Into Your Arm – Chapter 32

Pagi datang terlalu cepat untuk pasangan yang baru saja memadukan cintanya. Tapi untuk Ben yang harus mengejar penerbangan pagi itu sudah teramat terlambat. Ketika Ben terbangun, layar jam di samping kasur sudah menunjukan pukul 9. Ponselnya mendapat serangan bertubi-tubi karena sekarang alat itu mati total.Ia mengunakan telepon hotel untuk menghubungi managernya dan berkata akan menyusul di penerbangan berikutnya. Ia menelpon layanan kamar dan memesankan sarapan untuk dirinya dan Ren. American Breakfast dengan bacon, sosis, dan omelet serta jus.

Ia tidak membangunkan Ren sampai ia selesai mandi. Cewek itu berhak beristirahat setelah aksi mereka semalam. Ia senang karena telah menjadi yang pertama untuk Ren dan tentu saja yang terakhir. Ia tidak berniat untuk melepaskan cewek ini lagi.

Melihat Ren mengulat di atas ranjang, Ben berjalan kembali dan duduk di samping Ren. Ia merapikan rambut cewek itu dan menariknya. Hingga kepala Ren menyentuh dadanya.

“Aku harus kembali ke Seoul hari ini. Tapi tolong janji satu hal padaku. Kembalilah setelah kamu tamat. Atau aku yang akan menyusul kamu ke sini dan menculikmu pulang.” ucap Ben kemudian mengecup rambut Ren. Ia bisa merasakan anggukan Ren di dadanya.

Setelah sarapan, Ren mengantar Ben pulang dengan Quiny tentunya. Temannya itu menolak di tinggal di hotel terlebih jika mereka juga akan naik Metro yang letaknya dekat dengan airport.

Setelah berpelukan dan saling mengucapkan salam perpisahan, Ben kembali ke Seoul. Kali ini ia percaya Ren sudah kembali sepenuhnya kepadanya. Ia masuk ke dalam pesawat dengan tersenyum lebar.

6 bulan kemudian, Ren pulang dari Venice. Kebingungan karena Ben tidak datang menjemputnya. Alih-alih manager cowok itu yang membawanyakeluar dari airport. Semaki bingung ketika jalan yang ditempuh sang manager bukan ke rumahnya atau pun ke rumah Ben. Ditanyai juga tidak menjawab. Terus menerus menyuruhnya bersabar.

Ia tidak menyerah dan mulai menelpon Ben, setiap personel Fox-T, para pacar mereka namun hasilnya nihil. Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilannya.

Daripada cemas terus menerus, ia memutuskanuntuk tidur. Karena sepertinya ia akan dibawa ke tempat yang cukup jauh. Ia masih jetlag juga. Ketika pada akhirnya ia merasakan mobil telah berhenti, ia membuka mata dan terkejut, karena mereka sudah tiba di pelabuhan.

Sang manager masih menjalankan aksi bungkam. Tetap menolak memberitahukan padanya apa yang sedang terjadi. Ia turun sambil marah-marah dalam bahasa Italia dan membanting pintu mobil itu. Sayang pintu itu merupakan pintu geser dan otomatis, jadi seberapa besarpun bantingan Ren, dengan daya pegasnya, pintu itu menutup dengan pelan.

“Silahkan naik ke sana.” ujar sang manager sambil menahan tawa. Tingkah pacar Ben ini memang paling unik dibanding pacar Jack dan Micky. Tapi ia malah merasa Ren ini cocok sekali dengan Ben. Oleh karena itu ia bersedia bekerja sama dengan Ben dan menyiapkan kejutan untuk cewek ini.

Setengah mengomel setengah terpesona, Ren menaiki kapal pesiar di hadapannya itu. Rasanya kapal ini sebesar kapal Titanic. Ia memang baru melihat kapal legendaris itu dari TV tapi sepertinya serupa. Hanya saja nama kapal ini Dolphinator.

