M to Z – Tie 12

Zee terbangun ketika alarmnya berbunyi dan mendapati dirinya sudah berada di atas ranjangnya. Apa semalam ia pindah ke kamarnya sendiri atau…..

Mengikuti instingnya, Zee bergegas keluar rumah dan menggedor pintu apartment Max. Berharap dugaan bahwa Max sudah pulang itu benar. Sebab hanya Max yang bisa memindahkan dirinya ke kamar. Karena Zee bukan tipe orang yang berjalan dalam tidur.
“MAX…… Kamu di dalam kan???!” teriak Zee, mulai berharap kalau ia juga mempunyai kunci serep seperti Max. Jadi bisa dengan leluasa keluar masuk apartment Max.

Tidak ada jawaban. Hanya gema yang membalas ketukan dan teriakan Zee.
Semakin panik, Zee menuruni tangga dengan terpincang-pincang, mencari mobil, sepeda apapun juga kendaraan Max yang seharusnya terparkir di garasi bawah.
Tidak ada, tidak ada apa-apa, bahkan sepeda milinya pun menghilang dari tempat itu.
Zee bersandarke dinding garasi. Merasa lelah dan frustasi.
“Tidak mungkinkan Max?! Kamu tidak mungkin sekejam itu meninggalkan aku sendiri di sini?!” teriak Zee kesal.
Ia masih ingin melanjutkan makiannya jika saja para tetangganya tidak mulai melihat dirinya seakan-akan ia orang gila.
Zee naik kembali ke atas, ia mengetuk pintu Max, “Max…. Buka….. Max….” tutur Zee mulai menangis. “Kakiku harus diapain, Max dodol! Aku kan tidak bisa ke rumah sakit. Kamu tidak meninggalkan nomor telepon dokter keren kemarin.” ratap Zee semakin menjadi-jadi.

Ia bahkan mulai menendang pintu dengan kakinya yang tidak sakit. Tidak peduli benturan-benturan tersebut membuat kaki sehatnya juga ikutan sakit.

Seharian Zee menunggu di depan pintu Max, sesekali meratap sesekali memaki tapi lebih sering hanya duduk terdiam di sana. Tidak peduli orang-orang memandangnya aneh, tidak peduli ia belum mandi atau makan dan minum obat. Ia hanya tidak ingin kecolongan ketika Max kembali.
Tapi harapannya semakin pupus ketika matahari menuruni bumi.

Zee bangkit berdiri. Berjalan masuk ke rumahnya dengan gontai. Menutup pintu dan kembali duduk di balik pintu. Rasanya terlalu melelahkan.
Sayup-sayup ia mendengar suara handphone berbunyi, malas-malasan, Zee menjawab panggilan tersebut.
“REGINA SUNDORO, KEMANA SAJA KAMU SEHARIAN INI?!” maki Max seketika, memekikan telinga Zee.
Dan Zee, ia terlalu lega bisa mendengar suara Max lagi, jadi tidak peduli cowok itu mau memarahinya atau apa, Zee hanya meraung sejadi-jadinya. Menangis.

“Ada apa Zee? Kaki kamu makin sakit? Zee, berhenti menangis, jawab aku….” pinta Max kelabakan. Seharian ini ia mencari Zee seperti orang gila. Menelpon ribuan kali baik ke rumah atau ke handphone Zee. Hampir saja ia menyuruh orang untuk mencari Zee kalau cewek itu tidak menjawab teleponnya yang ini.

Ia tidak bisa ke tempat Zee hari ini. Jadwal kerjanya yang padat sudah kembali dimulai. Padahal ia baru saja kembali dari liburan tapi FoxT sudah harus diwawancarai oleh 4 majalah, dan harus berpose ratusan kali untuk 4 tema yang berbeda. Membuat Max tidak berkutik. Dan sekarang Zee malah menangis, bukannya menjelaskan keadaan cewek itu.
“Zeeeeeee……. Ayolah ada apa? Cerita! Jangan menangis seperti ini! Apa cowok itu bertindak kurang ajar padamu? Kamu mau aku memukulinya hingga babak belur?” pancing Max asal-asalan. Tahu dengan pasti Brian tidak mungkin berani macam-macam karena semalam ia sudah berpesan pada cowok itu.

Tangis Zee mendadak berhenti, membuat dahi Max menyerengit.
“Zee kamu masih di situkan? Zee? Kamu tidak pingsan kan?” tanya Max mulai panik.

