Into Your Arm – Chapter 25

“Sedang apa kamu di sini?” tanya Ren kasar begitu melihat Samuel dengan motornya bertengger di depan rumahnya.

“Untuk apa? Tentu saja menunggu pacarku pulang. Kamu darimana? Aku mencarimu di kampus tadi dan katanya kamu tidak masuk.”

Samuel mengikuti Ren masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak langsung duduk. Malah menarik buku gambar Ren yang terbuka di lantai, sepertinya Ren kembali bergadang semalam untuk menyelesaikan lukisan. Ia masih bisa mencium bau cat di kamar ini.

“Kamu tahu tidak kalau mencium cat terlalu sering, bisa membuat otak kamu keracunan.” ucap Samuel, kemudian ia membuka semua jendela yang ada di kamar itu. Membiarkan angin segar masuk.

Ren sudah berganti pakaian dan mengikat rambutnya. Ia menyodorkan minuman pada Samuel dari kulkas kecil yang ada di kamarnya.

“Ada urusan apa mencariku, Sam?”

“Kenapa kamu jadi galak hari ini? Apa aku tidak boleh mendatangi kamu?”

Cowok itu dengan santainya meletakan tangannya yang memanggur di pundak Ren. Tumben-tumbenan Ren tidak langsung menepisnya. Perlu waktu beberapa menit, untuk cewek itu menyadari kedekatan mereka dan menurutnya semakin tidak wajar.

“Ada apa? Kamu sakit?”

Ren mengerang tiba-tiba dan meloncat-loncat di tempat, “Kenapa kalian semua berubah hari ini?”

Ia sampai menendang penyangga kanvas dan mengobark-abrik barang-barang di mejanya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan hidupnya. Kenapa tiba-tiba semua orang di sekitarnya berubah menjadi orang lain?

Samuel menangkap Ren tepat saat cewek itu menghujam cutter ke lukisan yang belum selesai dibuat. Lukisan pemandangan di atas bukit.

“Stop Ren.. Stop… Tenang dulu…”

Ren berbalik dan memeluk Samuel. Ia melakukannya atas dasar keputus asaan. Ia perlu seseorang untuk menguatkanya sekarang. Tapi tidak lama, ia segera menjauh ketika mendengar pintu kamarnya diketuk.

Ia membuka pintu setelah mengelap airmata.

“Orang tua Ben menunggu di luar.” Sandra melirik ke bawah dan ketika melihat ada Samuel di sana, ia berkata, “Suruh cowok itu pulang, kamu tidak mau mempermalukan Papamu dengan kehadiran cowok lain di kamar ini.”

“Aku tidak mau menemui mereka.”

“Tidak bisa. Papa sudah di luar dan kamu tidak ingin Papa datang kemari kan. Cuci mukamu dan pakai bedak. Aku serius Ren, mood Papa sedang tidak baik.”

“Beri aku waktu sebentar.”

Ia melakukan nasehat Sandra, ia juga meminta Samuel pulang dan cowok itu juga menurut.

Di ruang tamu, orang tua Ben beserta Ben duduk berhadapan-hadapan dengan Papa Ren. Melihat wajah mereka kaku menahan amarah, Ren bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh mereka.

“Ren” panggil Papa, menyuruhnya duduk di samping Ben. “Papa dengar kamu tidak setuju untuk menikah dengan Ben? Bisa kamu jelaskan kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran dalam waktu 24 jam?”

Ia menghela nafas, ia tidak punya alasan lain selain mengatakan yang sejujurnya, “Aku tidak bisa menikah sekarang Papa.”

“Papa tidak menyuruh kamu menikah dengannya sekarang.”

“Aku tidak bisa menikah dengan Ben, Pa.” erang Ren, tangisnya nyaris pecah.

“Dan alasannya? Bukankah kalian saling mencintai? Atau Papa salah?”

Ren memejamkan mata, menahan airmatanya agar tidak jatuh, sekaligus mengumpukan keberaniannya. Inilah saatnya untuk memperbaiki keadaan ini.

“Ya, aku tidak mencintai Ben.” ucap Ren akhirnya dengan suara serak.

Ia membuka matanya kembali dan orang pertama yang ia lihat adalah Ben. Entah bagaimana cowok itu sudah berdiri di depannya, mengenggam lengannya, membuat dia berdiri.

“Katakan sekali lagi, kalau kamu tidak mencintai aku.”

“Aku tidak menci…” ucap Ren sambil memalingkan wajah. Ia tidak sanggup melihat mata Ben.

“Lihat aku!” paksa Ben. “Katakan kamu tidak punya perasaan apa-apa padaku. Katakan kamu tidak mencintai aku!”

“Ben… Hentikan!” larang Mama Ben, ia tidak ingin anaknya berbuat melanggar batas.

“Aku tidak mencintai kamu.” jawab Ren akhirnya, sambil menatap ke dalam bola mata Ben. Berbicara pada bayangan dirinya sendiri. Dan ia bisa melihat rasa kecewa di sana.

