Into Your Arm – Chapter 30

Satu minggu rasa berlalu terlalu cepat untuk Ren. Ia disibukan oleh semua persiapan kuliahnya di Venice, mengurus visa dan belajar bahasa Italia secara intensif. Tapi bukan itu yang membuatnya merasa lelah. Perasaan bersalah yang selalu menekannya karena telah membuat Ben melepaskan impiannya.

Melihat Ben yang masih tertawa di hadapan orang lain. Ben bahkan tidak mengeluh karena jadwalnya semkin padat. Penerimaan Ben yang terlampau tenang yang membuat Ren merasa tertekan. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya membuat Ben berubah pikiran. Mumpung Ben belum mengumumkan pengunduran dirinya di hadapan publik. Menurut Ben, lebih baik pengacaranya langsung yang mengurus. Bahkan Ben juga tidak memberitahu keempat temannya itu.

Semakin dekat hari keberangkatannya, Ren semakin sering melihat Ben melamun. Semakin sering pula Ren menangis diam-diam. Ia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Ben. Ia mengerti bagaimana tersiksanya menerima semua itu.

Suasana hatinya semakin buruk ketika hari keberangkatan tiba. Ia sudah berada airport menunggu Ben yang masih mengurus sedikit masalah di kantornya. Dalam keadaan tertekan dan bingung, Ren menelpon Micky, satu-satunya teman Ben yang dirasanya aman untuk berbicara. Ia membeberkan masalah pengunduran diri Ben dan keberangkatan mereka yang tinggal beberapa saat lagi.

“Kamu yakin mau melakukan hal ini?” Tanya Micky setelah mendengar rencana yang diajukan Ren.
Mata Ren terasa panas dan ia mulai kesulitan bernafas. Ia memejamkan mata, mencoba mencari kembali kepercayaan dirinya. Ia mengangguk dan menjawab,”Ya, aku yakin. Tolong jaga Ben.”

Ia masih menunggu hingga panggilan terakhir untuk pesawatnya. Ia bukan menunggu Ben, ia yakin cowok itu tidak akan datang. Tidak setelah teman-temannya menemui Ben, meyakinkan kembali semangat dan kecintaannya pada musik. Ben tidak akan tega mematahkan semangat keempat teman yang sudah bagaikan saudara itu. Ben juga tidak akan meninggalkan pengemarnya yang dengan setia menanti setiap karya Ben.

Ren menunggu dirinya sendiri, menunggu kesiapan hatinya untuk menjalankan hidup tanpa Ben. Tidak akan mudah untuk menghilangkan keberadaan seseoarang yang amat penting dalam hidup seseorang. Ren tahu itu. Tapi ia lebih suka menderita daripada membuat Ben hancur.
Ia tahu Ben sanggup menjalani hidup tanpa dirinya, tapi tidak jika Ben kehilangan musik.

Setelah melihat performa Ben di atas panggung, ia sadar kalau di sanalah tempat Ben berada. Bukan di balik meja menghitung penjualan ice cream seperti yang Ben usulkan untuk ia kerjakan ketika sampai di Italia. Bukan juga sebagai tur guide.
Untuknya dan ia yakin sebagian besar orang yang sudah menonton penampilan solo Ben, pasti setuju jika ia mengatakan bahwa musik mengalir di darah Ben. Cowok itu terlahirkan untuk bernyanyi dan hanya menjadi penyanyi.

Dengan keyakinan seperti itu Ren menjalani hari-harinya di Venice. Setiap harinya ia seperti ditelan oleh cat, minyak, kertas dan lukisan. Berada dipusat kesenian dunia memang berbeda. Kemampuan dan keunikan gaya lukis Ren dianggap biasa-biasa saja. Ia harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kemampuan dirinya. Herannya sesibuk apapun dirinya, ia masih jadi suka memikirkan Ben. Walau ia menolak mati-matian untuk tidak mencari tahu mengenai kabar cowok itu. Ada saja informasi yang ia terima. Entah Fox-T meluncurkan album baru, atau sekedar gosip-gosip terkini mengenai mereka.

Ia tidak bisa menolak berita-berita tersebut karena ia masih berteman dengan beberapa orang Korea yang menetap di Venice. Bahkan teman-teman Eropanya juga begitu semangat membicarakan K-pop. Maklum demam hallyu juga sampai ke Eropa akibat kejadian fenomenal di Youtube yang dicetak oleh penyanyi asal Korea.