Tidak ada jawaban. Malah kemudian teleponnya terputus. Ia mencoba menelepon kembali tapi telepon Zee selalu bernada sibuk. Gelisah, ia menutup telepon dan menyebrangi studio dengan tergesa-gesa.

“Max.!!!!! Woy!!!!! Ada apa?” tanya Jack yang dilewati oleh Max.
“Ada apa? Max kemana? Dia belum difoto kan?” tanya Ben pada Jack.
“Max kemana sih dengan kostum seperti itu?!” tanya Alex yang ternyata ikut berlari menyusul Max tapi berhenti di tempat Jack dan Ben.
Max sudah masuk ke mobil mereka dan memacunya dengan kecepatan orang gila.
“Ada sesuatu yang terjadi? Max menarikku keluar dari mobil dengan paksa.” tanya Micky mendadak muncul dari arah garasi dengan tampang senuk serta bingung.
Keempat cowok itu saling bertatapan kemudian mengerti sendiri dan saling melempar senyum bodoh.

“Karena anak bodoh itu kabur, kita tidak jadi foto,kan.” tutur Micky memulai.
“Jadi kita juga bisa pergi dari sini kan.” sambung Ben yang audah mulai cekikikan.
“Kalian mau pergi denganku?” tanya Jack belaga naif. Padahal dalam hati sudah tahu Ben dan Micky dengan senang hati mengekorinya.
Alex memukul dahinya dan mengeleng kepala berkali-kali, “Sana pergi, laporkan padaku apa yang terjadi. Aku akan menjelaskan keadaan pada manager dan orang-orang di dalam.” usir Alex lalu melempar kunci mobil Alphard pada Micky.

Di Depan Apartment Zee

Max memakir mobilnya sembarangan, buru-buru lari menaiki tangga, dan mendorong pintu rumah Zee yang ternyata tidak dikunci.
“Zee!” panggil Max terengah-engah.
Ia memanggil sekali lagi sambil mengitari rumah cewek itu. Tapi cewek bodoh itu tidak ada di sana. Baik di kamar, dapur bahkan beranda depan.
“Brengsek dimana dia?!” teriak Max marah. Dipukulnya pintu rumah Zee saking kesalnya.

Ia mulai putus asa dan panik. Dimana ia harus mencari Zee, ia tidak mengenal seorangpun teman Zee atau saudara cewek itu.

“Kamu mencari Kak Regina?” tanya anak kecil yang duduk di atas sepeda roda tiga.
Itu Darren, anak tetangga mereka yang biasa dititipi hamster oleh Zee. Max juga mengenalnya tapi ia tidak terlalu akrab. Namun ia terlalu putus asa untuk mencari Zee. Kalau seandainya Darren tahu sesuatu tentang Zee maka lebih baik ia mengangguk dan bertanya pada anak ini..
“Kak Regina di RS Harapan.” tutur si anak kecil itu.
Muka Max berubah seputih kertas.

Tanpa bertanya lebih lanjut apa dan bagaimana cewek itu bisa ada di rumah sakit. Max melompati beberapa anak tangga sekaligus lalu masuk ke mobilnya, baru sadar ia tidak menutup pintu mobil itu tadi.

Kemudian, ia menancap pedal gas sedalam mungkin, meninggalkan deru debu dan suara mendecit kencang.

Ya Tuhan, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Zee? Kenapa ia bisa meninggalkan cewek itu sendirian kemarin? Tunggu! Zee bersama Brian, kan? Dimana cowok itu? Brengsek, seharusnya ia tidak percaya pada Brian begitu saja. Seharusnya ia kembali tadi malam dan tetap menjaga Zee. Setidaknya sampai kaki Zee sembuh.

Ia harus menelepon teman-temannya, mengumpulkan bantuan sebanyak yang ia bisa.

“Jack, Tolong telepon dokter Tedjo, dia praktek dimana hari ini. Kamu dengan Micky?”
Max mendengar suara teman-temannya menjawab hadir dengan serempak. Kalau saja ia tidak dalam keadaan kalut, ia pasti akan mengatai teman-temannya itu konyol.
“Aku perlu bantuan Yunna, Zee ada di RS Harapan. Bisa tolong cari tahu di kamar berapa?”
Micky mengiyakan dan hubungan telepon terputus. Pikiran Max sudah macam-macam dan tidak ada di antaranya yang membuat ia merasa tenang.
“Brengsek Zee! Aku baru meninggalkanmu semalam dan sekarang kamu di Rumah Sakit?!” maki Max tidak jelas kepada siapa. Mungkin pada dirinya sendiri yang teledor. Mungkin juga pada Zee yang sama sekali tidak bisa dipercaya untuk menjaga dirinya sendiri.
Ia meninju stir mobilnya berkali-kali dengan keras. Kemarahannya lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Marah karena lagi-lagi gagal menjaga cewek itu.

