M to Z – Tie 13

Zee terkejut ketika melihat isi ruangan yang dimasukinya. Bagaimana tidak, di dalam sana setidaknya ada 30 orang hilir mudik, puluhan lampu sorot dan ia tidak perlu menjadi genius untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat ini.
Zee mulai berdiri ketakutan di samping pintu masuk tapi juga begitu penasaran dengan kerumunan di pojok kanan sana. Tempat rias para model atau artis.

“Kamu yang bernama Zee?” tanya seorang cewek dengan rambut bersanggul tinggi, kacamata berbingkai merah dan Zee mau tidak mau melirik sepatu yang dikenakan cewek itu. Tingginya luar biasa. Mungkin ada 14cm.
“Max memanggilmu.” ujar cewek itu mengembalikan perhatian Zee pada wajah si pembicara.
Zee mengangguk bingung, untuk apa cowok itu memanggilnya? Tapi dengan menurut ia menghampiri sudut kanan tadi dan di dalam sana ia bisa melihat beberapa cowok sedang di make-up. Tanpa sadar ia memperhatikan setiap pulasan dan tarikan kuas yang dilakukan oleh si make-up artist.
“Anda disuruh ke sana.” tuntun si cewek kacamata yang masih tidak memperkenalkan diri pada Zee dan dengan enggan Zee kembali mengikuti cewek itu.
“Silahkan.” ujar si cewek itu sambil menyodorkan kapas serta cairan pembersih make-up.
Zee memandang bingung pada tangan cewek itu lalu pada Max lalu ke wajah cewek itu yang mulai terlihat tidak sabar.
“Kamu make-up artist yang dijemput Max kan? Tolong segera bekerja, kami tidak bisa menunda lebih lama lagi photoshoot ini. Cameraman sudah marah-marah di depan sana.” sembur cewek itu galak.

Buru-buru Zee meletakan tongkatnya dan mengambil kapas lalu mulai membersihkan make-up Max. Sesekali ia memberi tatapan bingung pada Max tapi cowok itu malah belaga tidak tahu.
Dengan pasrah Zee menerima perintah dan keluhan si cewek kacamata bahwa Max itu harus tampil sanggar bukan menakutkan dan menyuruhnya mendandani Max sesuai perintahnya.
Zee sebagai make-up artist merasa jengah. Bagaimanapun juga ia seorang yang professional  di bidangnya. Amat menyakitkan mendengar cewek itu terua menerus mengomentarinya.

“Aku bilang jangan terlalu tebal alisnya.” keluh cewek itu.
Zee meletakan pencil alisnya dan memelototi cewek itu galak, “Bagaimana kalau kamu menunjukan padaku caranya?” tanya Zee luar biasa jengkel. Ia sudah tidak bisa mentolerir cewek itu lagi.  “Tidak? Kalau begitu tinggalkan aku sendiri kalau kamu tidak ingin aku mengubah wajah Max menjadi Frankenstein!” tandas Zee lagi.
Terkejut, cewek itu membuka mulut lalu kembali menutupnya kembali dan pergi sambil menghentak-hentakan kakinya.

“Jangan tertawa Max! Seharusnya kamu membantuku tadi! Heran bagaimana mungkin kamu bisa sabar dengan cewek tukang atur itu?!” oceh Zee yang membuat Max tertawa terpingkal-pingkal.
“Oh diamlah! Atau kamu memang ingin aku ubah menjadi sejelek muka bionic?” celetuk Zee tetap kesal.
Walau begitu Max bisa merasakan perbedaan tarikan tangan Zee. Sepeninggalan Cynthia, cewek galak tadi, Zee lebih rileks dan leluasa dalan mendandaninya. Sapuan kuas terasa lebih luwes dan terarah. Tidak ada gerakan ragu-ragu atau kesalahan berarti.
Mata Zee yang begitu serius membuat Max menjadi pendiam. Ia bisa melihat pantulan dirinya di mata Zee dan entah kenapa ia ingin tetap mata Zee hanya dipenuhi olehnya.

