Into Your Arm – Chapter 31

Acara penghargaan telah dimulai sejak beberapa saat yang lalu, tapi Ben tidak bisa memfokuskan dirinya. Ia belum berhasil menenangkan dirinya sejak ia mendapati Ren duduk tidak jauh dari mejanya. Setiap kali ia harus memaksakan dirinya melihat ke arah panggung dan berhenti menatap cewek itu. Dan walau ia sudah memandang lurus ke arah panggung, dari sudut matanya ia masih saja mencuri-curi pandang ke arah Ren.

Ia tidak bisa memerintahkan dirinya untuk berhenti memperhatikan Ren. Tapi mungkin reaksi ini wajar mengingat hari ini adalah kali pertamanya ia berjumpa kembali dengan Ren setelah 6 bulan.

Ia memang berhasil mencapai prestasi yang tertinggi selama karier musiknya. Bersama Fox-T mereka dinobatkan sebagai artis Korea yang mampu mempengaruhi musik dunia versi Forbes. Mereka juga diliput oleh majalh TIME dan diundang oleh MTV untuk menerima piagam Best Male Group se-Asia.

Entah bagaimana ia berhasil berdiri sampai hari in dengan gagah dan prima. Mungkin dalam hati kecilnya ia tahu kalau satu-satunya cara membawa Ren kembali adalah dengan berada dimana-mana hingga Ren tidak bisa menolak kehadirannya, keberadaannya. Karena kemanapun orang pergi, mereka akan membicarakan kehebatan Fox-T. Membicarakan dirinya.

Semua yang ia impikan sudah ada di dalam genggamannya. Kecuali cewek yang dicintainya. Kecuali cewek yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari, tidak bisa tersenyum walau mendengar lelucon konyol dan tidak nafsu makan. Karena yang tubuhnya inginkan hanya kehadiran Ren. Senyum Ren, pelukan Ren, bibir Ren, keusilan Ren, Ren, Ren, Ren….

Ia mengerang tanpa henti, duduk dengan gelisah dan kakinya merasa kesemutan. Ia tengah bergumul dengan dirinya sendiri. Melawan rasa bersalahnya. Ia yang sudah ia meninggalkan cewek itu. Ia tidak jadi menyusul Ren ke airport karena teman-temannya datang ke rumah. Menceritakan mengenai konser Asia mereka dan membuat semangat dan kecintaannya pada musik mengalahkannya.

Dan hari ini, saat ini, ketika ia melihat senyuman itu kembali. Senyuman yang selalu bisa membuat hatinya merasa hangat, mengalahkan matahari ataupun sauna. Ia bahkan bisa mendengar suara tawa Ren walau jelas itu tidak mungkin. Ruangan ini memiliki soundsystem yang bagus sehingga satu-satunya suara yang memenuhi ruangan hanya suara orang yang mengisi acara.

Ketika tiba saatnya ia tampil di atas panggung, matanya juga tetap mengikuti gerak-gerik Ren. Untungnya ia tetap bisa bernyanyi dengan baik. Orang-orang tidak akan menyadari kesalahannya karena teman-temannya menutupinya dengan baik. Alex memarahinya setelah mereka berada di belakang panggung. Ia telah bersikap tidak profesional dengan membawa perasaannya dan urusan pribadinya ke atas panggung.

“Aku tidak menyalahkanmu. Semua cowok pasti tidak bisa berhenti menatap Ren sekarang. Dia jadi cantik sekali.” puji Micky sekaligus meledek Ben. Temannya yang satu ini sudah membuat susah semua orang karena uring-uringan 6 bulan terakhir ini. Ia merasa bersalah pada Ben karena sudah membuat cowok ini bertahan di Seoul. Tapi ide melarikan diri dengan Ren itu sangat kelewatan.

Dan ia bersyukur Ren memutuskan untuk memberitahunya agar bisa menahan Ben. Fox-T tidak bisa kekurangan satu orangpun, karena fox-T terdiri dari 5 orang bukan 4 bukan 1. Itu yang mereka berlima yakini. Makanya mereka tidak pernah egois memilih pekerjaan dan bisa tetap langgeng sampai sekarang padahal sudah hampir 7 tahun mereka bersama.

“Kamu akan menghampirinya nanti?” tanya Jack yang melihat jauh ke dalam hati Ben. Ia tahu rasanya ingin terbang dan berada di sisi orang yang dicintai lebih dari apapun juga. Seperti ia yang selalu ingin bersama Keiko.

“Aku tidak pantas bersamanya. Dan kalian lihat sendiri, dia baik-baik saja tanpaku.” ujar Ben kelu. Seberapa besarpun keinginannya, kerinduannya, ia tidak pantas mendatangi Ren. Mengganggu kehidupan cewek itu.

