Double Matters – Act 14 – Irresistible

Aku mengangkat telepon dari Ethan tanpa prasangka buruk. Tidak curiga kalau ia akan datang ke kampusku dan membuat keributan.
Aku pikir semua itu salahku. Ethan menyuruhku menghampirinya di lapangan parkir. Denise mengikutiku beserta dua temanku. Aku pikir tidak akan menjadi masalah, toh, Ethan juga tidak menyuruhku untuk menemuinya sendirian.
Tapi kemudian, Ethan turun dari mobilnya, dengan pakaian super rapi. Setelan hitam berikut jasnya.
Aku sempat mengagumi penampilannya sesaat. Tapi perhatianku segera teralih begitu melihat tampangnya berubah kaku dan pria bertubuh besar tiba-tiba keluar dari mobilnya dan mengawal Ethan.
Aku tidak terlalu yakin siapa orang itu, tapi biasanya Orang yang berdiri dengan waspada penuh serta memancarkan arwah membunuh pasti seorang pengawalkan?
“Aria.” panggil Ethan. Suaranya tenang terkendali, aku tidak menyadari ia sedang memperhatikan rombongan orang di belakangku.
“Ada apa, Aria?” yang ini Denise, aku harus menoleh untuk memberitahunya kalau semua aman terkendali tapi tidak satu oTah oun sempat keluar dari mulutku.
Ethan menariku sambil memberi perintah, “Ikut aku!”
Tentu saja aku terseret olehnya dan lagi-lagi seharusnya ini hanya akan menjadi berita konyol dengan judul Maria diculik pacarnya.
Tapi Denise turun tangan, ehm, menarik tanganku yang lain. Membuat aku tersentak ke belakang berikut Ethan.
“Kamu mau bawa Aria kemana?” tanya Denise dengan mata mengkilat-kilat. Harus aku akui akting galak Denise amat meyakinkan. Aku belum pernah melihat di semarah ini sebelumnya. Malah aku tidak tahu kalau Denise bisa melotot dan berubah segalak Ethan
Berada di tengah dua cowok tinggi, ganteng dan keren, yang saling melotot dan mengeluarkan tembakan laser dari matanya itu membuatku terlihat kerdil.
“Mau dibawa kemanapun juga itu urusanku. Aria pacarku.” sahut Ethan masih dengan ketenangan yang luar biasa tapi aku tahu dia hanya menahan emosinya. Cengkraman di lenganku bisa menjadi bukti nanti.
“Dia bukan pacarmu! Tapi tunanganku!” balas Denise.
Kali ini aku ikut mendelik dan menatap Denise tidak percaya. Dan dia menyadarai aku sedang menatapnya lalu menatapku balik dan msmberi isyarat untuk mengikuti saja sandiwaranya.
“Benar begitu, Aria?” tanya Ethan, suaranya semakin dalam dan pekat. Seperti suara yang datang dari dasar tenggorokan
Aku memansangi Denise dan tersenyum meminta ia memaklumiku, “Maaf.” ujarku pada Denise kemudian kembali menatap Ethan dan mengeleng, “Dia bukan tunanganku.”
“Kamu dengar? Sekarang lepaskan dia!” perintah Ethan karena Denise tetap mengenggam tanganku dan menarikku berlindung di balik punggungnya.
“Aku tidak akan membiarkan cowok kasar sepertimu membawa Ariaku.” ucap Denise menyiram minyak ke atas api.
Api Ethan tentunya dan tinju Ethan melayang menhantam ulu hati Denise dalam sekejap mata.
Aku berteriak ketika mendengar suara kedebuk tersebut. Denise sempat-sempatnya mendorongku mundur sebelum membalas pukulan Ethan.
Aku kembali berteriak.
Ini gila! Mereka berdua akan bonyok kalau peekelahiNnini dilanjutkan. Aku tidak tahu soal bela diri Ethan tapi Denise itu anak pemilik dojo dan Mario tidak pernah menang darinya.
Aku semakin panik begitu melihat pengawal Ethan berjalan mendekati tuannya.
Aku melompat ke tengah perkelahian dan berteriak menyuruh mereka berhenti. Tapi Ethan malah menabrak Denise, membuatnya terpental menjauh dariku.
“BERHENTI!!!” usahaku lagi. Tapi tidak ada yang mendengarkanku. Aku jadi kesal sendiri dan berjalan mondar mandir sambil terus mengumpat.
“Sialan! Dasar cowok! Otak udang!” makiku sekuat tenaga. Tapi tidak ada yang peduli denganku. Bahkan para penonton yang semakin ramai tidak melihat ke arahku juga.
“Bagus! Suka-suka kalian!” teriakku dan aku pergi meninggalkan dua cowok bodoh itu berkelahi. Aku berjalan menuju mobilku dan menancap gas.