Ren selalu menolak untuk menghadiri acara sosial. Tapi terkadang ia terjebak juga dan ikut pergi dengan mereka. Seperti hari ini, dia diancam akan dikuntit terus menerus oleh Abbot, pelukis asal Scotland yang eksentrik dan jarang mandi.

“Untuk Ren, kita sengaja memilih bar ini. Biar kamu merasa pulang ke rumah.” Seru Quiny, teman akrab Ren selama 6 bulan di Venice.
Ren tersenyum melihat pilihan bar mereka. Sebuah bar. Tenda ala Korea yang biasa menyediakan soju dan juhi. Tapi bedanya, mereka punya TV dan panggung karaoke mini.

Selama mereka menegak soju, bir dan berteriak-teriak rusuh di sana, TV terus menampilakan acara musik Korea. Kadang beberapa temannya ikut bernyanyi ketika mendengar lagu yang mereka kenal. Seperti SNSD version of Run Devil Run.

Tentu saja lafal dan ucapan mereka berantakan dan hanya ketika liriknya berubah menjadi Ingris mereka heboh berteriak. Ren ikut tertawa dan meledek mereka. Semua terlihat normal dan menyenangkan sampai ia mendengar suara penyanyi yang amat dikenalnya.

“Ini nih, Fox-T yang akan menerima penghargaan dari. Music academy Eropa. Mereka dianggap sebagai penyanyi asing yang berhasil mempengaruhi dunia.” Tutur Quiny, tidak ada yang berdebat dengan cewek itu, karena mereka tahu informasi Quiny selalu akurat.

Sementara teman-temannya sibuk mengomentari lagu dan penampilan terbaru Fox-t, mata Ren tidak berkedip menatap layar kaca. Memperhatikan sosok Ben yang sedang menari dan bernanyi. Lagu slow R&B sedikit ballad tapi masih bisa dibuat dance. Lagu yang unik dan enak didengar.
Ren bisa melihat perubahan dari Ben. Cowok itu lebih macho sekarang. Lebih terkesan seksi daripada konyol. Kulitnya juga lebih coklat.

“Kamu suka yang mana Ren?” Tanya Quiny yang mendapati Ren tidak berkata apa-apa sedari tadi hanya menonton MV dengan serius..
“Eh, semuanya?”
“Kalau begitu kita sama. Dan kamu memenangkan tiket ke Milan sama aku menonton acara MTV. Mereka mengundang banyak artis Korea Jepang dan negara Asia lainnya.”Todong Quiny, tidak memberi kesempatan untuk Ren menolak dengan kembali mengancamnya dengan Abbot.
Merasa terpojok, Ren hanya menghela nafas. Tidak apalah, toh belum tentu ia berpapasan dengan Fox-T.

