Double Matters – Act 11 – Blue Label Whisky

“Ayolah, Aria. Kamu tidak perlu marah. Aku minta maaf . Aku janji aku tidak akan melakukannya lagi. Jangan pulang yah.”kejar Ethan.Ia berhasil menahan pintu mobil dan bersandar di sana. Menghalangiku untuk membuka pintu. Aku berdecak pinggang dan mengerlingkan mataku. Sudah cukup seharian ini Ethan membuatku pusing.

“Aku mau pulang Eth. Ini sudah cukup malam. Aku tidak mau orang tuaku bertanya-tanya dimana anak gadisnya. Kamu tahukan aku tidak pernah berkeliaran sendirian?”
“Makan dulu lah. Aku akan mengantarmu kembali.” rayu Ethan.
“Terus kamu pulangnya bagaimana?”
“Aku bisa menyurush supir untuk menjemputku. Kamu masuk yah.”
Ethan mengenggam tanganku, memohon.
Aku jadi merasa tidak enak padanya jadi akhirnya aku mengangguk lemah.
“Thank you.” ucap Ethan dan ia memelukku erat.
Pelukannya hanya sekejap. Betul-betul cepat tapi eratnya bukan main dan meninggalkan kehangatan yang menyesakan.
Aku tidak mengerti dengan perubahan sikap Ethan. Tapi jelas saat ini, di sini, cowok ini tidak seperti dirinya sendiri. Setidaknya tidak seperti Ethan yang aku kenal.
Cowok sombong, angkuh dan suka memerintah.

