Into Your Arm – Chapter 24

“Sekarang kamu turun, serahkan tugas kamu. Aku tunggu di sini.” perintah Ben dan dituruti dengan bingung oleh cewek itu.

Ben turun dari mobil untuk membali minum di kios dekat pintu masuk kampus. Tapi ia malah dikenali oleh orang-orang dan buru-buru kembali ke mobilnya. Bukannya pergi, pengemarnya malah makin banyak dan mengerubuni mobilnya. Ia mengibas-ngibaskan tangan agar mereka menyingkir tapi sia-sia. Sejak kapan mereka mau pergi ketika diusir.

Ia menjalankan mobil, sepertinya Ren harus bertemu dengannya di tempat lain. Ia mengirim SMS ke Ren, menyuruh cewek itu menemuinya di restorant ‘Kim’s’ yang letaknya tidak jauh dari kampus Ren.

Seharusnya rencananya berjalan sempurna kalau saja ia tidak ditemukan oleh Gina. Ia tidak tahu darimana cewek itu datang, yang pasti Gina sudah duduk di depannya.

“Apa maksud kamu dengan putus kemarin? Kamu cuma bercanda kan? Karena kemarin April Fool?” labrak Gina.

Ia langsung duduk di depan Ben. Menatap wajah cowok itu yang cum cengengesan dan dengan santainya menawari makanan. Gina juga menjadi tenang dan ikut memesan makanan. Mereka bahkan berbincang-bincang seperti biasa.

“Jadi kamu kapan kembali?”

“Kemarin. Rencananya aku sudah ingin mencari kamu. Tapi ada sedikit masalah.”

Ben melihat Gina tetap menawan, bahkan ketika mengerutkan dahi seperti sekarang. Heran, kenapa jantungnya masih saja ketika melihat Gina. Apa dia masih memiliki perasaan pada cewek ini?

“Oh yah? Ada apa?” tanya Gina dengan senyum manisnya.

“Selama ini aku sudah menyusahkan kamu. Ini sedikit oleh-oleh.” ucap Ben, ia memang sudah menyiapkan hadiah kecil untuk 200 hari mereka jadian, tapi tampaknya benda itu akan menjadi barang terakhir yang ia berikan untuk Gina. Sebuah Tas keluaran terbaru dari Louis Vuitton.

“Terima kasih.” ucap Gina dan langsung kegirangan melihat hadiah yang dibelikan Ben. Ternyata Ben ingat kalau ia menginginkan tas ini.

“Nah, Gina. Aku harus memberitahu sesuatu sebelum kamu mendengarnya dari orang lain.” Ben menarik nafas sebentar, rasanya jadi sulit untuk menyampaikan masalah ini ketika bertemu muka. Ia mengumpulkan keberaniannya lagi dan mengucapakan kata putus dan pertunangannya dalan satu tarikan nafas.

“Tidaaaaaak……. Kamu pasti bohong kan…..” pekik Gina.

“Gin, aku tidak bercanda. Aku benar-benar bertunangan dengan Ren.”

“Dan bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa kamu berselingkuh dengannya?”

Ben mengeleng, “Tidak bukan seperti itu, Orangtuaku menjodohkan kami. Kamu tidak perlu menuduh Ren sembarangan.”

“Dan sekarang kamu membela dia? Aku tidak terima! Kenapa orangtua kamu bisa mengenal Ren? Jelaskan Ben!”

Itulah yang sejak tadi ingin ia jelaskan pada Gina. Cewek itu menuntun dan berkomentar atas setiap kata yang diucapkan oleh Ben. Membuatnya merasa heran dengan perubahan sifat Gina. Mendadak cewek itu menjadi meledak-ledak dan sama sekali tidak cantik. Ben kehilangan rasa hormatnya untuk cewek itu. Ia merasa baru kali ini melihat Gina yang sesungguhnya.

Tiba-tiba cewek itu berdiri dan berjalan ke pintu keluar. Tadinya Ben berpikir kalau Gina akan meninggalkannya tapi begitu melihat Ren yang berdiri mematung di sana, serta merta Ben meloncat dari kursinya. Mengejar Gina. Menghentikan apapun juga yang akan dilakukan oleh cewek itu.

