Double Matters – Act 6 – Sate, mas?

“Sate kambing 2, sate ayam 1, sop 1, nasi putih 2, teh hangat 2? Itu aja mas?” tanya sang pramusaji.

Aku malas menjawab si pramusaji yang kelewan centil. Jelas sekali kalau dia sedang melempar eayuan dan dirinya pada Ethan. Kerutan di dahiku tidak bisa diluruskan melihat pakaian yang dikenakan oleh si pramusaji. 
Singlet dan celana pendek!
Ini di puncak! Sedang hujan pula! Aku saja kedinginan luar biasa, cewek itu malah tebar pesona.
Saat aku sibuk memperhatikan si pramusaji, rupanya Ethan melihat aku mengigil. Ia melempar jaket yang ia kenakan tadi ke bahuku.
“Pakai dan jangan protes!” ancam Ethan, menambah kerutan di dahiku.
“Aku hanya bertindak selayaknya seorang pacar.”
“Tidak ada orang di sini, Eth. Kamu tidak perlu melakukan semua ini.”
“Bisa saja ada yang melihat.”
Aku menyerengit kembali. Ethan pasti sudah gila! Apa dia lupa kalau sekarang kita sedang ada di ouncak? Jauh dari keramaian dan demi semua pianis yang ada, saat ini hujan deras dan kita ada di resto tertutup. Kalau seandainya mwmang ada orang yang mengenali kita, pasti tidak akan terlalu terlabat untuk kita berpura-pura.
Jadi aku mengatakan semua alasan itu padanya, berusaha memberi kesadaran baru padanya. Tapi dasar mahluk doyan tebar pesona! Ethan malah tersenyum penuh maksud.
Tanpa sadar aku mengeluh, “Senyuman itu lagi!!!!”
“Kenapa dengan senyumanku?”tanya Ethan, gantian dia yang menyerengit.
“Aku tidak suka.” jawabku singkat.
Dan ia kembali menyerengit.
“Aku lebih suka wajahmu yang sekarang.” ujarku sambil tertawa, “Persis seperti wounded knight.”
“Jadi menurutmu aku ini seorang ksatria? KalU begitu kamu putrinya dong?”
“Nope! Aku nenek sihirnya. Dan akan menyulap kamu menjadi kodok kalau kita tidak segera makan.” tuturku serius sebelum berteriak menanyakan pesanan kami tadi. Tapi Ethan tidak membiarkan masalah itu berlalu.
“Kenapa kamu mau menjadi nenek? Itu bukan pilihan umum.”
Aku tertawa, harus diakui pilihanku memang konyol. Tapi aku sadar sejak dulu, aku tidak cocok menjadi tuan putri. Dan peran perempuan yang tersisa tinggal ibu peri atau nenek sihir yand menurutku sama saja. Mereka tetap penyihir.
“Karena aku suka menghukum orang yang mengngguku. Lagipula semua cerita dongeng itu tidak masuk akal!”
“Jadi cerita seperyi apa yang kamu suka? Romeo and Juliet?”
Aku kembali tertawa. Astaga, roman picisan lainnya.
“Kamu tahu kan kalau cerita itu egois sekali? Mereka tidak mempedulikan saudara atau orang tua mereka saling tikam dan tetap meneruskan percintaan mereka?”
“Itu….”
“Kamu bingung ya? Aku memang bukan cewek normal. Dari dulu aku sudah mengetahuinya. Kamu menyesal sekarang?”
“Tidak juga. Aku menganggapnya menghibur. Terus terang aku juga menganggao cerita-cerita itu konyol. Tapi karena perempuan menyukainya. Ya….”
Ethan mengangkat kedua bahunya. Membuat aku tersenyum. Setidaknya, cowok ini jujur mengakui kalau ia playboy. Playboy yang berusaha keras untuk dicintai.
Aku menghargai kejujurannya.
“Berarti Eth, kamu tidak selalu mempesona seperti ini?” tanyaku penasaran tapi kelihatannya dia terkejut mendengar pertanyaanku.
“Itu sindiran kan? Kalau orang lain yang bilang seperti itu, aku yakin mereka sedang memujiku. Tapi kalau dari mulutmu….”
“Tentu saja sindirin,” ujarku mengiyakan, walau sebetulnya aku hanya penasaran. Tapi dia tidak perlu tahu, bukan?
“Kalau mengenai wajahku, aku tidak bisa berkomentar tapi untuk yang lainnya….” Ethan berhenti dan kembali mengerutkan dahinya, “Kebiasaan? Karena orang-orang lebih banyak mengenal aku sebagai anak yang baik. Lalu mereka mulai memasang ekspetasi bahwa aku ini cowok yang baik juga dan calon suami yang baik?”
Aku tertawa melihat dia menyerengit dan juga untuk alasannya. Sedikit iba juga karena itu artinya Ethan akan selalu mengikuti segala aturan dan bersikap bak pangeran teladan.
Yang membuat aku berpikir kalau cowok ini belum pernah melakukan hal-hal gila seperti diriku.
“Jadi Eth, kamu pernah main paintball?” tanyaku disertai kerlingan nakal.
Aku tidak perlu menjaga kelakuanku untuk tampil feminim di hadapannya. Dia sudah tahu aku bisa judo dan itu sudah cukup untuk menghancurkan imej feminimku.
“Kamu tidak sedang mengajakku berkencankan?”
Aku tertawa. Astaga, kepercayaan diri Ethan betul-betul boleh bersaing dengan Jack Sparrow, si bajak laut. Tapi aku tahu dia hanya meledekku.
“Kita anggap itu kencan kalau kamu bisa mengalahkanku.” tantangku balik.

Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 6 – Sate, mas?

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s