Aku dituntunnya masuk ke dalam rumah, ditarikan bangku untuk duduk di meja makannya, dan Ethan tersenyum sambil menghidangkan filet ikan buatannya.
Bukan bermaksud untuk bawel, tapi aku tidak nyaman diperlakukan sebaik ini. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres.
“Bisa beritahu apa rencanamu dengan semua ini?” tanyaku penuh kecurigaan.
“Perlakuan macam apa?”
“Ini.” unjukku dengan mengedarkan tangan mengarah ke makanan, sikapnya dan wajahnya.
Aku tahu dan amat yakin, Ethan sedang merencanakan sesuatu. Instingku berkata demikian. Dan firasatku jarang salah.
“Makan saja dulu.” ujarnya mengelak. Tapi aku bis melihat kalau Ethan memang menyembunyikan sesuatu. Jangan-jangan ia menaruh obat ke dalam makanan ini untuk membuatku tertidur dan…..
Ok, aku terlalu banyak menghayal, Ethan masak bersamaku tadi jadi tidak mungkin aku tidak melihat jika ia memasukan sesuatu yabg aneh ke dalam makanan ini.
Tapi fakta itu malah menambah kecurigaanku terhadap cowok yang duduk di sampingku ini.
“Makan Aria, atau kamu ingin aku menyuapimu?”
Satu kalimt ampuh untuk membuatku mengangkat pisau dan garpu, mulai memotong fillet dan memasukan satu potongan besar ke dalam mulutku. Aku meutuskan untuk mengambil segala resiko dikerjai oleh Ethan saat aku tidak menyadarinya dibanding ia membuat mukaku semerah tomat.
Kami makan dalam diam, dalam arti tidak berbicara karena aku berjuang menghabiskan makanan di piringku secepat mungkin.
Tapi penderitaanku tidak pernah berakhir. Selesai makan, Ethan menyuguhkan wine.
“Ini tujuanku.”ujar Ethan membuatku bingung. “Aku sudah ingin membuka wine ini tapi tidak pernah mendapatkan momen yang tepat untuk melakukannya.”
Aku menyerengit, apalagi sih yang sedang dibicarakan cowok ini.
“Anggur yang baik harus diminum bersama orang yang tepat. Kamu pernah mendengar kalimat ini kan?”
Aku mengeleng, karena memang tidak pernah mendengar bualan seperti itu. Lagipula aku bukan peminum jadi untuk apa aku ambil pusing dengan kualitas minuman merah di gelasku ini. Aku menghabiskannya dalam sekali tegak. Rasanya pahit dan panas.
“Kamu! Memangnya tidak ada yang mengajarimu minum ya?” omel Ethan dan mengisi gelasku lagi. “Goyangkan sedikit gelasmu, hirup wanginya dalam-dalam. Anggur yang bagus mengeluarkan wangi pekat seperti ini dan sesap sedikit-sedikit.”
Aku menuruti ucapan Ethan. Melakukan sama persis sesuai arahannya.
. Namun tetap tidak merasakan bedanya. Rasanya tetap pahit dan panas.
“Et, apa alasan kita minum?” tanyaku, lagi? Aku tidak terlalu yakin sudah bertanya atau belum. Rasanya sedikit mengambang sekarang.
Dan aku melihat kelinci melompat-lompat di samping Ethan.
“Tidak ada. Hanya ingin meminumnya dengan orang yang tepat.”
Aku menatap mata Ethan lekat-lekat, berusaha menyerap ucapannya. Tapi kelinci itu terus mengangguku dan melompat ke atas meja. Aku mengibas tanganku mengusirnya dan kelinci itu hilang begitu saja.
“Ada apa?”
“Tadi ada kelinci.” jawabku kemudian tersenyum padanya dan mengulang ucapannya, “Bersama orang yang tepat? Aku agak bingung denganmu, Eth. Kamu terus menerus mengatakan bahwa aku ini orang yang tepat. Memilihku untuk menjadi pacar bohonganmu. Padahal mengenalku pun tidak. Lalu ini, meminum anggur yang seperti bukan barang murah. Tidak ada yang murah dari dirimu. Kalau boleh jujur.” dan aku terus meracau.
Aku tidak ingat apa saja hang aku katakan berikutnya, sepertinya soal cara berpakainan dan rumahnya dan masakannya.
Kemudian kelinci itu muncul lagi, kali ini ia melompat-lompat ke arah sofa jadi aku mengejarnya. Bulu putih kelinci itu mulai mengodaku. Kelihatannya halus dan enak dipeluk. Saat kelinci itu berhenti melompat, ganti aku melompat padaya, menyergapnya denga. Kedua tanganku.
Tapi aku heran mengapa malah Ethan yang ada di hadapanku. Rambutnya berada dalam gengamanku dan rasanya memang lembut.
“Aria… Kamu kenapa sih?”
“Halus, kamu pasti rajin ke salon yah.”
“Aria….”
Aku menelusuri alis matanya dan mulai cekikikan, “Ini juga halus. Kamu tau matamu bisa berubah warna? Kalau sedang senang coklat madu, kalau marah sedikit gelap dan paling gelap saat ini. Kenapa begitu?” tanyamu dengan tangan yang menelusuri pelipis matanya sedangkan satunya lagi sepertinya kuletakan di pundaknya. Aku sama sekali lupa kalau saat ini aku berada di atasnya. Rasanya hangat.
Aku mendengar Ethan melenguh atau mungkin hanya khayalanku.tidak terlalu penting yang mana. Aku hanya ingin merengkuhnya. Rasanya nyaman sekali memeluk seseorang.
“Aria…. Aria….. Kamu tidak tertidur kan?” tanya Ethan yang terdengar seperti lagu nina bobo di kupingku. Aku tersenyum dan hanya mengangguk. Kepalaku terlu berat dan lidahku terlalu kelu untuk berkata-kata.
Aku sudah tertidur ketika Ethan mengendongku dan mengantarku pulang.
Aku bermimpi Ethan berkata kalau dia meminnta maaf sudah membohongi dan berkata kalau ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak mengejarku. Kalau sebetulnya ia sudah jatuh cinta padaku sejak lama. Dan ia sudah berusaha untuk melupakan diriku setahun ini. Tapi saat aku muncul kemarin, pertahanan dirinya runtuh dan ia tidak kuasa untuk menahan dirinya agar tidak mendekatiku. Ethan berkata kalau ia tidak seharusnya mendekatiku untum alasan apapun juga. Membuat aku terluka.

Nah, itu mimpi teraneh yang pernah aku punya. Reaksi aneh dari menegak 2 gelas anggur bagus milik Ethan. Aku akan mengingatkannya untuk tidak menyuguhkan lagi minuman beralkohol itu padaku. Segera setelah aku bangun.

Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 11 – Blue Label Whisky

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s