M to Z – Tie 2

“Talgi itu hamster gendut, warna merah dengan jambul hijau kan dan bandul emas?” teriak Max dari ruang tengah membawa Zee kembali ke dunia nyata.

Buru-buru Zee keluar dari dapur dan berseru, “Benar!!!! Kamu menemukannya??????”

Max menyerengit, satu karena baru kali ini ia mengenal seseorang mengecat hamster. Dengan warna norak pula. Kedua, matanya tidak bisa lepas dari benda aneh yang saat ini sedang dipegang Zee.

Seakan mengerti tatapan bingung cowok itu, Zee menjawab dengan bangga sambil menyodorkan cangkir teh tadi, “Ini cangkir teh, hasil buatanku.”

“Kamu seorang seniman?”tanya Max heran. Hanya itu yang bisa menjelaskan keeksentrikan tetangga barunya ini.

Tawa Zee langsung menggema, “Bukan, aku seorang make-up artist, cangkir-cangkir ini hanya hasil keisenganku dulu.”

“Cangkir-cangkir?”

Zee tersenyum lagi dengan bangga, “Cangkir-cangkir.”

Zee mengeluarkan seluruh koleksi buatannya, cangkir berbentuk lemon, mangkuk berbentuk semangka dan sendok-garpu berbentuk binatang. Piring berbentuk daun. Semuanya terlalu tidak masuk akal untuk menjadi perkakas rumah.

“Make-up artist katamu?” tanya Max heran, ia merasa cewek itu lebih cocok sebagai dokter hewan menilai koleksi dan cara cewek itu menyayangi hamsternya.

Bayangkan saja, rumah hamster tersebut memiliki ranjang, jendela dan meja, tampaknya itu juga hasil buatan Zee sendiri.

Setidaknya Zee memiliki tangan yang berbakat. Dibanding dirinya yang bahkan untuk mengambar saja selalu gagal.

“Terima kasih sudah menemukan Talgi.” ucap Zee sambil menyuguhkan teh di dalam cangkir stawberry tadi.

Max harus terus mengingatkan dirinya kalau ia sedang meminum teh dan bukan makan strawberry. Karena ada wangi buah tersebut di dalam tehnya. Satu hal yang pasti mengenai Zee, cewek itu menyukai warna merah dan strawberry. Ia bahkan bisa melihat warna tersebut di sebagian barang yang bertebaran di lantai.

Cewek itu sama sekali tidak ada basa-basinya dan mulai berberes dengan dirinya duduk di sana. Selesai menegak tehnya Max memutuskan untuk pamit. Ia menghampiri Zee yang berada di ujung ruangan sedang mengeluarkan pigura yang cukup besar.

Dan Zee pasti mempunyai mata di punggungnya karena cewek itu tahu ia datang mendekat dan tanpa menoleh mengajaknya berbicara.

“Ehmmmm, bisa minta tolong lagi?” tanya Zee yang masih sibuk merobek kertas pembungkus pigura. “Tolong pengang bangku ini.”

Max kembali tercengang, dipikirnya Zee akan menyuruhnya memasang lukisan potret tersebut. Dengan menurut ia memegangi bangku Zee dan membiarkan cewek itu mengebor mur dan memasang lukisan potret.

“Itu hasil jepretanmu juga?” tanya Max sambil memandangi foto dengan latar belakang sungai dan jembatan yang diambil malam hari.

“Bukan itu foto yang diambil Papaku. Itu yang kecil di pojok sana…”

Max menyipitkan matanya untuk melihat semut kecil yang ternyata adalah cewek dengan jaket hitam.

“Siapa itu?”

“Itu mamaku. Papa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Mama ketika memotret Danau Toba di Padang. Dan langsung melamarnya hari itu juga.”

“Dan mama kamu setuju?” tanya Max dengan alis terangkat.

“Tentu saja tidak. Mama berpikir Papa orang gila tapi akhirnya Papa berhasil meyakinkan Mama untuk menikahinya.” cerita Zee penuh semangat.

“Kamu pasti sering menceritakan soal mereka yah.”

Melihat Zee tersenyum malu-malu, Max mulai paham betapa Zee mengangungkan cinta dan kepolosan cewek itu pasti karena keluarganya terlalu mencintainya.

“Dimana mereka sekarang?” tanay Max sekenanya, sama sekali tidak berpikir akan mendengarkan jawaban mengejutkan atau aneh-aneh dari tetangga barunya ini.

Cewek itu tidak langsung menjawab. Malah membalikkan badan dan menatap potret itu. Cukup lama, sampai-samapi Max salah tingkah. Berdiri seperti orang bodoh menatap punggung Zee.

“Sudah hidup dengan tenang di surga.” jawab Zee dengan perasaan rindu.

Max tidak tahu harus menjawab apa. Semua dugaannya mengenai cewek ini terlalu berbeda. Kalau ia pikir cewek ini urakan, tapi Zee merapikan ruangan itu dengan cepat dan rapi dalam waktu beberapa jam.  Dan entah bagaimana cewek itu berhasil membuat dirinya ikut berpartisipasi untuk merapikan juga.

Kalau ia pikir Zee cewek dengan hidup bahagia, ternyata dia tidak memiliki keluarga yang utuh. Menurutnya Zee benar-benar tidak bisa ditebak.