Ren terbukti bisa hidup dengan baik tanpanya. Malah rasanya Ren lebih cerah dibanding ketika bersama di Seoul. Ia tidak mungkin merusak kehidupan Ren lagi. Tidak jika cewek itu tidak meninginkan dirinya. Kehadirannya. Cintanya.

“Kenapa kamu ngomong seperti itu?” tanya Max bingung. Semua orang di sana juga sama.

“Aku tidak menepati janjiku untuk pergi dengannya, Max. Apa kamu lupa?”

“Tapi… Itu…”Micky pasti sudah melemparkan kenyataan yang disembunyikan oleh mereka berempat kalau saja Alex tidak menghentikannya.

“Aku tahu kalian yang menahanku di Seoul. Tapi tetap saja, aku yang memutuskan untuk memilih musik dan bukan Ren.”

“Cewek itu yang menyuruh kami menahanmu!” teriak Max tidak tahan. Alex tidak cukup cepat untuk menutup mulutnya dan karena ia lebih kuat, dengan mudah ia menepis tangan Alex yang menuju padanya.

Ben menatap keempat temannya itu bingung, “Apa maksud kalian dengan Ren yang menyuruh?”

“Dia menelponku untuk menahan kamu. Makanya pagi itu kami bisa mendatangimu.”tutur Micky jujur.

“Tapi? Kenapa? Dia tidak pernah berkata apa-apa soal ini.”

“Mungkin Ren tahu kamu tidak bisa hidup tanpa musik. Dan ia tahu kamu hanya memiliki musik.”

Ben menatap Jack cukup lama, mencerna kata demi kata. Ren berpikir kalau ia tidak bisa hidup tanpa musik, tapi bisa hidup tanpa cewek itu? Apa Ren tidak percaya dengan perasaanku?

“Dia mencintai kamu, Ben. Kalau itu yang sedang kamu pertanyakan. Makanya ia lebih rela kamu melanjutkan karier kamu. Bukannya mengikuti dia ke Venice.” Alex turun tangan.

Kenyataan ini terlalu mengejutkan Ben. Jadi selama ini bukan dirinya yang meninggalkan Ren, tapi Ren yang melepaskannya? Ia malah semakin merasa bersalah. Ren memberinya kesempatan untuk memilih sekali lagi dan ia malah memilih musik?

“Ben, jangan menyalahkan dirimu terlalu banyak. Ren bukan cewek dengan pemikiran sempit. Ia menyuruh kami karena tahu kamu pasti akan bertahan di Seoul. Dan ia sudah siap menerima keputusan kamu itu. Jadi berhenti memasang tampang bersalah, hampiri dia. Yunna baru saja memberiku alamat tempatnya menginap.”

Micky menyodorkan secarik kertas berisi alamat hotel Ben. Tapi Ben tidak mengambilnya. Ia masih harus berpikir. Memikirkan kembali prioritas hidupnya.

“Dia hanya semalam di Milan. Besok kembali ke Venice. Jadi pikirkan baik-baik.”

Keempat temannya itu meninggalkan kertas tadi dan satu manager untuk Ben. Jadi cowok itu bisa pergi ke tempat yang diinginkannya tanpa harus memusingkan supir dan jalan.

Di luar gedung, Ren dan Quiny sudah masuk kembali ke limosine sewaan mereka, pulang menuju hotel. Mereka tidak memberbicara selama perjalanan pulang. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Quiny menunggu Ren masuk ke dalam kamar mandi lalu mulaimembongkar tas Ren, mencari buku sketsa temannya itu. Ada sesuatu yang menganjal dipikirannya selama ia menonton pertunjukan tadi. Pertunjukan Fox-T tepatnya lagi, satu cowok, Ben.

Gambar yang selalu dibuat dan memenuhi setiap lembar di buku Ren adalah cowok itu. Ia menyadarinya ketika melihat posisi dan cara cowok itu bernyanyi dan berpose. Terlalu mirip jika itu hanya kebetulan.

Ketika Ren keluar, hanya ada satu pertanyaan yang meluncur dari bibir Quiny, “Ini Ben kan?”

Ren tidak bisa berkelit dan ia tidak ingin berkelit. Ia perlu membagi beban pikirannya dengan seseorang. Dadanya terlalu sesak dan otaknya sudah lama buntu. Ia memerlukan seseorang dengan pikiran lebih jernih untuk memutuskan baginya.

“Kalau kamu masih mencintainya, kejar dia, Ren. Aku tidak tahu bagaimana perasaan dia padamu, tapi aku yakin aku melihat dia terus menatapmu selama acara tadi.”

