Into Your Arm – Chapter 26

Berbulan-bulan berlalu. Ben tidak pernah mengusik Gina atau Ren. Seberapapun inginnya ia kembali di hadapan Ren. Ia terlalu mengenal dirinya dengan baik. Sadar kalau dia hanya akan melukai Ren jika ia muncul di hadapan cewek itu. Lagipula ia yakin ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk atau berlutut di hadapan Ren, meminta cewek itu untuk kembali padanya, apapun jenis hubungan mereka, ia akan menyetujuinya. Walaupun hanya berteman, ia hanya ingin mendengar suara Ren, suara tawanya, lelucon bodohnya dan senyum Ren.

“Lagi ngapain sih?”

Ben tidak menengok dari laptopnya untuk melihat Micky. Temannya itu memang biasa keluar masuk kamarnya dan mengusiknya belakangan ini. Mau dikata apa Di Jepang mereka tidak punya banyak teman untuk diajak sosialisasi. Kecuali si Jack itu, entah bagaimana caranya cowok itu bisa berkenalan dan pergi dengan banyak orang.

“Email? Dengan Mama kamu?” tanya Micky sedikit heran. Tidak biasa melihat ibu-anak itu mengirim email, biasanya langsung teleponan. Ia ikut membaca email tersebut dan tercengang.

“Itu laporan kegiatan harian Ren?????!!!!!”

Anggukan Ben semakin mendorong Micky untuk membaca email itu dan email-email lainnya. Ia tidak pernah berpikir kalau Ben serius ini dengan Ren. Tadinya ia pikir Ben hanya kalap karena cewek tipe Ren sama sekali berbeda dengan cewek kebanyakan dan temannya ini pasti merasa tertarik. Tapi nantinya akan kembali pada Gina. Gina tipe ideal Ben kan, atau tipe idealnya juga berubah.

“Kamu meminta Mama kamu untuk memata-matai Ren?” tanya Micky tidak percaya, laporannya bahkan sangat lengkap sampai makan apa, dimana dan dengan siapa. “Dia sering pergi dengan Gina dan Samuel yah. Apa Ren benar pacaran dengan cowok itu? Kamu tahu mereka pernah berciuman kan?”

Tiba-tiba Ben menendang meja. Membuat laptop yang sedang dipandangi Micky meloncat dan terima kasih untuk gerak refleknya, ia berhasil menangkap laptop itu kembali.

“Ren tidak berpacaran dengan Samuel. Mau tahu cerita menarik? Cowok itu tidak berani mendekat kalau ada Gina. Entah ada masalah apa di antara mereka, pastinya aku curiga.” dengus Ben. Ia serius, ada yang tidak beres dengan tingkah laku dua saudara itu. Seingatnya dulu Samuel lebih agresif, lebih liar. Tapi sekarang, dari yang ia baca, Samuel lebih banyak bertindak sebagai pelindung Ren. Tapi dari apa? Apa yang sedang mengancam cewek itu.

“Ada yang aneh, Ren tidak pernah mampir ke toko buku sejak, hmmmm, sebulan yang lalu.” celetuk Micky, ia selesai membaca laporan 3 bulan terakhir kegiatan Ren dalam waktu 3 jam. Cepat juga. Mungkin karena laporannya ringkas dan padat. Bukan seperti karangan essay. Lalu kegiatan Ren tidak terlalu bervariasi.

Ben kembali duduk dan membaca ulang laporan Ren. Micky benar, Ren tidak pernah ke toko buku sejak bulan Juni. Ia menelusuri lagi, apakah Ren mampir ke toko peralatan lukis selama 1 bulan terakhir ini.

Ia menarik nafas lega. Ada, cewek itu masih pergi ke toko peralatan lukis. Ia memicingkan matanya, cewek itu tidak pernah keluar membawa apa-apa dari sana.

“Ben, apa dia berhenti melukis dan berubah menjadi photographer? Kok Ren jadi sering pergi ke toko kamera?”

