Into Your Arm – Chapter 29

Istilah lampu lalu lintas tidak selamanya hijau sepertinya juga berlaku dalam hidup Ren. Selama 1 bulan ia bersenang-senang dengan Ben di Jepang, cowok itu selalu menyediakan tur kecil untuknya di setiap kota yang dikunjungi Fox-T selama tur konser.

Harus diakui, ia menikmati acara jalan-jalannya tersebut, ia mendapat banyak tempat dan gambar yang indah untuk dilukis. Tapi semua itu akan lebih sempurna bisa Ben bersamanya.

Kalau mengingat hal itu ia ingin tertawa, ia yang amat menyukai travelling seorang diri bisa menginginkan Ben berada di sisinya.  Mengingkan cowok itu setiap kali ia menemukan sesuatu yang indah.

Hari terakhir konser mereka berada di Osaka. Dari sana mereka akan langsung kembali ke Seoul. Ia bisa ikut dalam rombongan Fox-T ketika pulang tapi ia harus berpura-pura sebagai staff Ben.

Ia berdebat bahwa ia memerlukan sesuatu yang kelihatan seperti apa yang dibawa oleh staff, Ben mengalah dan membiarkannya membawa tas kecil yang kosong isinya. Anehnya cowok itu…

“Pokoknya kamu jangan jauh-jauh dari aku, jalan di belakang aku dengan Q. Terus kamu ikut satu mobil denganku.”

Ren ingin tertawa melihat kegusaran Ben. Ia baru tahu kalau Ben itu amat posesif terhadap pacarnya. Bahkan ketika mereka ada di pesawat tadi, cowok itu bolak balik memastikan kenyamannya yang duduk di kursi ekonomi.  Mereka kehabisan kursi kelas bisnis karena banyaknya artis yang ikut terbang bersama. Grup management Jepang yang mengelolah Fox-T mengadakan perpanjangan konser sampai ke Korea dan negara Asia lainnya.

Padahal untuk Ren bisa berada satu pesawat dengan banyak orang terkenal saja sudah merupakan keajaiban dan kenangan yang pasti diingatnya seumur hidup.

Sampai di Gimpo airport, Seoul, Ren seperti tersedot oleh arus manusia yang mengerumuninya. Fox-T dan artis lainnya, bukan Ren. Ia tertinggal di belakang dengan Q. Kata dancer itu sih, kejadian ini sudah biasa. Makanya para staff memilih keluar belakangan agar tidak menarik perhatian serta bisa berjalan lebih leluasa. Karena biasanya kerumunan itu mengikuti para artis.

“Terus bagaimana caranya masuk ke mobil Ben?” tanya Ren mulai khawatir kalau permintaan Ben tadi sulit dilakukan setelah melihat kekacauan di depannya ini. Sepertinya ada ratusan orang yang mengerumini Ben dan teman-temannya itu.

“Apa kamu mau ikut mobil kita saja? Nanti biar aku hubungi manager Ben untuk memberitahu Ben?”

Ren menyetujui usul tersebut. Menurutnya ikut dengan Q lebih mudah dam lebih rasional dibanding berusaha menyelinap diantara kerumunan padat itu dan masuk ke mobil Ben.

Yang Ren tidak tahu, ia harus ikut ke hotel dengan para staff lalu terperangkap di sana selama 4 jam kemudian karena ia tidak diijinkan keluar ruangan walau ia sudah menegaskan ia bukan salah satu staff di sana.

“Pokoknya sampai ada pemberitahuan lebih lanjut dari pihak panitia semua orang harus menunggu di sini.” ucap si petugas sok tegas. Ren ingin menjitak orang itu sampai benjol karena tidak mau mengerti.

Setelah akhirnya ia bisa keluar, ia langsung mengambil taxi untuk pulang ke rumah. Ia tidak mengira kalau Ben akan muncul di lobby saat itu lalu mengajaknya berbicara dan kemudian datang juga mama Ben dan papanya.

“Aku mengajak mereka ke sini untuk melihat ballroom hotel.” gugam Ben yang membuat Ren mengerutkan dahi, lalu melotot sampai matanya meloncat keluar dan kemudian ia pingsan.

Benar pingsan.

Seumur hidup Ren tidak pernah pingsan jadi ia tidak tahu kalau jatuh menabrak lantai bisa membuatnya babak belur. Kemudian geger otak ringan sampai-sampai ia lupa apa yang menyebabkannya pingsan.

Jadi maafkan dirinya ketika ia memekik di dalam kamar hotel Ben, tempat ia dan keluarganya serta keluarga Ben berkumpul saat ini.

“Apa maksud kamu dengan memeriksa ballroom? Kenapa Papa ikut datang? Memangnya ada acara apa?” tanya Ren bodoh.

Padahal pada kenyataannya ia tahu dengan pasti tujuan kehadiran mereka. Pernikahannya dengan Ben atau menurut istilah orang tua mereka pertunangan. Padahal menurut Ren sama saja, ia terikat dengan seseorang untuk seumur hidupnya.

“Tidak, aku tidak mau. Bagaimana mungkin kamu melakukan semua ini tanpa berbicara dulu denganku? Aku tidak mau bertunagan.” erang Ren. Kepalanya berdenyut kencang dan dadanya kembang kempis kesulitan bernafas.

“Tapi kamu setuju berpacaran denganku kan? Kenapa kita tidak boleh bertunangan? Atau kamu menganggap hubungan kita hanya main-main?” tanya Ben kembali bingung, ia memang tidak mendiskusikan masalah pertungannya kembali dengan Ren karena rasanya tidak perlu. Tidak ada cewek lain yang diinginkannya untuk menghabiskan sisa hidupnya ini kecuali Ren. Ia juga yakin Ren berpendapat sama dengannya. Jadi apa bedanya mensahkan hubungan mereka ini sekarang?

