M to Z – Tie 14

Ben, Jack dan Micky sedang di ruang latihan ketika melihat Max datang. Sudah 2 hari ini mereka tidak melihat Max. Sejak kedatangan Zee ke studio pemotretan mereka. Tadinya mereka ingin meledek bayi besar mereka ini dengan membahas Zee. Tapi Max dengan acuh melewati mereka dan langsung menuju ruang loker.

“Kenapa lagi dengan dia?” tanya Micky, pikirnya Jack dan Ben bisa memberi jawaban bukan ikutan menatap pungung Max bingung.

Setelah menunggu beberapa menit, Max masih juga belum kembali. Membuat mereka kembali berspekulasi tentang Max – bayi besar mereka.

“Dia pasti di ruang sauna.” gugam Ben mengungkit kebiasaan lama Max yang suka mengunci diri di ruangan panas ketika sedang resah.

“Aku pikir dia sudah melupakan ruang penyiksaan itu karena belakangan Max banyak tertawa dan lebih sering bercanda dengan kita.” tutur Micky prihatin.

“Kira-kira ada apa dengan Max?” tanya Jack sedikit mengeram. Ia tetap mengangkat hand bar seberat 30kg di tangan kanannya.

“Pasti ada sesuatu. Denger-dengar dia mengambil drama detektif itu.”

“Drama? Bukannya Max bilang dia sudah kapok?”

“Pokoknya jangan suruh aku berakting lagi!” tiru Micky dengan sempurna.

“Eh, eh terus cewek yang kemarin itu. Menurut kalian bagaimana?” tanya Ben tiba-tiba antusias. Sampai melepaskan handspring yang ia tarik sedari tadi kemudian duduk di sebelah Jack.

“Itu Zee kan?” sosor Ben.

“Seharusnya, tapi si Max kelihatan cuek sama dia.”

“Eh siapa bilang?! Kamu tidak dengar cekikikan dia waktu Max masih dirias. Aku  yang duduk di seberangnya sampai bengong.”

“Serius? Kita masih ngomongin Max kan? Cowok sok macho plus sok ja-im kalo di depan cewek itu cekikikan?”

“Malah iseng banget!” sembur Micky. “Tuh cewek juga hebat banget deh berdebatnya. Aku rasa dia agak mirip Yunna.”

“Maksudnya kejam dan licik?” tanya Ben sinis. Hanya dia yang masih sulit menerima pacar Micky itu.

“Bukan seperti itu! Cewek smart Kamu harus dengar cara cewek itu bersilat lidah, konyol tapi efektif. Dan, HEY! Kenapa kamu mengatai Yunna kejam dan licik!!”

“Tapi kelihatannya dia ceroboh sekali dan heboh. Kalian lihat rambutnya?” tutur Ben jujur dan menerima pitingan Micky karena sudah mengatai pacar temannya itu. Ia memang sering cari gara-gara untuk meledek temannya yang satu ini. Dan Yunna selalu bisa membuat Micky ‘panas’.

“Yang berarti tidak ada mirip-miripnya dengan Keiko?” tanya Jack semakin bingung. Tapi temannya itu memyetujui. Membuat mereka bertiga terdiam, berusaha menganalisa lagi semua informasi yang mereka punya.

 

“Tahu yang paling menarik? Max tidak pernah meninggalkan Zee di luar pengawasannya. Tahu sendiri kan kemarin itu si Max bisa-bisa nya kasih alasan kalau Zee tidak boleh ikut melihat pemotretan kita dan mengurung cewek itu.”

“Aku tidak pernah melihat Max overprotektif seperti itu. Apa dia…?”

Ben tidak perlu mengungkapkan dengan jelas kalau Max takut hubungannya dengan Zee terekspose. Jack sudah mengangguk untuknya.

“Masalahnya kembali menjadi ribet yah….” gugam Micky.

“Sebetulnya kita kenapa sih? Kenapa kita tidak pernah jatuh cinta dengan sesama artis?” tanya Ben lebih merasa heran dibanding menyesal.

“Karena kita bosan menjadi sorotan. Memangnya kamu mau setiap kali keluar, pacar kita dikejar-kejar wartawan? Atau seperti aku dan Yunna, yang harus selalu memasang bodyguad kemanapun kita pergi.” seloroh Micky mengenai pengalamannya sendiri.

“Yah, cewekmu sih jangan dibahaslah. Mungkin Yunna malah menganggap acara pengusiran dan melarikan diri dari paparazi sebagai olaraga tambahan.” celetuk Ben, meledek keanehan Yunna.

“Masih mending seperti itu lah, dibanding aku dengan Keiko coba? Sembunyi-sembunyi terus. Kamu sih enak, pacarmu jauh di Milan.” balas Jack membela Micky.

 

Pembicaraan mereka semakin melantur hingga menjadi perdebatan-perdebatan bodoh sampai Max muncul. Cowok itu keluar dengan singlet kedodoran, tubuh basah dengan keringat dan senyum cerah dan langsung meledek Ben, “Kalaupun pacarmu di sini, memangnya kamu peduli kalian akan menjadi sorotan atau tidak?”

“Kamu dengar pembicaraan kita?” tanya Ben was-was.

“Hanya bagian terakhir. Kenapa?” balas Max ikutan waspada.

“Tidak, aku pikir kamu dengar bagian Ben menyamakan dirimu dengan Yunna.”olok Jack dengan cepat menyelamatkan situasi.

