[Double Matters] – Act 3 – Pendekar Mario

Anggap aku ini bodoh dan lambat berpikir. Tapi sungguh, aku tidak pernah membayangkan kalau ciuman pertamaku akan dilakukan di hadapan banyak orang dan untuk kepentingan orang lain pula.

Ethan sialan, menciumku di depan umum!

Di hadapan entah mungkin puluhan orang karena dia menciumku persis di tengah lapangan anggar. Persis di jeda pertandingan final putri.

Awalnya aku tidak mengerti mengapa ia menarikku ke sana karena terlalu sibuk mengingat kembali apa yang sudah membuat aku menuruti cowok gila ini. Terlebih, aku juga sibuk mencari Mario. Berharap kembaranku itu bisa menyelamatkanku.

Nasi sudah menjadi bubur, ciuman itu sudah terjadi dan aku cuma bisa memelototi Ethan yang tersenyum angkuh di depanku. Layaknya pemenang.

“Dengan begini, cepat atau lambat Donna akan mendengar soal hubungan kita.” tutur Ethan yang boleh dianugrahi tamparan.

Sebalnya aku malah menyadari ucapan Ethan sangat masuk akal. Jadi aku hanya mendengus kesal.

“Berharaplah Donna mengetahuinya. Atau kita harus terus melakukan sandiwara ini.”

”Apa?”

“Kamu tidak salah dengar. Kalau Donna tidak mengetahui bahwa sekarang aku sudah berpacaran dengan kamu. Kita harus terus bertemu dan berpacaran.”

Aku membalikan badanku dengan muka merah. Karena kesal dan marah, murka lebih tepatnya. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak tahu diri seperti Ethani ini hidup dan muncul di hadapanku?

Dan mengapa harus aku yang dipilihnya diantara semua cewek lain?

Apa aku memberi kesan bahwa aku ini orang yang mudah ditindas? Karena sekarang aku terjebak dengan Ethan juga. Padahal mengurus seorang Mario saja sudah membuatku pusing luar biasa. Lelah lahir batin!

Merasa tidak sanggup berdebat dengannya, aku berjalan lebih cepat menuju mobilku.

Menutup kuping rapat-rapat dari ledekan dan omogan orang-orang yang menjadi penonton.

Tapi aku tidak berpikir dia akan mengejarku lalu menyelonong masuk ke mobilku. Duduk di kursi pengemudi. Aku membuka kembali pintu mobil yang ditutupnya dan mulai meneriakinya.

“Kamu sudah gila?!” tanyaku sesewot yang aku bisa.

“Masuk!”

“Apa?”

“Tidak mau juga tidak apa. Dengan senang hati aku akan membawa mobilmu.”

“KAMU?! Sudahlah, terserah kamu!”

Aku membanting pintu mobilku dengan kasar dan menelepon Mario. Sambil berjalan ke belakang mobil. Membukanya dan mengambil dompetku.

“Rio? Kamu kenal Ethan kan? Mobilku ditahan olehnya. Kamu urus saja dengannya.”

“Apa? Mar? Hey..”

Tanpa memusingkan panggilan Mario, aku mematikan ponselku dan berjalan mencari taxi. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Karena pangkalan taxi berada puluhan meter dari GOR. Tapi demi harga diri, aku tidak akan memusingkan soal kaki pegal.

“Kamu betul-betul gila ya?” panggil Ethan dari dalam mobil.

“Tidak. Kamu yang gila.”

“Ini mobilmu, memangnya kamu tidak khawatir aku akan mencurinya?”

“Silahkan, mobil itu diasuransi. Aku bisa mendapatkan gantinya langsung.”

“Naiklah, aku tidak mau orang memperhatikan kita seperti ini.”

“Oh, jadi sekarang kamu peduli dengan ucapan orang?” ejekku kesal. Dan dimana otaknya tadi saat menciumku? Ah benar, justru karena dia peduli makanya dia menciumku!

“Hey, ayolah. Nama kamu siapa si?”

Aku mendelik dan memutar badanku. Ethan ikut menhentikan kendaraannya.

“Hebat! Kamu bahkan tidak tahu namaku!” ucapku lalu kembali berjalan.

Kakiku mulai pegal. Sepatu hak tinggi ini betul-betul tidak membantu. Mungkin lebih baik aku mencopotnya? Tapi melihat aspal jalanan yang tidak rata, aku membatalkan niatku untuk menelanjangkan kaki.

Lebih baik pegal dibanding kakiku lecet-lecet.

“Maria? Namamu Maria?”

Aku menoleh dan melihat Ethan sedang membaca STNK mobilku. Nama lengkapku tertera di sana sebagai pemilik kendaraan.

“Nama itu cocok untukmu. Cewek mandiri. Jadi, Maria, kamu tetap tidak mau naik?”

