M to Z – Tie 15

“Max itu betul-betul jadi bodoh yah kalau sudah menyangkut urusan percintaan dan dirinya sendiri.” komentar Ben setelah mereka mengembalikan HP Max ke tempatnya.

“Kayak kamu pintar saja!” ujar Micky duduk di lantai sambil minum. Di sampingnya Jack sibuk dengan hp-nya, membuat Micky sedikit tergangu. “Jack, jangan sms sama Keiko melulu dong. Kasih saran kek!”
“Aku sedang sms-an dengan Zee.” jawab Jack dan dalam sekejap 2 temannya itu menghimpitnya dan ikut membaca tulisannya dengan Zee.
“Kamu kenalan dengan dia?” tanya Ben bingung bagaimana Jack bisa seberani itu menghubungi cewek Max. Litteraly.
“Aku bilang, aku teman Max. Mau minta tolong untuk diambilkan barang yang ketinggalan.”

“Memangnya ada barang Max yang tertinggal?” tanya Ben bingung. Max kan selalu rapi dan teliti.

“Pasti ada.” jawab Micky tidak sabar. Pertanyaan Ben itu sama sekali tidak penting.
“Terus dia jawab apa?” tanya Ben, padahal ia bisa baca sendiri kalau si Zee tidak percaya omongan Jack dan menuntut Jack membuktikan identitasnya.
“Tulis saja, kamu tahu Max sering mengigau kalau tidur.” usul Micky dan dituruti oleh Jack.
Balasannya langsung tiba. Zee tidak percaya, alasannya sederhana, info seperti itu bisa di dapat di internet. Max memang pernah menyebut masalah tidurnya di acara TV. Dibocorkan oleh Ben juga.
“Tuh, cewek pintar kan?” puji Micky mengingatkan teman-temannya soal pandangannya tentang Zee
“Coba yang ini,” Ben mengambil hp Jack dan mengetik, Max paling pintar masak nasi goreng sosis.
“Nah yang ini pasti cukup.” ujar Ben yakin.
“Itu cewek ngetiknya cepat banget!” komentar Micky ketika sms balasan masuk kembali. Dan mereka sama-sama ketawa.
Jawaban Zee: “Sial, jangan ngomongin masakan dong! Nyindir banget sih kalau aku tidak bisa masak! Too bad, masih tidak meyakinkan. Begini deh, kuku kaki Max panjang atau pendek?”
“Kuku kaki? Ini cewek betul-betul gila! Bagimana? Kuku kaki Max panjang atau pendek?” tanya Micky tidak bisa berhenti tertawa.
“Mana tahu! Siapa juga yang lihatin kuku Max. Sudah tebak-tebakan saja. Pendek!” seru Ben dan Jack mengetik jawaban sambil cekikikan.
Jawaban Zee: “X. tenot! Kuku jempol kanan Max panjang! Nah kalian penipu darimana?!”

“Astaga? Serius? Kenapa jempol kaki?” tanya Jack, tapi dua temannya itu malah ketawa. Micky bahkan mulai memukul-mukul botol minumnya ke lantai.
“Panggil max, kita harus lihat sendiri jempol kanannya!” teriak Ben kesenangan.
“Ntar, sekarang kita harus membuat Zee percaya dulu kalau kita memang teman Max.” tahan Jack. Lagi-lagi Ben melantur. Heran, padahal kalau soal kerjaan, Ben selalu fokus malah tidak bisa digangu.
“Sini-sini HP-mu. Kita keluar.” ujar Micky masih sambil tertawa.
Jack dan Ben mengekori Micky dan ketika melihat temannya itu berjongkok di depan Max, mengangkat kaki kanan Max lalu membuka sepatunya dan memotret kaki Max.
Ben dan Jack tertawa menjadi-jadi.
“Hey, kalian ngapain sih?” tanya Max bingung sekaligus heran . Tapi dengan polosnya memakai kembali sepatu san kaos kakinya. Sambil mengekori Micky.
“Kita lagi taruhan soal kuku kakimu! Sudah, balik sono!” usir Micky. Max terpaksa menahan diri, dia tidak bisa pergi karena Cynthia memanggilnya untuk menyetel beban.
Jadi Max cuma bisa memandangi Micky yang kembali ke Ben dan Jack dnegan curiga. Ia akan menanyakan soal ini nanti. Setelah Cynthia pulang. Max yakin, teman-temannya itu pasti sedang melakukan permainan aneh lainnya dan jika itu melibatkan dirinya, tentu Max berhak untuk tahu.

