Double Matters – Act 18

5 menit waktu yang dibutuhkan Noah untuk Ethan menjamuku dengan layak di dalam rumah
Tapi tidak butuh waktu 5 menit untuk menyadari kalau aku akan terjebak bersama mereka Elena Noah menghendaki.
Noah seorang jaksa penuntut dan aku lihat dia memang penuntut yang keras kepala seperti adiknya.
Bahkan mungkin lebih parah, karena Ia seorang perempuan dan aku yakin Ia tidak akan segan-segan memohon dan mengunakan kelemahan wanita, walau aku ragu Noah memiliki kelemahan tertentu.

Lagi-lagi aku berada di dapur Ethan dengan Ethan yang bersiap memasak dan aku membantunya. sedangkan Noah, dia duduk dengan manis di depan bar, sesekali memutar kursi tempatnya duduk, disela-sela pertanyaannya.

“Jadi kalian berpacaran.” tanya Noah dengan senyum penuh arti.
Pipiku bersemu merah mengingat tidak mungkin aku mengatakan yang sebaliknya. Noah melihat kami berciuman, terlepas apapun status kami saat ini.
Ethan mengerang, “Don’t you have other things to do?”
“Why? I like her.”
“Noah, you love all girls who cook.”
“itu!”teriak Noah bersemangat dengan tangan teracung, “Dan boleh dong aku berharap kalian pacaran. Toh kalian sama sama saling suka. And i love someone to look after you.”
“dia sudah memintamu untuk menjadi pacarnya, kan?” tanyanya yang pasti ditujukan padaku dan aku seharusnya mengangguk atau menjawab sesuatu tapi yang keluar hanya gelak tawa.
Astaga, dua orang ini bahkan lebih parah dibanding aku dan Mario.
“Maaf…” ucapku setelah menahan semburan tawa, “tapi kamu membuat aku merindukan kembaranku.”
“Kamu kembar? Perempuan juga?”
“Laki-laki, namanya Mario.”
“Syukurlah.” ucap Noah disertai tarikan nafas lega yang membingungkan, “Ethan tidak pandai membedakan bentuk. Dari dulu nilai keseniannya selalu merah. Dia bahkan sulit membedakan huruf b dan d. Kadang bingung juga lihat dia bisa kuliah.”
Ethan melempar timun yang sedang dipotongnya ke wajah Noah, tapi malah ditangkap dan dilempar kembali ke Ethan. Ditangkis dan masuk dengan sempurna ke dalam panci di depanku.
Spontan aku kembali tergelak, begitu Ethan melancarkan serangan berikutnya.
Aku tertawa, ikut melempar dan dilempari. Lalu entah kapan kesepakatan itu dimulai, Noah dan aku sama-sama menghujani Ethan. Membuatnya kelabakan dan akhirnya menyerah.
“OK i give up! Kita keluar makan.” tandas Ethan.
Serta merta Noah berteriak kegirangan dan menari tanganmu, dan menyambar tasku dan tasnya.
“Ayo, Aria kita ke mobil duluan.”
“Tapi… Itu…” aku menengokan kepalaku ke belakang menatap Gambiran sayur di lantai, sofa, bangku dimana-mana.
Noah mengibaskan tangannya, “Jangan pusing, ada 3 pembantu di belakang sana yang akan langsung keluar dan merapikan semua tadi.”
“Tapi…..” aku masih menetatap melalui bahuku sambil terus didorong oleh Noah menuju pintu keluar.
“Eth, tell her.” perintah Noah pada adiknya yang sudah ikut bergabung dengan kami.
“Dia benar Aria. Tuh.”
Aku melirik lagi ke dalam dan memang sudah ada 3 perempuan berumur dengan pakaian hitam-hitam sedang mondar-mandir, merapikan ruangan.
Aku tidak tahu harus berkata apa selain. “Oh….”
Noah mengambil kesempatan itu untukmendorongku lagi dan mendudukanku di kursi depan, Ethan yang nyetir dan dia sendiri masih berdiri di luar.
“Kamu tidak ikut?” tanyaku padanya.
“Aku akan naik mobilku sendiri. Not many space left back there.”
Aku menoleh ke belakang. Memang benar, mobil Sport 2 pintu ini tidak memiliki bangku belakang.
“Just Go….. Have Fun…..” ujar Noah dengan senyum lebar.
Aku melihat dia masih melambaikan tangannya dengan semangat melalui kaca spion.
mendadak aku sadar, Noah tidak akan menyusul kami.
Aku melirik Ethan, apa dia tahu rencana kakaknya itu.
“Maafkan dia. Noah cuma….”
“Jadi maksudnya kamu tahu, dia tidak akan ikut pergi? Atau kamu tahu hal yang lain?” tanyaku sambil menahan bibirku untuk tidak tersenyum.
Ethan terlihat klabakan dan menyesal karena sudah menculikku secara tidak langsung.
“Noah bisa amat menuntut dan …”
“Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.” sambungku.
“Maaf…”
“Tak apa. Sudah biasa. Kamu juga seperti itu.”
Aku tidak bisa menahan tawaku lagi ketika melihat wajah Ethan memucat dan membelalak.
“Astaga! Memangnya kamu tidak merasa kalau kamu selalu memaksakan kehendakmu?” aku mengernyitkan mataku, lalu menepuk kedua tanganku, “oh benar,kamu cuma memosisikan diriku agar tidak bisa menolak ataupun membantah.”
Ethan tergelak lalu meminta maaf dan kembali tergelak.
“Eth, ada seseorang yang lebih pantas menerima ucapan maafmu.” ucapku memotongnya.
Tawa Ethan terhenti seketika itu juga, ganti memperhatikan wajahmu yang sedikit banyak menegang.
“Jadi itu,” Ethan menghentikan dirinya sesaat, mengangguk nafas dalam, “tentu saja. Kita langsung ke sana? aku rasa kamu tidak terlalu lapar kan.”
“Bukan begitu, Eth…”
“Tidak apa, Aria. Aku memang bersalah.”
Ethan tetap tersenyum setelahnya, juga masih mengajakku berbicara tentang ini dan itu.
Tapi aku bisa merasakan kegetiran di matanya dan sepertinya ikut menular padaku. Karena mendadak aku juga nerasa sesak dan kecewa.