Micky benar. Kenapa ia tidak memperhatikan detail ini sebelumnya. Mengapa ia merasa cepat puas dan lega ketika membaca Ren masih terlihat senang dan tetap kuliah?

“Ky, jadwal kita kapan kosong? Kapan kita bisa kembali ke Seoul?” tanya Ben mulai panik. Ia merasakan firasat buruk.

“Padat! Kita masih ada summer konser gabungan sampai July. Paling cepat pertengahan July baru bisa kembali dan percaya deh, jadwal kita juga sama padatnya. Alex bilang ada album baru yang siap menanti untuk kita garap.”

Ben mengerang, itu artinya ia harus bertahan di Jepang untuk 1 bulan lagi. Konser gabungan mereka baru akan dimulai minggu depan. Terkadang di saat seperti ini ia amat menyesal sudah memilih untuk bekerja sebagai artis. Ia tidak bisa dengan leluasa mengatur jadwalnya sendiri dan minta ampun dengan kepadatan jadwal kerjanya. Liburan 10 hari dalam setahun bisa setiap kali dipangkas jika mereka mendapat job tambahan.

Ia pasti sudah menunjukan wajah gerah dan geram karena kemudian Micky menenangkannya dengan berkata akan bertanya untuk detail pekerjaan mereka. Ben berharap, ada beberapa hari kosong untuknya terbang sebentar ke Seoul. Ia hanya perlu memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Ren baik-baik saja.

Ben tidak bisa merasa tenang sejak hari itu. Setiap kali membaca laporan Ren, ia harus menarik Micky untuk ikut membaca. Ia khawatir kalau akan melewatkan detail tertentu yang sebenarnya penting. Hari ini, ia juga mengajak Max. Dua temannya ini bisa diandalkan di saat-saat seperti ini karena mereka berdua yang paling bawel untuk hal-hal remeh sekalipun.

“Bagaimana? Apa ada sesuatu?” tanya Ben. Walau ia sendiri sudah membaca dan tidak menemukan apa-apa di sana, tapi melihat Micky dan Max hanya terdiam, ia mendadak diliputi perasaan panik.

“Tidak ada apa-apa. Bagaimana dengan kamu Max?”

“Hei, boleh aku baca laporan ini dari awal” tanya Max, dan Ben langsung menyerahkan flask disk yang ia gunakan untuk menyimpan semua laporan tersebut. Max mengambilnya dan membawanya keluar.

Kata Max, “Aku perlu baca semua sendiri, nanti aku beritahu kalau memang kecurigaan aku benar.”

Sama sekali bukan berita yang Ben ingin dengar. Jadi Ben mulai mendesak dan menuntut Max. Ia memerlukan jawaban sekarang, bukan nanti ataupun besok. Tapi ia juga tidak berdaya, Max bukan orang yang serampangan dan mengatakan sesuatu tanpa bukti yang kuat.

Micky menepuk punggung Ben, “Sudah, biarkan adik kecil kita itu melakukan tugasnya. Sekarang, kamu ikut aku. Jack mengajak keluar.”

Ben tidak punya pilihan lain selain menuruti Micky. Temannya itu menariknya keluar kamar, mengunci kamarnya dan mendorongnya masuk ke mobil. Jack serta supir mereka sudah ada di dalam.

Setelah memberi salam, Jack menjelaskan tujuan mereka. Ke perlelangan karya seni. Tempat yang sama sekali bukan Jack. Ben menyerengit dan merasa teman-temannya ini sedang menyiapkan akal-akalan. Tapi ia bisa menebak kemana dan apa.

Ben memilih tidur dan memasang ipodnya, dua temannya itu sedan asyik telponan dengan pacar. Lebih baik kupingnya ditutup rapat-rapat dari polusi suara mereka. Ia juga dengan sengaja bernanyi dengan suara keras untuk mengangu mereka.

Tiba di tempat perlelangan, mereka duduk dengan tenang. Keuntungan lain yang disukai Fox-T ketika berada di Jepang adalah tidak banyak orang yang mengenali mereka. Atau sekalipun kenal, mereka tidak akan mengerumini dan memotret mereka seperti orang gila. Mereka bisa dengan tenang melakukan kegiatan pribadi tanpa dihalangi.