“Jangan bohong, Jangan katakan sesuai yang tidak sesuai dengan isi hati kamu. Jangan turuti Gina…” mohon Ben.

“Aku tidak mencintaimu, aku tidak mencintaimu.” ulang Ren berkali-kali sampai Ben melepaskannya.

Sudah selesai. Kalau cewek itu berkata tidak menginginkannya, ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia meminta maaf sudah membuat keributan di rumah Ren. Mengajak orangtuanya pulang.

Di luar sana, di balik tembok rumah Ren, Samuel sedang bersembunyi. Ia mendengar semua pembicaraan tadi. Rasanya ia ingin meninju Ben lagi, dan benar-benar membuat cowok itu terkapar di rumah sakit. Sebajingan-bajingan dirinya, ia tidak pernah menduakan perempuan atau memaksa anak orang untuk menikah dengannya.

Ia mengetuk pintu kamar Ren lagi. Ia yakin cewek itu pasti sudah ada di sana. MUdah-mudah tidak melempar barang atau menangis lagi. Ia perlu berbicara dengan Ren dalam keadaan waras.

Cukup beruntung, Ren tidak sedang menangis. Hanya seperti mayat hidup. Memegang kuasnya dan mulai mengambar. Samuel tidak bisa menebak lukisan Ren. Rasanya semuanya bernuansa sama, gelap. Hitam, coklat tua, biru tua hijau tua. Ia tidak mengerti apa yang ingin dicapai oleh Ren. Tidak ada wajah orang di sana, juga benda lain yang dapat disebut benda.

Karena bosan, Samuel pamit pulang. Ren tidak bisa diajak bicara, tapi Gina bisa. Ia akan bertanya pada sepupunya itu. Cewek itu pasti tahu dengan jelas duduk perkara masalah ini.

Dan pergilah Samuel ke rumah Gina. Heran, ia pikir Gina akan muncul dengan mata sembab atau muka bengkak, sebagaimana biasanya Gina kalau habis menangis. Tapi sepupunya ini malah keluar dengan wajah ceria dan tersenyum lebar.

Karena berpikir kalau Gina belum mengetahui situasi Ben dan Ren, Samuel menceritakan apa yang di dengarnya dari rumah Ren.

“Aku sudah tahu. Jad Ren menolak kan?”

Melihat Gina bertanya dengan wajah berseri-seri, Samuel semakin bingung, “Kenapa kamu senang?”

“Karena rencanaku berhasil. Ren tidak menerima Ben. Itu hukuman untuk Ben karena sudah berani mengambil Ren dariku.”

Rasanya dahi Samuel berubah menjadi kue lapis karena terlalu serius memikirkan ucapan Gina. Ia tidak mengerti kenapa Gina malah marah pada Ben dan berkata kalau ingin mempertahankan Ren. Kenapa tidak sebaliknya?

“Kok begitu? Jadi kamu lebih memilih Ren dibanding pacar kamu?”

“Dari awal aku selalu memilih Ren. Makanya aku marah padamu karena sudah bertindak bodoh kemarin! Apa hak kamu mencium Ren di depan umum? Menodai Ren!”

Samuel semakin tidak mengerti.

“Aku menyayangi Ren, Samuel, kalau kamu masih bingung. Aku menyayanginya seperti Tasya mencintai kamu.”

Samuel seperti ditampar. Bagaimana mungkin Gina adalah seorang lesian? Dari sudut manapun ia melihat Gina, sepupunya ini terlalu perempuan untuk menjadi seorang pencinta sesama.

“Jangan bercanda kamu?!” dengus Samuel dan tertawa garing.

“Aku serius Samuel! Jadi tolong berhenti menganggu Ren. Dia milikku dan hanya milikku!”

“Kamu gila yah?! Apa Ren sudah tahu soal ini?”

Gina langsung mengancam, “Kalau kamu berani membocorkan masalah ini, aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat Ren lagi. Kamu tahu aku sanggup mencuci otaknya supaya Ren memusuhimu kan?!”

Samuel mengumpat sebisanya. Ia tahu, ia sudah sering melihat Gina memanipulasi orang lain, dan ia ingin menjadi korbannya. Ia akan menutup mulutnya rapat-rapat asal ia masih bisa berteman dengan Ren.

“Bagus kalau kamu mengerti. Sekarang silakan pulang. I need my beauty sleep.” usir Gina.

Pertarungan pertama sudah ia menangkan. Mulai besok ia akan memastikan Ren berada dalam pengawasannya. Ia juga akan meminta bantuan Samuel kalau ia sedang sibuk. Cowok itu tidak akan keberatan. Samuel memang boneka terbaik yang ia miliki.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 25

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

  2. ya ampun.. astaga naga.. unbelieveable.. unpredictable.. ternyat firasatku benar!
    aku dah curiga waktu Ren meluk Gina, terus perasaan Gina waktu d peluk Ren, tp aku bener2 g nyangka kalo
    ternyata beneran! ampun dah! mantap. keren.. kak Wina..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s