Ren mengakui bahwa pergi ke Milan dengan orang gila, aneh dan tidak bisa diam selalu berhasil menciptakan petualangan gila-gilaan.  Bersama Quiny, teman barunya ini yang orang Amerika memiliki pandangan kehidupan yang eksentrik dan tidak biasa.
Kalau orang pada umumnya akan mengendarai Metro atau alat transportasi lainnya untuk perjalanan singkat tersebut, Quiny mengajaknya bersepeda. Perjalanan beberapa jam berubah menjadi beberapa hari karena mereka banyak berhenti dan menginap di beberapa kota sebelum akhirnya tiba di milan.
Mereka nyaris tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk perjalanan ini. Quiny punya teman hampir di setiap kota yang mereka lewati termasuk di Milan nanti. “Pokoknya hemat deh. Nanti di Milan tempatnya mantap. Aku jamin tidak akan ada lagi tidur berdempetan dan bau kaki.” ungkit Quiny soal temannya di kota … yang super jorok.
Mereka tidur di ruangan berukuran 4×4 yang mencangkup wc, meja makan, dan kasur. Kecilnya tidak menjadi masalah tapi jorok dan baunya itu yang membuat mereka kabur ke motel setelah 1 jam berusaha membiasakan diri dengan kejorokan kamar itu.
Ren tertawa sumbang. Wajahnya sudah berubah kaku saat mereka sampai di perbatasan kota Milan tadi. Ren tegang luar biasa mengingat dirinya akan bertemu dengan Ben beberapa jam lagi.
“Kita mampir ke butik dulu sebelum ke tempat konser. Aku tidak mau mengenakan kaos dan celana jeans untuk menghadiri acara resmi seperti itu.”
Sebelum Ren menolak, Quiny sudah melompat dari sepedanya dan masuk ke butik terkenal. Membaca nama labelnya saja, Ren sudah merinding. Barang-barang Versace mana ada yang murah. Walaupun mereka mempunyai koleksi gaun musim panas yang luar biasa indah.
“Ayolah, sekali-kali kita harus menikmati hidup.” rayu Quiny setelah melihat Ren mematung saja di pintu masuk, sedangkan di tangannya sudah tersampir 3 potong gaun.
Ren mendekati Quiny dan membisikinya kalau ia tidak membawa cukup uang dan barang-barang di sana terlalu mahal untuknya.
“No.. No… No… Amigos, kamu harus mencoba baju di tempat ini, aku akan membayarkannya untukmu. Maksudku mantanku yang akan membayarnya. Toh ukuran badan kita sama, jadi setelah kamu memakainya malam ini, aku bisa memakainya lagi di lain waktu.”
Rupanya Quiny ingin membalas dendam pada mantan pacarnya yang tidur dengan cewek lain. Tapi alasan itu tidak membuat Ren berubah pikiran. Jadi ia kembali menolak.
“No, Ren. Aku tidak bisa melihat kamu menyia-nyiakan tubuh kamu dalam balutan kaos itu. Kamu punya badan yang bagus. Sekarang buat aku senang, ok? Kamu tahu, cowok itu pantas diperlakukan seperti ini.”
“Tapi…”
“Begini saja, pakai uangku dulu, nanti kamu baru ganti, mau 10 atau 15 tahun kamu cicil juga aku terima. Pokoknya aku mau lihat kamu dalam,” Quiny membalik-balikan gaun di etalase dan menarik keluar gaun printing dengan dasar ungu pucat dan bunga-bunga. “Ini, kita coba ini.”
Ia mendorong masuk Ren, membantunya berganti pakaian dan mengerai rambut cewek itu. Selama ini ia sudah geregetan melihat kecuekan Ren dalam berpakaian. Padahal tubuh Ren amat teramat indah. Berisi di bagian yang tepat dan langsing di tempat lainnya.
Gaun yang dipilih oleh Quiny begitu pas membalut tubuh Ren. Model potongan one shouldernya membuat neckline Ren terlihat jenjang dan sensual. Warna ungu ternyata cocok untuknya. Tidak terlalu feminim dan tidak juga boyish.
“Tuh, aku bilang juga apa.” piji Quiny puas dengan pilihannya. Ia sendiri sudah berganti pakaian dengan gaun berwarna gold yang memperindah warna rambut brunattenya.
“Kami ambil dua pakaian ini.” ujar Quiny pada pelayan butik dan mengesek kartu kredit mantan pacarnya itu dengan tersenyum puas.
Ren sempat memprotes tindakannya lagi, tapi ia tidak peduli. Cowok itu pantas membayar semua airmatanya. Lagipula uang kecil seperti ini tidak ada artinya untuk seorang anak milioner.
Mereka keluar dengan kantong tentengan mereka. Quiny masih belum berhenti, ia menarik Ren ke salon, pergi ke toko sepatu Manolo Blahnik dan memesan taxi limosine untuk ke acara penghargaan itu.
Ren tidak berkutik, ia terpaksa menuruti semua ucapan Quiny karena ia memang pergi ke Paris untuk menemani temannya ini. Bukan untuk dirinya. Bukan untuk bertemu dengan Ben, walau ia sangat ingin bertemu dengan cowok itu.
Jadi dengan gaun baru, sepatu baru dan tataan rambut yang baru pula, Ren dan Quiny memasuki balai tempat acara penghargaan tersebut dilangsungkan. Mereka mendapat tempat duduk cukup depan. Bukan VIP tapi tiket kelas 1 yang di sisi terluar.
Dari tempat mereka duduk, panggung terlihat jelas dan berdua mereka mulai cekikikan dan berkomentar ria sebelum acara dimulai. Entah bagaimana caranya mereka berhasil masuk tadi, pastinya segala hal tampak begitu lancar untuk mereka malam ini.
Advertisements

4 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 30

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s