Double Matters – Act 4 – Kopi Susu Campur Madu

(Pusing Tahu)

“Siapapun dia, Eth. Bukan urusan kamu. Aku setuju untuk membantumu. Karena sepertinya kamu tidak akan menghilang kalau aku tidak menyanggupimu.”

“Serius?”

Sumpah, aku bisa melihat mata Ethan mendadak berkilauan. Berlian juga kalau silau kali.

“Kamu mau menjadi pacarku?”

“Pura-pura.”

Dan Ethan berteriak, memeluk dan memutar-mutar tubuhku layaknya gansing.

Astaga, cowok ini seperti anak kecil yang memenangkan lomba. Dia pasti merasa lega akan keputusanku ini. Padahal dia belum mendengar persyaratan dariku.

“Tapi kita hanya akan muncul 1 kali.” pekikku.

Sukses membuat Ethan terkejut dan menghentikan aksinya.

Aku merapikan rambutku begitu kakiku kembali menyentuh tanah. Menenangkan debaran jantungku juga. Debaran wajar kok, selayaknya orang yang habis diputar-putar lalu merasa tidak nyaman.

“Apa maksudmu?” tanya Ethan dengan mata mendelik. Membuat aku terpaku, tidak biasa melihat cowok dengan mata berwarna coklat hazelnut. Bukan warna mata yang biasa untuk ukuran orang Indonesia.

“Satu kali sudah lebih dari cukupkan kalau tujuanmu hanya ingin meyakinkan Donna. Aku berjanji akan memberikan pertunjukan terbaikku dan membuat dia menghapus semua pikiran soal kamu. Atau kamu perlu dia menghilang sekaligus dari hadapan dia?” Aku terdiam sejenak, memberinya waktu untuk memikirkan ucapanku.

“Kalau kamu menginginkan kerjasama dariku. Kita harus melakukannya sesuai dengan caraku.” tambahku.

“Hanya satu kali? Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai?”

“Kita akan membicarakannya lagi nanti. Lagipula Eth, boleh aku tanya kenapa kamu berpikir dia akan mempercayai omonganmu? Kamu tahu kan Donna juga mengenalku. Dan percayalah, dia pasti tahu cewek macam apa aku ini.”

Aku menatapnya dan dia balas menatapku dengan keyakinan penuh bahwa hanya aku yang bisa.

“Kamu orang yang tepat. Itu saja.”

Aku tertegun. Mengapa dia bisa seyakin itu? Apa dia sudah lupa kalau aku belum pernah berpacaran. Aku mengingatkannya kembali akan fakta tersebut dan coba tebak apa jawabannya.

“Justru itu jadi lebih meyakinkan. First love at the very first sight.”

“LEBAY!!!” pekikku merinding.

Aku mengangkat tanganku dan melihat bulu kudukku berdiri gagah perkasa. Aku tidak biasa dengan ucapan chessy seperti itu tapi bukannya tidak suka juga.

“Orang yang mengenalku pasti tahu kita berbohong.” ujarku sambil mengelengkan kepala.

“Kenapa? Memangnya kamu belum pernah merasa berdebar-debar?”

“Setiap hari jatungku juga berdebar, Eth.” selakku skeptis.

Tapi Ethan tidak mengindahkan sindiranku dan terus mencecerku dengan kalimat-kalimat muluk, “Memikirkan orang itu lebih sering dibanding yang kamu ingat? Menginginkannya untuk terus berada di sisinya. Walau ada seribu orang di depanmu, hanya dia yang terlihat?” melihat aku hanya mengeleng, Ethan bertanya, “Masa kamu tidak pernah merasa begitu?”

“Maaf deh. Pada dasarnya aku memang bukan pencinta roman.”

“Boleh aku jadi yang pertama?” tanya Ethan dengan tampang serius. Membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.

“Aria, kamu sudah boleh kembali bernafas. Aku tidak mau pacarku mati mendadak di sini.” tutur Ethan sambil menangkup kedua tangannya ke pipiku dan memutar-mutarnya seperti memeras jeruk.

Aku baru sadar kalau sedari tadi aku menahan nafasku dan sepertinya jantungku juga sempat berhenti mendadak. Mendatangkan serangan cegukan.

Dengan sigap Ethan menepuk-nepuk punggungku dan berujar “Astaga, Aria….” berulang-ulang. Membuat aku sebal. Aku menepis tangannya dari punggungku karena memang usahanya tidak membantu. Aku cegukan bukan sedang keselak.

“Mario mana sih?” tanya Ethan, celingukan, tangannya tetap menepuk-nepuk walau aku terus menepisnya dengan memutar pundakku. “Kita masuk deh. Cari minum.” tambanya serasa pemilik rumah.

Dan saat itu dengan ajaibnya, Mario muncul berikut obat dan sebotol air. Aku menyambarnya.

Dalam hitungan detik, cegukanku hilang. Meninggalkan rasa malu yang tidak tahu harus aku usir dengan apa. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

Merasa ingin membunuh seseorang.

Ethan pulang tak lama kemudian. Katanya sih ada urusan, aku tidak bertanya lebih jauh. Toh, bukan urusanku apa yang akan ia lakukan. Aku tidak tertarik.

