Double Matters – Act 10 – Bourbon

Kami sampai di…..

Lagi-lagi aku tidak tahu sedang berada dimana. Aku tertidur tadi. Ethan juga sama sekali tidak membantu, bisa dibilang iseng.
Tapi, dimana pun aku berada sekarang, aku menyukainya. Rumah dari bata orange dan berkonsep cottage dengaan banyak tumbuhan rambat dan yeap, tentu saja pepohonan rindang.
Aku tidak melihat papan nama jadi kami pasti tidak berada di depan restaurant. Tapi bangunan ini terlalu besar untuk disebut rumah.
“Kita dimana, Eth?” tanyaku, akhirnya.
“Masuk saja deh. Kamu kedinginan kan?” jawab Ethan kembali bertanya padaku.

Aku tersedak air ludahku sendiri. Ethan mengejutkanku. Aku memang kedinginan sedari tadi. Air hujan tidak pernah ramah untukku. Sedikit kebasahan dan udara dingin aku pasti langsung jatuh sakit. Jadi mengertikan mengapa aku tetus menerus berusaha seaktif mungkin dan bersikap tomboy?
Tidak ada yang lebih menyebalkan dibandingkan dikasihami oleh orang lain!

Aku digotong masuk.Ethan tidak ingin membuang waktu untuk mendengarkan keluhanku ataupun menanggapi pemberontakanku.
“Sekali-sekali menurutlah sedikit. Apa kamu tidak cape melawanku terus menerus?” tanya Ethan, setelah menjatuhkanku ke sofa empuk yang lebar. Dia sendiri sibuk mondar-mandir mencari sesuatu.
Terpaksa aku harus menaikan sedikit colume suaraku agar ia bisa mendenger ucapanku.
“Memangnya Mario tidak cerita kalau salah satu obsesiku adalah melawan semua orang?” kataku meniru ucapan Mario yang jelas tidak benar dan membesar-besarkan masalah.
“Masa? Dia malah bilang kalau kamu itu adik yang manis dan harus dijaga baik-baik.”
“Bohong! Mario tidak mungkin memujiku di depan cowok kecuali…” aku membungkap dan menelan kata menyukainya ke dalam perutku. Cukup parah mendapati diriku terjebak dengan cowok ini, aku tidak perlu mengakui kalau seluruh keluargaku menyukai pacar bohonganku ini.
“Kecuali apa?” tanya Ethan dan melemparkan selimut untukku dan kopi kaleng hangat.
“Terima kasih.” ucapku untuk selimut dan kopinya, “Kecuali dia berniat mengerjaimu.” kataku memutar balikan fakta. “Mario punya tendensi tinggi untuk menganggu setiap cowok yang dekat denganku.”
“Dia terlalu sayang padamu ya?”
Pertanyaan yang aneh, tentu saja Mario sayang padaku, aku ini orang yang sudah menemaninya bahkan sebelum kami mengenal dunia.
“Bukan begitu, motifnya murni karena iseng. Toh aku juga selalu melakukan hal yang sama pada pacar-pacar perempuannya.” kataku dengan meyakinkan.
“Termasuk Donna?”
“Apalagi Donna!” tandasku. Karena memang Donna yang paling banyak aku kerjai. Dari awal pacaran, aku selalu menganggu mereka sampai Mario menyuruhku untuk berhenti. Dan aku berhenti, karena tidak lucu menganggu orang yang dianggap penting oleh Mario. Bisa-Bisa Mario mengerjaiku balik dengan cara yang lebih parah.
“Eth, ini dimana sih? Memangnya kamu boleh pakai dapurnya seenak jidatmu begitu?” tanyaku sambil menghampiri Ethan yang sibuk di dalik meja dapur. Open kitchen ala barat dengan kompor elektrik dan basin diletakan di tengah dapur. Aku suka warna kayu country yang hangat
“Ini rumahku.” jawab Ethan disertai senyuman mengoda.
“Bohong! Kamu tinggal sendirian? Di rumah ini?” Ethan mengangguk sedangkan aku kembali berbicara tanpa henti, “Jangan bercandalah, setidaknya rumah ini berharga miliyaran. Kamu masih terlalu muda untuk memiliki semua ini, kecuali kamu anak orang kaya.”
Ethan hanya tersenyum mendengar ocehanku yang tidak jelas. Sambil terus mengaduk-aduk telur.
“Kamu sedang apa sih?” tanyaku.
“Masak.”
Jawaban singkat yang terasa menyebalkan. Karena anak kecil pun tahu kalau Ethan sedang memasak saat ini. Pertanyaanku lebih menuju pada kenyataan bahwa, Ethan kaya, bisa masak dan dia TINGGAL SENDIRI.
