[Double Matters] Act 1 – Kembar itu menyebalkan

Aku tidak percaya ini.

Aku tidak percaya kalau aku telah ditipu oleh abangku sendiri yang sesungguhnya hanya lahir lebih cepat 15 detik saja dariku. Bagaimana mungkin aku lagi-lagi termakan ucapannya dan terlibat dalam urusan merepotkan seperti pertandingan anggar?!

Apa Mario lupa kalau aku ini perempuan dan sudah banyak berubah dari Maria 5 tahun yang lalu? Sudah menjadi gadis tulen dan feminim! Sudah berhenti mengekorinya dan mengikuti semua olaraga gilanya termasuk bermain anggar?!

Atau Mario berpikir karena ia lahir lebih dulu dariku maka dia berhak menyuruh-nyuruhku sepanjang hidupnya? Karena terus terang aku memang kesulitan menolak permintaan Mario.

Apapun jenisnya!

Misalnya dulu, saat Mario menyuruhku mengantikan dirinya mengikuti ujian atau diminta mentato nama kami berdua di lengan kami atau sekedar berbohong pada Mama bahwa Mario sudah tidur padahal anak itu ada di rumah temannya.

Kami berdua memang kembar identik. Mirip luar biasa, bahkan Mama sering kesulitan membedakan kami berdua dulu. Tapi tetap saja itu bukan alasan untuk memaksaku memegang kembali floret

!

Tapi demi semua pianist terkenal di dunia. Itu dulu! Kejadian 10 tahun yang lalu, saat aku masih ingusan dan mengangung-agungkan Mario si anak jenius.

Dulu, ketika aku belum menyadari kalau aku ini perempuan tulen. Sebelum aku mengakui bahwa aku dan Mario memang berbeda luar dan dalam. Dan menyadari kalau aku ingin menjadi pianis, aku perlu merawat tanganku.

Kutatap lagi pakaian serba putih di dalam tasku. Seragam anggar yang sudah dilengkapi dengan sensor eletrik untuk mengenali tusukan anggar yang mengenai tubuhku nanti. Jika lawanku berhasil mengenaiku, tentunya.

Selesai berpakaian, aku melihat pantulan bayanganku dalam cermin. Seketika itu juga aku ingin mencincang Mario atau menyeretnya kembali ke lapangan. Mario sudah membuatku kembali terlihat seperti cowok!

Aku melirik surat yang ditinggalkan Mario di dalam tas itu. Yang menuliskan dengan jelas tugasnya hari ini. Ia harus bertanding mengantikan Mario, harus menang pula karena ini pertandingan penting sebelum tingkat nasional, sedangkan Mario sendiri pergi mancing! Sejak kapan pula Mario suka memancing? Aku selalu bersamanya selama ini bahkan semalam aku masih tidur sekamar dengannya.

Jadi kalau seandainya ada kail atau alat pancing di kamar Mario aku pasti bisa menemukannya kan?

Aku rasa mataku yang minus setengah ini masih bisalah untuk membedakan alat pancing dengan tongkat biasa.

Mario pasti hanya mencari-cari alasan untuk melarikan diri lagi! Pergi dengan pacarnya! Terus terang aku tidak suka dengan Donna. Gara-gara perempuan itu, Mario jadi tidak tekun dan urakan?

Maaf, tapi aku tidak bisa menyukai jaket motor hitam pekat dan jeans robek yang belakangan ini dikenakannya. Kalau robeknya hanya sedikit sih masih bisa dianggap fashion, tapi jika sobekan itu nyaris memperlihatnya seluruh lutut dan betis?

“Rioooooooo……. Sudah selesai berganti pakaian?” tanya Chad dari luar membuyarkan lamunanku. Aku tahu itu Chad, karena aku pernah dikenalkan sekali padanya. Dan bukan artinya aku memengingatnya karena terkesan atau apa. Tapi sebagai musisi aku terbiasa membedakan suara dan yah, suara Chad termasuk unik.

Aku meremas surat yang ditinggalkan Mario lalu buru-buru mengenakan topengku. Dan keluar.

“Dimana adikmu? Maria tidak datang hari ini?”

Aku mengeleng untuk menjawab kedua pertanyaan ketua klub Anggar tersebut dan berharap Chad tidak mengenaliku. Atau menyadari perubahan tinggi ‘Mario’. Karena walaupun kami kembar, aku lebih pendek 5 cm darinya.

