Into Your Arm – Chapter 28

Haruka datang ke kamar Ben dengan kardus berisi bingkisan dari para pengemar cowok itu. Sebetulnya, dia bisa saja menyuruh orang lain untuk mengantarnya tapi memikirkan kemungkinan ia dapat bertemu dengan 5 cowok ganteng dan keren itu, rasanya terlalu sayang.
Terlebih setelah seharian ini ia habiskan dengan membantu meyakinkan seorang kakek-kakek Korea yang harus menjalankan operasi cangkok otak. Berbicara bukan masalah untuknya yang seorang public relationship professional, bertahan untuk tidak menunjukan emosi selain keramahan itu yang menjadi tantangan untuknya.
Ia menatap kardus yang telah berpindah tangan ke Ben dan gerombolannya, isinya sudah tumpah ruah di atas kasur cowok itu. Ia tersenyum penuh pengertian ketika Alex tersenyum meminta maaf padanya. Walau ia lebih tua dibanding cowok-cowok ini, tapi ia tetap merasa tersipu-sipu ketika cowok itu tersenyum. Ia merasa kembali muda dan bersemangat. Sesuatu yang tidak akan ia akui jika dihadapan orang lain.
“Hei, ada gambar aneh. Memangnya kamu suka lavender Ben? Bukannya kamu pecinta krisan sejati?” Tanya Jack ketika menemukan secarik kertas yang tergulung. Sesuatu yang jarang dilihatnya selama hampir satu minggu membantu Ben menyeleksi hadiah-hadiah tersebut.
Ben mengerutkan dahi, lavender? Ia tidak pernah menyukai bunga itu, kecuali warna ungunya yang memang warna favoritenya. Tapi wangi bunga itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang jauh di Seoul. Ia meneliti gambar itu lagi. Tidak ada tulisan apa-apa disana hanya sebuah tanda tangan yang tidak bisa dibaca. Mungkin dari pengemar barunya yang kebetulan pelukis atau apa. Ia tidak ambil pusing. Ia melempar gambar tersebut kembali ke dalam kardus.
“Itu pasti dari pengemar baru yah. Kalau pengemar lama tidak mungkin memberi kamu lukisan.” Komentar Micky langsung disetujui oleh teman-temannya.
“Dan cewek Korea berani sekali mengaku sebagai teman kamu.” Gugam Haruka lebih kepada dirinya, tapi ucapannya itu malah menarik perhatian mereka.
“Cewek Korea?” tanya Ben tertarik, gugup dan mulai berharap.
“Benar cewek Korea, Nona Park SeoRen”jawab Haruka, bangga dengan ingatannya.
“Ren? Kamu yakin?” tanya Ben berulang-ulang kali. Ia tidak percaya cewek itu datang ke Jepang.
“Dimana dia sekarang?” tanya Ben super bersemangat. Mendadak Ben merasa sehat. Bahkan cukup kuat untuk pergi ke medan perang sekalipun.
Haruka bingung dengan perubahan suasana hati Ben, cowok itu mendadak terlalu bersemangat dan gegabah. Cowok itu berusaha turun dari kasur, melewati tumpukan hadiah dan Haruka rasa kalau Micky tidak menangkap Ben, cowok itu bisa langsung terjebab ke lantai.Ia beranjak untuk membantu Micky. Menurutnya lebih baik ia berbicara di samping cowok itu, daripada Ben bertindak gegabah lagi.
Haruka menjelaskan tentang rencana Nona Park yang akan pulang hari ini berikut toko yang ia sarankan untuk Ren kunjungi.
“Biar aku telepon Yunna untuk mengecek penerbangan, barangkali dia bisa melakukan sesuatu untuk menahan Ren.” Ujar Micky, di saat-saat seperti ini memiliki pacar yang berpengaruh.
“Kalau begitu aku dan Jack-hyung ke Shibuya.” Usul Max dan segera melesat keluar.

Kecepetan bertindak cowok-cowok itu membuat Haruka tercengang. Ia tidak menyangka kalau nona itu begitu penting untuk Ben, sampai-sampai seluruh teman-temannya sibuk mengatur rencana untuk menemukan Ren.
Ia jadi merasa bersalah karena sudah mengusir Nona Park. Lalu mereka juga memanggil Nona Park dengan anama kecilnya, membuktikan kedekatan mereka.
“Maaf, tapi apa Ren mengatakan sesuatu lagi? Seperti pesan untukku?”
Haruka mengeleng,”Tidak ada. Hanya lukisan itu.”

Micky masuk kembali ke kamar dan mengabari mereka kalau nama Ren belum terdaftar di penerbangan manapun juga untuk hari ini dan besok. Ia menyimpulkan kalau Ren masih ada di Tokyo. Jadi ia berencana untuk menyusul ke Shibuya.
“Semakin banyak orang semakin baik.” Ucap Micky sambil tersenyum. Ia memperhatikan Ben yang sedang melamun dan seakan mengerti apa yang dipikirkan temannya itu
, ia kembali berkata, “kamu jangan berpikir untuk ikut pergi. Lebih baik tunggu di sini, jadi anak baik! Semakin cepat kamu sembuh, semakin cepat kita bisa pulang ke Korea.”
“Benar Ben, kamu tunggu di sini, barang kali Ren memutuskan untuk mencoba sekali lagi menemuimu.”
“Aku akan memastikan Nona Park untuk diantar kemari kalau aku menemukannya berkeliaran di area rumah sakit.” Ucap Haruka menambahkan.
“Terima kasih.” Ucap Ben sambil tersenyum.