Ben melihat Yunna duduk di meja tamu kehormatan bersama Keiko. Dalam hati, Ben keki sekali karena dua temannya ini malah membawa dirinya ketika kencan. Apa mereka tidak tahu dia sedang kebelet rindu.

Ia tidak memperhatikan sang pembawa acara yang membuka pelelangan. Ia malah memasang ipod di kupingnya. Lukisan sudah tidak menarik perhatiannya lagi sejak Ren tidak ada di sisinya. Ia memilih mengisi waktu dengan tidur.

Jadi ketika Micky menarik earphonennya hingga copot, jangan salahkan Ben jika ia marah sambil berdiri karena terbangun dari tidurnya dalam keadaan kaget. Ia menjadi perhatian publik selama beberapa detik kemudian buru-buru meminta maaf serta kembali duduk.

“Apa sih…?” bisik Ben kembali dengan protesnya.

Micky menyengir jahil, dan menunjuk ke arah panggung. Di sana ada lukisan besar dengan cowok di atas kapal yang sedang menghadap ke arah laut. Punggung yang amat dikenalnya. Punggung miliknya.

“Sekarang, karya Park Seo Ren, pelukis muda berbakat yang menerima banyak pujian dari kritikus dunia. Kami mulai dengan penawaran 100,000 Yen.” ujar si auctioner.

Ben meremas kepalan tangannya. Perutnya kaku dan keringat dingin mulai menyucur. Ia merasa seperti dirinya sendiri yang sedang dilelang di atas sana. Matanya mencari-cari pelukisnya. Berharap kalau Ren akan hadir di tempat ini. Ia perlu bertemu dengan cewek itu. Ia perlu melihat Ren yang hidup di hadapannya, bukan cuma foto dari kejauhan.

Micky dan Jack menepuk-nepuk genggaman tangannya, memintanya untuk tenang.

“Pokoknya jangan buat yang aneh-aneh. Dia di belakang panggung.”

Ben tidak perlu bertanya siapa dia yang dimaksud oleh Micky. Rasanya kakinya sudah ingin berlari menuju belakang panggung. Rasanya mendadak ia bisa merasakan kehadiran Ren.

Jack memberinya kode untuk melihat di pojok kanan panggung, benar saja, Ren sedang mengintip di belakang pangung. Walau tidak terlalu jelas, tapi Ben bisa melihat cewek itu sedang menatap cemas dan gugup. Melihat Ren seperti itu saja, sudah membuat Ben bahagia, ia bahkan ikut tertawa untuk alasan yang tidak jelas.

Untung semua orang sedang sibuk menawar lukisan dirinya sehingga tidak ada yang mempedulikannya ketika ia mulai tertawa terbahak-bahak. Ia mengangkat tangan tiba-tiba, 10 juta Yen, cash.” teriak Ben.

Semua mata tertuju padanya, termasuk cewek itu. Ia maju ke depan agar bisa lebih dekat memperhatikan lukisan tersebut. Ia bisa mendengar bisik-bisik di belakangnya yang mengatakan kalau sosok belakangnya mirip dengan cowok di dalam lukisan. Mendengar hal itu, senyum Ben kembali merekah.

“10 Juta Yen, wah, anda menaikan standart lelang hari ini Pak…” ujar si eksekutor lelang.

Ben tersenyum, “Lukisan ini punya arti khusus untukku.”

Bisik-bisik kembali terdengar ketika lukisan itu berhasil dijual kepadanya. Ucapan berikutnya dari si eksekutor membuat Ben ingin melompat kegirangan. Orang itu mengatakan kalau pelukisnya sendiri yang akan menyerahkan lukisan itu padanya.

Mata Ben tidak bisa lepas dari Ren sejak cewek itu naik ke atas panggung, berdiri di hadapannya, menunduk dan membungkus lukisan tersebut untuknya. Ren mengenakan kemeja dan celana panjang sopan. Amat berbeda dengan keseharian cewek itu yang cuek. Ren bahkan berdandan walupun tipis. Tapi ia bisa melihat pulasan lipgloss yang membuat bibir Ren semakin mengundang.