Mungkin ia bisa meminta Zee utnuk menjadi stylist pribadinya? Pasti menyenangkan bisa menyuruh-nyuruh Zee dengan kekuasaan mutlak.
“Sedang melihat apa Max? Kamu tidak menemukan ingus atau upil di hidungku kan? Aku akui aku terlalu banyak menangis tapi itu juga…”
Zee tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena lagi-lagi Max tergelak dengan tubuh terguncang, membuat Zee tidak bisa melanjutkan pekerjaannya kecuali cowok itu berhenti tertawa.
“Max, stop, kamu boleh tertawa setelah aku memasang ini padamu!” perintah Zee dan begitu Max terdiam, ia memenempelkan bros salib di jubah Max. Bros yang diambil dari bajunya sendiri.
Zee tersenyum puas. Tidak peduli kalau ini hanya pekerjaan satu kali atau Max hanya memperalat dirinya. Ia senang bisa memegang kuas dan merias lagi. Ia diminta menunggu di dalam ruangan tersebut karena ia hanya orang luar dan alasan kerahasiaan perusahaan.
Merasa jenuh, ia mengotak-atik peralatan make-up yang ada di sana, mencoba sendiri beberapa warna yang ada pada dirinya. Bosan dengan alat make-up, ia mengotak-atik kostum serta pakaian yang digantung. Mentertawakan beberapa pakaian yang dinilainya aneh.
“Kamu masih di sini?” tanya cewek kacamata yang entah muncul darimana.
Zee terkejut bukan main dan karena membalikan badan dengan tiba-tiba, ia sedikit oleng. Tapi dengan sigap ia menahan dirinya dan menghela nafas lega.
“Cih, Ku pikir kamu akan terjatuh. Tapi syukurlah. Ini alamat kantorku. Hasil pekerjaanmu luar biasa. Maaf tadi aku bersikap menyebalkan. Aku pikir kamu orang yang mengandalkan koneksi untuk bekerja.”

Zee memerjap mata berkali-kali dan membaca kartu nama cewek itu. Cynthia Laudra, owner Psy Art.
Belum sempat pulih dari keterkejutannya, Zee kembali melongo melihat cewek bernama Cynthia ia menghampiri Max lalu mengandengnya.
“Kamu membuatku panik tahu, dengan mendadak pergi seperti tadi. Lain kali biar supir saja yang menjemput Zee. Dan aku setuju untuk mempekerjakan dia. Hasil dandananmu hari ini bisa dibilang yang paling memukau.”

Zee bisa dibilang kehilangan arwahnya saat itu juga. Ia tidak pernah menyangka Max sudah memiliki pacar dan Cynthia pasti pacarnyakan? Kalau tidak Max tidak mungkin membiarkan cewek itu dengan santai menyentuh lengan Max, mengusap paha cowok itu dan bersandar manja di pundak Max.
Zee merasa tubuhnya mengeleyar muak, dan merinding melihat keintiman dua orang itu. Diam-diam ia berusaha keluar dari ruangan. Ia tidak perlu melihat dua orang itu bermesraan!

Zee berhasil meninggalkan tempat Max tanpa membuat kegaduhan. Ia sudah berada di luar gedung ketika menyadari tongkatnya tidak ada.
“Auuhh, pasti ketinggalan di dalam! Nope, aku tidak Kan kembali ke dalam. Karena aku sudah berhasil berjalan keluar tanpa benda itu, berarti aku sudah cukup sembuh!” ujar Zee berbicara sendiri.

Ia menuruni tangga sambil terus menunduk ke bawah. Merasa takut juga kalau-kalau ia terjengkak ke bawah. Bisa-bisa kakinya patah betulan. Sementara konsentrasi pada langkah kakinya. Seorang cowok menghampiri Zee.

“Regina? Kamu Regina kan?” tanya cowok berewokan dengan tatto menyeramkan di lengannya.
Zee memekik terkejut tapi berganti masam begitu menyadari kalau orang itu adalah Fendy, temannya satu kuliahnya di Canada.
Are you trying to kill me? Stop mocking me!” gerutu Zee sebelum mereka saling mencium pipi kiri dan kanan, layaknya kebiasaan mereka di sana.
“Kamu bekerja di sini sekarang? Kenapa tidak mencariku? Kamu kan tahu aku tinggal di sini.” tanya Fendy takjub, “Dan kenapa kakimu?”
“Tidak untuk pertanyaan pertama, dan panjang ceritanya untuk pertanyaan kedua dan ketiga.” jawab Zee riang. Langsung lupa mengenai tongkatnya dan pergi dengan Fendy.
Fenfy membantu Zee naik ke atas motor dan membantunya turun lagi ketika mereka sampai di restaurant spaghetti.
Sore itu dihabiskan Zee dengan bercerita macam-macam dengan Fendy sampai topik pekerjaan diungkit.

