M to Z – Tie 11

Max masuk ke dalam rumah lamanya. Tempat dimana ia dan empat cowok rusuh lainnya tinggal selama aktif sebagai artis. Sebagai salah satu personil FoxT.

Max menuang seluiruh isi tasnya ke dalam mesin cuci, tidak peduli apakah baju kotor atau bersih yang ia cuci. Ia kembali ke lorong depan dan melempar sepatunya ke dalam rak, diantara kotak-kotak sepatunya.

Ia tidak menyangka akan ada orang lain di rumah. Liburan mereka baru besok berakhir dan menurut kebiasaan, seharusnya teman-temannya itu baru muncul besok. Tapi jika ternyata Jack menyambutnya pulang. Max hanya bisa tersenyum malas.

“Bagaimana liburanmu? Kok lebih cepat kembali?” tanya Jack dengan ceria. Yang bisa Max duga alasannya. Cowok itu pasti menghabiskan banyak waktu dengan pacarnya.

“Hai Max…..” sapa Keiko, pacar Jack, orang yang dulu pernah disintai Max.

Cewek itu muncul dari arah dapur. Dengan memakai celemek dan sumpit di tangan. Jantung Max langsung berdesir dan secara otomatis, senyum mampir di bibirnya. Itu salah satu efek yang selalu disebabkan Keiko padanya. Membuat ia menjadi bodoh.

Walau ada banyak masalah yang terjadi diantara mereka dulu, Max tetap tidak bisa membenci Keiko. Walau cewek itu lebih memilih Jack ketimbang dirinya. Keiko akan selalu memiliki kepingan hatinya.

 

“Kamu datang?”

Keiko tersenyum mendengar pertanyaan retorikal Max.

“Kami sedang mencoba resep baru untuk membuat ikan pepes.” ujar Jack menjawab pertanyaan Max.

Jack masuk kembali ke dalam dapur. Meninggalkan Max dan Keiko.

Max tahu, Jack sengaja menjaga sikap ketika berada di hadapannya. Sebetulnya itu tidak perlu, sudah 1 tahun berlalu sejak Jack dan Keiko mulai berpacaran. Lagipula setelah ia berpikir berkali-kali, perasaannya pada Keiko lebih menjurus pada rasa kagum. Karena Keiko memang cewek yang tiada bandingannya. Lemah lembut, sabar, tidak berpikiran negatif dan amat penyayang. Selalu meletakan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri. Belum lagi kepandaian Keiko dalam berkreatifitas.

Tapi terlepas dari semua rasa kagum itu, Max tidak merasa ingin atau  harus selalu bersama Keiko. Ia malah bersyukur sudah menyerahkan Keiko pada Jack. Cowok yang lebih mengerti dan mencintai Keiko dibanding dirinya. Ia cukup puas menjadi sahabat Keiko.

“Sedang memikirkan apa sih? Muka sampai berubah-ubah seperti itu?” tanya Keiko yang sedari tadi memperhatikan Max.

“Dia masih saja menjaga sikap di hadapanku yah?” ungkap Max yang tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang memikirkan soal Jack.

“Karena dia menyanyangimu sebesar itu.”

Max memenggang dadanya pura-pura tertusuk, “Aooouch, that’s hurt.

Keiko mengeplak lengan Max. Kekonyolan Max tidak pernah berubah.

“Bagaimana liburanmu?”

Melihat Max tersenyum paksa, alis Keiko terangkat satu.

“Jangan menatapku seperti itu, Kei. Aku tidak apa-apa. Sungguh.”

“Kamu tahu aku dan Jack serta teman-temanmu yang lain akan selalu ada di sisimu kan?”

Max mengangguk, tentu saja ia tahu. Bukankah anak FoxT selalus eperti itu. Baik itu masalah keluarga, masalah pacar, masalah uang, mereka selalu bahu membahu mengatasinya bersama. Max tentu tahu, hanya saja, saat ini ia lebih memilih memendamnya sendiri.

“Sudah sana masuk, nanti Jack berpikir aku sedang merayumu.” gurau Max lalu pamit ke atas, ke kamarnya.

