Double Matters – Act 13 – Flamming

Saat aku tiba di kampus, aku sudah terlambat untuk mengikuti kelas pagi. Tidak ada gunanya juga aku memaksa masuk di tengah pelajaran. Terutama di kelas Winner. Guruku yang satu ini terkenal paling iseng, dia suka sekali menghukum muridnya dengan cara-cara luar biasa seperti memainkan lagu Emperor seharian. Lagi itu termasuk lagu tersulit yang pernah dibuat oleh Beethoven, dan sering dijuluki lagu lima belas jari. Jadi aku memilih bolos sekalian dan menunggu kelas berikutnya mulai. Kukirimkan pesan pada Maya kalau aku menantinya di kantin saat istirahat siang nanti.
Kantin kampus ini selalu kosong di saat kelas dimulai, menyisakan aku kebebesan untuk memilih tempat dudukku sendiri. Tapi seperti yang sudah-sufah, aku tetap duduk di bangku belakang dekat pintu keluar. Aku memainkan handphoneku, bolak balik di nama yang sama. Tapi aku masih ragu apakah normal jika aku mencari terlebih dulu.
Tapi akhirnya kutekan juga nama Ethan dan menghubunginya. Aku mengetuk-ngetuk jariku mengikuti nada sambung milik Ethan.
Aku menoleh ketika mendengar seseorang memanggilku.
“Aria.” panggil Denise.
Aku terkejut dan aku rasa aku tidak perlu menyebutkan kondisiku saat ini kan?
Denise mengulurkan teh hangat manis kepadaku, seperti yang selaku ia lakukan dulu. Selalu tahu apa yang terbaik untukku dan menjagaku demikian rupa.
Ia tidak pernah meninggalkanku, selalu ada kapanpun aku membutuhkannya.
“Merasa lebih baik?” tanya Denise begitu aku berhenti cegukan. Ia duduk di sampingku. Menatapku dengan was-was.
Aku lupa sama sekali dengan teleponku yang sekarang ini ada di atas meja. Dengan Ethan yang berteriak-teriak memanggilku. Aku menjatuhkannya tadi karena terkejut melihat Denise.
“Sebentar,” ujarku pada Denise dan mengambil handphoneku.
“Hallo Ethan.” sapaku, belum juga aku mengucapkan maaf karena melupakannya.
Ethan sudah mengoceh dan mengataiku tidak bertanggung jawab dan ceroboh.
“Cowok bawel!” umpatku kesal dan Denise memasang tampang bingung padaku. Aku mengeleng dan kembali berkonsentrasi mendengarkan ocehan Ethan.
Sebetulnya aku lebih suka menyudahi obrolanku dengan Ethan dan bertukar cerita dengan Denise tapi aku belum menyampaikan tujuanku mencari Ethan. Dan cowok ini tidak bisa dihentikan kecuali dia sudah luas mengomel.
“Ok, aku sudah selesai. Sekarang katakan apa maumu?” ujar Ethan akhirnya.
“Soal kemarin, terima kasih.”
Kami terdiam.
“Sudah? Itu doang?” tanya Ethan sengit.
Aku sudah ingin membalas ucapannya kalau saja Denise tidak mengajakku berbicara.
“Kamu belum sarapan kan? Mau bubur?” tanya Denise.
Dan Ethan memotong melalui teleponku, “Kamu sedang bersama cowok, Aria?”
“Mau ngga, Aria? Atau kamu lebih suka nasi goreng!” desak Denise.
Buru-buru aku menjawab, “Bubur.” lalu Denise pergi.
Menyisakan aku yang tegang menunggu reaksi Ethan. Aku tidak tahu mengapa tapi aku merasa sudah menghianati Ethan dengan bersama Denise saat ini.
“Eth…” panggipku takut-takut.
“Kamu bersama Denise?”
“Tahu darimana?” tanyaku panik mendengar pertanyaan Ethan. Cowok itu seperti berada di sebelahku dan memasang tampang dingin. Bulu kudukku sampai berdiri.
“Hanya dia yang memanggilmu Aria, kan?” kata Ethan lalu ia kembali terdiam.