Ia menyerengit, nama apa itu dolphinator, apa pemiliknya berusaha mengaitkan lumba-lumba dengan terminator? Tapi kedengarannya keren juga. Dan dalam sekejap ia sudah tertawa terbahak-bahak. Rasanya ia tahu siapa pemilik kapal ini. Hanya ada satu orang bodoh yang suka menciptakan nama baru yang tidak kreatif.

Dengan langkah yang lebih santai, ia memasuki kapal, di sana ia kembali dituntun untuk menuju buritan kapal. Ia tidak menemukan siapa-siapa di sepanjang perjalanannya ke atas, kecuali staff kapal. Hal ini membuatnya tidak nyaman. Bagaimana kalau ia salah menerka dan bukan Ben yang ada di atas sana?

Tiba di buritan, kegelapan langsung menyambutnya. Hari sudah teramat malam dan tidak ada satu bintang ataupun bulan yang nampak malam ini. Kalau saja ABK yang menuntunnya tidak membawa senter, ia pasti sudah tersandung karpet atau apapun itu yang baru saja ditendangnya.

Tiba-tiba lampu menyala dari tempatnya berdiri, satu per satu sampai ke ujung buritan dimana sekarang ia bisa melihat ada panggung kecil dengan grand piano putih dan Ben dibaliknya.

Ia tersenyum melihat cowok itu dan mulai berlari menuju Ben.

“Stop! Kembali ke tempat tadi dan tunggu dengan manis. Itu best view malam ini.” ucap Ben sambil menyeringai usil.

Setelah mendengus pada cowok itu, Ren berjalan kembali ke tempat ia masuk dan duduk di bangku yang telah di sediakan oleh ABK. Dari sana, ia mendengarkan Ben menyanyikan lagu Stary-stary Night untuknya. Lagu yang mereka nyanyikan ketika naik kapal Yunna dulu. Kemudian Ben menyanyikan lagu Baby-4men, lagu kesukaannya. Dalam sekejap air mata Ren mengalir.

“Cowok bodoh itu. Apa sih yang dipikirkannya.” gugam Ren yang lebih ditujukan untuk dirinya. Ia masih terduduk di sana ketika ia mendengar suara petasan. Seketika itu juga ia melihat langit dipenuhi kembang api warna-warni. Di kiri dan kanan sampai kemudian ditutup dengan kembang api berbentuk tulisan, “Will you marry me?”

Air mata Ren mengalir semakin deras. Ia sudah berdiri sedari tadi tapi tidak menyadari kalau Ben sudah berjongkok di hadapannya dan mengulurkan cincin bertahtakan berlian 3 karat untuknya.

Ren menghapus air matanya dan mengangguk. Membiarkan Ben menarik tangan kanannya dan menyelipkan cincin itu di jari manisnya. Kemudian Ben mengecup cincin tersebut sebelum berdiri dan mengecup keningnya.

“Jadi kali ini kamu menerima lamaranku?” tanya Ben sambil memeluk Ren. Ia menunggu dan menunggu. Ren tidak mengangguk dan juga tidak menjawab. Dengan panik, ia menjauhkan Ren dari pelukannya hanya untuk menatap wajah cewk itu.

“Ren?”

“Iyah, babo! Aku setuju.”

Dan Ben langsung memeluk cewek itu dan memutar-mutarkannya. Teman-teman dan keluarganya yang sedari tadi menonton mereka berhamburan dan ikut memeluk mereka. Menyelamatinya dan Ren.

“Apa kalian mau menikah hari ini juga? Big lulusan pendeta.” tanya Yunna usil mengenai pengawalnya yang memang serba bisa.

“TIDAK!!!” ucap Ren dan Ben bersamaan.

“Tidak perlu berteriak seperti itu pada pacarku.” tutur Micky membela Yunna. “Dia kan cuma memberi usul.”

“Ren dan aku akan menikah di geraja dengan 1000 undangan. Dan kalian berempat harus menyumbang 1 lagu untuk kami. Ren akan mengenakan gaun pengantin bukan hanbuk.” ujar Ben persis seperti yang dulu pernah Ren katakan mengenai pernikaan impiannya.