“Bukan, aku serius denganmu dan aku sungguh-sungguh mencintaimu. Tapi Ben, kita masih muda, kamu masih harus berkarier dan aku juga harus ke Venice. Itu impianku. Aku tidak bisa membuangnya.” tutur Ren sampai termegap-megap. Terlalu panik.

Ia pikir Ben yang akan duluan berdebat dengannya tapi ternyata tidak. Cowok itu hanya berdiri menyilangkan tangan, bersandar pada dinding di belakangnya dan menatapnya. Menelitinya.

Ia merasa ditelanjangi oleh tatapan Ben. Merasa cowok itu sudah masuk ke dalam dirinya, hatinya dan mengetahui semua pikirannya.

“Saya tidak berkata apa-apa saat kamu menolak anak saya kemarin. Tapi ini sudah kedua kalinya kamu menolak Ben. Kalau kamu berpikir saya sebagai ibunya tidak merasa tersinggung, kamu salah besar Park SeoRen.” ucap Mama Ben ketus. Ia sudah habis sabar melihat kelakuan anak gadis temannya ini. Sepertinya temannya ini juga tidak bisa mengontrol anaknya hingga tumbuh besar serampangan dan kurang ajar sepertinya. Bagaimana mungkin ia membiarkan anak emasnya itu menikah dengan perempuan tidak ada aturannya itu.

“Maaf tante, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan tante tapi…” Ren menarik nafas dalam-dalam, “Aku tidak siap melakukan pertunangan ini. Apalagi nanti aku tinggal di Venice selama 1 tahun. Waktu yang terlalu lama untuk dijalani oleh orang yang berpacaran secara terpisah.”

“Apa sekarang kamu mulai mengatai anak saya tidak setia?” kalimat itu keluar terlalu keras dari mulut Mama Ben. Tapi ia benar-benar tidak senang mendengar ucapan anak muda ini.

“Bukan, tante, tapi aku yang…”

“Makanya saya menyuruh kamu untuk menikah dulu. Supaya kamu lebih mantap. Masa yang seperti ini saja kamu tidak mengerti.” potong Mama Ben semakin kesal.

“Tapi tante…”

“Ma, benar kata Ren. Hubungan aku dan dia pasti tidak akan berhasil. Maaf lagi-lagi aku membuat mama repot. Dan Om, saya minta maaf juga. Lagi-lagi sudah membuat heboh.” tutur Ben. Suaranya amat tenang.

Setelah mengantar kedua orang tua tersebut, ia kembali ke kamar dan melihat Ren sudah berdiri disamping jendela. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi memeluk cewek itu lama. Sampai ia merasa puas.

“Ben, kita pisah yah.” gugam Ren yang lebih terdengar seperti bisikan. Tapi Ben bisa mendengarnya dengan jelas. Ia mengalami kebekuan otak untuk sesaat. Kehilangan seluruh indranya bahkan kekuatan kakinya. Kalau ia tidak sedang memeluk dan bersandar pada Ren, ia pasti sudah terjatuh.

“Apalagi sekarang? Bukankah aku sudah setuju untuk menunda pertunangan kita? Apalagi yang kamu inginkan? Kenapa kamu terus-terusan meminta putus?” tanya Ben emosi setelah mendapatkan kembali suaranya.

“Kita tidak mungkin bersama Ben. Tidak sampai aku kembali dari Venice atau kamu ikut bersamaku ke sana.” gugam Ren, ia tidak serius dengan permintaannya mengajak Ben pergi ke Venice, ia tahu dengan pasti cowok itu tidak mungkin, tidak bisa hidup tanpa bernyanyi dan tanpa teman-temannya itu.

1 bulan hidup bersama Fox-T cukup membuatnya mengerti arti persahabatan diantara 5 cowok itu.

Ia sudah memikirkan masalah ini masak-masak. Dan sampai pada kesimpulan kalau ia memang tidak bisa melakukan hubungan jarak jauh dengan Ben. Ia yakin ia akan menjadi sangat menyebalkan jika tidak tahu apa yang dilakukan oleh Ben dan dengan siapa dia berada. Ia akan menganggu Ben dengan semua keluhan dan rengekan. Dan kemudian cowok itu akan meninggalkannya.

Jadi sebelum semuanya menjadi buruk, lebih baik ia memutuskan terlebih dahulu. Setidaknya dengan demikian, ia bisa tetap berteman dengan Ben sampai kondisi mereka memungkinkan untuk kembali berpacaran.

Tapi ketika mendengar persetujuan Ben, Ren menjadi panik sekaligus terharu. Cowok itu rela meninggalkan hal yang amat dicintainya demi dirinya yang egois. Ia tidak bisa menarik kembali ucapannya dan berkata kalau ia hanya bermain-main tadi. Tidak ketika Ben dengan tersenyum memelukannya kembali dan menanyakan detail penerbangannya yang hanya berjarak 1 bulan dari sekarang.

“Aku akan mengumumkan pengunduran diriku saat selesai tur nanti. Mungkin aku akan jatuh miskin karena harus membayar denda dan ganti rugi. Tapi jangan khawatir aku akan bekerja saat di Venice dan tidak akan merepotkan kamu.”

Ren menangis dalam hati mendengar ketulusan Ben. Ia benar-benar menjadi cewek yang menyebalkan sekarang. Ia sudah membuat penyanyi paling bersinar di Korea menjadi pengangguran dan bangkrut.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 29

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s