Double Matters – Act 5 – Wedang Ronde

Panas-panas nikmat bagi yang suka. Baik untuk masuk angin. Obat bergadang dan meriang.

Seharusnya, hari ini adalah hari bahagiaku. Pianis favoriteku yang ganteng datang dan menerangkan Symphony no.5 karya Beethoven dan gubahannya. Kami yang beruntung mendapat kesempatan untuk duet dengannya. Dan aku salah satu mahasiswa yang beruntung itu.

Siapa sangka kalau siangnya, aku disambut dengan malapetaka bernama Ethan mencari mangsa!

Cowok itu datang ke kampusku tanpa peringatan, tanpa SMS ataupun telepon, email atau apalah. Padahal kemarin dia bersikeras meminta semua dataku agar bisa menghubungiku. Sampai alamat blog, account twitter dan facebook juga dimintanya. Tapi apa coba?

Tetap saja ia membohongiku dan muncul di kampus seperti pocong salah waktu!

Awalnya aku hanya mendengar orang-orang ribut kalau ada cowok ganteng muncul di kampus. Harap maklum, kampusku ini khusus putri. Satu saja mahluk berkromosom Y muncul, maka semua orang akan norak luar biasa. Terlebih lagi jika dibumbui dengan kata ganteng dan 3 orang sekaligus.

“Kata Amel, ganteng banget, Bun! Mirip Taeyang BigBang.” celetuk Maya. Dia memang penggila K-pop jadi aku agak maklum dengan preferensinya dengan mendeskripsikan semua cowok ganteng dengan perbandingan dari negara Gingseng itu.

“Eh, bukannya katanya mirip Tom Cruise?” tanya Rossa.

“Pokoknya Bun, kita harus ke kantin depan. Yang lain sudah pada lari ke sana. Aku lagi butuh cowok nih.” tarik Maya. Diikuti anggukan Rossa. Alhasil, aku terpaksa ikut berlari dan mengikuti mereka.

Dua cewek ini teman satu kelas. Aku tidak terlalu akrab karena di kampus ini aku tergolong pendiam. Mereka bahkan menjulukiku Bunda, Emak, pokoknya semua panggilan untuk ibu. Mungkin kalau mereka tahu aku aslinya tomboy dan barbar, mereka bisa gantung diri kali ya?

Sementar aku mengantri makanan, dua temanku itu Maya dan Rossa berhasil menembus kerumunan cewek-cewek dan mencapai pusat kerumunan. Aku mengambil salad tuna dan duduk di tempat yang lebih sepi. Tempat yang enak untuk makan sambil melihat teman-temanku beraksi. Bahkan ada beberapa dosen ikut nimbrung di kantin. Padahal biasanya mereka makan di ruangan dosen.

“Makan sendiri?” sapa pianis yang tadi mengajarku tadi. Dia duduk di hadapanku. Karena tempat lain dudukku ini satu-satunya yang bisa dibilang kosong. Dia meletakkan teh botolnya di atas meja.

Dan hari ini memang my lucky day, setidaknya aku belum tahu soal kesialanku nanti. Dan peribahasa-wise, kesusahan nanti hanya untuk dipikirkan nanti kan? Saat ini aku lebih suka memikirkan betapa beruntungnya aku.

“Siang Pak.” sapaku balik, aku sengaja tidak menyebut namanya. Karena terlalu ironis. Amadeus seperti nama tengah Mozart tapi karena orang Indonesia dia jadi dipanggil Amad.

“Tidak ikut ke sana?” tanya Pak Amad.

“Lapar, Pak.” jawabku.

Kemudian aku tersenyum canggung, sepertinya berita mengenai kelakuan alay mahasiswi kampus ini sudah sampai di kupingnya juga. Mukaku memerah, malu karena teringat teman-temanku ada di antara kerumunan itu juga.

Kami jadi memperhatikan kerumunan di depan kami itu. Ehm, aku sempat memperhatikan Pak Amad juga sih. Bagaimanapun juga, dia kan pianis kesukaanku, panutan dan juga ganteng berat. Masih muda lagi. Jadi buat apa repot-repot melihat yang jauh di sana kalau di sampingku juga ada mahluk indah lainnya dan lebih mudah dijangkau.

“Menurut kamu mereka siapa?” tanya Pak Amad yang menoleh mendadak kepadaku.

Aku jadi tertangkap sedang melihat padanya. Tapi syukurlah aku berhasil pura-pura sedang melihat kerumunan di belakangnya.