Dan aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk hal yang sudah jelas seperti ini.
Jadi Ethan kembali bersuara, “Hati-hati, jangan sampai orang-orang berpikir kalau kamu lutus denganku. Kamu masih ingatkan kita belum bertemu Donna?”
“Iyah!” jawabku ketus.
Mendadak aku merasa marah. Kecewa karena Ethan tidak peduli dengan siapa aku bersama sekarang. Aku juga tidak tahu mengapa berikutnya aku memberitahu Ethan kalau Denise itu cinta pertamaku.
Seperti mengharapkan Ethan akan cemburu dan mendatangiku. Berpikir bahwa Ethan yang baik hati yang ia jumpai kemarin adalah Ethan yang sesungguhnya.
Tapi aku harus menelan O panjang yang dilontarkan oleh Ethan.
Mendadak aku merasa sesak dan sulit bernafas.
Denise yang melihatku megap-megal langsung berlari dan memelukku.
“Aria, tenang. Tarik nafas.” perintah Denise. Ia mengambil handphoneku dan berbicara pada Ethan, “Apa yang sudah kamu katakan pada Aria? Apa kamu tidak tahu Aria tidak. Oleh terkejut?”
Aku tidak mendengar Ethan menjawab Denise dengan ketus. Aku hanya mendengar Denise membalasnya dengan, “Oh ya? Dia adalah Ariaku dan selalu menjadi Ariaku.”
Aku terkesiap mendengarnya.
Astaga, jadi Denise masih mencintaiku? Atau itu hanya ucapan Denise untuk melindungiku dari Ethan. Karena seperti cowok bodoh itu mengatakan sesuatu yang lancang hingga membuat wajah Denise berubah masam dan kaku.
“Dia ingin berbicara denganmu.” ujar Denise dan memberi tatapan kalau aku boleh emilih untuk tidak menyetujuinya.
Tapi aku mengambil handphoneku dan memasannya ke telinga.
“Hallo.” ucapku.
“Jawab dengan ya atau tidak. Kamu ingat masih punya hutang denganku?”
“Ya.”
“Jadi kamu tahu kamu tidak boleh terlkhat berduaan dengannya sampai Donn menyingkir dari hidipku?”
Aku menghela nafas dan menjawab, “Ya.”
“Bagus, selebihnya aku tidak peduli.” ujar Ethan dan lansung mematikan sambungan telepon.
Aku termenung, persis sapi ompong. Segitu saja, reaksi Ethan? Aku mendengus.
“Bagus!” gerutuku memgulang ucapan Ethan.
“Apa yang bagus?” tanya Denise, menyelak lamunanku. Pikiran jahatku sih sebetulnya. Karena dalam beberapa detik iu aku sudah terpikirkan 3 cara membunuh Ethan.
“Tidak apa.” ucapku lirih tapi kemudian aku memukul lengan Denise, “Kenapa baru datang? Kamu sudah kembali satu minggu yang lalu kan?” omelku.
Denise tertawa, “Aku sibuk. Tapi sudah beres kok. Mulai sekarang aku bisa menemani kamu kemana pun kamu mau.”
Denise sengaja menekankan kata kemanapun, dan mengerlingkan matanya usil.
Membuatku tertawa tanpa sebab. Aku selalu bereaksi seperti itu kalau mendengar tawa Denise, seburuk apapun juga suasana hatiku, dia selalu sanggup membuatku kembali tersenyum.
“Jadi, siapa cowok tadi?” tanya Denise.
Dan aku tidak bisa berhenti bercerita padanya soal pertemuan dan rencana kami. Denise mendengarkan tanpa berkomentar panjang, kecuali beberapa ledekan kecil.
“Jadi kalian bersekongkol untuk mengerjai Donna? Dan cewek ini mantan Mario yang gothic itu kan?” ujar Denise seraya merangkum ceritaku.
Aku mengangguk, “Sebetulnya aku tidak mau bekerja sama dengannya, tpi Ethan itu gigih luar biasa dan hanya Tuhan uang tahu kapan dia akan menghilang dari hidupku kalau aku terus menerus menolaknya. Dia mengikutiku sampai ke rumah. Bertemu dengan Mama.”