Syukurlah Chad tidak menyadarinya karena berikutnya dia terus mengoceh tentang Mario yang berbohong dan berkata akan membawa adik perempuannya ke pertandingan ini.

Aku mendengus. Maria memang datang, Chad tapi bukan untuk duduk manis sambil minum Fruit Tea seperti gambaranmu tadi. Maria-mu ini harus menganggat pedang dan memenangkan kejuaran ini demi saudaranya yang gila dan egois.

Aku mengangkat satu alisku dari balik topeng baru sadar akan hal bodoh lainnya yang sudah dilakukan oleh Mario. Kembarannya itu pasti menjanjikan sesuatu pada Chad hingga temannya ini datang ke pertandingan ini dan memastikan kalau aku muncul mengantikannya. Karena semakin mendengar ucapan Chad, aku semakin yakin ia mengharapkan dapat berkencan dengan diriku, sebagai Maria bukan Mario.

Dan sebetulnya Chad ini lumayan, kalau saja ia bukan sahabat Mario. Karena menurutku siapa pun yang tahan pada kembaranku itu, pasti cowok yang kurang lebih sama gilanya dengan Mario.

Jadi, tidak. Chad sudah dicoret dari daftar begitu ia mengaku sebagai teman Mario.

“Rio, itu lawan elo nanti.” bisik Chad yang sebenarnya tidak perlu. Suasana di tempat ini sudah terlalu ramai. Sepertinya anyak diantaranya adalah penggemar Mario karena mereka terus menerus meneriakan namanya dan beberapa orang lain yang tdak aku kenal.

Setidaknya Mario sudah membuat olahraga yang amat tidak umum di Indonesia ini menjadi diminati oleh orang banyak lah. Dan apa kata Chad tadi? Lawanku? Yang mana?

Mataku mengikuti telunjuk Chad yang mengarah pada cowok jangkung, dengan wajah manis. Manis seperti Chance Crawford.  Rasanya semuanya terlihat salah. Seharusnya orang dengan tinggi badan 190cm, ini hanya asumsiku karena cowok itu berdiri cukup dan dikelilingi banyak orang sedangkan aku duduk di lantai, dihalangi oleh topeng bersekat pula.

“Kamu kenapa sih? Diem banget? Takut ya?” tanya Chad dan demi menjaga identitasku, aku memukul pedangku ke kepalanya. Untuk menunjukan kalay ucapannya itu amat tidak beralasan. Bergaya seperti Mario yang selalu penuh percaya diri. Padahal aku sendiri sudah ketatukan.

“Peserta silahkan masuk lapangan.” panggil wasit padaku dan pihak lawan lalu mulai menjelaskan beberapa peraturan umum dan sebagaimana pertandingan anggar lainnya, aku harus mendapatkan 5 angka dalam waktu 5 menit. Harap diketehui, untuk pertandingan, mereka mengunakan aliran listrik untuk menandai tusukan yang masuk. Yang juga menjadi Alasan utamaku untuk berhenti bermain anggar. Sengatan tersebut terkadang mencapai tubuhku dan membuatku kegelian. Walaupun seragam yang kukenakan terlihat baru dan tidak mungkin bolong. Tetap saja aku tidak bisa menghentikan pikiranku kalau aku bisa saja tersengat.

Jadi kalau aku tidak mau merasakan sengatan, aku harus menghidari tusukan da. Menyelesaikan pertandigan ini lebih cepat.

Walau rasanya mustahil.

Berdiri berhadapan dengan musuhku yang tinggi besar, nyaliku semakin menciut. Pakaiannya menempel cukup ketat untuk memperlihatkan otot-ototnya yang terlatih. Walau aku tidak tahu apa gunanya otot itu untuk olahraga anggar. Tapi mungkin yang paling membuatku panik adalah wajahnya. Mama pasti senang jika putrinya, aku, mempunyai wajah mulus dan secantik dia.

“En garde.” teriak sang wasit. Tapi lebih terdengar seperti “anggar” di kupingku. Mungkin karena alasan ini juga olahraga ini disebut sebagai anggar oleh orang Indonesia.

Aku memasang kuda-kuda, bersiap sekaligus berdoa kalau aku masih mengingat cara bermain anggar dengan benar. Cukup benar untuk mengalahkan lawanku.