“Aku tidak tahu. Cowok ganteng terlalu langka sekarang ini.” celetukku asal. Membuat Pak Amad tertawa.

Dan ampun, ternyata Pak Amad punya lesung pipit. Senyumnya juga manis banget. Aku menyerengit, menyayangkan namanya, mungkin aku bisa memanggilnya dengan Deus? Dia tidak akan tersinggung atau berpikir yang tidak-tidak bukan? Toh, Deus lebih enak didengar dibanding Amad.

Lalu mendadak suasana di kantin hening. Aku sampai menengok ke kerumunan itu lagi. Kerumunan itu masih ada bahkan sepertinya bertambah banyak karena posisinya semakin dekat dengan tempat dudukku.

“Mariaaa!” teriak Maya. “Eh, Hallo Pak Amad.”

Cewek itu menembus kerumunan dan berdiri di hadapanku dengan muka berbinar-binar.

“Coba tebak siapa yang datang?” tanya Maya lagi dengan suara toa. Aku rasa semua orang bisa mendengar ucapannya. Mungkin sampai ke gedung sebelah.

“Siapa?” tanyaku balik, karena sepertinya itu hal yang paling tepat untuk aku katakan. Aku yakin, Maya memang memberikan pertanyaan retorikal.

“Kembaranmu!” jawab Mario dari arah kerumunan.

Spontan aku berdiri, menutup mulutku dan mulai cegukan.

Sungguh, aku mulau membenci diriku yang mudah terkejut. Rasanya aku sudah membuat tidak hanya Maya tapi juga beberapa orang memperhatikan aku dengan bingung. Lalu tangan seseorang terjulur dengan sebotol air. Memaksa aku mendongkak.

Ethan berdiri di sana dengan senum lebar dan dengan berat hati aku katakan, amat tampan! Argh! Itu akan menjadi pujian terakhirku!

“Kamu tidak akan mengambilnya??” tanya Ethan meledek.

Aku memicingkan mataku begitu melihat Mario mengantikan diriku mengambil botol tersebut dan mengopernya padaku. Membukakan serta memaksaku menerimanya.

“Kamu bisa mulai memarahiku, setelah selesai minum.” bisik Mario.

Tidak mungkin kan aku tidak memukulnya setelah mendengar hal tersebut. Dan untuk sekarang ini, aku peduli sudah membuat dua sahabatku, Rossa juga sudah bergabung dengan kami – menatapku bingung.

Berikutnya mereka tertawa terpingkal-pingkal begitu melihatku meraih botol dari tangan Mario dan menegaknya hingga tandas. Lalu tetap cegukan setelahnya.

“Kamu tahu tidak, sebetulnya ciuman itu obat paling baik untuk cegukan.” celetuk Ethan mengundang lirikan dan pukulan. Tentu saja pukulan itu berasal dariku. Tidak mungkin ada yang ingin memukul mahluk tampan itu selain aku yang tidak kebal pada pesonanya.

“Hei, aku kan pacarmu. Boleh dong aku berharap bisa meningkatkan hubugnan kita?” celetuk Ethan, kembali mengundang terikan, makian dan dengusan.

“Kamu sudah punya pacar?” tanya dua sahabatku dan Pak Amad.

Aku lupa sama sekali kalau cowok ini masih ada di sampingku. Jadi aku menoleh padanya dan mengeleng lalu mengeleng dan mengeleng.

“Hei, masa sekarng kamu tidak mau mengakui aku sih?” seloroh Ethan kemudian menarik leherku dengan tangannya dan tetap menahanku dalam rangkulannya.

Kalau tadi aku mengegeleng tanpa henti sekarang aku membuka tutup mataku seperti wiper rusak.

“Ayolah, katamu kamu aktris yang baik. Sekarang tersenyumlah dan mainkan peranmu. Aku tidak ingin Mario berpikir kita membohonginya.” bisik Ethan.

Bibirnya begitu dekat dengan kupingku dan membuat aku meringkis kegelian. Aku bahkan nyaris cekikikan di sana kalau saja aku tidak melihat sosok seorang cewek di antara kerumunan di hadapanku.

“Donna.” bisikku cukup kecil, namun Ethan mendengarnya dengan baik dan menoleh, ikut melihat ke arah yang sama denganku.

“Bukan, itu bukan dia. Donna tidak akan mengenakan baju serba hitam dengan boot ala tentara seperti itu.” ujar Ethan dan melemparkan senyuman padaku seakan-akan kami ini sedang membicarakan hal yang lucu. “Tetap tersenyum Aria, lalu bilang pada mereka kita ijin pulang.”

