[Double Matters] – Act 2 – Nyi (Kisanak) Roro Kidul

Sesungguhnya aku tidak akan terlalu peduli dengan apa yang dikerjaan oleh seorang laki-laki di lapangan parkir kalau saja dia tidak berjalan ke arahku dengan senyum lebar.

Untuk apa pula cowok itu jalan ke arahku?

Aku menengok kiri dan kanan. Lapangan parkir ini bisa disebut kosong jika tidak menghitung jumlah mobil yang masih diparkir. Jadi kemungkinan besar, memang cocok itu tersenyum padaku. Aku menyipitkan mataku dan kemudian membelalak.

Itu si cowok cantik tadi. lawan pertandingku a.k.a TAYLOR!

Gawat, apa dia mengenaliku? Tapi aku kan mengenakan topeng? Oh, sial! Mario pasti sudah memberitahukan padanya dan sekarang dia akan membuat perhitungan denganku juga.  Aku pura-pura mengangkat ponsel dan berlari secepat mungkin menuju mobilku.

Bodohnya aku lupa kalau mobilku terletak diantara cowok itu dan aku. Begitu aku mencapainya, cowok itu sudah berdiri di sampingku.

Dengan panik, aku berteriak, “Itu bukan ideku! Kalau kamu mau membuat perhitungan, cari Mario. Dia yang menyuruhku melawanmu tadi.”

“Apa?” tanya cowok cantik itu sebelum tertawa.

Aduh, kenapa dia malah tertawa dan kebingungan seperti itu sih.  Aku kan jadi salah tingkah dan semua orang tahu kalau aku salah tingkah maka aku akan mulai menjentik-jentikan kuku tanganku.

“Jadi tadi yang bertanding itu kamu?”

“Bukannya Mario sudah….?”

“Siapa Mario? Aku Ethan.”

Ethan? Bukannya tadi Mario bilang kalau lawanku itu bernama Taylor dan pacar Donna yang baru?

“Ethan? Bukan Taylor?”

“Yeap, terakhir kali aku mengecek KTP masih Ethan dan aku yakin kamu bukan Bella. Kita bukan tokoh ‘Twilight’. Jadi namamu siapa?”

“Benar kamu bukan Taylor?!” tanyaku lagi.

Ethan mengeluarkan KTP nya dan memintaku mengeceknya sendiri. Dan memang namanya itu Ethan bukan Taylor. Jadi ada apa ini? Apa Mario membohongiku lagi? Maksudku Mario hanya mencari-cari alasan agar aku tidak marah.

Mukaku langsung ditekuk masam. Menyadari kebenaran dugaanku itu.

“Sial, lagi-lagi aku ditipu Mario!” umpatku kesal. Tidak sepenuhnya sadar kalau aku menyuarakannya cukup lantang.

“Mario itu siapamu si? Yah, siapapun juga Mario itu, dia tidak membohongimu. Kamu memang melawan Taylor. Dia memaksa untuk bertanding melawan orang yang bernama Mario ini. Wah, dia pasti marah besar kalau tahu dia dikalahkan oleh perempuan.”

“Jadi maksudmu, Taylor tidak seharusnya bertanding? Tapi kamu mengijinkan dia mengantikanmu begitu saja? Curang dong?!”

“Bukankah kamu sama saja? Aku hanya memberi kesempatan  padanya untuk bertarung dengan lebih adil. Lagian Mario ini chicken sekali, masa menyuruh perempuan mengantikannya? Walau harus aku akui, teknik kamu lumayan juga. Walau tidak terlalu gesit!”

“Ada yang pernah bilang kamu itu bawel sekali?!” potongku sewot. Kesal mendengar ia menjelekan Mario.

Dan aku semakin sewot karena cowok itu malah tersenyum. Heran kenapa bisa ada cowok yang punya wajah lebih cantik dari perempuan.

“Ah, aku tahu! Kamu pasti gay! Makanya bawel begitu. Sebagai sesama perempuan, aku menyarankan kamu tutup mulut. Kamu tidak perlu memberitahu Taylor soal ini. Dan aku tidak akan memberitahu orang lain kalau kamu gay.”