Aku berharap aku cukup gesit menghindari setiap serangan karen tubuhku lebih kecil. Tapi lawanku bukan orang awam, aku bisa merasakannya. Setiap tusukan dilakukan dengan penuh perhitungan. Dalam sekejap, aku sudah tertinggal 3 angka.

Tapi jangan panggil aku Maria kalau aku tidak bisa membalikan posisi. Aku menurunkan tubuhku serendah mungkin, membuat lawanku kesulitan mengenai area badanku, dan memasukan satu tusukan tepat di perut kanannya.

Aku tersenyum, sepertinya aku tahu kelemahan lawanku sekarang. Tubuhnya yang tinggi membuatnya kesulitan menjaga tubuh bagian bawahnya agar tetap seimbang ketika menghindari seranganku. Tusukanku masuk lagi dan berhasil menyeimbangkan kedudukan.

“Tambahan 1 point.” teriak sang wasit menandakak perpanjangan waktu. “En Grande.”

Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku langsung menyabet floret ke lengan atas lawanku. Dalam satu serangan.

Aku tersenyum senang, aku menang! Menang dari si cowok cantik ini! Benarkan otot besar yaitu tidak berguna dalam pertandingan anggar!

Tapi kesenanganku hanya bertahan sesaat karena berikutnya yang aku tahu, aku sedang dilempar-lempar ke langit-langit.

Asal tahu saja, aku takut jatuh jadi tanpa sadar aku berteriak dan memekik, “STOPPP!!!”

sia-sia, teriakan penonton jauh lebih kencang dan tidak ada seorangpunyag medegarku.

Ehm, tidak ada kecuali Chad tampaknya. Karena sekilas aku sepertinya melihat dia menyerengit sambil menatapku bingung.

Tapi kemudian dia tidak melakukan apa-apa. Jadi mungkin hanya perasaanku saja.

Akhirnya aku berhasil mendaratkan kaki kembali ke tanah. Rasanya puretku mual luar biasa. Malah mungkin aku bisa muntah saat itu juga kalau aku tidak kabur. Pelarian yang amat sulit karena kerumunan orang ini sepertinya tidak bisa menjauh dariku, aku terus mendorong dan mendesak hingga akhirnya tiba di ruang ganti lagi.

Dan coba tebak siapa yang ada di sana?

Tepat sekali, si tuan egois Mario!

“Kamu datang?!”

Aku tahu Mario tidak sepenuhnya terkejut. Karena entah mengapa aku jadi sadar kalau sebetulnya Mario sudah tahu dari awal bahwa aku pasti akan datang mengantikannya. Karena memang selama ini aku orang yang lebih bertanggung jawab sedangkan Mario yang lebih semberono.

“Lain kali jangan pernah menyuruhku lagi melakukan pertandingan gila seperti ini! Kamu tahu tidak lawanmu itu raksasa?!”

“Tapi kamu menangkan?”

Dan entah mengapa aku ingin membanting kembaranku itu. Terlebih karena aku sudah ada di dalam pelukannya dan tanganku tepat berada di pinggang Mario.

“Thank you! Ngomong-ngomong, aku putus dengan Donna. Kamu benar, dia cewek brengsek.”

Ucapan Mario sukses membuatku tertegun dan menghilangkan semua kemarahanku. Sebab aku tahu Mario serius dengan Donna. Mereka berpacaran selama 1 tahun. Itu termasuk lama untuk orang yang selalu berganti pacar sesering orang berganti pakaian.

“Ada apa?” tanyaku sambil menyopot seragam. Rasanya lega luar biasa bisa terbebas dari pakaian tebal dan tertutup tadi. Aku mengelap badanku dan menunggu Mario menjawab.

Melirika padanya sedikit dan melihat Abangku yang tolol itu hanya tersenyum bodoh. Senyum yang menarik ujung bibirnya membentuk garis lurus.

Aku betul-betul khawatir dan marah sekarang. Donna pasti melakukan sesuatu yang cukup parah atau setidaknya menyakitkan untuk Mario.

Dengan emosi aku memasukan tubuhku ke singlet panjang. Menutupi tanktop abu-abu dari spandex dan celana setengah paha yang tadi aku kenakan di balik seragam. Tidak terlalu terbuka dan cukup nyaman.

“Dimana dia? Kamu ingin aku menghajarnya? Meremukan tulangnya? Melemparnya ke laut?”

