Heartbeat – Chapter 2

April 2010

Alex sedang menunggu kedatangan rombongan pengacara dan promotor konser Asia Fox-T. Karena banyak orang dan party yang terlibat, mereka memerlukan pengacara untuk menilai isi kontrak mereka. Menjamin kalau mereka tidak akan dirugikan.

Song EunJi adalah salah satu pengacara yang mewakili promotor, satu-satunya pengacara wanita di antara puluhan pria. Kenyataan itu saja sudah menarik untuk Alex. Perempuan yang bergelut di bidang keras seperti hukum perdata pasti bukan perempuan sederhana, sesederhana pakaian hitam yang kenakan cewek itu.

Ia tidak bisa mengontrol matanya untuk berhenti memperhatikan EunJi. Setiap gerakannya amat tenang. Terkontrol dengan baik, walau di sekitarnya mulai ribut membahas perubahan syarat. Bahkan ketika EunJi hanya merapikan sejuntai rambutnya yang nakal keluar dari kelungan, Alex memandangnya takjub.

Selama satu jam pembahasan kontrak, Alex habiskan dengan memperhatikan gerak-gerik dan cara EunJi menyelesaikan masalah. Berdiskusi dengan tenang di satu saat. Melemparkan ide cemerlang di saat yang lain. Tertawa jika diperlukan, dan menatap garang di saat tidak puas.

Alex sudah tersihir dengan kepintaran EunJi. Sampai ia memutuskan untuk melakukan pendekatan yang lebih pribadi dengan cewek itu. Menepis kenyataan kalau EunJi adalah orang asing. Melupakan permintaan mendasar dari orang taunya, menikah dengan sesama Korea.

Langkah pertama yang Alex lakukan adalah, meminta nomor telepon cewek itu. Tapi dengan santainya EunJi berkata, “Tadi saya sudah menyerahkan kartu nama pada manager anda.” Yang sama artinya menampar Alex dengan penolakan.

Ia pasti terdengar seperti orang bodoh karena sudah meminta kartu nama untuk kedua kalinya. Dan demi harga dirinya ia menjawab, “Ini untuk urusan pribadi dan aku tidak ingin managerku tahu.”

“Ada banyak pengacara handal di tempat ini, termasuk senior saya, Alex-ssi. Apa anada sedang mencoba merayuku di sini?” Tanya cewek itu sambil tersenyum. Dan, perlu dicatat, menurut Alex itu senyuman terangkuh yang oernah ia lihat, tapi sekaligus membuatnya ingin menaklukan cewek itu.

“Tidak, menurut saya, anda yang terbaik di tempat ini. Karena anda berani membantah senior anda. Saya kagum dengan sikap terus terang seperti itu, karena aku membutuhkan pengacara yang jujur bukan yang penurut.”

Ia sengaja memuji kepribadian dan kepandaian EunJi dan tidak menyinggung mengenai penampilan cewek itu. Perempuan lebih merasa dihargai ketika sisi lain selain penampilan mereka dipuji.

Dan rencananya cukup berhasil, karena EunJi mengeluarkan kartu namanya dan menuliskan sesuatu di sana.

“Kalau begitu, sampai jumpa.” Ujar EunJi berpamitan.

Pertemuan pertama yang amat singkat tapi berkesan. Alex terus memikirkan cara untuk melakukan pendekatan tanpa terlihat putus asa. Ia tahu cewek seperti EunJi tidak akan terkesan dengan bunga ataupun coklat. Jadi ia tidak bisa mengirimkan dua benda itu.

Ia juga tidak boleh menghubunginya terlalu cepat sehingga cewek itu berpikir kalau ia sudah melupakannya. Jadi setelah satu minggu berlalu. Ia baru menghubungi EunJi. Itupun hanya pesan singkat melalui sekertarisnya kalau ia ingin berkonsultasi.

Ia mendapat jadwal di hari Sabtu jam 2 siang, satu-satunya hari yang kebetulan kosong di jadwal Alex dan kosong di agenda EunJi. Kebetulan yang menakjubkan. Mungkin takdir juga ikut berperan membantunya dalam menciptakan peluang.

