M to Z – Tie 1

Regina atau yang lebih suka mengaku sebagai Zee kepada teman-temannya, menatap ruangan sempit yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang. Apartment ukuran studio dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi. Ruang tamu kecil yang berdampingan dengan pintu kaca menuju beranda dan di sisi lainnya dapur.

Ia berpendapat ini sudah lumayan untuk ditinggalinya seorang diri. Kedatangannya ke Jakarta adalah atas perintah neneknya untuk menemui calon tunangannya.

Neneknya mengancam akan menjemput sendiri calon tunangannya itu kalau seandainya Regina tidak mau pulang kampung.

Jadi sebagai cucu yang baik, Regina akan pergi ke Jakarta, dan menemui calon tunangannya lalu memutuskan pertunangan itu sendiri.

Ia mengidarkan pandangan ke tumpukan kardus yang tumpah ruah di hadapannya lalu menghela nafas.

Matanya berhenti ketika melihat pemandangan muram di balik jendela kaca besar di seberang ruangan. Hujan deras mulai menguyur Jakarta. Perubahan cuaca yang amat mendadak, karena saat Zee mendarat tadi, matahari bersinar terik, membuatnya kepanasan dan melepas jaketnya.

Ia melirik tumpukan kardus dan mencari satu kotak yang sudah ia tandai, rumah Talgi, hamster miliknya yang sudah ditransformasi menjadi berwarna merah dengan jembul hijau, persis buah strawberry.

Selesai menyusun rumah tersebut, ia mencari jaket yang ia kenakan tadi.

Tadi ia sudah sempat memindahkan Talgi dari kotak hewan ke dalam saku jaketnya, tempat kesukaan Talgi. Dirogohnya saku tersebut dan tembus.

Ia melihat lubang besar, sakunya bolong. Dibolak balikkan saku tersebut, mengecek saku lainnya. tetap saja hewan mungil milik Zee tidak ada dimanapun juga.

Jantung Zee mendadak pindah ke perut.

Mulai panik dan mencari di antara barang bawaannya yang sudah bertebaran di seluruh tempat sambil meneriakkan nama hamster tersebut.

Gagal menemukannya di dalam rumah, Zee keluar dan berjongkok dengan sambil menebar kuaci, makanan kesukaan peliharaanya itu. Tidak memperhatikan langkahnya hingga menabrak pantat seseorang.

Tentu saja Zee mengaduh dengan suara cukup keras. Bukan karena sakit. Hanya ucapan yang secara spontan dikatakannya ketika bertubrukan dengan seseorang.

“Maaf.” ujar cowok yang ditabrak Zee.

“Yah tidak apa.” ujar Zee tanpa mendongkak, ia terus memanggil hamsternya sambil  menebar kuaci. Tidak merasa kalau dirinya sedang ditatap dengan seksama oleh cowok yang baru saja ditabraknya tadi.

“Sedang mencari sesuatu?” tanya cowok itu.

Zee pikir, dia sudah menghilang, jadi ia mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat si empunya suara.

“Hamster.” jawab Zee acuh lalu menunduk kembali.

Pura-pura sibuk mencari peliharannya lagi. Padahal jantungnya mendadak berdebar-debar dengan kencang.

Bukan, bukan karena cowok itu menawan. Tapi lebih dikarenakan penampilannya yang super urakan dan terlihat seperti preman.

Jaket panjang berwarna hijau army yang basah dan belel, celana jeans sobek-sobek yang sama demeknya, plus kacamata hitam!

Seorang fashion terrorist sejati.

Maafkan, Zee, sebagai seorang stylist, ia tidak bisa membiarkan siap pun juga melakukan kejahatan sebesar itu terhadap berpakaian. Walaupun, orang itu cowok dengan tinggi badan 190 cm, kulit kecoklatan, berewok adn kumis tak teratur dan rambut ikal diikat asal. Lebih banyak rambut yang mencuat kesana kemari dibanding terikat.

Mendadak, tangan cowok itu terulurkan ke kantong kuaci yang dipegang oleh Zee dan ikut berteriak memanggil Talgi.

Membuat dahi Zee menyerengit dan memerjapkan mata sebentar dan menatap cowok di hadapannya bingung.

“Piaranmu hilang kan? Dan aku tebak, sebuah hamster?” kata cowok itu sok tahu.

Dengan polosnya Zee mengangguk. Dan langsung menyesalinya karena berikutnya cowok itu mulai memerintah-merintah dirinya.

“Kelihatanya dia tidak ada di luar. Hamster sekecil apapun pasti terlihat di gang lenggang seperti ini. Kamu sudah mencarinya di dalam?”

“Sudah.” jawab Zee mantap sedikit melenguh, karena sekarang ia semakin khawatir.

“Mau coba cari sekali lagi. Dua orang lebih efektif dibanding sendirian kan?”

Zee mengigit bibirnya, bingung. Penampilan cowok ini jelas amat berbahaya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang asing ini padanya di saat mereka berada di dalam ruangan tertutup, berduan saja.

