M to Z – Tie 5

Max sedang minum-minum sendirian di beranda. Ketika melihat Zee turun dari mobil, buru-buru ia berjongkok. Mengintip cewek itu dari sela-sela beranda. Ia tidak mau Zee mengetahui kalau ia sedang berada di luar, seakan-akan sedang menanti kedatangan cewek itu.

Walau sesungguhnya, ia penasaran juga dengan hasil kencan Zee. Mudah-mudahan gagal total jadi ia bisa meledek cewek itu. Baju yang ia kenakan tadi sama sekali tidak bisa ditolong lagi. Walau sudah dicuci dan diberi pewangi, tetap saja ia bisa mencium bau lada di sana. Dengan berat hati, ia terpaksa membuangnya ke tong sampah.

Ia melihat pasangan Zee turun dari mobil terlebih dulu untuk membukakan pintu bagi Zee. Lumayanlah, cowok itu kelihatannya cowok baik-baik, nilai Max. Lalu ia melihat mereka berbicara, diselangi dengan tawa. Kira-kira lima menit kemudian cowok itu baru kembali ke dalam mobil dan pergi.

Ketika dirasanya cukup aman, Max langsung berdiri dan berteriak,”Selamat datang Nyonya Raharja.”

Ia melihat Zee mendongak ke atas dan menatapnya dengan mulut cemberut serta menyilangkan dada. Khas gaya cewek itu jika sedang marah atau kesal. Jadi Max pikir Zee akan membalas omongannya dengan meneriakinya sesuatu. Tapi tahunya cewek itu malah menghilang tanpa berkata apa-apa.

Kecewa karena candaannya tidak ditanggapi, Max menegak lebih banyak bir. Mungkin Zee tidak mendengarnya tadi. Ia harus memikirkan cara lain untuk menganggu cewek itu.

 

“Cowok tengil!!!!” teriak Zee sambil ngos-ngosan.

Max kaget luar biasa mendengar teriakan Zee. Dan lebih terkejut lagi ketika Zee berderap menghampirinya dengan mata melotot dan muka merah. Ia pikir Zee akan memukul atau menendangnya tapi ternyata, cewek itu hanya merebut botol soju dari tangannya kemudian meneguk dengan cepat. Yang kembali disembur dengan sama cepatnya pula.

Mata Max sampai kelilipan karena sebagian semburan tersebut ada yang mengenai matanya. Ia tidak perlu mengecek pakaian, ia bisa merasakan hawa dingin di beberapa tempat. Pasti itu daerah yang terkena semburan Zee.

“Ueeek, tidak enak.” erang Zee tanpa rasa bersalah. Malah kemudian tertawa melihat Max yang basah kuyup dan berantakan.

“Regina Sundoro!!! Kamu pasti sengaja, kan?!” geram Max.

Zee terus tertawa dan mengocok botol ditangannya dan diarahkan ke Max. Rasanya seru kalau bisa membalas Max dengan membuat cowok itu bermandian alkohol. Untuk seorang cowok yang benci apapun yang jorok dan lengket, alkohol dingin pasti membuat Max jengkel.

 

“Kamu tidak akan berani.” ancam Max.

Zee terkekeh, “Baik, aku tidak akan membuat kamu basah kuyup malam ini tapi kamu harus membantuku. Ajari aku naik sepeda.”

Alis Max terangkat bingung. Bisa-bisanya Zee mengajukan syarat aneh malam-malam seperti ini. Apa Zee habis sudah mabuk? Padahal baru juga minum seteguk, dimuntahkan pula!

Zee mengarahkan botol bir ke pot bunga di sampingnya, membiarkan isi botol tersebut muncrat sampai habis sambil bercerita tentang rencana ia dan Brian untuk bersepeda hari Minggu nanti.

“Aku tidak bisa mengaku padanya kalau aku tidak bisa naik sepeda, kan? Brian pasti akan mentertawakanku. Jadi kamu harus membantu. Aku betul-betul tidak ingin terlihat konyol dan mempermalukan nenekku. Walau ini juga salah nenek yang tidak mau mengajariku bersepeda.”

Max membisu beberapa detik, yang Zee tebak Max sedang mempertimbangkan permintaannya. Ketengangannya sirna ketika akhirnya Max mengangguk dan mengelus kepalanya.

“Kamu tidak perlu mengancamku Zee. Aku akan membantumu tapi sebagai gantinya kamu harus melakukan sesuatu juga untukku.”

“Apapun juga! Asal bukan sesuatu yang melanggar hukum atau tindakan asusila.” jawab Zee semangat.

 

Max meminta bukti tertulis dari Zee. Berdasarkan pengalamannya selama mengenal Zee, cewek itu sering kali berkelit jika sudah menyangkut janji. Seringnya sih Zee memang lupa, tapi untuk kali ini, ia perlu Zee mengingat perjanjian mereka dengan jelas.

Ia menyuruh Zee membuat surat. Ia tahu Zee selalu membawa-bawa buku notes. Jadi ia menyuruh Zee mengeluarkan buku tersebut dan menuliskan perjanjian mereka. Sekaligus membubuhinya dengan cap jempol berwarna pink salem. Lipstik Zee terpaksa menjadi korban untuk membuat stampel cap mereka.

Max menarik kertas perjanjian mereka dan tersenyum puas. Setidaknya dengan surat ini ia bisa meminta cewek itu untuk tidak membencinya setelah mengetahui kalau ia membohongi Zee tentang identitasnya itu, gugam Max dalam hati. Karena setelah Minggu ini, ia harus kembali ke kehidupannya sebagai Max. Dan cewek itu pasti akan menyadarinya kelak. Max tidak berniat memutuskan hubungan mereka walaupun ia sesudah kembali ke kehidupan aslinya.

Ia membutuhkan Zee sesekali untuk menghiburnya dengan candaan dan kebodohan cewek itu. Sesuatu yang bisa membuatnya tertawa dan kembali bersemangat.

Setelah Zee masuk ke dalam rumahnya, Max menelepon managernya minta dikirimi sepeda. Ia masih menegak beberapa kaleng bir sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya.

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 5

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s