Ren memeluk Quiny dan mengucapkan terima kasih padanya. Ia keluar dari kamar hotel. Siap berlari kembali menuju lobby, ia tahu dimana Ben menginap karena mencuri dengar pembicaraan staff Fox-T saat di kamar mandi di tempat tadi.

Tapi ia menghentikan langkahnya karena ada seseorang berdiri di depan kamarnya.

Ben.

Ia tersenyum dan menyerahkan buket lavender pada Ren. Melihat Ren mematung di hadapannya, ia mendekap cewek itu, walau resikonya buket yang berada di tengah mereka menjadi berantakan dan serbuk bunga itu menempel di jasnya. Ia tidak peduli. Ia terlalu rindu pada cewek itu.

Dan demi Tuhan, betapa ia merindukan cewek ini. Merindukan saat ketika tubuh mereka bersentuhan. Merindukan kehangatan dan pancaran cinta yang hanya bisa ia lihat dimana Ren. Sorot mata yang selamanya menjadi miliknya. Lalu senyuman itu. Hanya sebersit tapi itu sudah cukup.

“Aku datang Ren…” ucap Ben, kemudian ia mencium cewek itu, ciuman lembut yang dipenuhi kerinduan. Ia berusaha menikmati setiap kecupan, setiap keluman dan setiap desakan hasrat yang semakin membumbung.

Hanya Ren yang bisa membuatnya terbakar seperti ini. Ia memutuskan untuk melanjutkan ciumannya di dalam kamar Ren. Maka ia mengendong Ren tanpa melepaskan ciumannya dan menutup pintu di belakangnya tersebut. Menuju ranjang.

Tapi kemudian ia mendengar suara orang terkesiap. Buru-buru ia melepaskan ciumannya dan menatap seorang cewek bule yang hanya mengenakan handuk.

Ben menurunkan Ren dalam pangkuannya. Kemudian menyapa Quiny, “Maaf, aku pikir dia sendirian. Aku Ben.”

“Hem, Quiny, her friend. Kasih aku 5 menit dan kalian bisa berduaan.” gugam Quiny buru-buru.

“Terima kasih, dan pakai ini untuk apapun juga yang kamu mau.” ucap Ben sambil menyerahkan kartu kreditnya pada teman Ren ini.

“Tidak perlu. Ada seseorang yang bisa membayarkan semua ini. Kamu kembalilah ke sana.” ujar Quiny sambil tersenyum dan tepat 5 menit, ia sudah keluar kamar. Namun sebelumnya ia sempat menyelipkan kondom di samping kasur dan memberi kode pada Ren soal keberadaan benda mungil namun penting tersebut.

Setelah Quiny keluar, Ben bertanya pada REn, “Kenapa dia mengedipkan mata usil padamu sambil menunjuk samping ranjang.”

Muka Ren yang memerah seperti kepiting rebus malah membuat Ben semakin penasaran. Ia merasa perlu menyelidiki daerah sekitar ranjang itu sendiri dan begitu menemukan alat kontrasepsi itu, ia tersenyum usil.

“Apa itu artinya dia menginjinkan aku bermalam di sini?”

“Oh, Ben… Please, Quiny orang Amerika, jadi ia pikir aku juga sebebas dia. Dia hanya bercanda.” ucap Ren gugup. Ia sampai tergagap beberapa kali untuk menyelesaikan kalimat itu.

“Apa itu artinya kamu menolakku?”

Ren mengangap, terkejut dengan pertanyaan Ben tapi ia mengeleng. Dan kenapa juga ia mengeleng, apa itu artinya ia mengijinkan cowok itu tidur dengannya malam ini?

“Ren…” panggil Ben tapi ia malah maju sendiri menghampiri cewek itu yang duduk di ujung ranjang. Mencium kening Ren, pelipisnya, mengelum daun telinganya kemudian ke bibirnya. Melumatnya berkali-kali sebelum memasukinya dan menguasai mulut Ren.

Ia menarik cewek itu agar tiduran di atasnya dan mengecupnya dengan ragu-ragu. Memberi kesempatan untuk Ren menghentikannya. Karena saat ini yang diingkan Ben hanya satu. Yaitu Ren seutuhnya.

Namun, perasaannya langsung terbang ke angkasa ketika Ren mengalungkan tangannya ke leher Ben. Ia langsung memeluk Ren erat tanpa melepaskan bibirnya. Membuat mereka berdua sesak nafas.

“Aku cinta kamu, Ren. Selalu dan selamanya.”

Advertisements

One thought on “Into Your Arm – Chapter 31

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s