Tapi di lain pihak, ucapannya terdengar sangat masuk akal.

“Kamu tidak perlu takut. Aku tetanggamu.” ujar cowok itu sambil mengetuk pintu yang persis ada di sebelah kanan apartement Zee dan memasukan kunci lalu membuka pintu tersebut. dan memaparkan voyer gelap dengan tataan sederhana. Tapi jelas lebih rapi dibanding tempat Zee.

Lalu menutupnya kembali.

“Nah, kita bisa ke tempatmu sekarang?” tanya cowok itu sambil tersenyum, “Aku takut hamstermu itu tergencet atau masuk ke saluran tempat cuci. Dulu tetangga di ujung sana, hamsternya juga seperti itu. Mereka terlambat menariknya keluar, akhirnya hamster itu tengelam.”

Buru-buru Zee membukakan pintu apartementnya lebar-lebar. Mempersilahkan cowok itu masuk.

Bayangan kalau hamster peliharannya itu tersangkut di saluran dan tengelam, membuat nafas Zee tercekat dan panik seketika.

“Kamu baru pindah?” tanya tetangganya melihat tumpukan kardus yang sebagian isinya sudah tumpah ruah di ruang tamu.

Muka Zee langsung memerah karena malu.

“Iyah, baru tadi pagi, aku belum sempat merapikan gara-gara Talgi hilang.” jawab Zee malu-malu.

“Kalau begitu salam kenal, aku Leon.” ujar Max sedikit berbohong. Tapi memang nama itu yang ia gunakan saat ini.

Zee menyambut uluran tangan cowok tersebut tapi buru-buru melepasnya. Ada sesuatu yang tidak nyaman ketika kulit mereka bersentuhan.

“Di sini panas yah?” celetuk Zee sambil mengipas-ngipas, memberi alasan untuk pipinya yang memerah.

“Boleh aku nyalakan AC-nya?” tanya Max sopan.

Zee mengangguk bodoh, dan ketika ia melihat tangan Leon terjulur kepadanya, Zee langsung menepisnya dan memelotot dengan galak.

“Remotenya dibelakang kamu Non.” ucap Max disertai seringai geli. Ia sudah menarik tangannya kembali, menjauh.

“Non?” tanya Zee bingung.

Maklum, ia sudah terlalu lama tidak mengunakan bahasa Indonesia. Jadi secara reflek, ia mengartikannya sebagai bahasa Inggris. Tidak.

“Kamu belum menyebutkan namamu, Non. Kalau kamu tidak ingat.”

Pipi Zee kembali memerah, “Regina Sundoro tapi panggil aku Zee saja.”

“Senang berkenalan denganmu, Zee.”

Max mengambil remote AC dan menyalakannya. Dalam sekejap ruangan itu menjadi sejuk kalau tidak mau dibilang dingin. Walau sudah musim panas, hujan baru saja menguyur kota Jakarta, membuat tempat ini menjadi lebih sejuk.

Melihat Zee terdiam canggung, Leon bertanya “So, kita akan mencari hamstermu kan?”

Cewek itu menjadi salah tinggah.

“Maaf, ingatanku memang pendek.” aku Zee.

“Seperti Dory teman Nemo?” tanya Max bercanda.

“Seperti Dory teman Nemo.” jawab Zee lagi, tidak sadar cowok itu hanya bergurau.

“Kalau begitu kenapa kamu tidak dipanggil Dory?” ledek Max.

“Karena aku tidak suka.” gerutu Zee.

Cowok ini mulai kurang ajar, mengganti namanya.

“Kalau begitu aku boleh memanggil kamu Dory? Karena sepertinya kamu betul-betul pelupa. Bahkan kamu belum mempersilakan aku duduk atau menyediakan minum.”

Zee mendesis, sekarang tata kramanya menjadi bahan olok-olok. Coba kalau cowok itu tidak berniat membantunya mencari Talgi, dia pasti sudah diusirnya keluar.

Dengan malas, Zee menyuguhkan botol coca-cola yang diambilnya dari dalam tas. Satu-satunya minuman yang dimilikinya saat ini. Tapi dengan kurang ajar, cowok itu malah menolaknya.

“Aku tidak minum soft drinks, kamu tidak punya teh atau air putih?”

“Semua masih di dalam tumpukan sana.” unjuk Zee ke kardus yang berhamparan di depannya.

“Kalau begitu kamu berberes dulu saja, biar aku yang mencari hamstermu.”

“Kamu yakin?”

“Yakin. Jadi tolong air minumnya.”

Pasrah, Zee masuk ke dapur. Meninggalkan orang asing itu di dalam rumahnya, berkeliaran. Zee mengeluarkan teko dan mulai memasak air. Ia kembali bengong di depan teko yang mulai mengebulkan uap panas. Tidak percaya kalau ia sedang menerima tamu di dalam rumahnya. Tamu laki-laki pula. Neneknya pasti bisa gantung diri jika mengetahui hal ini.

 

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 1

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s