M to Z – Tie 16

Zee masih tidak percaya kalau dia baru saja bertemu dengan teman-teman Max, bercanda dengan mereka dan menghina mereka layaknya ia menghina teman yang sudah dikenalnya puluhan tahun. Dan sepertinya mereka juga menyukai panggilan Obelix.

Hanya satu yang disesalkanoleh Zee, Max tidak turut hadir. Seandainya saja cowok itu ada di sana, perasaannya pasti lebih baik. Ia tidak bisa menepis rasa kecewa karena Max juga tidak menitipkan pesan apapun pada teman-temannya itu.

“Cowok itu sedang apa sih? Masa dia benar-benar tidak akan mencarinya sampai Hari Minggu nanti? Nonton konser mana bisa ngobrol?”

Zee cemberut, tidak suka mengakui kalau ternyata ia merindukan Max.

Ia menempelkan muka di atas meja riasnya sambil menatap HP. Memutar-mutarkan benda tersebut dengan mengantukannya ke meja.

Nada ketuk yang teratur itu malah membuat Zee semakin gusar.

“Ah, sudahlah, tidak akan ada yang marah kalau aku menelponnya lebih dulu. Aku hanya ingin tahu apa dia sudah menerima jaketnya atau belum.” ujar Zee berbicara sendiri. Kemudian mengangguk dan memencet nomor Max. Ia menunggu dan menunggu tapi lagi-lagi tidak ada yang menjawab. Dengan kesal, Zee melempar ponselnya ke ranjang.

Cowok itu yah, kapan sih baru bisa mengangkat telepon darinya, gerutu Zee dalam hati.

Tapi kemudian ponselnya berdering.

Dalam satu lompatan, Zee mendarat di atas kasurnya. Posisi meja rias itu memang persis di sebelah kanan ranjangnya.

“Max!” seru Zee. