Double Matters – Act 8 – Nightingale or Vampire?

Mungkin aku melakukan sandiwaraku terlalu serius. Sampai membuat Ethan membopongku dan membawaku ke Klinik yang tersedia di tempat paintball.

Tempat kecil dengan kasur seadanya dan tanpa pintu, hanya ada tirai kecil untuk menutupi daerah ranjang. Aku sempat mengintip dikit karena takut Ethan melemparku ke lantai.

Tapi Ethan malah teriak-teriak panik dan membopongku erat. Layaknya membopong guci berharga.

“Tolong, siapa saja, dokter kalau bisa. Ada orang pingsan.” seru Ethan panik dan putus asa.

Dia masih terus berteriak sampai aku mendengar seorang perempuan menyahut padanya dan menunjukan padanya fempat untuk membaringkan diriku.

Aku merasa lega ketika mendengar mereka tidak memiliki seseorang yang mengerti masalah medik dan menyuruh Ethan menungguiku saja.

Menunggu aku tersadar sendiri.

Ucapan yang tidak bertanggung jawab dan aku merasa marah ketika mendengarnya. Kalau saja aku tidak sedang berpura-pura, aku akan memaki cewek itu sebagai orang yang tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab.

Ethan sepertinya merasakan hal yang sama. Dia marah-marah dan menyuruh perempuan tadi memanggil manager atau orang yang lebih berpengalaman untuk memeriksaku. Memaksa dan mengancam.

“Bawa seseorang kemari atau aku akan menuntut karena kalian sudah bertindak kelewatan dan tidak menghargai konsumen kalian. Aku akan menuntut kalian.” ancam Ethan

Aku puas mendengarnya dan mengangguk kecil untuk setiap kata yang dilontarkan Ethan. Memang tidak sia-sia mengenal seorang calon pengacara, kalau ada kejadian tidak terduga seperti ini mereka bisa langsung mengacungkan tangan dan menuding dengan pasal-pasal hukum. Serasa membawa pengacara pribadi.

Urat malu cewek itu mungkin sudah putus. karena sepertinya ia malah berusaha menenangkan Ethan dengan membawa teman perempuannya yanglain. Yang sepertinya lebih dewasa karena aku mendengar suara seksi perempuan berpengalaman. Kedua cewek itu silih berganti menawarkan keramah tamahan yang tidak penting, seperti air minum, bangku, kipas angin dan baju ganti.

Servis bintang lima, cibirku dalam hati. Ethan pasti kesenangan karena ada dua cewek yang mengodanya sekarang. Cowok itu pasti lupa deh dengan diriku yang malang ini. Masih terbaring tidak sadarkan diri.

Walaupun pura-pura tapi kan Ethan seharusnya bisa lebih peduli.

“Tidak perlu! Urus saja cewek ini.” bentak Ethan.

Kalau dua cewek itu tidak terkejut aku tidak tahu. Yang jelas jantungku sempat pindah ke tenggorokan tadi.

Bentakan Ethan keras dan menakutkan.

Aku menahan diriku untuk tidak tersenyum. Sedikit merasa puas dan senang mendengar Ethan memarahi cewek-cewek itu. Berarti Ethan lumayan mementingkan aku dan yah, aku akan mencatat ini untuk nilai tambah. Cowok yang perhatian.

Aku mendengar derap langkah orang yang cukup tergesa-gesa, mungkin cewek-cewek itu yang keluar. Aku mengintip sedikit untuk melihat dimana Ethan berada. Namun buru-buru menutupnya kembali. Dia duduk di samping kasurku. Menarik tanganku dan mengengamnya. Meletaknya di dahinya. Mulus dan agak basah.

Dia pasti berkeringat karena harus berlari sambil membopongku. Dan, aku ini kan lumayan berat!

Kurasakan tanganku juga mulai berkeringat. Tidak pernah tanganku digenggam selama itu oleh seseorang, apalagi cowok. Mario tidak masuk hitungan.

Detik demi detik berlalu dan Ethan masih mengenggam tanganku. Dalam diam. Membuat aku tegang, bingung, dan deg-degan. Rasanya aku dibuat menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan oleh Ethan.

Dan aku sampai pada kesimpulan untuk menghentikan semua ketegangan ini.

Aku bangun dan menarik tanganku dari Ethan.

“Kamu sudah sadar?!” tanay Ethan, lega dan terkejut.

Aku mengangguk, “Maaf.”

“Syukurlah! Aku pikir… Kamu… Aku….” ujar Ethan terbata-bata dan terlihat bingung.

