Double matters – act 15 – Round-a-bout

Rencanaku cukup sederhana. Aku akan membuat Ethan malu. Melihat pakaiannya hari ini, dia pasti akan membawaku ke tempat yang high class. Mungkin pesta. Dimana aku harus bersikap sopan dan berpakaian layak.
“Kamu punya handuk?” tanya Ethan menganggu lamunanku.
Aku mengambil handuk dari dalam tas di jok belakang. Ketika aku berbalik, Ethan sedang membuka pakaiannya.
Aku membelalak ngeri melihat lebam di pinggang, dada dan punggungnya. Serta merta aku menghentikan mobilku di pinggir jalan dan Tanpa sadar aku mengeluarkan obat-obatan dan memborehi lebam di tubuh Ethan dengan obak gosok.
“Kamu tuh bodoh sekali. Kenapa sih harus adu jotos dengan Denise? Kaliankan bisa ngomong baik-baik.” omelku.
“Bukannya bagus? Dengan demikian tidak ada orang yang menganggap aku tidak cemburu padamu. Mereka akan semakin yakin kalau kita ini pacaran?”
Aku meremas handuk yang sedang kubasahi dengan air lebih keras dari yang dibutuhkan. Lalu tanpa mengubah ekspresiku, aku mengelap bekas luka yang berdarah di lengan Ethan. Luka yang kubuat.
“Sebaiknya semua ini sepadan dengan hasilnya. Kalau Donna masih berani mencarimu, dia akan mengingat aku bisa mengunakan floret.”
“Ini luka yang paling tidak sakit.” tutur Ethan.
Aku mendongkak dan memandanginya. Dia malah memasang senyum cerah. Senyum yang paling aku benci itu.
“Kenapa kamu tersenyum?” tanyaku kasar. “Lanjutkan sendiri.”
Kulempar handuk ke dadanya. Kembali menyetir. Ethan menyeringai. Aku tidak perlu melihat untuk mengetahuinya. Tingkat kesebalanku naik 10 kali lipat.
“Kita mau kemana?” tanyaku sedikit berbisik. Mengeram sebetulnya karena aku berusaha agar Ethan tidak menyadari perasaanku saat ini
“Sebetulnya, hari ini aku akan mengajakmu nonton resital orkestra. Tapi kita terpaksa merubah rencana.”
“Resital? Tumben. Bukannya kamu bilang kamu tidak suka musik klasik?”
“Tapi kamu suka kan?”
Aku memerjapkan mata beberapa kali.
“Kepala kamu kena pukul juga ya?” tanyaku menyikapi perubahan sikap Ethan.
“Mungkin.” ujar Ethan sambil meraba kepala. Tapi tampangnya sama sekali tidak menunjukan kesakitan.
Jadi aku mendengus, “Bercandamu tidak lucu.”
Si Ethan bodoh terkekeh.
“Jadi kita mau kemana?”
“Ke rumahku saja atau ke rumahmu juga boleh. Nanti tinggal menyuruh supir menjemputku. Atau kamu punya rencana lain?”
Aku menyerengit, ini aneh sekali. “Betul kepalamu tidak sakit?”
“Aku tidak apa-apa hanya sedikit mengantuk.”
“Oh, pantesan! Aku pikir sejak kapan kamu berubah jadi baik dan membiarkan aku memilih sendiri. Kamu kan tukang perintah, diktaktor abadi.” aku menunggu Ethan berkomentar, tapi karena dia diam saja, aku memanggilnya lagi, “Eth…”
Aku menoleh dan melihat Ethan sudah memejamkan matanya.
“Masa sih kamu sudah tertidur? Eth..” panggilku lagi, aku menoleh padanya. Kebetulan sedang lampu merah.
“Eth?”
Aku sudah lupa sama sekali dengan niatku untuk berbalas dendam. Ketika melihat wajah pucat Ethan dan tubuhnya yang basah oleh keringat. Aku menyentuh keningnya, tidak panas. Dan mobil ini ber-AC! Keringat Ethan tidak wajar.