“Eh?”

“Rio, kita jalan dulu yah. Keliatannya Aria betul-betul sakit.” ujar Ethan mengantikan aku dan ia memang tidak pernah membuang waktukan. Ia menyeretku ke lapangan parkir dan berhenti persis di depan mobilku.

“Mana kuncinya?” tanya Ethan

Dengan spontan aku merogoh ke dalam tasku dan mencari kunci mobilku. Untungknya aku lekas sadar dan berhenti mencari. Ganti bertolak pinggan dan memelototinya.

“Eth, kenapa kamu ada di sini?”

“Jangan galak seperti itu Aria. Kembaranmu menarikku kemari. Aku tidak mungkin menolaknya dan membuatnya curiga kan?”

Itu bukan jawaban yang ingin aku dengar. Tapi karena aku yakin Mario sanggup dan pasti melakukan hal ini. Aku hanya bisa mengigit bibir bawahku dan mendesah.

“Seharusnya aku tahu, kamu dan Mario itu iblis penghisap darah.” gerutuku lalu mengeluarkan kunci mobil dan berjalan menuju pintu supir.

“No! Aku yang akan menyetir. Kamu perempuan, duduk saja yang manis, ok?”

“Apa?” tanyaku tidak percaya dengan ucapannya. Dia bermaksud merendahkan kemampuan menyetirku karena aku ini perempuan?!

Oh, tidak! Jangan pernah ada orang yang merendahkan keberadaan perempuan di hadapanku. Bahkan Mario pun tahu betapa sensitifnya diriku mengenai kefeminisme.

Dengan emosi, aku masuk ke dalam mobil dan membanting pintu lalu menyalakan mesin mobil. Membuatnya meraung.

Ethan masuk dan duduk di sampingku, siap mengomentari tindakanku. Tapi aku lebih cepat.

“Aku tidak bisa menyetir katamu???!” ujarku dibarengi dengan injakan pada pedal gas yang membuat mobilku melesat dan keluar dari area kampus bak pembalap.

Aku tidak menurunkan kecepatanku ketika kami melewati jalanan besar dan padat di Sudirman. Aku juga tidak menurunkannya ketika kami memasuki jalan bebas hambatan yang lebih lapang. Aku terus memacunya seperti orang kerasukan sampai tiba ke tempat tujuanku.

Puncak.

“Kamu, Aria, cewek paling gila yang pernah aku kenal.”

Bukan kalimat yang pantas untuk diucapkan pertama kali oleh cowok yang mengaku pacarku. Tapi karena itu terdengar sungguh-sungguh, maksudku Ethan betul-betul ketakutan melihat cara menyetirku yang ugal-ugalan tadi. Aku menanggapinya dengan senyuman.

“Jadi kamu mengakui aku ini supir yang baik, kan?” ujarku kemudian membuang mukaku kembali menghadap jalanan sebelum akhirnya seulas senyum lebar mampir di sana.

“Ada yang pernah bilang padamu kalau senyumanmu itu sangat cantik?”

Aku mendelik pada Ethan, “Apa?”

“Lain kali menengoklah padaku ketika kamu tersenyum. Jadi aku bisa menikmatinya sampai puas.”

“Apa?” ulangku.

Dia tidak bermaksud memujikan, kan? Ethan tidak sedang menebarkan pesonanya padaku, kan?

“Kamu lapar Aria?”

“Apa?” tanyaku lagi, kaget dengan perubahan arah bicara kami.

“Aku tahu penjual sate kambing yang enak di dekat sini. Hanya beberapa kilometer ke atas.”

Baiklah, aku pasti terdengar seperti kaset rusak ketika aku kembali bertanya “Apa” padanya, tapi Ethan tidak perlu mentertawaiku seperti sekarangkan. Sampai-sampai aku bisa melihat butiran air mata di pelupuk matanya.

“Kamu mau aku yang menyetir? Bukan karena aku tidak mempercayai kamu bisa menemukan restoran itu tapi aku juga lumayan kelaparan sekarang.”

Pertanyaan yang salah. Aku membuang muka dan kembali menekan pedal gas.

“Tidak? baikalh, kamu lurus saja, ikuti jalan. Nanti setelah melewati pasar Cipanas di sebelah kanan ada Restoran Shinta.”

 

Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 5 – Wedang Ronde

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s