Ia tidak ingin dikasihani oleh Keiko. Cewek itu pasti akan memarahinya kalau tahu ia lagi-lagi bersikap tidak tegas mengurus perasaannya. Tapi sungguh, ia sendiri tidak tahu harus bagaimana saat ini. Perasaannya pada Zee jelas bukan cinta. Peduli yang kelewatan mungkin karena entah mengapa ia tidak bisa membiarkan cewek itu sendirian.

Dihempaskan tubuhnya ke atas kasur walau tidak mengantuk. Mungkin besok pagi, jawabannya akan muncul sendiri.

Di bawah, Jack keluar dari dapur ketika mendengar Max pergi.

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Jack bingung karena Max tidak pernah melewatkan acara makan-makan. Apalagi ini makanan favorite anak itu.

Melihat Keiko mengangkat bahu, Jack semakin khawatir.

“Dia tidak cerita padamu?” tanya Jack semakin heran, jadi ia kembali bertanya, “Bahkan padamu?”

Keiko tertawa melihat ketidakpercayaan Jack. Rupanya pacarnya ini tahu kalau Max dan dirinya masih sering saling cur-hat.

“Beri dia waktu.” gugam Keiko sambil menatap tangga, seakan-akan Max masih berdiri di sana. Lalu dengan mendadak menolehkan kepalanya pada Jack yang sedang membuka pepes hasil buatan mereka.

“Kamu tidak cemburu?”

“Cemburu. Tapi Kei, this is the least that I can give for him.”

Wangi pepes menyebar dengan cepat ke seluruh ruangan. Membuktikan eksperimen mereka cukup berhasil.

“Naik gih, antar ini untuk Max dan coba tanyakan lagi padanya. Aku tidak tahan melihat ekspresi menderita Max.” pinta Jack pada pacarnya. Tahu kalau Max pasti akan lebih terbuka pada Keiko dibanding dirinya.

“Kalau kamu segitu khawatirnya, Jack, naik sendiri lah. Aku mau pulang.” ujar Keiko dan segera memakai sendalnya dan menuju pintu keluar.

Ia sudah terbiasa pulang sendiri sebab Jack tidak bisa mengantarnya atau menunjukan keakraban mereka di depan umum walau publik sudah mengetahui hubungan mereka. Ia merasa tidak adil pada penggemar Jack jika ia bersikap terang-terang seperti itu.

“Tunggu.” ujar Jack kemudian mengecup kening Keiko, “Hati-hati di jalan, Kei.”

“Selalu Jack. Selalu.”

 

Sepeninggalan Keiko, Jack menyendok nasi dan menyusun pepes di piring terpisah lalu menaruhnya di nampan. Ia akan mencoba saran Keiko. Sudah terlalu lama ia menarik diri dari Max. Menjaga perasaan bayi besar FoxT itu agar tidak kembali tersakiti.

Jack mengetuk pintu kamar Max beberapa kali. Karena tidak ada yang menjawab, ia membukanya dan melihat Max tidur di atas ranjang.

“Kamu tidur?” tanya Jack, tidak terlalu yakin, karena biasanya Max tidur terkurap sambil memeluk bantal dan bukannya terlentang seperti yang ia lihat sekarang.

“Taruh saja di meja, Jack. Aku akan memakannya nanti.” gugam Max membuktikan kalau cowok itu memang tidak tidur.

Mas sebetulnya cukup tergiur untuk menghabiskan pepes favoritenya itu sekarang juga. Tapi jika ia bangun sekarang, Jack pasti akan menanyainya dan ia akan kesulitan untuk memberi jawaban.

Jack meletakan nampan sesuai permintaan Max. Tapi ia tidak keluar kamar. Malah duduk di samping Max

“Kamu tahu aku dan teman-temanmu ada di sisimu kan? Siap membantu?”

Jack tidak tahu apa yang lucu dari ucapannya, yang jelas saat ini Max tertawa, dengan keras pula.

Max bangun lalu memukul-mukul punggung Jack dengan gerakan langkah kuda. Membuatnya kesakitan, Tapi Jack pantang mengeluh atau mengerang kesakitan. Jadi ia menahan semua itu dengan tabah. Walau sepertinya ada beberapa tulang punggungnya yang rontok.