Aku hanya ingin segera meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Tapi tidak mungkin aku bisa keluar kalu tidak melewati TKP. Jadi aku menekan klakson sekeras berkali-kali. Mengusir para penonton. Membuka jalan untuk diriku dan melirik melalui kaca spionku ke dua orangbodoh yang masih terus baku hantam.
“Sial!” teriakku kesal.
Aku menghentikan mobilku dan mengambil floret dan perlengkapan anggarku yang selalu kusimpan di bagasi. Aku mengambil floret dan berlari menuju dua cowok itu.
Aku tidak tahu siapa yang unggul, dua orang itu aedang bergulat di tanah sekarang.
Aku mengayunkan floretku dan memukul punggung Ethan yang saat ini berada di atas Denise. Rasanya pasti seperti dicambuk.
“Brengsek! Siapa!” maki Ethan dan ia menoleh ke belakang.
Denise tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mendorong Ethan, gantian Sia yang berada di atas sekarang.
Sebelum Denise menhantamkan tinju ke rahang Ethan, aku menyabet floretku ke lengan Denise.
Dia mengaduh sekaligus melompat menjauh dari Ethan. Takut kuauhnya itu balas menyerangnya. Tapi kemudian ia sadar aku berdiri di sana dengan floret di tanganku dan aku yakin mukaku amat teramat merah.
“Sudah bisa berhenti?” tanyaku garang. “Atau kalian ingin mencoba sabetanku?” geramku lagi.
Denise mengelap bibirnya yang berdarah dengan lengan kemejanya dan tersenyum kepadaku, “Aku tidak mungkin main-main dengan floretmu, Aria.”
“Bagus.” tuturku sedikit lega. Hanya sedikit karen Ethan yang sekarang sudah berdiri tegak menghampiriku dan menarik floretku lalu menguncang-guncangkan tubuhku.
“Kamu sudah gila ya? Bagaimana kalau kamu sampai kena pukul?!” teriak Ethan, memekakan telinga.
Aku menyipitkan mataku sedikit, kupingku nyaris budek. Tapi Ethan belum berhenti dia masih memarahiku, membuat aku jengah dan malu.
Jadi aku membalasnya, “Lalu kamu tidak bodoh? Berkelahi dengan anak pemilik dojo?”
“Aku bisa mengurus urusanku sendiri!” geram Ethan.
Aku menepis cengkraman Ethan dari bahuku tapi susah. Dia mengunciku sepenuhnya. Aku pikir dia akan memarahiku lagi ketika ia menundukan kepalanya.
Ethan menempelkan dahinya ke dahiku dan berbisik, “Jangan buat aku khawatir seperti itu lagi, Aria. Jangan lagi…”
“Lepaskan Aria.” seru Denise yang tiba-tiba sudah berada di sampingku dan menarik cengkraman Ethan hingga lepas.
Aku sudah bersiap-siap kalau dua orang ini kembali berkelahi, tapi kekhawatiranku tidak terjadi.
Ethan melepaskan cengkramannya tapi tetap tidak menghiraukan Denise. Ia malah menundukan kepala dan berbisik padaku, “Ingat janjimu.”
Kalau dulu aku tidak percaya bahwa orang bisa berubah menjadi batu. Sekarang aku percaya. Bahkan aku sendiri orang yang berubah menjadi batu itu.
Aku seperti disiram air es. Air es yang banyak hingga aku mengigil.
Ternyata kepedulian Ethan tadi tidak lebih dari menjagaku agar tetap utuh untuk menjalankan tugasku. Menjadi kekasih bohongannya.
“Kamu mau mengajakku kemana tadi, Ethan?” tanyaku.
Tidak ada seorang pun yang akan mengira bahwa saat ini aku sedang marah jika mendengar ucapanku tadi. Aku berhasil membuatnya terdengar semanis mungkin. Aku akan membuat perhitunganku dengan caraku sendiri dan tidak perlu ada seorangpun yang tahu. Aku tetap menginginkan Donna menjauh dari hidup Mario, jadi aku harus tetap membuat semua orang berpikir kalau aku memihak pada Ethan. Bahwa hubungan kami tetap berjalan lancar.
Aku merangkul Ethan, membantunya berjalan menuju mobilku. Pengawalnya hanya berdiri mengikuti.
“Sebentar, Eth, dia tidak akan ikut kan?” tanyaku sengaja membuat suaraku semanja mungkin.
Syukurlah Ethan tidak menaruh curiga dan meminta pengawalnya itu untuk membawa mobilnya pulang.
Aku menahan diriku untuk tidak memasang senyum kemenangan.
Belum, aku baru akan mulai.
Dan Ethan, aku melirik sedikit pada laki-laki di sampingku yang sebetulnya tidak perlu ditopang olehku, dia akan menyesal sudah memilihku.
Dia akan menyesal sudah membuat aku repot selama ini, dia akan menyesal sudah memperlakukan aku seenaknya dan terutama, ia akan menyesal karena sudah membuat aku berpikir kalau dia peduli padaku.
Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 14 – Irresistible

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s