Penenakan itu amat perlu sebab aku iri setengah mati dengan kebebasan yang dimilikinya.
“Bisa bantu mengambilkan kuali di lemari belakang?” tanya Ethan yang membuatku secara otomatis berjalan ke belakangnya dan membuka lemari.
Tapi isinya malah kalengan, kubuka lemari lainnya, aku cukup beruntung kali ini. Panci, kuali, wajan berderet rapi di dalam sana. Kutarik panfried berukuran sedang dan meletakannya di atas kompor. Menuang minyak dan mulai mengoseng apapun yang dituang oleh Ethan  ke dalamnya.
“Aduk dong,Aria, jangan cuma dioseng doang.” perintah Ethan.
Aku mendelik padanya tapi kembali menatap kuali di hadapanku dan melakukan sesuai dengan permintaannya.
“Kamu lebih suka ayam atau sapi?”
“Sapi.”
“Cuma ada ikan di sini. Ikan aja yah.”
Aku mendelik lagi padanya. Kalau memang cuma ada ikan, kenapa menanyakan ayam dan sapi!
Aku terkesiap ketika Ethan menyosor kenop kompor dari balik pinggangku. Tapi tidak lama, satu detik kemudian aku memelototinya marah. Meminta penjelasan dari sikap kurang ajarnya.
“Nanti ikannya gosong, Aria.” tutur Ethan membenarkan sikapnya.
“Kamu saja yang masak deh. Aku tidak mengerti.” kilahku melarikan diri.
Mendadak aku merasa jengah berdekatan dengannya. Tapi Ethan tidak membiarkan aku pergi. Dia malah meletakan kedua tangannya di pinggiran meja, mengunciku yang berada di hadapannya persis.
Aku bisa merasakan hembusan nafasnya ketika ia berbicara dari balik kupingku, Ethan pasti menunduk cukuo rendah untuk menyesuaikan tinggi kami.
“Jangan.” ujar Ethan yang lebih mirip bisikan dan gelitikan di kupingku.
Aku mengeliat dan memutar kepalaku, untungnya aku tidak memutar badanku sepenuhnya, sebab Ethan betul-betul-betul teramat dekat denganku. Ditambah lagi ia menduduk. Aku bisa melihat mata coklatnya yang agak gelap sekarang. Mungkin hanya perasaanku atau mungkin karena pengaruh lampu.
Kami terdiam.
Lalu aku merasa seperti dalam adegan Romeo bertemu Juliet, film yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio bukan yang versi lamanya.
Aku merasa hanyut, larut, lumer dan tengelam dalam lautan mata Ethan. Ditarik untuk mendekat atau merengut kerah baju Ethan. Bukan untuk tujuan yang bagus dan aku tidak ingin membicarakan soal hasrat atau gairah di sini. Karena kalau itu yang aku rasakan aku pasti sudah membuang muka atau meremas tanganku ke baju, atau malah cegukan.
Situasiku dan Ethan murni kekakuan yang aneh. Seperti memasuki dan mengenal kembali.
Kemudian, Ethan menarikku, aku tidak tahu kapan ia meletakan tangannya di pinggangku.
Aku melirik sedikit ke pinggangku yang terasa panas. Tapi Ethan tidak membiRkan aku berpaling, dengan tangan satunya ia merengkuh kepalaku dan menempelkannya ke kepalanya sendiri. Dahi bertemu dahi.
“Aria…”bisik Ethan
Aku menelan ludah. Walau belum pernah pacaran, aku tidak sebuta itu untuk mengetahui apa yang kira-kira sedang terjadi sekarang. Jantungku mulai berdebar tidak karuan dan aku menahan setengah mati agar cegukanku tidak muncul.
Tapi apa daya, aku terlalu panik dan…
Uhyuk… suara cegukanku keluar begitu saja. Aku buru-buru menutup mulutku dengan kedua tanganku dan menatap Ethan mundur beberapa langkah dan mulai tertawa terpingkal-pingkal.
Masih sambil menutup mulutku dengan tangan, aku menendang betisnya dan berjalan mengambil kunci mobil dan tas.
“Kamu mau kemana, Aria?”tanya Ethan disela-sela tawanya.
“Pulang!” teriakku tetap menuju pintu keluar.

Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 10 – Bourbon

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s