M to Z – Tie 3

Max terbangun dengan enggan.

Suara gedoran pintu rumahnya tidak bisa ditapiknya lagi. Dengan malas ia membuka pintu rumahnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Kembali tidur. Ia cukup yakin kalau yang datang itu Zee. Selama seminggu ini, tetangga barunya ini memang sarapan di tempatnya. karena Zee masih saja belum bisa memasak apa-apa kecuali menanak nasi.

 

“Bangun pemalas, ini sudah siang!” ujar Zee sambil menendang kasur milik cowok itu dengan mulut penuh nasi. Ia mengaduk nasi goreng sisa tadi malam dalam piring dan menyendok sekali lagi sebelum menarik selimut Max.

“Astaga!!!! Dasar mesum!!!!” teriak Zee malu ketika melihat menara menjulang di selangkangan cowok itu.

Teriakan Zee berhasil membuat Max bangun sekaligus menutupi tubuhnya kembali dengan selimut.

Zee sudah kabur keluar ketika tetangganya itu berdiri. Ia mengumpat dalam hati, karena kecerobohannya dan juga karena sudah menambahkan lagi koleksi bahan celaan pada dirinya.

Zee menyambar gelas di meja makan dan menegak beberapa kali untuk menenangkan debaran jantungnya. Itu adalah pertama kalinya ia melihat gunung menjulang tersebut, yah walaupun tidak langsung, tetap saja membuat otaknya mampet.

 

Masih dengan pakaian tidurnya – boxer pendek berwarna hitam, Max menyusul Zee ke rumah cewek itu. Ia membuka pintu rumah cewek itu dengan cuek. Lalu berdiri di samping meja makan Zee dan menyandarkan sebelah tubuhnya di sana. Menatap Zee dengan usil.

“Jangan masuk cowok bodoh!” teriak Zee dengan pipi memerah ketika melihat tetangganya itu datang dengan dada telanjang. Bukan itu saja yang menganggu Zee tapi organ yang masih berdiri tegak di balik celana itu yang membuatnya malu.

“Kenapa? Aku cukup bangga dengan ukurannya.” ujar Max usil.

Sesendok nasi goreng sukses mendarat ke dada Max kemudian terjatuh ke lantai.

“Oi! Kamu sudah gila yah? Cewek jorok.” teriak Max kesal. Ia paling benci benda lengket. Tapi lebih sebal lagi melihat wajah bangga Zee yang berhasil mengerjainya.

“Aku akan melempar lagi kalau kamu berani mendekat.” ancam Zee.

“Kamu tidak akan berani.” tantang Max sambil terus mencondongkan tubuh polosnya pada Zee.

Satu sendok lagi terlempar dan kali ini mendarat ke rambut Max. Otomatis cowok itu teriak dan mulai mengejar Zee.

Sialnya Zee itu cewek gesit dan super lincah, Max sedikit kewalahan tapi akhirnya berhasil menangkapnya juga. Bagamanapun ia cowok dengan tinggi 192 cm sedangkan Zee? Cewek cebol yang mungkin tidak lebih dari 160cm.

Dengan leher Zee di dalam dekapannya, Max siap memoles segenggam nasi goreng yang diambilnya dari piring cewek itu ke rambut Zee.

 

“Jangan, please… Aku sudah rapi sekarang. Pleaseeee.”

Max tersenyum jahil tapi ia memperhatikan juga penampilan Zee memang terlalu rapi hari ini. Dress dan sepatu tinggi. Ia bahkan belum pernah melihat sepatu itu sebelumnya.

“Kamu mau kemana?” tanya Max tanpa melepaskan dekapannya.

Ia cukup dekat untuk dapat mencium parfum yang dikenakan Zee, ia memutarkan kepalanya lebih ke depan agar bisa melihat Zee lebih jelas. Cewek ini juga berdandan? Astaga, ia pikir Zee hanya tahu mendandani orang lain.

 

“Kencan.” ujar Zee riang.