Ketika melihat Ren tersipu malu di sampingnya ia menarik cewek itu dan kembali memeluknya. Akhirnya ia bisa bersama Ren. Untuk selamanya.

Setelah acara lamaran singkat tadi, pesta beralih ke acara makan-makan. Masing-masing sibuk dengan piring dan makanannya. Sehingga Ben bisa menculik Ren pergi dari buritan dan membawanya masuk ke kamarnya.

Ia tidak ingin waktu berduannya dengan Ren diganggu. Terlebih karena rasa rindunya sekarang berubah menjadi hasrat mengebu-gebu. Bagaimana pun juga ia seorang cowok dan berpacaran jarak jauh selama 6 bulan amat menyiksanya. Terlebih karena ia meninggalkan Ren setelah bercinta dengan cewek itu.

Ia mulai mengecup bibir Ren dan menciumnya dengan hasrat yang mengebu-gebu. Ia sudah mencopot pakaianya dan begitu juga dengan Ren.

Tapi apa mau dikata, aksi mereka harus ditangguhkan dulu karena pintu kamarnya diketuk.

Dengan enggan, Ben memakai celananya dan membuka pintu.

Gina, mantannya bediri di sana bersama Samuel.

Ben ingin sekali memaki cowok itu karena sudah membawa ular berbisa ini datang ke tempat ini. Seharusnya ia tidak perlu mengundang cowok ini yang jelas-jelas adalah sepupu Gina dan selalu menuruti cewek itu.

“Maaf, aku tidak akan menyita terlalu lama waktu kalian. Aku hanya ingin meminta maaf.” ucap Gina dengan cepat, terlalu takut pintu itu akan kembali tertutup padahal ia belum mengutaralkan maksud kedatangannya.

“Permintaan maaf ditolak. Nah, silahkan pergi dari sini.” tandas Ben dan bersiap menutup pintu.

Tapi Ren mendatanginya dan menahan pintu tersebut.  Dan sempat-sempatnya memelototi Ben. Tapi cowok itu malah dengan acuhnya berjalan menuju ranjang. Dan duduk di sana dengan santai.

“Gin..” panggil Ren.

“Maaf, Ren. Aku benar-benar minta maaf sudah membuat kamu dan Ben susah dulu.”

“Tidak apa. Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan tahuh kalau aku mencintai Ben.”

Gina tersenyum dan Ren membalasnya. Ia masih belum bisa memeluk Gina selayaknya seorang sahabat. Tapi setidaknya mereka tidak bermusuhan.

Samuel sempat mengucapkan selamat untuknya sebelum Ren menutup pintu. Ia langsung memelototi Ben dan memarahi cowok itu karena sudah bersikap tidak sopan.

“Dia tidak pantas menerima belas kasihan dariku. Kamu lupa cewek itu sudah membuatku hampir mati?” sosor Ben sengit. Rasa bencinya pada Gina tidak pernah luntur sejak ia tahu kalau cewek itu yang membuatnya diare dan nyaris mati.

“Ampuni dia Ben. Dengan demikian hubungan kita bisa lebih diberkati. Toh, kalau bukan karena dia membuat kamu berak-berak, aku tidak akan pernah menyusul kamu ke Jepang.” tegur Ren dan untunglah Ben mau menerima masukannya tersebut.

“Undang dia ke pernikahan kita tapi di pestanya. Aku tidak mau cewek itu bertingkah ketika kita menuju altar.”

Ren tersenyum mendengar syarat dari Ben tapi ia setuju. Ia kembali memeluk cowok itu dan menciumnya. Entah karena ini pertama kalinya ia yang mencium cowok itu duluan, Ben menjadi begitu bersemangat dan langsung membopongnya ke atas ranjang.

“Malam ini, kamu milikku.” gugam Ben lalu kembali mencium Ren.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 32

  1. Pingback: Link to novel Into Your Arm « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s