Double Matters – Act 12 – Sup Rumput Laut

Aku masih terlelap ketika matahari memancarkan cahayanya. Masih bermimpi duel dengan kelinci putih dengan anggar. Aku mengacung-acungkan tanganku dan berteriak, “Seekor kelinci tidak akan pernah menang dariku!”Aku menerjangnya, membuat diriku terjatuh dari ranjang.

Eranganku mengumandang di seluruh penjuru kamarku.
Aku mengucek-ucek mataku, kali-kali salah melihat. Tapi ini memang kamarku. Piano hitam Steinsway model 1058 berwarna hitam sebagai bukti, berdiri dengan anggun di ujung kamarku.
Aku melirik pakaian yang kukenakan. Masih pakaian yang sama dengan kemarin. Aku bergegas keluar mencari siapa saja untuk menjelaskan keadaanku.
Berteriak memanggil setiap anggota keluargaku.
“Sudah bangun, Mar.” sapa Mario dengan rambut kucalnya, terlihat masih mengantuk tapi terpaksa keluar karena mendengar teriakanku tadi.
Tapi aku tidak peduli, aku menariknya masuk kembali ke kamarnya dan mengintrogasinya.
“Masa kamu tidak ingat? Ethan yang mengantarmu pulang semalam. Untung Papa Mama tidak ada kalau tidak kamu pasti habis dimarahi. Kok bisa sih kamu mabuk hanya karena dua gelas wine? Hampir aku membuat Ethan bonyok kemarin.”
“Kamu memukulinya?”
“Ya iyahlah! Mana mungkin aku bisa bersikap biasa saj melihat kamu pulang sambil dibopong.”
“Kmu msmukulnya?!” pekikku tidak percaya.
“Hanya beberapa pukulan, aku keburu dibanting olehnya.”
“Kamu dibanding? Mario juara judo nasional dibanting?” tanya tidak percaya. Tapi kemudian aku tertawa, menyadari kalau semua ini hanya gurauan Mario biasa.
“Kamu tidak percaya? Pinggangku masih sakit nih.”
Aku meraba pinggang kanan Mario sedikit dan cowok itu kangsung mengerang kesakitan.
“Kamu serius ya?”
“Dari tadi juga serius, Mar. Kamu kok tidak percaya si?”
“Dan kamu bilang Ethan yang melakukannya? Bagaimana caranya? Melemparku dulu ke lantai?”
“Sial! Kamu memang tidak bisa dibohongi yah.” ujar Mario sambil mengaruk-garuk kepalanya. Khas Mario ketika ketahuan berbohong.
Aku tersenyum dan melempar badanku ke atas kasur. Senang karena berhasil mengalahkan Mario. Jarang-jarang aku menyadari kelakarnya seawal ini.
Mario ikut. Berbaring di sebelahku. Sama-sama terlentang.
Kami membahas sedikit tentang kepergian orang tua kami ke Singapur, mengunjungi nenek. Katanya nenek masuk rumah sakit.
“Tapi Grandma baik-baik saja kan? Tidak akan…” aku menelan ludah. Takut mengucapkan kata meninggal. Membayangkan seseorang yang begitu dekat denganku di panggil Tuhan rasanya menakutkan.
“Belum tahu. Mama belum menelpon kembali.” jawab Mario kemudian ia memutar badannya. Menghadap padaku dan menarik bantal yang aku peluk sedari tadi.
“Apa sih?” tanyaku kesal.
“Kamu kemana saja dengan Ethan? Dia tidak melakukan sesuatukan?” tanya Mario mendadak dengan serius tapi jelas terlihat si matanya yang mengerling jahil.
Aku menghela nafas lelah sebelum memjawabnya, “Memangnya aku akan membiarkan dia melakukan sesuatu terhadapku?”
“Masa sih? Bahkan kalian tidak berciuman?” tanya Mario semakin mendesakku.
Kata ciuman langsung membuatku tertingat kembali ke insiden dapur kemarin. Saaf aku dan Ethan nyaris berciuman. Serta merta aku langaung cegukan.
Tapitidak sepeelrti biasanya, Mario tidak mengambilkan minum untukku malah mulai marah-marah.
“Brengsek aku sudah tahu, Ethan itu memang tidak bisa dipercaya. Lihat saja! Aku pasti akan keninjunya nanti.”
Perkataan Mario cukup membuatku sakit perut geli, menghentikan cegukanku. Bukannya tadi dia sensiri bertanya dan berharap sesuatu terjadi di antaraku dan Ethan. Kok sekarang malah marah-marah?
“Aku serius Mar! Kalian belum berpacarankan? Berani sekali dia menciummu!” omel Mario berang.
“Siapa yang bilang aku tidak berpacaran?”
” Ethan yang memberitahuku kemarin ini. Dia baru mulai mengejarmu dan mekinta ijinku untuk mengejarmu. Aku tarik kembali ijinku. Tidak sudi aku membiarkan…”
Aku memotong ucapan Mario, dan bertanya, “Ethan yang bilang kalU kami tidak berpacaran? Dan meminta ijin? Memangnya kita di jaman apa sampai dia harus minta ijin padamu?”
“Itu karena aku menariknya dan mengintrogasinya. Kamu tidak berpikir kalau aku akan menganggap dia istimewa hanya karena orang tua kita setuju kamu berpacaran dengannya kan? Kalau dulu aku bisa membuat Denise mundur maka kali ini…”
Aku bangkait duduk, menarik kembali bantal yang direbutnya lalu memukul berkali-kali ke kepala, dada, ke bagian manapun yang berhasil aku jangkau.
“Kamu. Melakukan. Apa. Pada Denise?!” omelku, smbil terus memukul Mario di setia penggal kata yang keluar dari mulutku. Bahkan aku bisa merasakan air mata mulai mampir di pelupuk mataku. Bukti kalau akau terlalu marah saat ini.
“Aku tidak percaya kalau kamu, melakukan itu! Denise! Demi semua pianis! Denise!” teriakku.
Aku marah luar biasa. Tidak sadar kalau bantal sudah terlepas dari tanganku dan aku mulai memukuli Mario dengan tinjuku.
“Mar, sakit Mar!” keluh Mario, ia menangkap tanganku dengan mudah. Dia cowok sedangkan aku cewek, jelas perbedaan tenaga kami amat jauh. Ditambah lagi aku sedang dalam kndisi marah.

“MAR! STOP!!” bentak Mario.
Aku memang berhenti memukul tapi sebagai gantinya aku memelototi Mario dengan sinis dan penuh kebencian, “Aku suka padanya Mo! Kenapa?!” teriakku tidak terima. “Aku benci padamu, Mo! Kamu, kamu tidak tahu..” aku mulai menangis, “Aku menyukainya sejak SMA, Mo! Kamu tahu betapa…” aku menarik nafas, ingus dan air mataku.

Menata kembali perasaanku.

Kuacungkan tanganku ke wajah Mario yang saat ini masih terpana, “Jangan ikut camput dengan urusanku lagi! Atau, ” aku memikirkan sejenak ancamanku dan memutuskan bahwa tidak adil membalas perilaku Mario.

“Pokoknya jangan ikut campur!” tandasku.

Aku keluar dari kamar Mario, sengaja membanting pintu kamarnya.

Advertisements

2 thoughts on “Double Matters – Act 12 – Sup Rumput Laut

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s