Double Matters – Act 9 – Crimson

“Eth…..” panggilku saat kami sudah masuk ke dalam mobil.

Cowok itu masih saja memasang tampang galak. Membuatku tidak berkutik, sebal dan resah.
“Eth, kalau kamu tidak mau menjawabku, aku akan…. Aku akan….”
sial, kenapa di saat seperti ini otakku tidak mau diajak bekerja sama. Malah sibuk memperhatikan tampang Ethan dari samping. Bulu matanya ternyata panjang juga, lalu hidungnya mancung, dan yang paling aku suka, tulang pipinya.

Aku menyerengit, aku suka? Paling suka? Aku kenapa sih?
Ini semua salah Ethan! Dia sok perhatian padaku, sok baik, membuat aku lupa diri.

“Apa Aria? Kamu akan melakukan apa?” tanya Ethan dengan suara yang tenang terkendali. Amarahnya sudah lewat.

“Belum kepikiran.” jawabku polos.

Ethan tertawa! Ethan tertawa!
Aku mengampuninya untuk sekali ini karena sudah mentertawakanku. Kalau perlu aku akan membuat kebodohan lain agar dia tetap tertawa. Yang penting wajah seramnya tidak muncul lagi.

“Syukurlah, aku pikir kamu akan terus memasang tampang killer seperti itu sepanjang perjalanan pulang.”
“Apa aku seseram itu?”
“Seramlah! Pokoknya lain kali jangan memasang tampang seperti itu lagi. Umurku bisa berkurang 10 tahun.”
“Benarkah?”
“Aku akan memotonya lain kali.” ujarku menyakinkan tapi setalah dipikir-pikir lagi ucapanku tadi seperti mengijinkannya untuk throwing tantrum
padakulagi, “Ehm, maksudku aku akan menyuruh orang lain untuk memotretnya. Aku tidak mau melihat yang seperti itu lagi.”
Ethan kembali tertawa!
Dan kali ini aku tidak terkesan!
“Ya, ya terus saja tertawakan kebodohanku.”
Sindiranku tidak mempan. Ethan terus tertawa sampai terguncang-guncang, jalan mobil juga ikut meliuk-liuk.
“Eth, kiri, Eth, ada tukang jamu.” peringatku.
Dia meluruskan kembali arah mobil tapi masih belum berhenti tertawa.
Aku mendengus, dan berani-beraninya cowok mengatakan kalau kami, perempuan itu mahluk yang paling tidak bisa ditebak dan moody sedunia.
Dia sendiri sebentar marah, sebentar tertawa.
“Aku minta maaf soal tadi.” ujarnya tiba-tiba. “Aku sedikit terbawa perasaan.”

Terbawa perasaan apa? Tanyaku tanpa bersuara. Ethan membaca raut wajahku dengan baik dan menjawabnya, “Aku lupa kalau kita hanya berpura-pura. Dan mendengar kamu mengungkit hal tersebut…” ia mengangkat bahunya dan terdiam.
Ia menatapku sambil tersenyum. “Kamu tidak akan berubah pikiran dan mendadak jatuh cinta padaku kan?”
“Tentu saja!” jawabku cepat. Tanpa berpikir.
Ethan tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Dan terkutuklah aku!
Mengapa dia jadi terlihat terluka karena jawabanku.
Aku terdiam. Memikirkan kembali kejadian hari ini, pertanyaan Ethan. Tujuannya bertanya dan segalanya.
“Jangan dipikirkan. Dari awal aku memang tidak mengharapkan kamu akan jatuh cinta padaku. Itu akan menjadi masalah besar.” kata Ethan seperti orang yang bisa membaca pikiranku.

Aku tahu seharusnya aku merasa lega dengan ucapannya, keyakinannya. Karena itu artinya kita sepikirankan? Lalu kenapa aku menghela nafas dan membuang muka? Sibuk menghitung pohon yang kami lewati. Yang jumlahnya ratusan. Ditambah lagi mobil ini berjalan terlalu cepat bagiku untuk menghitung. Satu detik setidaknya ada lima enam pohon yang terlewati. Belum lagi kalau aku menghitung semak-semak yang pendek.
Aku menyerengit, kenapa juga aku menghitung jumlah pohon?