“Kencan?”

“Kencan. Date. Meeting. Apalagi sih istilahnya?”

“Siapa cowok bodoh yang mau denganmu?” ledek Max.

 

Ia mengaduh karena Zee menyudul dagunya, dekapannya terlepas dan cewek itu berdiri di hadapannya sambil menyilangkan tangan di dada. Gaya khas lain dari cewek ini jika sedang berbicara serius.

“Yang pasti cowok baik-baik dan punya pekerjaan. Leon!” sindir Zee mengenai status penganggurannya.

Max hanya tersenyum. Mentertawakan betapa ironisnya ucapan Zee. Ia tidak pernah menganggur selama ini. Hidupnya selalu dipenuhi dengan jadwal manggung, drama, variety show atau konser di luar negeri bersama bandnya, Fox-T. Dan cewek ini mengatakan ia penganguran!

 

“Cowok itu pasti langsung kabur setelah melihatmu.” Max tidak bisa menghentikan ledekannya. Walau dalam hati kecilnya ia mengakui Zee berubah menjadi cantik. Rambut panjang Zee yang berwarna merah terlihat disisir rapi hari ini. Dan siapapun cowok yang menemuinya pasti langsung jatuh hati.

“Kamu ikut meeting?” tanya Max lagi melihat Zee mengacuhkannya.

“Nenek yang mengatur. Aku tidak bisa menolak.”

“Dimana?”

“Cafe e Bizza.” jawab Zee mengacu pada coffee shop di Plaza Indonesia.

“Kamu jangan macam-macam.” ancam Zee begitu melihat tampang jahil Max.

“Mau aku antar?”

“Dengan sepedamu?” Zee mengeleng, “Terima kasih. Bisa sampai malam baru sampai di sana.” balas Zee meledek.

Mereka memang selalu cela-celaan seperti itu jadi cowok itu tidak tersinggung begitu juga dengan dirinya.

 

Dan Max membiarkan Zee lepas kali ini. Ia keluar ke teras dan melambai kencang pada Zee membuat cewek itu kembali cemberut padanya. Max kembali tergelak.

Wajahnya langsung berubah serius ketika Zee membalikkan badan. Ia masuk ke dalam rumah dan menyalakan handphone yang selama ini dimatikan.

“Hallo, Ben? Ini Max, aku mau mengambil mobil di rumah, ada orang di sana?”

“Yoo Max. Belum ada yang kembali. Jack masih di Jepang dengan Micky. Alex tidak tahu dimana, aku masih belum bisa menghubungi dia. Kamu sendiri dimana?”

“Ntar aku telepon lagi. Thank You!” Jihoon atau nama aslinya Max menutup telepon.

Ia mandi dengan terburu-buru dan memanggil taksi.

Sampai di rumah FoxT, sebutan untuk apartment yang ditinggali olehnya dan teman-teman satu band miliknya. Max mengambil kunci mobil serta menganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih formal juga kacamata hitam. Tapi ia tidak mencukur kumis serta jenggot yang selama ini ia biarkan tumbuh berantakan.

Ia tidak ingin orang lain mengenalinya. Cukup Zee.

 

Seminggu ini ia berhasil membuat Zee tidak menyalakan TV ataupun keluar dari rumah mereka. Berhubung Zee datang dari Kanada dan tidak begitu mengenal artis dalam negeri, ia berhasil mengelabuhi cewek itu.

Penyamarannya akan segera terbongkar ketika Zee melihat foto-foto FoxT di billboard yang bertebaran di seluruh Jakarta. Walau ia tidak terlalu yakin juga Zee akan mengenalinya. Dengan jenggot, ia tampak jauh berbeda dari Max yang dingin dan pendiam.

Max masuk ke dalam mobil BMW sport hitam miliknya dan memacunya secepat mungkin. Ia harus tiba di tempat kencan Zee sebelum pasangan Zee muncul.

 

Advertisements

2 thoughts on “M to Z – Tie 3

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s