“Hubunganmu dan Keiko pasti lancar-lancar saja yah. Sampai bisa mengatakan hal yang sama persis seperti itu.”

“Maaf…..” tutur Jack tidak enak hati.

“Hei, jangan begitu Jack. Aku sungguh sudah menerima hubungan kalian. I’m fine, dude! Aku be-te bukan karena melihat kalian bersama. Ada masalah kecil yang sedang kupikirkan.”

Max meringkis mendengar istilah kecil yang ia pakai. Kalau Zee memang masalah kecil, seharusnya ia bisa menyelesaikn semua ini. Bukannya malah melarikan diri. Pulang ke rumahnya.

“Ayo cerita, kemana saja kamu dengan Keiko?” tanya max mengalihkan pembicaraan.

“Kita ke Hokkaido, Aku mengajarinya bermain ski.”

“Berduaan?”

“Berduaan.”

“Kamu tidak takut ada yang mengenali?” tanya Max sedikit emosi. Bagaimana mungkin Jack bisa seceroboh itu dan berduaan saja dengan Keiko. Apa Jack sudah lupa apa yang terjadi pada Keiko dulu?

“Tenang Max, di sana tidak banyak orang yang mengenali kita dan aku juga tidak bodoh untuk memperlihatkan kemesraan berlebihan. Kamu masih…..”

Max tertawa, “Aku hanya peduli padanya, ok. Padamu juga. Dia sahabat yang baik, kamu tahu itu.” hibur Max menenangkan Jack. “Dan Jack, kamu boleh berhenti menahan diri di hadapanku. Aku bukan anak manja yang akan menangis di pojokan karena melihat kalian bermesraan. Aku bahagia untuk kalian.”

Jack tidak percaya, ia tidak bisa percaya kalau perasaan Max sudah berlalu.

 

Is it worthed?” tanya Max tiba-tiba, membuat Jack bingung apanya yang cukup berharga.

“Apa cintamu sebanding? Dengan segala kehebohan dan yah, cemoohan pengemar kita?”

Jack tersenyum dengan ekspresi terpuaskan, “Tidak berada di sisinya itu yang menyiksa Max. Berdua, apapun bisa lewati. Kamu akan mengerti kalau kamu menemukan orang yang membuat kamu tidak bisa hidup tanpanya.”

“Maksud kamu seperti Yunna dan Micky?”

“Seperti aku dan Keiko juga dong.”

“Ouuuch…… That’s hurt…..” canda Max dan sukses membuat Jack tertegun lalu memucat.

Tawa Max menggema. “Aku bercanda Jack. Masa kamu tidak bisa membedakan.”

Jack menghela nafas, “Kamu memang paling bisa isengin orang yah, Maximillion Leonardus Sangardi!!!!”

Jack mengunci leher Max dan mulai mencekik temannya itu. Tapi ia tidak mungkin bisa bersaing dengan Max yang lebih tinggi 10 senti darinya dan tubuh Max juga lebih beaar darinya. Dalam sekejap, berbalik posisi. Tangan Jack dipiting dan diputar ke punggung Jack. Gantian Jack yang meringkis.

“Ada apa?” tanya Ben yang menerobos masuk kamar Max.

Dan begitu melihat apa yang terjadi Ben kembali memekik, “Max, tolong ingat persahabatan kita selama 7 tahun ini! Menyakiti Jack hanya karena seorang perempuan sama sekali tidak pantas!”

Jack dan Max sama-sama terpana, saling memandang lalu melanjutkan aski berkelahi mereka memancing Ben datang.

“Hentikan brengsek!!!!”

Kemudian tanpa terduga, tangan Ben ditahan oleh Jack lalu Max menarik kaos Ben dan menutup kepala dengan ujung kaos tersebut.

Jack dan Max kembali saling melirik dan tertawa terpingkal-pingkal terutama setelah melihat wajah Ben yang berubah merah.