Ia pikir Gina akan menampar Ren, tapi ternyata Gina hanya memeluk dan menangis dalam pelukan Ren. Membuat Ben semakin cemas. Masalah ini akan semakin rumit.

Benar saja, Ren menatap Ben tajam, seakan-akan menuduhnya sudah melakukan pelecehan terhadap Gina.

“Tunggu, biar aku jelaskan…” ucap Ben panik. Mereka sudah menjadi tontonan orang sekarang. Ia mendorong Ren dan Gina masuk ke dalam mobil setelah melempar lebih dari cukup uang untuk membayar makanannya.

Masuk ke dalam mobil, Ren tidak duduk di depan, malah Gina yang ada di sampingnya. Ben tidak tahu siapa yang mengatur seperti itu, tapi ia tidak merasa tenang. Rasanya ia akan terlibat dalam badai amukan dan perdebatan yang tidak akan berakhir baik-baik. Ia menarik nafas, menunggu Ren untuk membuka mulutnya.

Lagi-lagi ia salah, Gina yang berbicara lebih dulu. Bertanya tepatnya.

“Apa benar, kamu tunangan dengan dia Ren?” tanya Gina sambil menangis. Make-upnya sudah berantakan. Tapi ia tidak peduli. Ia tidak akan membiarkan Ben bertunangan dengan Ren. Ia akan melakukan apa saja untuk menghentikan hal tersebut.

“Itu.. Ben bukannya kamu sudah membatalkannya?”

“Belum, kita kan belum pulang ke rumah.” jawab Ben enteng. Ia bahkan tidak berpikir untuk menyampaikan hal tersebut ke orang tuanya karena pada akhirnya ia tetap akan memboyong Ren ke pelaminan. Cepat atau lambat.

Ren menghela nafas. Ia tidak bisa memarahi Ben. Cukup mengerti juga kalau amat tidak sopan untuk menyampaikan hal seperti penolakannya melalui telepon. Papa juga pasti tidak akan menerima hal ini baik-baik.

“Gina… Perjodohan itu pasti dibatalkan. Ben tidak akan bertunangan, apalagi menikah denganku. Aku sudah membahas masalah ini dan Ben juga setuju.”

“Tapi kenapa dia tetap memutuskan aku?” pekik Gina.

“Kamu tetap putus dengannya?” tanya Ren pada cowok yang sedang menyetir dan dari tampang Ben yang tenang ia merasa kalau cowok itu akan membiarkan dirinya yang menyelesaikan masalah ini. Dasar!

Ia tidak akan membiarkan cowok itu lepas tangan, jadi Ren menjerit, “BEEEN!!”

“Iyah, aku memang minta putus dengan Ren. Apa gunanya berpacaran dengan orang yang tidak mungkin menikah denganku?” dengus Ben tidak sabar.

“Tapi kamu cinta padaku kan?” tanya Gina mulai putus asa. Padahal ia sendiri tahu itu tidak mungkin, di antara Ben dan dirinya tidak ada letupan.

“Maaf…. Tapi… aku rasa aku…”

“Jangan diteruskan! Aku tidak mau dengar! Ini… Kalian…” ucap Gina semakin tergagap. Ia ganti menatap Ren, hanya cewek ini yang bisa membantunya sekarang.

“Ren, kamu tidak akan menghianati aku kan?” mohon Gina.

Satu kalimat itu langsung menghujam dada Ren. Ini yang paling takut ia dengar. Ia menjadi penghianat. Ia bukan penghianat. Ia tidak akan berhianat.

Ben menyadari perubahan mimik Ren. Sadar kalau ucapan Gina tadi sudah menguncang Ren. Ia diam, menunggu jawaban Ren. Ketika Ren mengeleng dan berkata kalau dia tidak akan menghianati Gina. Dunia Ben serasa runtuh.

Gina tahu ia sudah melampaui batas dengan memojokan Ren. Tapi ia tidak mau kehilangan orang yang dicintainya. Ia tidak mungkin membiarkan orang itu membawanya pergi. Tidak ketika ia yakin bahwa hatinya memang tertambat untuk orang itu. Pada Ren.