Aku memencet alarm mobil dan membuka pintu bagasi. Lalu menutupnya kembali setelah melempar tas besar berisi baju bekas.

Aku membuka pintu kemudi, duduk dan menyalakan mesin. Sama sekali tidak sadar kalau ada orang lain yang duduk di sampingku. Maklum, aku sibuk memikirkan Mario. Memikirkan hukuman apa yang harus diterimanya karena sudah membuatnya terlibat masalah.

“Mobil kamu bagus juga.” tutur Ethan memuji interior mobilku yang dilapisi oakwood.

Untung jantungku cukup kuat dan aku bukan tipe cewek yang suka berteriak-teriak ketika terkejut. Kalau tidak, aku yakin teriakanku sudah sampai ke hall utama sekarang.

Aku tipe yang cegukan kalau sedang panik ataupun terkejut. Jadi bukan hal yang bagus juga. Aku memegang dadaku yang masih berdebar karena terkejut lalu mengatur nafas agar cehukanku hilang sementara Ethan tertawa terbahak-bahak di sampingku.

“Kamu tahu, kamu ini lucu sekali. Aku tidak pernah mengenal satu cewek pun yang bisa bermain anggar sebaik kamu. Mengendarai mini cooper berwarna merah dan cegukan ketika terkejut.” ujar Ethan terpukau. Seperti orang yang baru saja mengetahui kalau dunia tidak akan berakhir besok.  Tapi sepertinya tidak sampai di situ saja, Ethan kembali membuka mulutnya dan meledekku lagi. “Hampir lupa! Satu lagi, menganggap aku gay! Semua mantanku bisa kecewa kalau mendengar ucapanmu, Miss Hiccup.”

Aku berusaha tidak mempedulikan julukan Nona Cegukan yang diberikan olehnya dan terus berkonsentrasi untuk meredakan cegukanku.

“Ini minum.”

Aku menatap botol air yang disodorkan Edward dengan tatapan curiga.

“Ini botol baru. Masih disegel. Jadi kamu boleh tenang, ok.”

Baiklah, masa bodoh dengan higienis atau tidak. Malah kalau seandainya dia menaruh jampi-jampi di dalam air itupun aku tidak lagi peduli. Cegukanku mulai berubah menjadi sesak nafas. Kalau menurut dokterku aku harus segera menenangkan diri kalau tidak ingin collapse.

Aku memang memiliki paru-paru yang lemah, kasus yang biasa terjadi pada anak kembar, terutama pada anak yang lahir belakangan.

Cegukanku hilang seiring dengan banyaknya air yang masuk ke dalam tubuhku. Ketika akhirnya aku berhasil tenang. Aku memelototi Ethan lagi.

“Aku tidak akan mengucapkan terima kasih. Karena kamu yang menyebabkan aku cegukan.”

Ethan kembali tersenyum! Aku benci senyumannya. Untuk alasannya yang konyol, sebetulnya. Senyumnya terlalu mempesona sedangkan aku sadar aku tidak boleh terpesona olehnya.

Kenapa? Karena jelas sekali kalau Edward ini tipe playboy cap Hermes. Aku menyebut merk itu karena menyadari emblem yang muncul di ban pinggang yang dikenakan Edward.

Dia pasti luar biasa kaya atau luar biasa palsu. Tergantung dimana Ethan membeli ban pinggang itu. Mengertikan maksudku? Karena aku tidak bisa membedakan antara barang yang asli atau buatan Cina dan bisa dibeli dengan harga 25 ribu rupiah.

“Kalau begitu jangan berterima kasih. Karena aku juga tidak bisa meminta maaf.”

Nah ucapan macam apa itu? Dasar sombong!

Jangan salahkan aku kalau aku menanggapinya dengan turun dari mobil lalu membuka pintu di sisinya dan menariknya turun.

“Keluar! Kalau kamu masih merasa kamu cowok, turun dan lawan aku! Selain anggar aku juga menguasai judo!” bentakku kesal.