“Astaga.” seru Denise memahami reaksi apa yang akan dikeluarkan oleh mamaku dan aku mengganguk.
“Tepat seperti itu, bahkan Papa juga ikut-ikutan.”
“Mario tidak menghentikan Ethan?”
“Waktu itu sih belum. Dia lebih berniat untuk menghindari amukan Mama karena me yuruhku mengantikannya bertanding. Tapi sepertinya ia akan mulai melakukannya, buktinya kamu ada di sini kan?”
“Hei, aku dengan tuluw mencarimu Aria-ku. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kembaranmu yang gila itu. Aku bertanya pada Tante dan dia bila g kamu kuliah di sini.”
“Mama sudah pulang?”
“Tidak, dia masih di Singapur. Tapi katanya Grandma sudah membaik.”
“Syukurlah.” ujarku lega.
Denise menepuk-nepuk punggungku, menenangkanku. “Tenang saja, sekarang aku ada di sini. Aku akan menjagamu.”
Aku berterima kasih untuk ketulusan Denise dan senang luar biasa karena dia tidak berubah sedikitpun. Dan seandainya aku tidak berjanji pada Ethan, aku pasti akan melakukan pendekatan kembali pada Denise.
Karena terbukti aku masih merasa paling nyaman, aman ketika bersamanya. Hanya itu yang aku butuhkan.
“Bunnndaaaaaaaa……….” teriak Maya dan Rosa berbarengan dari arah gedung utama, dan suara mereka memang seperti toa jadi aku dan Denise bisa mendengarnya denhan jelas.
“Teman-temanmu?” tanya Denise dengan nada gemas.
“Maya dan Rosa. Aku rasa kamu bisa menebak mana yang mana.” tuturku.
Denise punya bakat terpendam untuk menilai karakter orang dari nama mereka, dan biasanya kami selau bertaruh untuk melihat apakah Denise sanggup membedakan.
“Maya yang rambutnya panjang, Rosa yang pirang.” jawab Denise mantap.
Aku mencibir, “Bagaimana kamu melakukannya? Kamu kenal mereka ya?” tanyaku tidak puas.
Denise tidak menjawab karena Dua orang yang sedang kami bicarakan itu sudah tiba di depan kami dan langsung mengulurkn tangan mereka untuk berkenalan.
Aku meringkis melihat sikap tidak tahu malu teman-temanku ini.
“Kalian tidak akan pernah membiarkan cowok nganggur ya?”
“Tentu saja, apalagi yabg ganteng dan keren seperti ini. Sebetulnya aku heran, kenapa kamu selalu kenal dengan cowok keren tapi tidak satu pun dari mereka merupakan pacarmu.” kata Maya dan ia duduk di samping Denise.
“Salah, May. Bunda sudah laku kan, sama cowok yang kemarin itu.” Rosa ikut nimbrung, dia mengeserku dan duduk di antara aku dan Denise.
“Karena Bunda sudah laku, yang ini buat kita yah. Kamu masih single kan Den?” tanya Rosa blak-blakan.
Aku mengelengkan kepala sedangkan Denise tersenyum memaklumi.
“Aku masih  menunggu seseorang.”
Seharusnya ucapan itu ambigus dan aku tidak akan ditatap dengan tatapan meledek oleh teman-temanku kalau seandainya Denise tidak berkata sambil memandangku.
“Aaaah, Bunda curang!” pekik dua sahabatku itu berbarengan.
Mereka mulai ribut mempromosikan diri mereka di hadapan Denise. Membuat kepalaku pusing dan Denise kelabakan.
Sebentar-sebentar Denise melirikiku, memohon pertolonganku. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Dua sahabatku itu suliy dihentikan jika sudah berurusan dengan cowok. Lagipula jarang-jarang aku bisa melihat Denise mati kutu seperti ini.
Aku ikut meledek dan mengoda Denise sampai handphoneku mendadak berdering dan memunculkan nama Ethan di sana.

Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 13 – Flamming

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s