Into Your Arm – Chapter 27

Berita Ben masuk ke rumah sakit menjadi headline di berbagai media. Pertama karena popularitas Fox-T yang memang sedang mengila di Jepang. Single terbaru mereka merajai berbagai tangga lagu di Jepang. Alasan kedua, konser gabungan Fox-T akan dilangsungkan 3 hari kemudian. Semua orang ingin tahu, apakah Ben sanggup tampil di atas panggung dengan kondisi tubuhnya sekarang.

Ren baru tahu berita tersebut setelah 1 minggu beritanya keluar. Sejak pulang dari Jepang, ia mengunci diri di dalam kamar. Tiba-tiba keinginan untuk melukis merasukinya, membuat ia mengambar mural di dinding kamarnya. Semua gambarnya menceritakan Ben. Laut tempat mereka berciuman pertama kali, bukit tempat ia makan ramen dengannya, dan kapal mereka.

Ren membaca kembali berita itu, kata demi kata. Ia ingin berada di sisi Ben. Pertemuan terakhir mereka membuat Ren sadar kalau ia tidak pernah berhenti mencintai Ben. Kemarin dulu ia mungkin bisa berpura-pura telah melupakan cowok itu jika di depan teman-temannya. ia juga bisa terus menganggap bahwa berpisah dengan Ben adalah yang terbaik untuk semua orang. Tapi merasakan kembali pelukan Ben, ciuman Ben, telah merubah segalanya. Membuat ia sadar kalau yang dibutuhkannya adalah cowok itu.

Ia amat sangat ingin menemui Ben dan menemani cowok itu hingga Ben sembuh. Tapi  ia tidak punya cukup uang di tangannya sekarang untuk membeli tiket ke Jepang.

Uang yang didapatnya dari pelelangan kemarin belum masuk ke rekeningnya. Sedangkan ia tidak memegang kartu kredit atau atm dari tabungannya sejak berbaikan kembali dengan Sandra. Ia menerima kembali uang saku dari Papa sehingga merasa tidak perlu memegang tabungannya sendiri.

Ren tidak mungkin juga untuknya meminta uang dari Papa atau hanya sekedar meminta kembali buku tabungannya. Papanya bisa curiga dan mulai bertanya macam-macam dan ia tidak bisa berbohong padanya. Ia takut Papa berpikir kalau ia kembali berhubungan dengan Ben lalu akan memaksanya bertunangan kembali. Itu bisa menjadi bencana untuknya. Ia masih belum memutuskan untuk menerima Ben. Ia hanya ingin menemani cowok itu sampai Ben sembuh.

Ia mendapat ide, mungkin Samuel mau meminjamkan uang padanya. Tiket pulang-pergi Jepang tidak terlalu mahal dan nanti ia akan mengembalikan uang tersebut setelah menerima uang dari pelelangan.

Setelah membulatkan tekad, Ren mengepak tasnya, hanya 1 stel pakaian dan alat make-up pemberian Gina. Melihat dompet itu, ia kembali ragu untuk pergi. Ia tidak bisa mendatangi Ben di belakang Gina. Mungkin ia harus mencari Gina dulu, memberitahu mengenai rencananya dan meminta restu Gina baru kemudian meminta bantuan dana dari Samuel.

Ren sampai di ruma Gina dalam waktu 15 menit. Jalan di Sabtu pagi memang lebih lenggang di banding hari lainnya. Terlebih ini sudah mendekati liburan. Ia masuk ke kamar Gina begitu tiba. Samuel juga ada di sana, sedang membetulkan komputer Gina.

“Hai, Ren, ada apa? Lukisan kamu sudah selesai?” tanya Gina dan menarik Ren duduk di sampingnya.

Ren tidak membuang waktu dan segera menjelaskan maksud kedatanganya. Reaksi awal Gina adalah menatapnya bengong, kemudian mulai berteriak lalu menangis. Ren merasa pusing, ia pikir ia sudah siap menghadapi kemarahan Gina tapi ia tidak mengira kalau Gina akan menangis. Ia lemah melihat Gina menangis.

“Gina, tolonglah, aku harus ada di sana. Aku cuma ingin memastikan dia bisa kembali sehat. Aku tidak akan menemuinya lagi setelah itu.”

“Tidak kamu bohong! Kamu pasti akan berhubungan kembali, lalu berpacaran dan meninggalkan aku sendirian. Aku tidak akan mengijinkan kamu pergi.” seru Gina sambil terus terisak.

“Kamu tidak perlu ijin dari orang yang membuat Ben sakit, Ren.” celetuk Samuel, membuat dua cewek di depannya melihat padanya. Satu dengan tatapan membunuh yang satu lagi dengan tatapan terkejut.

“Benar, Gina yang membuat Ben diare. Dia memasukan obat pencahar yang biasa aku minum ke kopi Ben.” ulang Samuel dengan lebih rinci. Ia sudah muak dengan semua kelicikan Gina.

“Kamu bohong kan?” tanya Ren pada Gina.