“Jadi Cynthia mengundangmu?” tanya Fendy antusias
“Begitulah, tapi aku akan menolaknya. Dia cerewet sekali.” keluh Zee polos.
Fendy tertawa dan pastilah. Siapa yang tidak merasa lucu kalau melihat tampang Zee yang kesusahan seperti ada 1000 jarum di pantatnya.
“Gajinya lumayan lho. Dan Cynthia tidak pernah nongol di setting kalau sedang sibuk berpacaran. Kalau aku lihat sih, Max itu incarannya sekarang. Makanya dia bisa nongol di sini.”

“Apa itu nongol?” tanya Zee bingung.

“Muncul. Bahasa Indonesiamu masih kacau balau yah?” ledek Fendy.
Zee mengaduk isi piringnya malas-malasan. MEndadak ia kehilangan nafsu makannya.
“Pikirkan saja dulu, kalau tidak mau kamu bisa mencoba menjadi freelancer kok. Aku akan memanggilmu setiap kali ada job sampingan. Ok?” tutup Fendy dan selesai.

Zee tidak bisa membahas hubungan Max dengan Cynthia lagi. Walaupun ia mencoba berkali-kali, Fendy selalu berhasil mengalihkan pembicaraan dengan baik. Meninggalkan perasaan jengkel dan penasaran yang menyiksa.

“Pikirkan baik-baik yah.” ujar Fendy setelah cowok itu menurunkannya di depan apartment Zee.
Zee melambai malas-malasan pada teman lamanya itu dan melangkah pelan sambil menyeret kakinya.

“Cewek bandel! Kemana saja kamu seharian?” teriak Max dari beranda rumahnya
Zee menoleh ke atas dan menunduk kembali. Rasanya ia menjadi malas meladeni candaan bodoh Max. Pelan-pelan ia menaiki tangga. Tanpa tongkat, ia menghabiskan waktu lebih banyak dari biasanya. Karena ia harus bersandar sepenuhnya pada tiang pinggiran tangga.
Harusnya sih ia bisa menduga Max tidak akan membiarkan dirinya istirahat dnegan tenang. Cowok itu melompat persis ketika Zee sampai di ujung tangga. Zee memekik kaget dan refleks memukuli Max dengan tasnya.

“Hoy…. Hoy…..!!!!” teriak Max kelabakan. Niatnya mau mengerjai, malah dia yang babak belur.
“Rese lo, Max!!!!” maki Zee.
“Wow! Pergi sehari dengan cowok itu, pulang-pulang sudah bisa bicara kasar. Nanti tunanganmu kabur lho….” ledek Max berhasil mengalihkan rasa penasarannya menjadi candaan seperti biasa.
“Biar! Fendy itu cowok baik-baik. Lagipula bukannya aku juga sudah sepantasnya berbicara dengan gue-elo? Kalian semua berbicara seperti itu tadi.”

Zee memasukan kunci rumahnya tapi Max menahan tangannya dan merebut kunci tersebut dari Zee. Membukakan pintu dan mempersilakan Zee masuk.
Dengan sebal, Zee masuk ke dalam rumahnya. Ia menepis tangan Max yang diulurkan untuk menopangnya.
“Aku bisa sendiri. Bahkan aku tidak memerlukan tongkat busuk lagi.” gerutu Zee.
“Oh yah? Sayang sekali, padahal aku khusus datang untuk mengembalikan kamu tongkat busuk itu.” ujar Max menunjuk tongkat Zee yang sudah disandarkan di pintu.
Muka Zee kontan berubah merah padam. Tidak terpikir olehnya kalau Max akan menyadari tongkatnya tertinggal lalu mengantar tongkatnya sendiri. Bukankah Max punya manager atau staff yang bisa disuruh-suruh.

Ia merasa terharu akan kepedulian Max. Tapi karena gengsi, Zee mengacuhkan cowok itu, ia duduk di kursi dan melepas balutan kakinya. Tapi seperti biasa cowok itu bahkan tidak membiarkan ia mengurus dirinya sendiri. Tapi entah, perhatian Max kali ini rasanya tidak menyenangkan. Ada sesuatu yang mengiris di hatinya dan membuatnya sulit bernafas.