“Sekarang kita kirim fotonya ke Zee.” ucap Micky ketika mereka kembali ke ruang loker. Menanti dengan penasaran kira-kira apa tanggapan Zee.
Mereka sama-sama terkejut ketika HP Jack berdering.
“Zee menelepon?” teriak mereka lalu saling berpandangan.
“Speaker, loudspeaker.” seru Ben menyuruh Jack.

“Hallo….” sapa Jack sedikit terbata-bata.
“Hei…. Tadi kamu bilang nama kamu siapa? Jack? The ripper?” sahut Zee diiringi tawa meledek. Membuat muka Jack masam, itu ledekan paling parah yang pernah ia dengar, biasanya orang hanya menyangkutkan namanya dengan Micheal Jackson.
“Jack doang.”
“Okay, Jack… Doang” jawab Zee lalu kembali tertawa, “Barang apa yang kamu bilang tertinggal? Jaket dia?”
Jack langsung mengiyakan karena ia sendiri tidak tahu apa yang kira-kira bisa tertinggal di tempat Zee.
“Aku kira di mau mengambil kembali tongkat busuknya.”
“Tongkat busuk?” tanya Ben kelepasan.
“Hei!!! Kamu tidak sendiri?”
Ben dipelototi oleh oleh Micky dan Jack karena kecerebohannya. Dan mereka sibuk memarahi dan memukuli Ben dalam diam. Lupa kalau Zee masih di ujung telepon.

 

Tiga cowok itu langsung teringkat kembali dengan Zee ketika cewek itu memanggil. Micky menyuruh Jack yang menjawab dulu
“Ada Micky dan Ben juga di sini. Sorry yah teleponnya di speaker.” kata Jack memutuskan untuk jujur.
Ben dan Micky menyapa bergantian.
“Jadi kurang si muka kecil doang yah?”
“Muka kecil? Maksudnya Alex?” tanya Ben karena diantara mereka berlima, muka Alex memang yang paling kecil.
“Dia menamai kita di depan kamu?” tanya Micky tidak percaya. Dan ia mendengar Zee tertawa lagi.
“Benar. Si muka cewek, cowok mesum dan tukang nangis. Jangan bilang aku yang ngomong yah.” tutur Zee lalu tertawa.
Ketiga cowok itu mengaruk-garuk kepala. Pusing mendengar ledekan Max untuk mereka. Tapi tidak bisa membantah juga.

“Tenang, aku sudah membalas untuk kalian. Aku memanggilnya kepala batu, manusia purba dan doraemon! Bagaimana menurut kalian?”
Mau tidak mau mereka tertawa. Manusia purba? Apalagi yang dilakukan Max sampai bisa mendapat julukan seperti itu. Micky menanyakannya dan jawaban Zee sungguh membuat geli.
“Memangnya kalian tidak merasa dia mirip Obelix yang suka bawa-bawa menhir? Kalian tahu Obelix kan? Asterix?”
Seketika itu juga tawa mereka pecah kembali.
Mereka berhasil memutuskan telepon setelah Jack mengatur pertemuan mereka di RedBox.

 

“Astaga!!! Pantas Max suka sekali padanya!” komentar Jack.
“Kayaknya kita juga sudah lama tidak tertawa sekencang ini. Kalau Zee, aku setuju deh. Max perlu banyak ketawa.” kata Micky.
Dan mereka kembali tertawa.
“Obelix!!!! Max disamakan dengan Obelix!!!!!” kata Ben mengulang ucapan Zee.

Mereka tidak bisa berhenti membahas semua candaan konyol Zee bahkan ketika mereka sedang mandi dan berganti pakaian. Padahak seharusnya Mereka sudah meninggalkan tempat itu sebelum Max selesai berlatih.
“Tenang saja. Cynthia pasti menahan Max selama mungkin. Malah aku yakin, cewek itu akan mengajak Max makan malam atau apalah.” tutur Micky.
“Kasihan sama Max… Dia harus menahan diri mengurusi cewek itu. Tapi Max pasti merasa tidak enak kalau harus mengacuhkan Cynthia.” ujar Ben.
“Dia menganggap Cynthia sebagai partner kerja sih.” dukung Jack.
“Tenang, Obelix bisa mengurus dirinya sendiri.” tutur Ben yang kembali membuat mereka tertawa hingga sakit perut.


 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 15

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s