“Tentu saja tidak.”

“Jangan berkelit Gina. Aku menghitung jumlah kapsul setiap obat yang aku bawa dan jumlahnya berkurang.”

Gina tertawa licik, “Kamu percaya dengan orang yang membunuh Mama kamu Ren? Kalau aku, tidak akan!” tudingnya. Kalau Samuel berniat menjatuhkannya, maka dia akan menyeret cowok itu bersama ke nereka.

“Apa maksud kamu?” tanya Ren bingung. Samuel membunuh Mama? Bagaimana bisa, 4 tahun yang lalu Samuel baru berumur 18, belum cukup umur untuk mendapatkan ijin berkendara. Ia memicingkan matanya, atau itu sebabnya ia dan Papa tidak dapat menemukan pengendara mobil yang menabrak Mama.

“Maaf, Ren. Tapi dulu aku memang brengsek. Aku takut menyerahkan diri karena masa depan aku masih panjang. Aku tidak tahu kalau kamu anak dari perempuan yang aku tabrak dulu sampai beberapa bulan yang lalu. Sejak itu aku berusaha menebus kesalahan aku dengan menjaga kamu dari siluman ini.

Gina tertawa, “Aku siluman? Darimananya? Aku ini sahabat Ren yang berusaha melindunginya dari hidung belang seperti kamu dan penghianat cinta seperti Ben.”

“Oh yah? Dan bukan karena kamu mencintai Ren?”

“Tentu saja aku mencintai Ren. BEgitu juga dengan Ren.” Gina merangkul pundak Ren , “ya kan Ren?”

Samuel mendengus dan menarik Ren dari Gina, “Hati-hati, ia mencintai kamu seperti kamu mencintai Ben, dan percaya padaku, dia sama sekali tidak pernah menyukai Ben. Gina hanya memperalat cowok itu untuk membiayai hidupnya dan memperkenalkan orang-orang penting di duni hiburan padanya.” Ia memeluk Ren dan berbisik, “Pergi, biar aku yang urus dia. Ambil dompet dalam jaketku di luar, kamu perlu uangkan untuk membeli tiket.”

Ren mengangguk pelan, tidak mengubris teriakan dan makian Gina. Entah kenapa ia percaya dengan ucapan Samuel. Ia merasa cowok ini tidak berbohong, perhatian dan ketulusan Samuel dapat ia rasakan dan amat berbeda dengan sikap Gina padanya.

Gina memang peduli tapi rasanya ada yang janggal dari sikap Gina. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh cewek itu dan sering kali membuat ia merasa ketakutan. Sekarang jelas semuanya. Dan ia tidak perlu berada di sisi orang yang berbohong padanya.

Ren keluar dari kamar Gina, ia masih mendengar Gina memaki-maki Samuel dan suara tendangan serta bantingan barang. Ia berusaha untuk tidak peduli, ia tahu, kalau ia kembali ke dalam kamar tersebut, ia pasti akan melakukan tindakan bodoh untuk melerai mereka. Jadi, secepat kilat di sambarnya jaket Samuel yang disampirkan di sofa dan naik ke mobilnya.

Berbekal sepotong artikel dari surat kabar yang menuliskan nama Rumah Sakit tempat Ben dirawat, Ren berangkat. Ia membeli tiket sekali jalan, karena uangnya hanya cukup untuk itu. Nanti ia akan mengusahakan sesuatu untuk mendapatkan uang tambahan. Mungkin melukis di pinggir jalan?

Sampai di Tokyo, Ren sempat bingung, ia tidak bisa berbicara bahasa Jepang kecuali aishiteru

dan arigatou

. Tapi akhirnya ia bisa menemukan pelayanan Taxi yang mengerti berbagai bahasa dan mengantarkannya ke Rumah Sakit Teito, tempat Ben dirawat. Segala kemegahan dan hiruk pikuk Tokyo. Terlalu tegang menanti pertemuannya dengan Ben.

Membayangkan seperti apa cowok itu sekarang, apa semakin kurus, apa sedang sedih atau malah menikmati istirahat singkatnya di rumah sakit. Apa Ben masih mencintainya, setelah semua hal yang terjadi dulu?

“Kita sudah tiba. Saya akan mencarikan penerjemah untuk anda di dalam.” ujar si supir taxi membuyarkan lamunan Re.

Ia tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih untuk bantuannya. Mungkin ia harus mempertimbangkan untuk mengikuti kursus bahasa Jepang. Ketidakberdayaannya kali ini amat menyulitkan.

Atas petunjuk sang supir taxi, Ren menunggu kedatangan sang penerjemah di ruang tunggu dokter. Takjub dengan lengkapnya fasilitas dan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit di Jepang. Tidak heran banyak orang memilih negara ini untuk tempat pensiun walau living cost cukup tinggi.