Ok, ini aneh sekali, kenapa Ethan terlihat sangat peduli dan sungguh-sungguh khawatir padaku? Bukannya dia hanya berpura-pura menjadi pacar? Lalu kenapa perlakuannya seperti orang yang baru saja bermimpi buruk?

“Eth, aku baik-baik saja. Dan berhenti bertampang menyeramkan seperti itu. Kalaupun sesuatu terjadi padaku, kamu tidak akan dipersalahkan. Orang rumahku semua tahu bahwa aku ini anak nakal dan …”

“Dan apa? Dan kamu meminta aku bersikap biasa saja? TIdak peduli? Kamu itu pacarku, Aria!” kata Ethan marah.

Aku tidak tahu mengapa ia marah, aku kan hanya pingsan, dan untuk kasusku, aku sudah terbiasa pingsan dimanapun dan kapanpun juga. Sesering orang pacaran pergi nonton, seminggu sekali, minimal.

Apa kata Ethan tadi? Aku pacarnya? Ok, Ethan mulai delusional. apa mungkin kepalanya terantuk sesuatu saat membantuku tadi, jadi ia lupa kalau sebetulnya kita hanya pura-pura berpacaran.

Aku harus mengingatkan soal ini padanya. Dia harus ingat kalau diantara kita sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa selain…. urusan bisnis?

Benar, bisnis, pertukaran jasa yang saling menguntungkan. Jadi Ethan harus memiliki pemahaman yang serupa denganku. Jangan sampai dia mengharapkan lebih.

“Pacar bohongan. Kamu tidak perlu sepeduli itu.” tuturku memulai argumentasi pencerahan pada Ethan.

Reaksi cowok itu sangat jauh dari harapanku. Aku pikir dia akan lega karena tidak perlu memusingkan diriku dan kembali tertawa. Bercanda atau berdebat juga tidak apa-apa. Setidaknya semua itu masih lebih menyenangkan dibanding mendapati Ethan yang menatapku galak. Mukanya kaku dan ia mengeram.

Sungguh! Aku seperti melihat seekor singa yang hendak menerkam mangsanya sekarang. Dan aku takut.

“Maaf.” ujarku meminta maaf, walau tidak mengerti juga apa yang salah dari ucapanku tadi. Aku hanya menyampaikan kenyataan dan meluruskan masalah. Akan terlihat konyol kalau aku mulai memikirkan bahwa aku ini lebih dari partner bisnis dan menganggap bahwa aku ini pacar sungguhan kan?

Udara terasa begitu tegang dan menyeramkan karena Ethan masih juga menutup mulutnya. Aku mengangkat kepalaku sedikit, melirik ke arahnya. Lalu buru-buru menunduk kembali.

Ethan masih memasang tampang garangnya.

Oh, Tuhan, tolong aku. Kalau Ethan betul-betul marah padaku dan melakukan sesuatu terhadapku bagaimana? Karena seperti dia tipe cowok yang sanggup melakukan kekerasaan.

Oh Tuhan, tidak, jangan mendekat, kembali, kembali. Ethan kembali ke posisimu tadi, teriakku dalam hati.Tapi sia-sia, aku bisa mendengar suara langkah kakinya, berjalan mendekat. Tapi aku terlalu takut untuk mengangkat kepalaku dan menyuruhnya berhenti menakutiku.

Apa yang berikutnya terjadi bisa dibilang mujizat.

Cewek-cewek itu kembali bersama laki-laki yang mengaku sebagai dokter. Yang kalau dari kacamataku menganggap orang itu tidaklebih dari Office Boy yang ditarik kemari untuk mengurusku. Karena aku melihat dia mengenakan name tag di saku bajunya. Saku baju yang ada di bagian dada itu.

Memangnya ada dokter pake seragam seperti itu????

Aku menghentikan mas-mas itu ketika ia mengulurkan tangannya ke dahiku. Tangannya hitam-hitam begitu lho!

“Aku baik-baik saja. Maaf sudah merepotkan.” kataku dan langsung bangkit berdiri dan menarik Ethan keluar.

Aku tidak berani mengengok ke belakang untuk melihat tampang Ethan. Membayangkan dia akan mengamuk saja sudah membuat nyalikua hilang di telan asam lambung.

Aku berjalan ke arah mobilku sambil terus mengandengnya.

“Aku yang akan menyetir.” kata Ethan begitu kami sampai di samping mobil miniku yang dipenuhi titik air, bekas hujan tadi.

Aku ingin membantah tapi melihat tampangnya yang galak, aku membatalkan niatku itu.

 

Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 8 – Nightingale or Vampire?

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s