Aku mendengar nada peringatan dalam suaranya, tapi tetap saja aku tidak peduli. Kebetulan aku menemukan taksi kosong. Aku mulai berlari dan melambai ke taksi itu.

“Selamat tinggal, Eth.” ujarku pada cowok yang mengendarai mobilku itu.

Masuk ke dalam taksi dengan senyum puas. Tapi tidak lama kemudian aku mulai panik. Ethan melewati taksiku dengan kecepatan penuh.

Apa aku sudah kelewatan ya? Mungkin aku harus menelepon Kak Ronald, assistent Papa. Minta dia mengurus masalah ini. Si Mario bodoh itu memang tidak bisa diharapkan. Masa ia tidak meneleponku lagi.

“Kak Ronald? Ini Maria.”

Dan aku menceritakan masalahku padanya. Satu hal yang selalu aku kagumi dari Ronald. Dia orang yang amat bertanggung jawab. Sopan dan berdedikasi tinggi. Lebih cocok disebut sebagai abang dibanding Mario.

“Jadi kamu ada dimana sekarang? Kamu baik-baik saja kan?” tanya Ronald khawatir.

“Di dalam taksi, sudah dekat rumah kok. Kak Ronald tidak perlu khawatir.”

“Mana mungkin aku tidak khawatir. Kamu kan perempuan, Maria.”

“Cuma kakak yang menganggapku seperti itu. Rio saja tidak pusing.”

“Ah benar, dimana abangmu itu?”

Aku mencibir sebelum menjawab, “Masih di GOR kali. Dia belum meneleponku kembali. Kak, sudah dulu yah. Sudah sampai rumah nih.”

Usai membayar taksi, aku melompat turun. Dan melihat mobilku sudah di parkir di sana.

Tuh kan, aku yakin Ethan tidak akan berani membawa kabur mobilku.

Aku berlari menaiki tangga rumahku. Kalau saja aku tidak mengenakan sepatu tinggi ini, aku pasti sudah melompati beberapa anak tangga sekaligus.

“Aku pulang.” teriakku dengan wajah berbinar-binar yang langsung berubah merah begitu melihat Ethan duduk di ruang tamuku.

Cowok itu sedang berbicara dengan Mama. Dan hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang mereka bicarakan sampai Mama terlihat begitu senang. WAlau aku bisa menebak sedikit. Tapi pikiran bahwa Ethan memperkenalkan diri sebagai pacarku terlalu menakutkan untukku terima bahkan ketika Mama sendiri dengan gembiranya menyebut aku anak nakal yang lupa memperkenalkan pacarnya pada ibunya sendiri.

Aku menghampiri mereka dan dipaksa duduk di samping Ethan yang tersenyum semuringah oleh Mama. Walau dalam hati kesal luar biasa tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Percuma mengatakan sesuatu pada Mama yang terlanjur bersemangat mendengar putrinya sudah memiliki pacar.

“Maria, apa kamu tidak akan memperkenalkan Ethan pada Mama kalau Mama tidak bertemu dengannya sendiri? Kalau Mama tahu kamu sudah punya pacar, Mama pasti tidak akan memasukan kamu ke dalam pasar perjodohan.”

“Apa?” tanyaku tergagap.

“Ah benar, Denise sudah kembali. Dia menelepon tadi. Tapi sudahlah, itu tidalk penting. Mama tidak akan memaksakan kamu dengan Denise lagi. Dengan yang ini Mama juga setuju.”

Sungguh, aku sangat berharap Mama bisa menahan diri. Tapi seperti yang sudah-sudah, mulut Mama susah dibungkam. Jadi aku terpaksa memekik untuk menghentikannya.

“Mama!”

“Baik-baik… Mama tidak akan menganggu lagi. Mama masuk dulu ke kamar. Ethan, perlakukan putriku dengan baik yah.”

“Ma….” kejarku. “Ini salah…”

Aku tidak bisa menyelesaikan ucapanku. Ethan keburu menarikku keluar, menuju taman belakang yang letakknya bersebrangan dengan ruang tamu sambil mengucapakan salam pada Mama.

“Apa sih mau kamu?!” tanyaku sanggar. Aku mengusap-usap pergelangan tanganku yang kembali memerah. Seharian ini, aku ditarik-tarik terus.

“Siapa Denise?”

“Bukan urusanmu!”

“Tentu saja, menjadi urusanku. Setidaknya sampai urusan diantara kita selesai.”

“Apa maksudnya? Aku sudah membantumu! Bahkan sampai menyerahkan ciuman pertamaku padamu! Dan ka…”

Ucapanku mengantung begitu saja begitu melihat perubahan di wajah Ethan. Dia merasa bersalah?

“Itu… ciuman pertama kamu?”

“Lupakan! Itu bukan ciuman! Aku tidak akan menganggap itu ciuman!” tolakku. Hal terakhir yang ingin aku dengar adalah belas kasihan darinya.

