga masih harus melanjutkan kariernya dan ia harus ke Venice.

“Tidak ada cowok lain Ben.” ucap Ren meyakinkan cowok itu.

Untuk sementara Ben harus puas dengan keputusan Ren. Ia menyuruh orang untuk menjaga cewek ini agar tidak direbut cowok lain saat dia meninggalkan Seoul nanti. Atau mungkin dia bisa minta tolong Mama untuk terus mengajak Ren pergi sehingga cewek ini tidak ada kesempatan untuk melakukan kegiatan lain? Mama kan cukup hebat untuk urusan seperti ini.

Puas dengan pemikirannya, Ben mengantar Ren ke kampus. Cewek itu harus menyerahkan lukisannya untuk dinilai.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 23

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s