Selepas mengantarnya ke depan rumah. Aku masuk ke dalam kamar yang ada di lantai atas, kamar dengan beranda menghadap ke taman belakang. Dengan jendela besar, pintu beranda dan tangga khusus untuk turun ke taman. Tapi pintu beranda itu tidak bisa dibuka karena Papa takut aku melarikan diri dari sana atau ada pencuri yang masuk. Intinya pintu itu belum pernah dibuka sejak aku lahir dan tinggal di kamar ini.

Aku melempar badanku ke atas kasur dan menarik keluar jurnalku dari laci nakas samping. Dan mulai menulis nama Ethan di lembaran kosong dan mencoret-coret. Membuat catatan data mengenai ‘pacar’-ku ini. Penting bagiku untuk membuat catatan ini agar aku tidak salah melangkah. Mengindari kesalahpahaman dan pertengkaran.

Ethan, cowok yang mementingkan penampilan. Aku tidak suka pria pesolek. Menurutku cowok yang normal dan sehat adalah cowok yang percaya diri dan tidak mengandalkan pakaian untuk memperindah dirinya. Cukup para perempuan saja yang memusingkan bad hair day, kulit kusam dan pakaian. Aku tidak mau bersaing dengan pacarku sendiri untuk masalah penampilan. Jadi poin (-50).

Berikutnya, tukang paksa. Persistent sih tapi tetap saja annoying. Ngotot untuk mendapatkan keinginan memang baik tapi kalau sampai mengorbankan kepentingan orang lain. Aku tidak suka. Poin (-30), dengan catatan, aku juga bukan cewek yang gampang ditindas.

Ok, mungkin aku lemah dan mudah dirayu untuk menuruti keinginan Mario. Tapi itu karena aku sayang pada Mario dan merasa berkewajiban untuk menolongnya. Jadi tidak bisa dibilang aku ditindas dong? Kan, aku melakukan semua itu dengan rela.

Balik soal Ethan, sepertinya dia juga anak manja. Sekadar untuk informasi, Ethan dijemput oleh supir. Aku tidak tahu kalau ada cowok yang suka diantar jemput oleh supir dan menolak berada di balik kemudi. Mungkin dia bukan tipe pengatur? Atau malah lebih parah, tipe orang yang suka memerintah, mendapatkan keinginannya tanpa mengotori tangannya sendiri?

Tanpa ragu-ragu, aku menulis (-80).

Aku menyerengit. Masa tidak ada poin baiknya?

Baiklah, dia cukup tampan. Matanya jelas belo dan hangat. Berambisi tepatnya. (+20). Aku suka mata seperti itu.

Lima menit berlalu dan tidak ada catatan lain yang bisa aku tambahkan untuk memperbaiki nilai Ethan. Tidak jelas aku harus merasa senang atau tidak dengan nilai minus 110 untuk Ethan.

Jelas, aku senang karena ini artinya tidak ada kemungkinan bagiku untuk jatuh cinta padanya. Tidak mungkin cowok itu bisa membuat nilainya menjadi lebih baik karena kita hanya akan bertemu satu kali lagi. Itupun untuk bersandiwara.

Lalu aku juga senang karena dengan pura-pura berpacaran dengannya, aku bisa menambah pengalaman soal percintaan. Sekaligus menghentikan rongrongan Mama yang ingin menyodorkan aku ke semua lembaga perjodohan yang ada. Mama amat terobsesi untuk segera menikahkanku. Karena sebagai seorang perempuan, lebih mudah dan normal untukku menikah lebih dulu dibanding Mario.

Speaking of my beloved wicked mom, wicked but truly love her. Aku mendengarnya memanggilku.

“MARRRRRR, dinner time!” lolong Mama dari lantai bawah.

Aku bergegas turun setelah menyimpan jurnalku.

Aku ingin tertawa begitu melihat sayur bertebaran di atas meja. Belakangan Mama sedang terobsesi untuk menjadi vegetarian. Membuat Papa dan Mario tersiksa dan lebih sering makan di luar. Jadi begitu melihat dua pria di rumah ini duduk manis di sana sambil bercengkrama, aku tahu ada yang tidak beres.

“Maria….” sapa Papa, “How’s your day? Ada seseorang yang ingin kamu kenalkan ke Papa?”

Aku tersenyum kecut dan melirik Mario serta Mama yang belaga bodoh. Membicarakan masakan kacang panjang dan daging bohongan yang ditambahkan Mama ke dalam masakan malam ini. Mungkin Mama akhirnya sadar kalau menu makanannya membuat orang lain tersiksa tapi masih belum rela meninggalkan diet anehnya.

“Papa dengar dia satu kampus dengan Mario, anak yang pintar ya?” tanya Papa lagi. Jelas untuk meledekku. Aku menarik kursi dan duduk di samping Mario, sengaja menyikut bahunya dengan keras.

Itu hukuman karena sudah membocorkan soal Ethan pada Papa.

“Aduh, Pa. Anaknya juga sopan dan tampan. Agak-agak mirip Andy Lau.” sosor Mama.

“Betul Pa, Ethan itu anak baik.” tambah Mario.

Aku memejamkan mataku. Mengucapkan selamat datang pada mimpi buruk. Malam ini aku pasti akan terus diledek oleh keluargaku. Dan aku tidak bisa membalas omongan mereka karena mereka tidak boleh tahu kalau semua ini hanya sandiwara. Bisa-bisa mereka mendorongku lebih jauh agar betul-betul berpacaran dengannya.

 

Advertisements

2 thoughts on “Double Matters – Act 4 – Kopi Susu Campur Madu

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s