“Heiii…… Kenapa kalian ngomongin Yunna seakan-akan dia cewek bermasalah sih?” tegur Micky tidak senang.

“Yunna memang cewek bermasalah, Micky….. Satu-satunya cewek yang bisa menganggap usaha penculikan  sebagai ujian mental.” ledek ben mengungkit kesalahpahaman mereka dulu.

“Hei…. Jangan salahkan dia. Dengan status dia sebagai pewaris dan anak politikus, sudah lumrah dia mengalami semua itu. Malah aku bersyukur dia menanggapinya dengan sikap positif seperti itu!”

“Kalau ngomong soal sikap positif, Zee tidak ada yang bisa menandingi deh. Dia pernah nyaris lumpuh tapi tetap meledek dan mengerjai orang lain.” celetuk Max tiba-tiba.

Menyadari teman-temannya memperhatikan dia dengan seksama, Max menyadari sesuatu.

“Barusan Aku tidak menyebutkan nama cewek itu kan?” tanya Max dengan tampang putus asa.

“Iyah. Barusan kamu menyebut nama Zee!” teriak ketiga temannya itu dan langsung mengolok-olok Max.

“Bilangnya tidak suka…..”

“Katanya cuma teman…..”

“Makanya, kan sudah dibilang, jujur sajalah.”

“Aku memang menyukai Zee. Sebagai teman. Kalian lupa kalau Zee sudah punya tunangan. Lalu apa sih salahnya memuji temanmu sendiri?” tutur Max membela diri mati-matian.

Serempak ketiga cowok itu berteriak, “Teman tidak mencari temannya setiap beberapa menit sekali!!!”

“Astaga? Kapan aku melakukannya?” erang Max.

“Waktu Zee masuk ke studio.” jawab Jack

“Waktu cewek itu celingukan, mencari kamu.” jawab Ben.

“Pas pemotretan juga kamu tidak fokus. Bolak-balik melototin pintu!” tambah Micky.

“Betul-betul….” teriak mereka.

Max cuma bisa melongo melihat 3 temannya yang terlalu senang memiliki bahan baru untuk meledeknya.

“Jadi kalian menyukai Zee?”

“Lho, memangnya kamu takut kita tidak menyukai Zee?” tanya Ben tidak mengerti lalu kemudian sadar itu cuma akal-akalan Maz untuk mengalihkan pembicaraan. “Sejak kapan pendapat kkta penting!”

Ben menyergap Max, walau cowok itu jauh lebih besar dan lebih tinggi. Max tidak dipanggil bayi besar tanpa alasan. Umur boleh yang paling muda tapi juga yang tumbuh paming subur.

Dicekal oleh Ben, Max hanya tertawa bodoh. “Yah tidak juga. Aku hanya tidak merasa kalau aku menginginkan Zee lebih dari sebagai teman. Kepedulianku padanya memiliki banyak sebab. Aku lupa cerita kalau kaki dia pincang gara-gara aku tidak becus mengajari cewek itu bersepeda.”

“Jadi maksudmu seperti rasa bersalah dan tanggunh jawab begitu?” tanya Micky tidak percaya.

“Kurang lebih.”

“Lalu kenapa kamu….” pertanyaan Jack terputus. Ada orang lain memasuki gym.

“Max……” sapa Cynthia dengan suara melengking. “Kamu di sini?”

Dan cewek itu berbicara dengan Max sambil menarik cowok itu untuk menjadi trainer pribadinya.

Max dengan pasrah, mengikuti Cynthia. Taoi sempat melempar tataoan jengah dan malas pada ketiga temannya. Membuat mereka tertawa.

Micky memberi kode kalau mereka akan kembali duluan pada Max. Bersama-sama memasuki area locker.

Micky berhenti di locker yang bukan miliknya dan mengeluarkan kunci dengan gantungan aneh beebentuk bola dunia.

“Itu punya Max?! Kapan kamu memgambilnya?” seru Ben yang langsung disuruh diam oleh dua temannya.

Micky membuka loker dan mengobrak-abrik isi tas Max. Seperti biasa tas cowok itu berisi banyak barang, seperti kantong doraemon. Ia menarik saru benda. Handphone Max.

“Aku penasaran banget apa yang dikerjakan Max dengan handphonenya ini. Max terlalu sering memeganginya sekarang.” ungkap Micky menjelaskan tindakannya.

“Cek inbox-nya!” usul Ben kembali memekik. Jack sampai menutup mulut Ben dengan tangNnya untuk membuat temannya ini tenang.

Bertiga mereka mengerumi handphoneax dan mencari nama Zee atau Regina di sana.

“Aneh tidak ada sms dari cewek itu 3 hari belakangan ini.”

“Berarti sejak pemotretan dong? Mereka ribut ya?”

“Mungkin saja. Makanya Max megangin HP terus, menunggu telepon dari Zee.” dukung Jack.

“Tapi aku melihat dia mengetik kok bukan sekedar melihat.”

Tidak puas mengecek inbox, Micky mencoba di folder lain, draft misalnya. Begitu terbuka, tiga cowok itu saling melirik dan buru-buru membuka file tersebut satu per satu.

Isinya kurang lebih sama, menanyakan kabar orang itu, sedang apa, lalu menceritakan kegiatan Max. Termasuk candaan-candaan tidak penting.

Tidak ada keterangan kepada siapa semua tulisan itu dituju. Tapi tidak sulit menebak untuk siapa. Karena Max menjuluki cewek itu dengan Red.

“Si bodoh itu!” ucap Ben gemas.

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 14

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s