“Eth, bangun Eth!” panggilku sambil mengoyang-goyangkan tubuhnya.
Suara klakson memaksaku untuk melajukan kendaraan.
“Ethan! Bangun!” seruku sambil menyetir. Teriakanku membuat Ethan membuka matanya sedikit, dan sempat-sempatnya ia melemparkan senyum padaku.
“Eth, kita ke rumah sakit sekarang! Apapun juga masalahmu, jangan pingsan, ok! Aku tidak kuat memapahmu!” pintaku panik.
“Jangan, antar aku pulang saja.” bisik Ethan.
“Apa?”
“Pu..lang.”
“Tapi….”
“Pulang!” tekan Ethan.
Aku meremas kemudiku, lalu memacu kembali dalam diam. Aku tidak akan menuruti Ethan. Jadi aku tetap mengarahkan mobilku menuju rumah sakit. Keadaan Ethan terlalu aneh. Pasti dia terluka di suatu tempat dan bisa saja berbahaya.
“Denise.” erangku.
Bagaimana kalau Ethan sampai kenapa-napa? Lalu orang bertanya apa yang telah terjadi padanya? Apa Denise tidak akan dilaorkan ke polisi? Masalah ini bisa semakin panjang.
Aku memandangi lagi Ethan yang duduk terkulai di sampingku.
Tidak bisa, dia harus ke rumah sakit. Aku akan mengarang alasan nanti.
Sesampainya di unit gawat darurat aku memanggil suster jaga untuk membantuku memapah Ethan keluar dari mobil.
“Dia terjatuh dari tanggal jawabku sederhana ketika ditanya mengenai memar-memar di tubuh Ethan.
Lalu sang dokter mengMbil alih dan memeriksa Ethan secara menyeluruh. Kemudian tampang sang dokter berubah serius dan mengecek tengkuk dan area kepala belakang.
“Tidak apa, hanya memar dan sedikit pendarahan dalam. Mungkin dia pingsan karena terbentur sesuatu. Bisa ceritakan bagaimana ia bisa sampai terjatuh?”
“Dokter, luka yang ini berdarah terus.” selak sang auster mengenai luka sabetan dari floretku.
Lalu sang dokter menyebutkan beberapa perintah dengan bahasa kedokteran yang tidak aku mengerti. Tapi sepertinya itu nama obat yang diolesi diatas luka tersebut dan suster tersebut membalutnya. “Bisa Nona ceritakan apa yang sesungguhnya terjadi? Dan jangan mengatakan soal jatuh dari tangga.”
Aku menelan ludah, “Aku bertengkar dengannya dan memukuonya dengan anggar.”
“Kamu yang membuat luka memar di badannya?” tanya dokter itu semakin curiga.
“Aku bisa judo. Sebelum menemukan anggar aku sempat memukulny beberapa kali. Kami bertengkar dekat dengan tangga dan waktu dia menghindar dari sabetanku yang kedua, dia terjatuh.” cetitaku lancar.
Aku harus berterima kasib pada Mario yang sudah melatihku untuk berbohong pada Mama setiap kali Mario terlibat masalah.
“Kamu bisa judo?” tanya dokter itu memandangiku dari atas ke bawah, pakaianku hari ini memang terlalu feminim. Oversize dress.
“Mau aku buktikan?” tantangku, aku perlu membuatnya mempercayai cerita walaupun itu artinya aku harus mendemontrasikan bantingan di sini.
“Tidak perlu, yang paling tidak meyakinkan dari ceritamu.” ucap dokter dengan seulas senyum, “Kamu tidak terlihat seperti orang yang habis berkelahi, meninju dan membanting cowok yang jauh lebih besar darimu ini.”
Aku terdiam, memikirkan sejenak alasan apalagi yang bisa aku katakan tanpa terdengar tidak masuk akal. Karena memang seperti yang dikatakan dokter itu, tubuhku mulus, beraih dan terlalu rapi.
“Karena aku membiarkan dia memukulku. Aku bersalah padanya.” jawab Ethan.
