M to Z – Tie 4

Zee duduk di Cafe, sambil menunggu, ia membaca surat yang diberikan oleh neneknya itu. Nama cowok itu Brian Raharja cucu dari teman neneknya dulu. Bekerja di perusahaan asset management. Berusia 29 tahun. Ia mendelik. Neneknya pasti cukup putus asa atau terlalu khawatir pada dirinya sampai mecarikannya laki-laki yang lebih tua 7 tahun darinya.

Ia menutup surat tersebut, ganti melihat foto yang disisipkan di amplopnya. Lumayan ganteng. Tipe cowok macho seperti Russell Crowe hanya saja ini versi Asianya. Zee mengeluarkan spidolnya dan mulai menghias foto tersebut.

 

“Hmm, aku jadi penasaran seperti apa wajahnya tanpa campur tanganmu.” gugam Max mengacu hasil gambar Zee yang sudah mengubah jas formal menjadi jaket kulit rambut belah samping rapi menjadi spiky punk. Beberapa anting metal mengelantung di kuping.

Ia sudah berdiri di samping Zee sedari tadi tapi cewek itu terlalu asyik dengan kerjaannya sampai tidak memperdulikan kehadiran dirinya. Padahal di luar sana sudah cukup heboh. Ada saja orang yang mengenali dirinya. Ia sampai harus meminta tolong pihak cafe untuk mengendalikan para pengemarnya itu agar tidak membuat kekacauan.

Zee menengok dan menatap cowok dengan pakaian rapi dan berkacamata hitam yang berdiri di sampingnya. Ia tidak merasa kenal dengannya sampai ketika cowok itu duduk dengan santai di kursi sampingnya. Ada sesuatu yang khas dari cara cowok itu duduk yang membuatnya menyadari kalau itu, adalah Leon, tetangganya. Jadi Zee meminta cowok itu pergi dari bangkunya sebelum kencannya datang.

 

“Cowok itu bahkan telat datang di kencan pertama, Zee?” ledek Max.

“Kamu sudah berjanji untuk tidak membuat kekacauan kan, Yang Mulia Leon entah apa nama keluargamu.” ucap Zee dengan manis, menunjukan sarkasme.

Max menyengir mendengar nama samarannya disebut. Sepertinya Zee masih belum menyadari siapa dia sesungguhnya. Baguslah, kalau begitu ia tetap akan bersikap sebagai Leon.

“Aku tidak akan membuat kacau.” ucap Max dengan nada jahil lalu merebut foto dan spidol dari tangan Zee, ikut menghiasi foto tersebut. Kalau sentuhan tangan Zee memperindah foto tersebut, punyanya tidak. Ia menggambar tutup mata bajak laut. Corengan pipi serta menghitamkan beberapa gigi cowok dalam foto. Lalu tertawa senang dengan hasil karyanya.

Zee menarik foto dan memasukannya ke dalam tas.

“Sudah puas? Sekarang pergilah, aku tidak mau cowok itu melihat aku duduk dengan cowok lain.” erang Zee takut.

“Lho, kamu kan bisa memperkenalkan aku padanya.” ngotot Max dan tentu saja Zee cemberut.

Tindakan yang salah besar karena Max jadi gemas pada Zee dan mencubit pipi cewek itu tanpa ampun.

Zee mengaduh lalu membalas cowok itu dengan melempar lembaran tissue ke Max. Dibalas lagi dengan siraman lada. Dalam sekejap mereka sudah menjadi tontonan semua orang. Termasuk Brian.

 

“Maaf…” sela Brian, pikirnya ia ingin menhentikan dua orang bodoh yang menjadi tontonan itu. Tadinya ia tidak mau ikut campur, tapi melihat cewek yang terlibat dalam pertengkaran itu adalah orang yang seharusnya ia temui. Mau tidak mau Brian menyelak mereka.

“Apa?!” tanya Max dan Zee berbarengan, dengan galak pula.

Tapi Zee buru-buru menunduk dan merapikan pakaiannya ketika menyadari siapa yang menyela mereka. Ia mengibas cipratan lada dari bajunya, dan mengusap-usap rambutnya. Max ikut membantu tapi segera ditepis oleh Zee.

Jadi Max hanya menyengir bosan, menonton adegan kaku perkenalan Zee dengan cowok itu. Dalam hati sih girang luar biasa karena sukses mengagalkan kencan Zee. Tapi ia belum selesai, ia akan memperkenalkan diri juga pada cowok itu, walaupun Zee tidak mengijinkannya.