 

“Brengsek!!! Aku kira kalian berantem betulan! Kurang ajar yah, lihat saja pembalasanku.” seru Ben dan ia tidak tanggung-tanggung mencekal Jack dengan lengannya dan memiting Max dengan kakinya. Dua temnnya itu tidak berkutik, tertawa sambil meminta ampun pada Ben.

“Lega lihat kalian baikan.” gugam Ben setelah melepaskan duo konyol itu.

“Kami kan tidak pernah ribut.” elak Max

“Cuma diam-diaman yang sama saja biat kita. Alex sampai putus asa dan siap mengurung kalian berdua di dalam kamar sampai kalian kembali berbaikan.”

“Betul begitu?” tanya Jack kaget, tidak berpikir kalau masalah dia dengan max membuat semua orang susah.

“Jadi apa yang membuat kalian kembali berbaikan?” tanya Ben penasaran.

“Tunggu Micky dan Alex kembali, aku tidak mau mengulang cerita ini berkali-kali. Cuma membuat aku terlihat bodoh.” tolak Max sok bijaksana, padahal tahu dengan pasti Ben akan menanyainya terus sampai ia mengungkapkan semua.

 

Max terpaksa menahan dirinya untuk tidak memukul Ben. Temannya itu memang tidak pernah tanggung-tanggung dalam melakukan sesuatu. Bahkan mengikutinya ke kamar mandi sambil terus berkata, “Cerita Max, buruan. Cerita Max, buruan. Cerita Max, buruan”. Terus seperti itu beratus-ratus kali.

Bahkan ia masih bisa mendengar suara Ben walau sudah mengenakan earphone dengan peredam super.

 

“Oh, terima kasih Tuhan, kalian sudah pulang.” seru Max begitu melihat Alex dan Micky masuk rumah.

Ia menarik dua orang itu tidak peduli baju mereka basah kuyup dan mulai bercerita mengenai pertemanannya dengan Zee. Sekaligus mengenai rencananya untuk membuat Zee bekerja sebagi stylist mereka. Ia tidak bersedia pula dipotong dengan pertanyaan yang spontan dilontarkan oleh para pendengarnya itu.

Begitu selesai, Max menarik nafas lega. Degnan bercerita pada mereka, Max memiliki tambahan 4 otak untuk berpikir membantunya. Seharusnya dengan adanya Micky yang jauh lebih pengalaman mengenai perempuan, urusan ini bisa segara terpecahkan.

Ia membiarkan 4 temannya itu ribut membahas Zee dan memberikan kehormatan pada Jack untuk menjawab beberapa pertanyaan. Tapi ketika Micky bertanya soal perasaannya pada Zee. Ia tidak bisa memyuruh Jack mewakilinya. Sebab cowok itu pasti akan berkata…

“Max cinta mati sama dia!” jawab Jack mantap.

Max mengeleng, “Aku peduli bukan cinta mati. Itu dua hal yang berbeda. Aku bersahabat dengannya. Sama seperti dengan kalian.”

“Tidak ada persahabatan antara laki-laki dengan perempuan. Selangkangan kalian tidak memungkinkan hal tersebut.” tandas Micky tidak tanggung-tanggung.

“Terserah apa kata kalian. Yang pasti Zee itu teman dan aku bahagia melihat hubungan dia dengan calon tunangannya itu berjalan lancar.”

“Kalau begitu kenapa kamu menginginkan dia bekerja untukmu?” tanya Ben yang tidak mengerti masalah kompleks. Dia tipe A atau B tidak pernah AB.

“Max khawatir dengan status penganggurannya.” jawab Alex sarkastik.

“Kalian tidak percaya padaku ya?” dan Max melihat memang tidak ada seorangpun dari mereka yang percaya padanya. Dengan emosi, Max mencetuskan ide gila. “Aku akan membuat Zee dengan calon tunangannya itu betul-betul berpacaran.”

 

“Bodoh!”

“Keras kepala!”

“Idiot!”

“Otak batu!”

Max tidak pusing, terserah teman-temannya itu mau menghinanya apa. Ia memejamkan mata dan memasang headphone di kupingnya. Memikirkan rencana apa yang harus dibuatnya untuk Zee dan Brian.

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 11

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s