Haruka undur diri, ia dipanggil untuk menemui pasien lain yang memerlukan penerjemah.
Ketika ia melewati lobby ada orang yang sedang di tahan oleh petugas keamanan, ia bisa mendengar cewek itu mengucapkan bahasa Korea. Sambil mengeleng kepala, ia menghampiri pintu lobby. Dalam hati mulai merasa lelah dengan semua orang Korea yang ia hadapi hari ini.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Haruka adalam bahasa Korea begitu ia berada cukup dekat. Karena cewek itu memunggunginya dan mengenakan pakaian yang berbeda.
Ia nyaris melompat terkejut ketika cewek itu berbalik badan dan menatapnya meminta tolong.
“Nona Park.”Pekik Haruka. Ia menarik lengan Nona Park tersebut dan menyeretnya ke kamar Ben. Ia tidak menunggu diusir namun buru-buru keluar. Membiarkan dua orang itu berbicara.

Begitu pintu tertutup, Ren menatap lantai dan berdiri dengan canggung di seberang ruangan. Ia tidak berani mendekat juga tidak berbicara.
“Mendekatlah Ren, kamu tidak mau aku turun ke sana kan?”Pinta Ben. Dadanya terasa penuh ketika melihat Ren berdiri dihadapannya. Ia tidak percaya Ren bisa datang menemuinya di Jepang mengingat cewek itu tidak bisa berbicara sepatah katapun bahasa Jepang. Ren tidak berubah banyak dari terakhir kali Ben menemuinya. Malah hari ini cewek itu terlihat lebih rapi dengan minidress kembang-kembang dan sweater kuning pucat.
Ben berniat turun dari ranjang ketika Ren tidak juga beranjak dari posisinya, tapi baru saja kakinya menyentuh tanah, cewek itu sudah berlari dan menyuruhnya kembali berbaring.
“Kalau kamu berniat menyakiti dirimu sendiri, lebih baik aku pulang.” Tegur Ren. Ia baru menyadari betapa kurusnya cowok itu sekarang ketika ia menyentuhnya tadi. Tapi syukurlah, Ben masih sama seperti dulu tersenyum bodoh menatapnya.
“Kamu datang?”
Ren menyentil jidat Ben, “Bukan untuk mencarimu!” Ujar Ren berbohong. Ia tidak perlu membuat Ben besar kepala dengan kenyataan tersebut. Lada urusan dengan pihak pelelang kemarin.” Sambung Ren
“Oh yah? Yang aku dengar, kamu hanya datang untuk mengunjungiku? Dan Ren, apa maksud kamu dengan bunga lavender? Aku kan tidak suka dengan bunga itu.” Celetuk Ben, setelah ia memaksa Ren untuk duduk di sisi ranjangnya.satu-satunya tempat dimana Ren harus berada.
“Kalau begitu kamu pasti salah informasi.” Gugam Ren tetap berbohong walau mukanya memerah karena malu. Ia tidak pandai berbohong.
Ben merangkul Ren dan mencium rambut cewek itu. Melakukan apa yang sedari tadi ingin ia lakukan.
“Aku kangen sama kamu.” Gugam Ben, ia senang Ren tidak mendorongnya. Tapi memang cewek ini tidak pernah menolak sentuhan fisik yang ia berikan bukan?
“Ben, aku mau minta maaf atas nama Gina, dia yang memasukan obat pencahar ke minuman kamu kemarin dan menyebabkan kamu seperti ini. Aku juga minta maaf sudah membuat banyak masalah untukmu karena gagalnya pertunangan kita. Papa cerita kamu sampai ribut dengan Mama kamu untuk meyakinkan beliau. Aku juga…”
Ucapan Ren terpotong oleh ciuman Ben. Ciuman yang selama ini ia impikan dalam tidurnya. Ciuman penuh hasrat, ciuman yang membuatnya merasa penuh.
Ben melepaskan bibirnya dari Ren sejenak hanya untuk menggoda cewek itu, “Kamu habis makan juhi yah?”
Dan Ren mencubit dadanya serta mendorongnya menjauh. Tentu saja Ben tidak membiarkan cewek itu beranjak darinya. Dengan cepat ia menarik Ren kembali dalam pelukannya. Membiarkan dirinya menyerap semua kehangatan yang dikeluarkan dari tubuh Ren.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Micky berteriak, “Tidak ketemu, sudah cari kemana-mana. Kaki sampai mau patah.” Ia mengucapkan semua itu sambil bergeleng dan menatap ke lantai. Ia benar-benar kecapaian berlari ke sana kemari selama 2 jam tadi.
Karena tidak mendengar jawaban dari Ben ataupun teman-temannya ia mendongkak dan langsung tersenyum keki.Melihat Ren yang tersenyum malau-malu dalam pelukan Ben.
“Bilang dong kalau orangnya sudah di sini. Dasar orang tegaan!” Gugam Micky tidak sepenuhnya kesal. Sulit untuk tetap marah pada dua orang yang sedang dimabuk cinta dan tersenyum bodoh seperti dua orang itu.
“Maaf sudah menyusahkan.” Ucap Ren sambil membungkuk pada 4 teman Ben tersebut. Ben tidak melepaskan dirinya jadi ia melakukan hal tersebut sambil duduk dan ketika menegakan kepalanya lagi, kepalanya berbenturan dengan kepala Ben. Membuat mereka sam-sama mengaduh.