Benar, Gina mencintai Ren. Ia tahu cintanya terlarang. Tapi ia tidak berdaya. Ia tidak sanggup membohongi dirinya sendiri. Ketika melihat Ren dan Samuel bercanda di pulau siang itu. Ia merasa ada api yang membakar dirinya, menelannya bulat-bulat.

Sejak hari itu, ia mati-matian menjauhkan Ren dari Samuel, tapi tetap saja tidak ada hal yang berjalan mulus. Karena ia tidak bisa dengan terang-terangan melakukannya. Atau ketika ia menemukan Ben berciuman dengan Ren di atas kapal, ia cuma bisa pura-pura pingsan dan sebagainya untuk menahan Ben agar tetap di sisinya.

Lalu sekarang, Ben akan membawa Ren pergi darinya? Tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Reaksi Ren sesuai dengan harapan Gina. Ia tinggal memastikan bahwa Ren dan Ben tidak akan berhubungan sama sekali.

“Kalau begitu Ren, kamu harus berjanji padaku, kamu tidak akan berbicara, bertemu dan membicarakan soal Ben lagi. Kalau kamu memang temanku, aku mohon kita lupakan saja kalau kita pernah mengenal cowok ini.” tandas Gina.

Ben menghentikan kendaraan mereka di pinggir jalan. Pembicaraan ini sudah berkembang terlalu jauh. Apa hak Gina melarangnya bertemu dan berbicara dengan Ren. Kenapa juga Ren mau menuruti permintaan egois seperti itu?

Ia harus menghentikan pembicaraan bodoh ini, sebelum kehabisan sabar.

“Apa maksud kamu Gina? Kenapa Ren tidak boleh berbicara denganku lagi?”

“Kalau Ren memang temanku, dia tidak seharusnya berhubungan dengan mantanku.” cecer Gina. Pokoknya dia mati-matian mencari alasan yang cukup masuk akal untuk menjauhkan Ben dan Ren.

“Kalau kamu temannya seharusnya kamu mendoakan kebahagiannya!” bentak Ben penuh emosi. Ia pusing mendengar keegoisan Gina.

Gina menangis meraung-raung. Ini jurus terakhirnya. Kalau Ben tidak mempan dengan airmatanya dan tampaknya memang begitu, cowok itu memalingkan wajah darinya dan memukul stir mobil berkali-kali. Setidaknya airmatanya mempan untuk membuat Ren terdiam. Ren mengelap airmatanya dengan tissue dan Gina membenamkan diri dalam pelukan Ren. Benar seharusnya seperti ini. Dalam pelukan Ren, Gina merasa menemukan dirinya sekaligus ketenangan yang tidak pernah ia rasakan saat bersama cowok manapun juga.

“Ben… Aku akan mengantar kamu pulang, lalu mengantar Gina pulang. Masalah ini akan aku selesaikan dengan orang tuaku dulu.” tuntas Ren.

Ia tidak menyangka Ben akan langsung turun saat itu juga. Ia memperhatikan cowok itu n langsung masuk ke taxi pertama yang menghampirinya.

Ia melirik ke Gina yang masih terisak-isak. Kepalanya merasa pening. Dadanya kembali merasa sesak. Namun ia tetap memaksa otaknya untuk berpikir lebih jernih. Ia masih harus mengantar Gina pulang dan kembali ke rumahnya.

Gina memeluknya lagi saat ia menurunkan cewek itu di rumahnya.

“Terima kasih. Aku tahu kamu pasti akan membelaku. Jangan biarkan cowok tukang selingkuh itu menipumu. Aku tidak mau kamu mengalami sakit yang aku rasakan hari ini.” ucap Gina yang terdengar tulus di kuping Ren.

Ia mengangguk dan berhasil menyunggingkan senyum dan melambai pada Gina sebelum ia masuk kembali ke mobil.

Tapi masalah yang harus dihadapinya belum selesai. Ada boom lain yang menunggunya di rumah.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 24

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s