“Aku…”

“Aku bilang lupakan! Aku tidak menganggapnya ciuman. Ok? Sekarang, silahkan pulang dan terima kasih sudah mengantar mobilku kembali.”

Ethan menghela nafas. Lalu berjalan menuju gazebo yang letaknya menjorok ke kolam berenang. Aku terpaksa membuntutinya. Pembicaraan diantara kami belum tuntas sampai aku berhasil mengusirnya keluar.

Halaman belakang rumahku memang cukup besar. Karena obsesi Papa ketika mendapatkan anak kembar terlalu besar dulu, jadi ia bermaksud menyediakan seluruh permainan yang bisa ia boyong untuk kedua anaknya. Untungnya Mama berhasil menghentikan ide Papa yang ingin memperlebar halaman belakang dengan menambahkan lapangan berkuda ketika Mario dan aku tergila-gila dengan olahraga itu dulu.

Tapi mungkin seharusnya Mama membiarkan saja rencana Papa itu jadi aku tidak perlu melihat Ethan berdiri di sana.

“Aku minta maaf. Aku tidak tahu kamu…”

“Aku bilang tidak perlu, ok! Aku tidak menganggapnya…”

“Baik-baik! Aku tidak akan meminta maaf. Aria, boleh aku memanggilmu seperti itu?”

“Tidak!” tolakku, tapi Ethan cuma tersenyum mendengar penolakanku dan tetap memanggilku dengan nama Aria.

“Aku serius Aria. Aku memerlukan bantuanmu. Semakin cepat kita menyelesaikan semua ini, semakin baik untuk kita berdua.”

Aku berpikir sejenak, mungkin semua masalah ini memang lebih cepat selesai jika aku bekerja sama dengannya.

“Aku tidak mengerti. Mengapa kamu dan Mario sama-sama tidak berkutik di hadapan Donna? Dia cuma perempuan biasa kan? Mengapa kalian selalu membuatku pusing.”

“Mario itu kembaranmu? Aku melihat foto kalian tadi. Kalian mirip sekali.”

Aku menghela nafas, Ethan pasti melihat foto yang bertebaran di dinding ruang tamu. Karena merasa pembicaraan ini akan menjadi panjang, aku memutuskan untuk duduk juga di gazebo. Tapi cukup jauh dari Ethan.

“Yah, aku dan Mario kembar. Tapi hanya wajah kami yang mirip jadi kamu…”

“MARRRRRRRR……….. Mobilmu sudah kembali? Dimana cowok brengsek itu?” teriak Mario dari arah pintu teras.

Ia berlari secepat kilat menuju tempatku dan begitu sampai langsung merengut kerah Ethan dan menantangnya.

“KAMU APAKAN ADIKKU?” geram Mario.

Kalau hal ini dilakukan tadi, saat aku memerlukan Mario, aku akan berterima kasih. Saat ini, Mario hanya membuat semuanya menjadi runyam.

“Kalian sama-sama tempramental yah?” ucap Ethan kepadaku.

Aku hanya mengangkat bahu.

“KAMU APAKAN MARIA?” tanya Mario tetap marah.

“Rio, lepasin dia deh. Kalau kamu tonjok dia sekarang, Mama bisa menghukummu.”

“Mama sudah bertemu dengannya? Terus?”

“Yah begitu… Mama pikir aku dan dia pacaran.”

Aku mendengus mendengar Mario tertawa.

“Sudah deh. Tidak ada yang lucu tahu. Denise sudah kembali.”

“DENISE? Denise tetangga kita?” pekik Mario.

Aku mengangguk.

Mario terlihat lebih senang mendengar Denise kembali dibanding aku. Yah, bagaimanapun juga kami bertiga bersahabat sejak kecil.

“Tunggu, jadi pertunangan kamu dengannya tetap dijalankan?”

“Kamu sudah bertunangan?”

Mario dan Denise berbicara berbarengan, membuat aku pusing.

“Kalian berdua, berhenti berteriak, boleh? Aku pusing.”

“Kamu sudah minum obat, Mar?”

“Kamu sakit, Aria?”

Tanya mereka berbarengan lagi.

“Kamu memanggil dia Aria?” tanya Mario pada Ethan lalu menatapku dan tersenyum, “Kamu membiarkan dia memanggilmu seperti itu? Aku pikir itu hak istimewa Denise.” ledek Mario, mengenai nama panggilanku.

“Rio, sudah deh. Tidak membantu tahu.”

“Gini, aku masuk dulu, ambilin obat kamu dan Ethan, tolong jangan macam-macam pada adikku ini.” pesan Mario dan kembali menghilang ke dalam rumah.

“Jadi siapa Denise?” tanya Ethan tidak membuang waktu.

Aku menghela nafas berat. Sepertinya aku betul-betul sesak nafas. Tapi aku harus menjelaskan pada Ethan yang sepertinya semakin bingung.

Advertisements

One thought on “[Double Matters] – Act 3 – Pendekar Mario

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s