“Hai, aku Leon Sanggardi. tetangga Zee.” salam Max semakin lihai dalam penyamarannya. Ia puas mendengar Zee mendengus di sampingnya karena akhirnya cewek itu mendengar nama belakangnya disebut.

“Brian Raharja.” ia menjabat tangan Max bingung, tadinya ia pikir cowok itu adalah Max dari FoxT. Tapi mungkin hanya mirip. Sebab mana mungkin seorang artis terkenal mengenal orang biasa seperti mereka terlebih cewek dengan lada di pipinya ini. Menurutnya calon tunangannya ini biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik kecuali rambut panjangnya yang berwarna merah.

 

Zee mengulurkan tangannya setelah merapikan diri, menyelipkan rambut panjangnya ke belakang. Putus asa karena rambutnya itu sama sekali tidak bisa bersih.

“Regina Sundoro.” salam Zee dan mempersilakan Brian duduk lalu mengusir tetangganya itu dengan delikan.

“Kalau begitu aku pamit dulu.” ucap Max, sempat-sempatnya mencubit pipi Zee sebelum keluar dari cafe.

Para pengemar Max tidak langsung menyerbunya karena tahu Max tidak suka diperlakukan demikian. Tapi bukan berarti mereka tidak mengikuti Max.

Max tersenyum pada mereka, hal yang tidak biasa ia lakukan. Moodnya terlalu bagus hari ini karena berhasil menganggu Zee.

 

Setelah yakin tetangganya yang error itu telah meninggalkan cafe, Zee baru bisa tentang berbicara dengan cowok dihadapannya.

Mereka kembali memperkenalkan diri kemudian Brian memanggil waitress dan mulai memesan makanan.

“Kamu mau makan sesuatu?” tanya Brian dengan sopan.

Zee membaca menu di cafe tersebut dan terkejut membaca daftar harganya. Busyet, kenapa mahal-mahal semua, ia tidak membawa cukup uang di dompetnya. Ia tidak berpikir kalau ia harus makan sesuatu di tempat ini.

“Minta teh panas saja.” ucap Zee sambil tersenyum malu-malu.

Brian mau tidak mau tersenyum melihatnya. Sedikit mengerti kalau Zee bersikap malu-malu. Semua cewek yang dikenalnya selalu seperti itu pada awal pertemuan. Tapi melihat tubuh Zee yang memang sedikit montok, ia mengerti kekhawatiran cewek itu. Maka ia mengambil menu Zee. Ia yang akan memesankan makanan untuk Zee, sesuatu yang berkalori rendah.

 

“Kamu suka salmon?” tanay Brian setelah menilai makanan yang tertera di menu.

Zee mengangguk.

“Satu Ceasar Salad with Smoked Salmon untuknya.” pinta Brian pada waitress.

 

Ia memperhatikan wajah Zee ketika cewek itu melihat-lihat keluar jendela. Tidak terlalu cantik. Tapi senyuman cewek itu memberi arti sendiri. Tangannya juga tidak bisa diam. Cewek itu mengaduk-aduk tangkai mawar hiasan meja sedari tadi.

Ia rasa Zee tidak akan memulai pembicaraan diantara mereka jika ia tidak mengajak cewek itu berbicara lebih dulu. Walau tadinya ia berharap Zee akan lebih aktif dan tidak seperti cewek-cewek lainnya yang ia kenal, karena Zee berasal dari luar negeri bukan? Cewek luar biasanya lebih terbuka dan blak-blakan. Namun jika Zee memutuskan untuk bersikap konservatif maka ia akan mengikutinya.

“Kamu kerja dimana?” tanya Brian memberikan pertanyaan standard ketika orang saling berkenalan.

“Belum bekerja. Aku baru saja lulus. Kamu bekerja di asset magement company?” ketika Zee mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, aksen cewek itu terdengar begitu kental dan dalam. Amat berbeda dengan caranya bicara dalam bahasa Indonesia.

Brian mengangguk. Tidak heran, kalau Zee masih berstatus pengangguran. Cewek baru saja pindah ke Jakarta. Malah  kemungkinan Zee tidak terlalu mementingkan karier. Dari yang ia dengar nenek Zee memberikan cukup uang untuk biaya Zee selama di Jakarta. Mereka mempunyai usaha pertenakan yang cukup berhasil di Kanada.

 

“Kalau boleh tanya, asset management itu perusahaan apa sih?” tanya Zee begitu polos dan sepertinya membuat Brian terkejut. Cowok itu sampai mendelik dan menatap Zee bingung. Mungkin Brian berpikir ia ini cewek bodoh? Tapi lebih baik ia bertanya daripada sok tahu lalu akhirnya mempermalukan dirinya kan?