Jadi Sabtu siang, bersama bodyguardnya, Go Ban. Ia bertemu di coffee shop langanannya. EunJi datang tepat pukul 2. Bersama satu cowok berkacamata dan sama-sama berpakaian olaraga.

“Maaf, kalau saya terlambat. Ini jadwal mendadak dan sekertarisku baru memberitahu tadi pagi.” Sapa EunJi. Tetap profesional. Lalu kemudian memperkenalkan pacarnya.

Ia bisa melihat kalau sebetulnya EunJi merasa tidak senang bertemu dengannya, mungkin ia sudah mengacaukan acara kencannya. Tapi ia tidak peduli, malah mungkin ia harus memperpanjang pertemuan ini hingga malam, jadi mereka tidak bisa pergi.

Setiap kali EunJi menjelaskan dengan memajukan kepalanya hingga jarak kepala Alex dengan cewek itu mengecil, setiap kali itu juga pacar EunJi bertanya mengenai hal-hal bodoh. Seperti, mau minum apa, makan apa, mau tambah tidak. Dan jika selesai dengam masalah perut, cowok itu ganti mengomentari surat-surat yang sedang diteliti oleh EunJi.

Bukan komentar bodoh, karena jika tidak, Alex sudah tertawa terbahak-bahak. Komentar yang menjatuhkan dan menyindir tingkat kecerdasan Alex. Komentar yang bisa membuat Alex mengacungkan tinju. Tapi ia tidak mengacukannya.

Diam disaat orang lain menyerangmu dengan cara yang tidak cerdas, malah akan membuat orang berpikir kalau si penyerang itu orang bodoh dan berkelakuan rendah.

Ia bisa melihat EunJi mulai kehabisan sabar dan kemudian meminta cowok itu pergi duluan. Tapi Alex menghentikannya. Berkata kalau ia tidak masalah dengan semua itu, dan malah menahan cowok itu untuk tinggal.

“Ini tinggal sedikit lagi. Kamu tidak perlu menyuruhnya pergi. Lalu, pesan saja makanan lagi. Aku akan membayarnya.” Ucap Alex dengan ramah dan kembali meminta maaf sudah membuat kencan EunJi terganggu.

Ia tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat EunJi memelototi pacarnya yang tanpa malu-malu memesan makanan paling mahal di coffee shop ini. Caviar Sicily.

Alex tidak ambil pusing. Semakin bertingkah cowok itu, maka semakin kalem dirinya. Ia harus menunjukan kalau ia cowok dewasa yang berpendidikan dan memiliki kesabaran. Yang tidak terpancing dan juga tidak membalas sikap kekanak-kanakan pacarnya.

Setelah dirasanya cukup malam, alex menyelesaikan pertemuan mereka. Pukul 7 malam. Biasanya ia akan menawari makan malam pada cewek-cewek yang dikejarnya. Tapi kali ini, ia langsung pulang.

Dari dalam mobil dan tidak terlalu jauh dari coffee shop, ia bisa melihat EunJi bertengkar sengit dengan pacarnya. Sampai cewek itu menuang kopi ke rambut cowok itu dan keluar dari coffee shop.

“Alex-goon, kita berhasil?” Tanya Go Ban yang sebenarnya tidak perlu, karena ia juga menyaksikan pertengkaran pasangan itu.

“Terima kasih untuk sarannya. Kalau tidak aku pasti sudah menyerah begitu melihat dia masuk dengan membawa cowok.”

Senyum puas tersungging di wajah Alex dan ia menyuruh pengawalnya jalan. Untung ada pengawalnya ini jadi ia mendapat masukan yang baik di saat yang tepat.

Untuk sementara ia bisa tenang. Jika EunJi tidak memiliki pacar, maka ia tidak perlu tergesa-gesa melakukan pendekatan.

Advertisements

2 thoughts on “Heartbeat – Chapter 2

  1. Pingback: Links to Third Novel – HeartBeat « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s