Ia menatap kepala Max yang menunduk di hadapannya dan seketika ia merasa bodoh dan kesal. Dipukulnya kepala Max tanpa peringatan dan mengacuhkan erangan cowok itu.
“Kenapa sih?!”
“Pulang, aku tidak mau melihat kamu lagi.” usir Zee.
Inginnya ia berdiri dan menendang Max tapi kakimya sakit dan cowok itu berdiri di hadapannya. Tinggi menjulang dan membuatnya takut.

“Kamu marah? Kenapa?” tanya Max dengan tampang bingung.
Zee perlahan menundukan kepala, menanyakan juga pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Kenapa ia marah pada Max?

Perasaan dongkolnya muncul sejak cowok itu secara tidak langsung sudah menyodorkannya ke Cynthia, menganggap ia memerlukan bantuan untuk mencari pekerjaan. Tapi rasanya perasaannya juga memburuk waktu ia melihat Max dan Cynthia begitu akrab. Dan semua menjadi semakin parah, karena Max, manusia purba ini masih begitu peduli padanya.
“Pulang Max. Aku betul-betul tidak ingin melihatmu…”
“Selamanya?”
Zee terdiam, ia tidak punya jawaban yang jelas. Ia hanya tahu berada bersama Max saat ini, membuatnya uring-uringan.
“Selamanya Zee?” ulang Max dengan nada menusuk..\
Zee masih tidak berani menatap Max.
“Kamu betul-betul tidak membutuhkan aku? Bahkan untuk melakukan ini?” Max mulai memijit kaki Zee.

Dan sungguh rasanya enak luar biasa. Kakinya terasa enteng dan rasa lelah menghilang begitu saja.
“Yakin kamu tidak membutuhkan aku bahkan kalau ternyata aku punya tiket konser Britney Spears untuk minggu depan?” tanya Max lagi tapi suara cowok itu sudah lebih riang dan terlihat sekali niat isengnya. Karena cowok itu tahu betapa Zee mengidolakan musisi tersebut.
Zee mengerang, “Tidak! Bahkan kalau kamu membawa satu set make-up Bobby Brown untukku. Aku tidak mau melihatmu lagi, untuk sementara ini.”

Percuma, erang Zee dalam hati. Max sudah melihat keraguannya. Ia memang cewek bodoh yang mudah terbujuk. Tapi sial, cowok itu terlalu mengerti dirinya, kelemahannya dan tahu kapan harus menekannya.
My last wish, kamu masih berutang padaku kan.” ujar Max mengingatkan perjanjian sepeda mereka.
Zee menunduk dan terdiam. Ia terjebak. Janji adalah hutang, itu yang selalu diajarkan neneknya dan ia tidak mau berhutang.
Lagipula kalau dipikir-pikir pergi nonton konser masih lebih baik daripada permintaan lainnya. Mumpung cowok ini menginginkan sesuatu yang bisa ia nikmati, lebih baik ia segara menyetujuinya.
Max beranjak dari hadapannya setelah mendengar persetujuan Zee. Dan Zee pikir cowok itu sudah keluar rumah ketika i menoleh dan mendapati Max sedang menatapnya. lagi-lagi dengan tatapan aneh yang rasanya memotong-motong diri Zee, jiwa Zee dan mengubahnya menjadi busa.
“Sampai jumpa minggu depan Zee.” ujar Max masih sempat menyunggingkan senyum baru keluar.

Zee tidak mengerti kenapa rasanya senyuman Max tadi begitu menyakitkan. Membuat ia ingin memanggil cowok itu kembali dan menarik omongannya yang berkata tidak menginginkam cowok itu.
Tapi ia terlalu takut. Max sudah memiliki Cynthia, ia sudah mempunyai Brian. Untuk apa ia mengacaukan semua itu? Hanya karena ia menginginkan Max tetap ada untuknya? Apa sekarang ia benar-benar menjadi cewek egois?
Ia bahkan lupa menanyakan alasan cowok itu meninggalkannya kemarin.
Lamunan Zee terputus dengan suara telepon masuk.
Dari Brian, cowok itu mengajaknya kencan malam ini. Pergi main bowling.
Perasaan riang langsung menyebar di seluruh tubuh Zee. Sudah lama sekali ia tidak bermain bowling dan ia senang karena Brian mengingat olahraga satu-satunya yang disukai Zee itu.
Tapi kemudian ia melirik kakinya.

“Tidak apa, kaki ini sudah sehat. Aku tidak perlu membawa tongkat lagi, dan sejak kapan bowling memerlukan kaki?” ujar Zee berbicara sendiri.


 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 13

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s