Aku menoleh padanya. Ethan sedang berusaha untuk bangun.
“Jangan bergerak dulu.” perintah sang dokter. Lalu dia menghampiri Ethan dan menyuruhnya kembali berbaring. Aku berdiri di belakang sementara dokter dan para suster memeriksa Ethan kembali.
“Mohon menunggu di luar sebentar.” pinta suster.
Aku menurut dan mundur beberapa langkah. Tirai pembatas ditarik dan aku tidak melihat Ethan lagi.
Aku memutuskan untuk menelepon Denise untuk mencari tahu keadaannya. Kondisinya pasti tidak lebih baik dari Ethan.
“Mar!” seru Mario mengangkat telepon. Aku sampai memeriksa kembali layar handphoneku, jangan-jangan aku salah memencer nomor.
“Mario? Kenap kamu yabg mengangkat hp Denise?”
“Kamu dimana? Masih bersama cowok brengsek itu?”
“Oh, jadi sekarang Ethan cowok brengsek?”
“Kamu membela dia sekarang?”
“Bukan begitu! Kan dulu kamu menyukainya.”
“Mana pernah?! Ah sudahlah, itu tidak penting. Kamu buruan ke sini. Denise masuk rumah sakit. Dia ke rumah dan bercerita kalau dia baru berkelahi dengan cowokmu itu, lalu tiba-tiba dia pingsan!”
Aku meremas handphoneku dan mulai cegukan.
“Aduh Mar, cegukan kamu mulai menyebalkan deh. Buruan pulang deh! Bye.”
Buru-buru aku kembali ke tempat Ethan dan menyibak tirainya. Cowok itu sedang berganti pakaian.
“Kamu sudah boleh pulang? Baguslah. Ayo buruan, Denise masuk rumah sakit.”
Aku menarik Ethan dan membuka pintu mobil untuknya, mendorognya masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobil.
Aku menelepon Mario kembali untuk menanyakan nama rumah sakit dan keadaan Denise.
“Masih belum sadar. Brengsek! Ethan memukul pakai apa sih?!”
Jantungku berhenti berdetak. Atau setidaknya itu yang aku rasakan.
Aku tidak mendengar Mario berteriak memanggilku, Ethan mengambil handphone dari tanganku.
“Aria unfit to talk. Ada apa Mario?” tanya Ethan kemudian ia diam menyimak, “Aku akan mengantarnya. Baik. Bye.”
Ethan meletakan handphoneku dan menatapku yang masih mematung. Ia terkejut ketika tiba-tiba aku menengok padanya. Aku merasa perlu melihat wajahya.
Aku ingin tahu apa yang akan dia katakan setelah mendengar dirinya telah membuat seseorang koma. Kalau Ethan tidak menunjukan rasa berslah sedikit pun maka aku bisa membenci Ethan dengan seoenuh hati.
“Maaf.”
Satu kata. Hanya satu kata.Tapi aku tahu Ethan sungguh-sungguh. Ia menyesal.
“Jangan! Katakan kalau kamu memang sengaja! Kalau kamu memang berencana untuk melukainya! Jangan meminta maaf! Kamu tidak cocok bersikap baik hati!” semprotku disertai air mata.
Aku frustasi.
Aku benci pada diriku sendiri karena mempercayai Ethan. Bahkan saat ini juga ketika ia sudah membuat orang yang aku sayangi terbaring di Rumah sakit. Aku tetap tidak bisa membenci Ethan.
“Aku akan mengantarmu.” ucap Ethan dan ia keluar, menghampiri pintuku dan berjongkok di sana, “Kamu bisa berdiri?”
Aku mengangguk dan menurunkan kakiku keluar. Tapi terlalu lemas untuk berdiri.
Dia tidak banyak berbicara, langsung membopongku dan menempatkanku ke bangku penumpang, di samping kemudi. Memakaikan sabuk pengaman.
Kami sama-sama terdiam sepanjang perjalanan.

Advertisements

One thought on “Double matters – act 15 – Round-a-bout

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s