Ia sampai di lobby rumah sakit dan lagi-lagi meninggalkan mobilnya di tengah jalan lalu langsung menerobos pintu UGD dan berteriak, “Regina Sundoro dirawat dimana?”

Seluruh orang di ruangan itu menatapnya, ada yang bingung, ada yang hanya tertarik tapi tidak seorang pun menjawab pertanyaannya.
Jadi ia kembali berteriak dengan lebih lantang, “Regina Sundoro? Dimana?”
Tidak sabar, Max mulai menyibak tirai demi tirai, mencari Zee.
“Max, itu kamu?” tanya Zee yang mendadak muncul dari tirai yang lain. Berjalan menuju Max dengan tongkat dan dengan tidak sabar Max berlari menuju Zee kemudian mengecek tangan, kaku serta wajah Zee.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Max khawatir, takut kalau ada yang dilewatinya.
“Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan baju kamu? Kamu sedang menjadi Harry Potter?” tanya Zee mengenai jubah yang dipakai Max serts dandanannya yang menyeramkan, mascara, eyeliner hitamnya luntur bercampur keringat, membuat kesan menyeramkan makin nyata.

Max mendengus, sempat-sempatnya cewek itu menanyai pakaiannya padahal cewek itu sendiri tidak lebih baik darinya.
“Kamu sakit?” tanya Max kembali.
“Aku mengantar Mama Darren, perutnya mulas-mulas katanya. Darren datang dan berteriak panik kalau mamanya itu mau melahirkan, jadi aku ikutan panik dan melempar handphone, menyusul Darren ke apartmentnya.”
Penjelasan berikutnya tidak disimak dengan baik oleh Max. Rasanya ia baru saja dibebaskan dari himpitan batu besar dan bisa kembali bernafas dengan normal.
Ia lega mendengar Zee berbicara dengan bawel di hadapannya, lalu bisa memasang tampang galak karena menyadari dirinya sama sekali tidak menyimak ucapan cewek itu.

“Kamu denger tidak sih?” bentak Zee akhirnya, sambil bertolak pinggang juga.
Max tertawa lagi. Rasanya luar biasa lega. Tanpa menjawab Zee, ia membalikkan badannya, berjalan keluar ruangan membiarkan Zee terus mengekorinya sambil marah-marah.
Max dengan acuh mengetik sms pada Jack, memberitahu teman-temannya itu kalau semua masalah sudah aman terkendali, ia akan kembali ke studio.

“Max! Kamu kemana kemarin?! Jawab dong! Cape nih!”
Max menoleh pada Zee, mereka sekarang sudah berdiei di depan mobilnya, dengan santai Max membukakan pintu dan cewek itu dengan bodohnya masuk ke dalam, terus mengoceh. Dan Max sama sekali tidak merasa terganggu.

Max melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak tahu Zee itu bodoh betulan atau memang otaknya tidak terpasang dengan baik. Tapi cewek itu baru sadar kalau ia sudah menculik Zee dan membawa cewek itu ke tempat kerjanya.
“Kita dimana Max?” tanya Zee saat ia berdiri di depan studio abu-abu.
“Masuk dulu.” ujar Max penuh rahasia.
Zee menolak dengan dengusan dan ocehan panjang yang tidak diindahkan oleh Max.
“Terserah kamu. Aku mau masuk.” ujar Max mulai menaiki tangga menuju pintu masuk. Ia mengitung dalam hati,
1….
2…
Ti….

“Max, tunggu dong! Aku masih pincang, dodol!” sembur Zee marah-marah tapi mulai menaiki tangg menyusul Max. Ia kerepotan mengotong tongkatnya karena tangga itu cukup tinggi.
Zee tertegun sesaat saat Max mengambil tongkat dari tangannya dan kembali naik.
Dasar cowok jahat, gugam Zee dalam hati dan ia menjulurkan lidah ke punggung Max. Tapi dalam hati senang luar biasa karena cowok itu sudah kembali. Tidak penting apa alasan cowok itu tidak pulang semalam. Ia tidak peduli, Max mempunyai kehidupannya sendiri dan ia menghargai itu. Yang penting, cowok itu tetap membagi sedikit waktu untuknya.

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 12

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s