Ia duduk di dalam ruang tunggu yang cukup lenggang, sepertinya semua dokter sedang dinas, nyaris tidak ada orang di sana. Hanya satu petugas yang sedang bebersih. Ia bisa melihat tumpukan bingkisan dan kado yang menumpuk di pojok ruangan. Seperti ada dokter yang populer.

Seorang perempuan muda dengan pakaian rapi datang menghampiri Ren, berbicara dengan bahasa Korea yang fasih dan tersenyum luar biasa ramah. Membuat Ren ikut membalas tersenyum.

“Selamat sore, saya Haruka Ishijima. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya Park Seo Ren…”

“Selamat Sore Miss Park, ada yang sakit? Apakah sesuatu yang serius?” pertanyaan Haruka muncul setelah melihat wajah cewek di hadapannya terlihat pucat dan lelah. Ia merasa iba dengan para perantau atau turis yang tidak bisa berbicara bahasa Jepang namun harus berkunjung ke rumah sakit. Bahasa medical bisa amat memmbingungkan.

“Maaf, aku tidak sakit, hanya datang untuk mengunjungi seorang teman. Mungkin tadi ada sedikit kesalahpahaman.”

Haruka merengut, dugaannya melenceng terlalu jauh. Ia bisa menduga untuk siapa cewek di depannya ini sampai datang ke rumah sakit ini. Sejak Ben dari Fox-T dirawat di sini, ada terlalu banyak pengemar yang hilir mudik di sekitar rumah sakit dan membuat resah pasien. Tapi Nona Park di hadapannya ini tidak ada potongan seorang penggemar, bahkan ia tidak melihat cewek itu membawa sesuatu untuk diberikan pada selebritis itu.

Ia masih mempertahankan sikap ramahnya, kalau-kalau dugaannya salah. Tapi begitu dijawab bahwa benar, Nona Park ini ingin mengunjungi Ben. Otomatis wajahnya berubah kaku dan tegas. Urusan dengan para pengemar yang ngotot seperti Nona Park ini harus dibereskan hingga tuntas. Dia pasti termasuk golongan nekad karena berani datang ke Jepang tanpa menguasai bahasanya sedikitpun.

“Kalau begitu silahkan tinggalkan bingkisan anda pada saya. Nanti akan saya serahkan padanya.” ucap Haruka dengan ramah, tidak terdengar kesal. Ia sudah amat terlatih untuk menyembunyikan perasaannya.

Ren ingin sekali mengatakan kalau ia benar-benar teman Ben tapi ia takut terkesan terlalu memaksa. Dikeluarkannya buku sketsa dan merobek gambar ladang lavender yang ia iseng-iseng kerjakan di pesawat tadi. Sudah diwarnai, ia hanya perlu membubuhi kalimat dan tanda tangan.

Ia berpikir sejenak, kata-kata ‘get well soon’ terlalu biasa sedangkan  ia tidak mungkin menuliskan ‘i love you’ di sana. Pusing memikirkan apa yang harus ditulis, Ren akhirnya memutuskan tidak menulis apa-apa di sana. Gambat itu dan tanda tangannya sudah cukup.

“Gambar yang bagus sekali. Tenang saja saya pasti akan menyerahkan ini pada Ben.” ujar Haruka dan menaruh lembaran yang dirobeh Ren tadi di antara bingkisan lainnya. Gambar Ren adalah yang paling sederhana yang pernah ia terima. Kelihatan sekali tidak niat.

Ia mengantar Nona Park ke lobby mencarikan taxi untuknya. Ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau setiap pengemar Ben atau artis manapun juga meninggalkan rumah sakitnya.

“Tolong antar ke hotel Ishin.”

“Jangan, ke Shibuya saja, ada oleh-oleh yang ingin aku beli. Aku pulang dengan penerbangan hari ini jadi tidak perlu hotel.” tolak Ren. Ia sungguh-sungguh. Ia merasa tidak mungkin bisa menemui Ben dengan adanya penjagaan ketat seperti sekarang ini.

“Tentu saja. Semua orang harus mampir ke Shibuya jika datang ke Tokyo. Mampir juga ke Jinka kalau kamu mencari barang-barang etnik. Di sana lebih murah.”

Ren berterima kasih dan melambaikan tangan pada cewek tadi. Tujuan ia datang ke Shibuya bukan untuk membeli barang, ia akan mengambar wajah orang atau apapun juga untuk mencari ongkos pulang.

Untung tadi Haruka memberitahunya kios yang menjual suvenir, otomatis banyak turis bekeliaran di sana dan ia bisa menawarkan jasanya lukisannya. Shibuya benar-benar ramai sore ini. Ia memasang harga 800 yen untuk setiap gambarnya. Beli dua, 1500.

Ia pikir tidak akan banyak orang yang mengantri tapi ternyata lukisannya laris manis. Mungkin karena harganya yang terhitung murah dan ia juga cepat mengambarnya. Gambarnya tidak terbatas hanya manusia, ia menerima juga orang yang membawa hewan piarannya untuk digambar. Apa saja yang penting menghasilkan duit.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 27

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

  2. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s