“Aria,” panggil Ethan.
Aku menoleh padanya.
“Boleh berjanji satu hal padaku?” tanya Ethan dan melirikku sedikit. Di depan kami jalanan mulai padat, kami sudah mendekati pintu tol. “Kalau aku mulai melewati batas atau melakukan sesuatu yang tidak berkenan di matamu. Kamu boleh langsung menghentikanku. Marahi aku kalau perlu. Aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman dalam hubungan ini.”
Ini bukan sesuatu yang kuhArap keluar dari mulut Ethan. Si playboy kelas wahid yang tidak pernah kekurangan wanita.
Dia tersengar terlalu peduli. Terlalu memikirkan perasaanku. Terlalu….Bah!  Aku bahkan tidak tahu harus menyebutnya apa! Yang jelas dia benar-benar tidak terlihat seperti kebanyak pria yang kukenal. Padahal hampir semua jenis pria sudah pernah kutemui berkat saudara kembarku yang terkasih.

“Mau ke rumahku?” tanya Ethan.
“Apa?” tanyaku waspada.
“Tenang saja aku tinggal sendiri kok.”
“Justru makin berbahaya.” sindirku.
“Touche! Kamu tidak percaya padaku ya?”
“Memangnya kamu sudah melakukan sesuatu yang bisa membuat aku percaya padamu?”
Ethan mengelus dagunya, “Mengendongmu yang sedang pingsan? Menyelamatkanmu?” ujarnya kemudian tersenyum, “Aku pikir itu berarti sesuatu. Tidak ya?”
“Itu…. Tidak masuk hitungan.” kataku untuk membantahnya. Mungkin terdengar seperti orang yang tidak tahu terima kasih. Tapi aku tidak mau ia menjadikan upaya penyelamyanku itu sebagai hutang.
Apa aku harus menyelesaikan masalah hutang budi ini secepatnya sebelum ia betul-betul mengunakannya sebagai alat untuk memerasku? Maksudku, bisa saja kan Ethan bersungguh-sungguh untuk mengatakan pada semua orang mengenai insiden hari ini dan bagaimana ia menyelamatkanku dan bertindak bak pahlawan.

“Kamu sedang memikirkan apa sih?” tanya Ethan, lagi-lagi memutuskan lamunanku.
“Aku sedang berpikir harus membayarmu dengan apa untuk penyelamatanmu tadi.” tandasku, menyuarakan isi hatiku.
“Ah, itu!”
“Ya, itu! Aku tidak mau kamu berkoar-koar mengenai aku jatuh pingsan dan sebagainya.”
“Well, sebetulnya itu ide yang bagus. Orang-orang akan berpikir aku amat mencintaimu hingga rela mempertaruhkan nyawa seperti itu.”
“Please deh, cuma dikejar preman, dan aku juga tidak betul-betul pingsan.”
Aku menutup mulutku dan menatap Ethan waspada. Astaga! Dasar mulut besarku! Kenapa sih aku selalu saja mempermalukan diriku sendiri? Ethan pasti marah deh! Pasti pasang tampang ala pembunuh lagi.
“Aku sudah tahu kok.”
Aku mendongkak. Terkejut mendengar pengakuan Ethan.
“Kamu sudah tahu?” tanyaku gelagapan, “Sejak kapan?”
“Aku melihatmu mengerakan bibir dan dagu, menahan ketawa.” jawab Ethan.
Ethan menoleh padaku yang masih megap-megap. Mencerna ucapannya.
“Tunggu, jadi untuk apa kamu mengenggam tanganku tadi?” aku memelototinya. Menunggunya menjawab karena ia terlihat sedang berpikir keras. Tidak paham juga apa yabg harus dipikirkan. Dia kan bisa menjawab dengan jujur saja.
“Kalau aku bilang aku hanya ingin?” tanya Ethan yang kemudian menatapku dengan serius.
Aku jadi salah tingkah dan deg-deg-an. Sekali ini aku tidak bisa berteriak dan mengatainya gombal. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat aku tercenung.
Setelah keheningan yang rasanya berabad-abad. Ethan kembali tertawa-geli.
“Astaga Aria, kapan kamu bisa membedakan bercanda dengan sungguh-sungguh. Kembali bernafas ok! You’re no good for me if you’re dead, faint or even got another hiccup. Aku kehabisan stock air di sini.”
Ethqn melirikku lagi sebelum melanjutkan berkata, “Kecuali kamu mau aku cium. Kamu tahu kan kalau ciuman itu…”
Mukaku memerah. Tapi terima kasih untuk peringatannya. Kesadaranku kembali sepenuhnya. Berikut oksigen dan kemampuanku bersilat lidah.
“Ya ya ya, obat mujarab untuk cegukan. Tapi tidak, dan terima kasih. Aku masih suka bibirku dalam keadaan utuh dan bernafas melalui mulutku sendiri.”

Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 9 – Crimson

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s