Kalau saja mereka tidak sedang berdiri di depan orang banyak. Ben bersumpah ia akan mencium dan menculik Ren saat itu juga. Rasa rindunya berubah menjadi gairah tak terbendung yang kalau tidak segera dilampiaskan, Ben yakin ia tidak akan bisa hidup lagi.

“Apa kabar?” tanya Ben dengan senyum lebarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senang ketika melihat mata Ren juga menyiratkan perasaan yang sama. Ren masih mencintainya.

Ren tidak menjawab pertanyaannya, malah dengan dingin menyerahkan lukisan yang sudah dibayarnya dan turun dari panggung. Ben mengejarnya hingga ke luar ruangan. Ia tidak tahu membawa gulungan lukisan bisa menghambatnya sebegitu rupa. Tahu begitu ia akan melempar gulungan tersebut pada Micky atau Yunna.

“Ren, tunggu…” teriak Ben akhirnya.

Ren tidak berhenti, cewek itu malah berjalan lebih cepat, ia baru berhasil menyusul Ren ketika cewek itu masuk ke ruang tunggu. Ia menarik lengan Ren. Membuat tubuh cewek itu membenturnya dan segera mendekapnya.

Dadanya merasa sesak, nafasnya terputus-putus dan ia merasa jantungnya bisa meledak saat itu juga. Ia mencium kening Ren, lalu pipinya dan bibirnya. Dalam sekejap, ia merasa kembali hidup.

Ia tidak tahu kalau selama beberapa bulan ini ia telah kehilangan gairah, ia tidak tahu kalau ia sudah kehilangan bagian terpenting dalam hidupnya. Ia tidak tahu kalau ternyata ia memerlukan Ren untuk membuatnya hidup.

“Jangan pergi lagi Ren…” bisik Ben sambil tetap memeluk Ren.

Cewek itu tidak menjawab tapi ia bisa merasakan kepala Ren mengeleng, mengusap-usap dadanya. Ia tidak mengerti. Kenapa Ren kembali menolaknya, padahal Ren tidak menolak ciumannya tadi. Ia bahkan yakin kalau Ren juga membalas ciumannya. Apa lagi yang menahan cewek ini?

“REN???!!!” teriak seorang cewek yang Ben yakin itu adalah Gina. Bahkan ia masih mengingat suara bidadari itu, hanya saja saat ini di kupingnya lebih terdengar seperti suara iblis. Kenapa cewek itu bisa ada di sini? umpat Ben dalam hati.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Ben sinis.

Gina mendengus padanya. Astaga, rasanya dulu ia tidak pernah melihat Gina mendengus. Apa selama ini ia telah dibohongi oleh cewek itu? Ia mencibir, parah sekali dia kalau benar sudah ditipu oleh iblis berwajah bidadari itu.

“Aku menemaninya. Memangnya ada yang tega meninggalkan dia di antara orang asing seperti ini. Ren tidak bisa bahasa Jepang kalau kamu tidak tahu.”

“Dan kamu bisa?” tanya Ben sedikit terkejut.

Gina kembali mendengus, dan mengibas rambutnya, “Tentu saja.”

“Bagus sekali, kalau begitu tolong belikan aku kopi. Ini uangnya.” ujar Ben menampar harga diri Gina. Ia sengaja mengeluarkan lembaran 100,000 dari dompetnya. Cewek itu tidak pernah menolak uang.

Gina menerima uang yang disodorkan Ben, bukan karena senang, ia ingin melakukan balas dendam kecil. Mencampur obat pencahar ke dalam minuman kopi Ben misalnya. Memikirkan cowok itu akan keluar masuk toilet dan mengerang sakit perut saja sudah membuatnya senang. Apalagi jika ia bisa melihatnya langsung.

“Samuel, jaga Ren. Kalau cowok itu berani macam-macam sikat saja.” perintah Gina sebelum meninggalkan mereka.