“Perusahaanku membantu orang-orang yang ingin berinvestasi atau mengelolah keuangan mereka.” jelas Brian, ini hal yang kerap kali ia katakan pada orang lain ketika menceritakan pekerjaannya. Perusahaan asset management di Jakarta belum terlalu umum tapi bukan berarti tidak dibutuhkan. Jadi ia tidak merasa terganggu jika harus menjelaskan hal ini pada Zee juga.

“Oh, oh,  seperti si gendut di film Hitch?” ujar Zee senang karena mengerti arah pembicaran Brian.

Melihat Brian sedikit bingung, Zee menambahkan, “Itu film Will Smith yang bekerja sebagai match maker, Hitch.”

“Aaah, benar seperti itu.” ujar Brian lega. Walau Zee tidak tahu apa yang ia kerjakan setidaknya cewek itu mempunyai beberapa gambaran yang tepat. Ia sedang tidak berminat membahas masalah pekerjaan saat ini.

“Kamu tidak suka nonton?” tanya Zee mulai aktif berbicara. Tadi ia masih bingung harus membicarakan apa, tapi sekali mendapat topik, mulutnya tidak akan berhenti bertanya.

“Suka. Hanya saja aku jarang mengingat judulnya.”

Zee tertawa mendengar jawaban Brian. Cukup maklum karena jarang ada cowok, terutama yang memiliki pekerjaan serius seperti mengelolah asset orang lain mengingat hal kecil seperti judul film.

“Kalau musik? Musik apa yang kamu suka?” tanya Zee.

“Kebanyakan jazz atau blues. Sesuatu yang membuat tubuh bergoyang tapi tidak menyebabkan sakit kuping. Kamu sendiri?” tanya Brian balik.

“Pop. Tidak mengerti yang sulit-sulit.”

Brian tersenyum lagi. Senyum enteng memaklumi. Sepertinya Zee ini cewek simple yang tidak mau repot. Baguslah, ia bisa lebih rileks sekarang.

“Kamu sudah berapa lama di Jakarta?” tanya Brian memulai topik baru.

Zee menelan saladnya sebelum menjawab, “Baru 1 minggu.”

Lagi-lagi Brian tersenyum. Zee suka dengan senyum itu, rasanya menenangkan. Dan cowok itu juga ramah. Benar-benar tipe cowok dewasa yang tenang. Tidak seperti tetangganya itu yang kacau balau.

 

“Ada tempat yang ingin dikunjungi? Aku bisa meluangkan waktu untuk mengantarmu.” tawa Brian lagi-lagi hanya demi kesopanan. Ia tidak sungguh-sungguh ingin pergi dengan Zee.

Zee tersedak mendengar ajakan yang tiba-tiba. Ia terlalu buru-buru untuk menegak teh miliknya. Lupa kalau teh itu masih panas. Refleks ia melepas pegangannya dan teh tersebut tumpah di atas meja. Menciptakan kekacauan lain.

Buru-buru Zee meminta maaf dan mengelap tumpahan teh tersebut dengan serbetnya. Tapi waitress dengan tangkas mengambil alih dan membersihkan mejanya. Setelah selesai, Zee kembali duduk.

 

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Brian khawatir. Ia bisa melihat bibir Zee yang memerah dan bajunya yang basah dengan noda teh. Hampir saja ia tertawa melihat kekacauan yang disebabkan oleh Zee. Tapi itu terlalu tidak sopan, terutama pada orang yang akan dipertimbangkannya untuk menjadi istri.

Zee tersenyum, “Kalau mau tertawa, tertawa saja. Aku memang terlihat konyol sekarang.”

Dan dengan sopan, Brian mentertawakan dirinya, Zee ikut tertawa juga. karena tidak mungkin ia mulai menangis di sini. Walau itu sangat ingin ia lakukan.

“Kita pulang sekarang yah. Aku akan mengantarmu.” ajak Brian tiba-tiba.

Zee mengangguk. Setidaknya, Brian bukan pria payah. Cepat bertindak dan tidak menyia-nyiakan waktu. Di dalam mobil mereka masih saling bertanya untuk mengenal satu sama lain.

Kencan pertama yang tidak terlalu buruk.

 

Advertisements

2 thoughts on “M to Z – Tie 4

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

  2. Haaah… Kalau saja authornya membuat karakter brian dengan kadar brengsek yg lebih tinggi, aku bisa membencinya sekarang. Say no to brian-zee kapel!!!-_- jelas2 mereka berdua nggak cocok. Tapii zee-nya terlalu polos juga. Hufh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s