Aku tidak berbohong soal itu. Dulu aku mengikuti semua kegiatan yang dilakukan oleh Mario. Dan karena kembaranku tu orang yang mudah bosan dan super jenius. Ia selalu menganti klub olahraga yang diikutinya begitu ia berhasil menjadi yang nomor 1.

“Baik-baik aku akan turun. Berhenti menarik kaos Armaniku.”

Ah, informasi tambahan untuk karakter Edward, Jadi selain playboy, dia juga pesolek! Bagus. Lebih bagus lagi kalau dia betul-betul gay. Karena sumpah! Aku benci sekali dengan cowok ini!

“Begini,” ucapnya setelah turun dari mobilku. “Aku tidak meragukan ucapanmu tapi aku tidak mau melawan perempuan. Lagipula aku membutuhkanmu utuh dan tetap cantik.”

Aku pasti sudah menonjok atau membanting atau apapun juga kalau cowok itu tidak kembali tersenyum. Aku sudah bilang aku membenci senyumannya itu kan? Karena sekarang senyumannya sukses membuat aku bengong dan otakku mampet.

“Aku mau minta bantuanmu. Kamu kenal dengan pacar Taylor? Cewek itu tidak benar-benar berpacarannya. Tujuannya hanya ingin memancingku agar cemburu padanya.”

“Darimana kamu tahu kalau Donna mengincarmu?” entah suara siapa itu, tapi rasanya itu suara dari bibirku. Tampaknya biar otakku mengalami kelumpuhan tidak dengan bibirku.

“Karena aku mengenalnya dari kecil. Dia sudah melakukannya berkali-kali. Tapi aku pikir dia sudah berhenti mengejarku karena aku dengar sebelum ini dia pacaran lama dengan seorang cowok. Tapi sepertinya dia mendengar aku putus dengan Ava dan dia kembali mengejarku.”

“Ava?”

“Pacarku yang terakhir. Cewek cantik tapi sayang ternyata ular juga. Dia akhirnya mengaku kalau dia cuma mengincar uangku.”

“Bagaima…”

“Aku memergokinya dengan selingkuhannya.”

“Dan apa hubunganku dengan semua masalahmu?” tanyaku sambil memijat-mijat kepala. Pusingnya luar biasa.

“Kamu orang yang tepat untuk menjadi pacarku. Kamu cantik, pintar dan,” Edward kembali tersenyum sedangkan aku terus memijat kepala yang sekarang mulai memainkan musik rock, yang menghentak-hentak membuatku semakin pusing, “Kamu bisa bela diri. Jadi aku tidak perlu khawatir kalau ada preman atau orang menjahatimu.”

“Dan kenapa aku harus membantumu?”

“Karena kamu tidak ingin aku melaporkan panitia kalau kamu bertanding secara ilegal tadi dan membuat Mario terkena sangsi kan?”

“Aku rasa Mario akan sangat senang kalau tahu dia bisa berhenti bermain anggar. Toh, dia sudah mulai bosan dan lebih memilih memancing.” kataku ironis.

Walau aku tahu ucapanku itu amat tidak bertanggungjawab dan belum tentu benar tapi untuk saat ini aku akan mengatakan apapun juga untuk keluar dari masalah yang bukan masalahku. Sudah cukup aku direpotkan oleh Mario dan aku tidak berniat menambahnya dengan sibuk mengurus cowok ini.

Ethan si Kisanak Roro Kidul. Pangeran sombong yang tampaknya punya ilmu gaib karena dia berhasil meyakinkanku untuk menurutinya walau aku masih tidak habis pikir kenapa dan apa yang sudah ia katakan hingga membuatku yakin.

Yang pasti sekarang aku sedang berjalan dengannya menuju hall utama, tempatku bertanding tadi. Masuk ke dalam sambil dirangkul oleh Ethan dan memasang senyum selebar daun pepaya.

Tidak ada sedikit pun terlintas di otakku kalau nantinya aku akan terlibat banyak masalah dengan cowok ini.

Advertisements

One thought on “[Double Matters] – Act 2 – Nyi (Kisanak) Roro Kidul

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s