 

“Nah sekarang, semua sudah selesai. Kamu lapar?” tanya Zee setelah mereka selesai mengeluarkan seluruh isi kardus dan menyusunnya.

“Kamu bisa masak?” tanya Max senang. Ia selalu menyukai masakan rumah. Tapi ketika Zee mengeluarkan mie instan dan tersenyum jahil, Max cuma bisa tertawa dan ikut dengan cewek itu memasak dengan heboh.

 

Satu lagi tebakan Max yang salah. Zee tidak bisa memasak, bahkan untuk memotong timun saja, cewek itu nyaris melukai jari-jarinya. Tapi tetap saja Zee bersikeras memasak untuk mereka sampai akhirnya Zee menumpahkan air panas dari panci.

“Ok, that’s it. Kamu, Regina tunggu di luar, mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dapur sampai belajar memegang perkakas tanpa mencelakakan orang atau dirimu sendiri.” omel Max sambil mengecek tangan serta kaki Zee yang tersiram sedikit. Tidak ada luka parah hanya sedikit memerah.

Tapi Max tidak pernah bisa menyepelekan luka sekecil apa pun. Bagi dirinya yang seorang artis panggung, satu luka lecet bisa berakibat fatal. Bisa membuat dirinya batal tampil atau ditertawakan.

Jadi ia menarik Zee ke rumahnya dan mengoleskan salep luka bakar ke bagian yang dirasa perlu.

Ketika memasuki rumah tetangganya, muka Zee memerah dengan cepat. Astaga, rumah Max teramat rapi. Tidak ada baju atau majalah yang berserakan di lantai. Semua rapi dan teratur. Ia menyukai kesejukan yang diberikan oleh nuansa biru langit dengan putih dari wallpaper di ruang duduk.

“Kamu punya pacar?” tanya Zee otomatis, mengomentari kerapian tempat itu.

Max tersenyum maklum sambil membungkus pergelangan kaki Zee dan mengeleng.

“Belum. Tapi ada pembantu yang biasa datang untuk membersihkan.”

“Kamu punya pembantu?” tanya Zee makin heran. Menurutnya tetangganya itu tidak terlihat sekaya itu sampai mempunyai pembantu. Tapi ia bisa saja salah. Dan ia menjadi penasaran.

Ketika ia ditinggal sendiran, Zee langsung mondar-mandir, melihat seluruh foto dan barang-barang milik tetangganya ini. Berpikir bisa menemukan bukti keberadaan pacar atau informasi untuk mendukung dugaannya. Kalau tetangganya ini berbohong padanya. Tapi semakin melihat  Zee semakin malu dengan kondisi rumahnya yang awut-awutan.

Tempat ini sungguh terlalu rapi. Sofa berlapis kulit warna krem tanpa debu. Karpet coklat tua tanpa noda dan wangi apel? Zee mengendus untuk memastikan. Tempat ini benar-benar seperti habis dibersihkan.

Ia kemudian melirik pajangan-pajangan di dekat meja TV. Perhatiannya tertuju pada kelereng warna-warni di dalam pot bening. Merasa tertarik ia menghampirinya dan mengangkat pot tersebut.

“Apa yang kamu cari?” tanya Max tepat saat Zee sedang merogohkan tangan ke dalam pot tersebut dan dengan konyolnya tangan cewek itu tersangkut di dalam.

Reaksi pertama Max adalah menyerengit kemudian tertawa dan tertawa.

“Oh, ayolah! Bantu aku!!!” erang Zee dengan muka merah.

“Kamu satu-satunya orang yang pernah tersangkut di dalam pot.” ujar Max sambil tetap tertawa.

“Minta dipukul ya?” ancam Zee sambil mengacungkan tangannya yang tersangkut. Bentuknya sekarang amat menarik, bengkak seperti tangan doraemon.

Tawa Max kembali menyembur. Tapi ia tetap membantu Zee mengeluarkan tangannya.

“Memangnya kamu tidak tahu kalau lebih cepat menuang isi pot tersebut daripada memasukan tanganmu ke dalam?”

“Aku pikir tanganku cukup kecil.”

Max nyaris tertawa lagi tapi buru-buru menahannya karena Zee memelototinya dengan garang. Terua terang menerima pukulan dijidat dari pot dengan kaca setebal 5 cm tidak menarik untuk dicobanya.

Zee tidak bisa diam selama Max membantu mencopotkan tangannya. Ia terus menerus mengeluh dan mengaduh. Dan jika sudah bosan mengaduh, Zee menanyai macam-macam. Betul-betul bawel luar biasa. Ketika akhirnya tangan berhasil terlepaskan, Max menyentil jidatnya.

“Ceroboh.”

Tanpa malu-malu Zee menjulurkan lidahnya lalu lari keluar rumah Max.

Membuat Max kembali tergelak. Ia memutuskan bahwa memiliki Zee sebagai tetangga pasti menyenangkan. Paling tidak liburannya tidak akan terlalu membosankan.

Petualangan kecil sebelum masa liburannya berakhir dan ia harus kembali menjadi hari-hari sibuk dan melelahkan. Ia akan berhati-bati agar tetangganya ini tidak menyadari identitas dirinya. Karena kebetulan Zee baru kembali dari Kanada kan?

 

Advertisements

2 thoughts on “M to Z – Tie 2

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s