Aku mengucapkan semua itu dengan sungguh-sungguh. Tapi sepertinya cukup lucu bagi Mario karena dia malah tertawa terbahak-bahak sambil dan memukul-mukul loker di belakangnya.

“Kamu kembali menjadi pria, Mar? Karena ucapanmu tadi persis dengan dirimu 5 tahun yang lalu! Adik laki-lakiku!” ledek  Mario.

“Sialan! Makanya aku bilang jangan pernah menyuruhku memegang floret lagi! Aku tarik kembali kata-kataku. Terserah bagaimana kamu dengan Donna.  Aku tidak akan ikut campur.”

Betul-betul deh. Mario memang saudara yang menyebalkan! Kenapa sih aku harus bersaudara dengannya? Dan kenapa juga aku harus selalu turun tangan merapikan semua kekacauan yang dia buat?

“Kamu sudah membantuku kok. Lawan kamu tadi pacar baru Donna. Kalau Donna tahu pacarnya sudah dikalahkan oleh perempuan….”

Mario sengaja mengandung ucapannya, memaksaku untuk menebak-nebak sendiri apa yang akan dilakukan oleh Donna. Tapi sekeras apapun aku berpikir, tidak ada yang terpikirkan. Aku memang bodoh dan lambat kalau sudah menyangkut licik-licikan atau cinta-cintaan.

“Malu?” tanyaku polos.

“Kembali padaku, kuharap. Karena Donna memang sudah seharusnya ada di sisiku. Bukan di samping cowok lembek seperti Taylor itu!”

Aku tidak tahu harus merasa kasihan atau marah pada Mario. Cintanya pada Donna memnag buta dan gila. Heran apa sih yabg dilihatnya dari perempuan kurus itu.

Tapi aku tidak suka melihatnya semakin hancur. Aku harus menghentikannya. Karena hanya aku yang bisa menghentikan Mario seperti biasanya Mario menjagaku.

“Kalau kamu masih menganggapku sebagai saudara, Mo, kamu akan menendang Donna jauh-jauh setelah dia memohon kembali padamu. Sekali seseorang berkhianat, dia akan selalu menjadi seorang pengkhianat!”

“Tentu saja. Memangnya untuk apalagi aku merncanakan semua ini? Dia harus menyesal sudah memilih cowok lain!” tukas Mario.

Sekali ini aku percaya padanya. Toh, aku cukup pandai menilai Mario. Dia kembaranku, dan aku hidup terlalu lama bersamanya utnuk tahu kalau dia memang serius dalam misi balas dendamnya.

Aku menghela nafas, sepertinya aku selalu terlibat masalah yang diciptakannya.

“Mo, boleh tanya satu hal lagi?” tanyaku tiba-tiba teringat masalah lain. Chad.

Mario mengangguk dan menarikku dalam rangkulannya.

Melihat kalau emosinya sudah membaik, aku meneruskan pertanyaanku, “Kamu tidak sedang menjodohkan aku dengan Chad kan?”

Mario langsung tergelak dan mengusek-usek rambutnya yang masih setengah basah oleh keringat. Membuatnya menjadi berantakan dan tidak karuan.

“Mo, berantakan!” keluhku.

Satu lagi kelakuannya yang masuk daftar hitamku. Dia mulai suka mengusek rambutku saat SMA dulu. Karena katanya dulu ia sering gemas padaku dan tidak sopan kalau ia mengelitiku di depan umum. Tapi kan sekarang umur kita sudah 23, bukankah dia seharusnya berhenti mengacaukan penampilanku?

“Tenang, aku tidak mungkin menyerahkan kamu pada cowok sembarangan. Lagipula dia bukan orang yang tidak bisa kamu urus, kan?”

Aku menghela nafas. Ya, memang sih. Chad itu cowok mudah, dan bukan masalah besar. Aku hanya tidak suka gagasannya untuk mengerjai temannya itu menggunakan diriku.

“Siapa suruh aku punya adik cewek cantik mirip Natalie Portman? Kamu tidak tahu berapa banyak cowok yang minta dikenalkan padamu yah waktu kamu datang  ke kampus dulu?”

“Terserah deh, Mo. Mau kamu puji aku seperti apa juga aku tidak akan memaafkan kamu karena sudah menjebakku ke sini. Kamu tetep Mo-nyet!” aku sengaja menekankan kata Mo seperti panggilan kesayanganku untuknya.

Advertisements

One thought on “[Double Matters] Act 1 – Kembar itu menyebalkan

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s