Ben menghela nafas, “Kamu jadi budaknya sekarang?” tanya Ben pada Samuel dengan nada menyindir.

“Maaf, tapi dia… Yah intinya, silakan kalian bicara di depanku.” ujar Samuel sedikit kesal.

Ia tidak bisa berkutik di hadapan Gina. Tidak jika sepupunya itu masih menyimpan rahasia terkelamnya. Kalau Gina sampai memberitahu Ren, ia akan kehilangan cewek ini for real. Ia perlu berada di sisi Ren untuk menjaganya dari Gina. Ren terlalu baik untuk menjadi mangsa kegilaan Gina.

Ia memerhatikan dua orang di depannya yang berbicara dengan bahasa tubuh mereka. Ia bisa merasakan betapa besarnya rasa cinta mereka, satu sama lain. Kalau saja ia bisa  melakukan sesuatu untuk membantu dua orang ini tanpa melukai siapa pun.

Setelah beberapa bulan bersama Ren dan Gina, ia mengerti mengapa Ren tidak berani membalas perasaan Ben. Gina terus menerus menekankan kalau mereka bersahabat dan sahabat tidak saling menyakiti.

Perutnya merasa mual mengingat hal tersebut. Gina sangat egois! Gina tidak bisa melihat betapa terlukanya Ren sejak Ben menghilang begitu saja dari kehidupan Ren. Ia sering melihat Ren termenung sendiri di kamarnya. Ren bahkan tidak pernah menyentuh kuas dan lukisan lagi. Lukisan terakhir Ren ditelantar begitu saja.

Ia sampai harus memaksa Ren untuk mengelilingi banyak tempat yang menurutnya indah dan bisa membangkitkan gairah Ren. Tapi sia-sia, cewek itu hanya menatap dengan pandangan kosong dan tanpa gairah.

Hari ini, saat ini, pertama kalinya ia melihat mata Ren kambali menyala, mengeluarkan gairah. Tapi ada yang salah, ia merasa Ren sedang berperang dengan dirinya sendiri di dalam alamnya sendiri. Sikapnya begitu ragu-ragu dan sering kali bertolak belakang dengan ucapannya.

Ren berkata tidak ingin bertemu dengan Ben lagi tapi tangannya terus menggenggam ujung baju Ben. Berkata kalau Ren bahagia tapi tampangnya seperti ingin menangis. Berkata kalau Ren tidak membutuhkan cowok itu, tapi dari sorot matanya Samuel tahu, Ren tidak mengharapkan apapun juga selain kehadiran Ben di sisinya.

Ia hampir saja menyuruh dua orang itu untuk melarikan diri dari tempat ini, pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Gina. Tapi siluman rubah itu sudah kembali, dengan senyum bidadarinya dan menyerahkan kopi ke tangan Ben berikut uang kembaliannya.

“Nah, sudah selesai bicara? Aku ingin pulang. Aku dengar Ben membeli lukisanmu dengan harga mahal ya Ren? Selamat.”

Samuel ingin muntah detik itu juga. Bagaimana bisa dua kepribadian yang bertlak belakang hidup dalam 1 orang. Gina di hadapan Ren adalah bidadari kecil yang luar biasa manis, sedangkan ketika Ren tidak ada berubah menjadi iblis tidak berhati.

Ben tidak berkutik ketika Gina membawa Ren pergi. Perutnya merasa mulas setika. Sial, ia salah besar menyuruh Gina membelikan minuman untuknya. Cewek itu pasti sudah memasukan sesuatu ke dalam kopinya.

Setengah berlari, ia menuju kamar mandi, melewati Ren dan Gina. Ia bisa mendengar iblis itu tertawa melihat dia kelabakan. Lihat saja, ia pasti akan membuat perhitungan dengan Gina.

Rencana tinggal rencana, sakit perut Ben berujung ke Rumah sakit. Dengan jadwal yang padat dan pencernaan yang tidak baik, Ben pingsan di tempat latihan. Ia kekurangan cairan dan istirahat. Ia semakin geram pada Gina.


Advertisements

One thought on “Into Your Arm – Chapter 26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s