“Bagaimana kamu bisa kembali ke sini dan bukannya pulang ke Seoul?” Tanya Alex sedikit heran karena ada orang yang membuat sebuah tiket penerbangan.
Max memberi jawaban mewakili Ren, “yah karena dia cinta sama Ben, hyung.”
Ren tertawa, “Bukan, aku memang berencana untuk pulang hari ini, tapi uangku tidak cukup. Aku pergi ke Shibuya untuk menjual gambar di sana. Awalnya lumayan berhasil. Tapi kemudian ada polisi datang dan mengusir semua orang yang berjualan secara illegal di sana. Aku kabur bersama tukang asongan lainnya.” Cerita Ren polos. Ia tidak berpikir kalau ceritanya ini akan memberi kesan bahwa ia cewek nekad yang berani pergi ke negara orang tanpa membawa uang.
“Kamu pasti terlalu cinta denganku sampai berani nekad seperti itu.” Ledek Ben, mengesampingkan amarahnya atas tindakan tidak bertanggung jawab yang dilakukan Ren.
“Jangan mimpi, sudah aku bilang aku harus mengurus masalah pelelang itu. Uangnya belum masuk ke rekeningku sampai sekarang. Aku tidak berpikir kalau sulit sekali menemukan panitia penyelenggaranya.” Karang Ren lagi.
Kata-kata bantahan Ren malah membuat cowok-cowok itu semakin bingung. Ia kemudian ditanyai dengan rinci mengenai nama dan bagaimana ia menandatangani kontrak dengan pihak pelelang. Sesungguhnya ia tidak terlalu mengerti karena kemarin ini ia dibantu oleh Gina untuk urusan administrasinya.
Dan ternyata tidak hanya dirinya yang mempertanyakan akal sehatnya ketika menyuruh Gina. Max juga merasa kalau ia sudah melakukan kebodohan dengan menyuruh cewek materialistis itu.
“Aku kan tidak tahu ia setega itu. Selama berteman dengan Gina, tidak pernah sekalipun aku membayari atau dimintai uang. Gina teman yang baik kok sampai aku tahu dia yang membuat Ben diare dan ternyata cewek itu menyukai sesama jenis.” Pembelaannya malah terdengar aneh karena membocorkan kenyataan bahwa Gina menyukainya dalam arti yang berbeda.
Cowok-cowok itu berteriak dan menyerbunya dengan pertanyaan kenapa dan mengapa yang tidak berhujung. Ia sampai kebingungan untuk menjawab yang mana terlebih dulu. Tapi ia barhasil juga memberi jawaban singkat namun jelas.
Micky kemudian berkomentar kalau ia sudah merasa ada yang aneh dengan tingkah Gina sejak pertama kali bertemu. Max juga berkata ia mulai curiga ketika melihat Gina tetap menempel pada Ren, sahabat yang sudah merebut pacarnya sendiri sedangkan cewek itu membenci Ben sepenuh hati. Setelah teka-teki itu terpecah, mereka bisa menarik kesimpulang berbeda.
“Menilai seseorang itu memang tidak bisa hanya dari luarnya saja yah.” gugam Jack setelah lama terdiam. Sibuk mencerna pembicaran tadi.
“Jadi Max, kamu jadi memacari Gina?” ledek Alex mengungkit pernyataan yang dibuat Max dulu, kalau adik kecil mereka itu akan senang hati memacari Ben untuk membalas perlakuan kasar cewek itu.
“Sial, ogah banget sama lesbi. Tapi kalau dia mengajak pacarnya untuk have sex sih mungkin bisa dipertimbangkan.” Sahut Max konyol, lupa kalau ada seorang cewek di sana.
Jadi ketika Ren memekik geli, ia cuma bisa mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan mengalihkan topik pembicaraan.

Sejak malam itu, Ren menemani Ben, menjaga cowok itu sampai sembuh total. Ia juga menemaninya ketika cowok itu melakukan konser keliling Jepang bersama grup lainnya yang satu perusahan. Semua menjadi pengalaman baru bagi Ren dan amat mendebarkan.
Selama 1 bulan ia lupa dengan segala tanggung jawab yang ia tinggalkan di Korea. Selama satu bulan ia menikmati kebersamaannya dengan Ben tanpa curiga apa-apa. Tanpa berpikir kalau ia akan mengahadapi masalah pelik lainnya.

Advertisements

3 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 28

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s