Tapi kenapa?
Ethan mengaku salah bukan?
Dia bahkan bersedia datang menemui Denise, menemui orang tuanya dan mengucapkan permintaan maaf yang kelewat tulus.
Mama Denise juga berkata dia memaafkan Ethan dan tidak menyalahkannya.
Lalu kenapa aku merasa tidak puas? Kenapa merasa salah?
“Sekarang, aku sudah minta maaf, kita juga sudah makan.” ucap Ethan seraya mendaftarkan kegiatan kami.
Saat ini kami sedang duduk di kantin RS yang ramai. Tidak ada yang memperhatikan Ethan sedang mengengfam tanganku terlewat erat di atas meja. Apalagi ketegangan di antara kami.
“Berarti sudah selesai?”
Aku tahu yang ditanyakan olehnya bukan mengenai rencana kami untuk hari ini. Dan aku merasa tidak nyaman ditatap olehnya. Aku menarik tanganku tapi buru-buru ditangkapnya lagi.
Aku mendongkak, tidak sengaja mata kami bertubrukan dan aku tertegun.
“Kamu tidak akan menemuiku lagi kan?”tanya Ethan.
Tangannya, atau itu aku?
“Maaf, sudah bisa dibereskan?” selak pramusaji memeinta ijin merapikan meja. Secara halus meminta kami pergi.
Kami sama-sama menoleh dan mengangguk.
Lalu memutuskan untuk kembali ke kamar Denise.
Kami berjalan dalam diam, mungkin Ethan sengaja memberiku waktu untuk berpikir atau dia sudah tahu apa jawabanku? Jadi dia merasa tidak perlu bertanya lagi?
“Eth,” panggilku panik, “Kamu…. Aku….”
“Ya?” tanyanya dengan suara teramat tenang.
Aku tidak suka dengan nada itu, dengan semua ketenangan yang dipancarkan oleh wajah dan sikap Ethan. Seakan-akan segalanya baik-baik saja.
Karena tidak ada yang baik-baik saja saat ini.
Aku pusing, bingung, tidak bisa memutuskan mengenai hubunganku dengan Ethan.
Karena aku tahu Ethan tidak mengharapkan pertemanan di antara kami sekarang. Aku menyadarinya dari cara Ia menciumku.
Benarkah kejadian itu baru saja terjadi tadi?
Mengapa rasanya sudah berabad-abad?
Lamunanku terputus begitu kami mendengar teriakan dari kamar Denise.
“Itu tadi….?” tanya Ethan ragu-ragu.
“Teriakan tante.” bisikku.
Serta merta kami berjalan lebih cepat menuju kamar yang tidak terlalu jauh dan masuk ke dalam kamar, membanting pintu hingga terbuka lebar.

“Maria….” panggil Denise
Dan aku berhenti bernafas.

Advertisements

One thought on “Double Matters – Act 18

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s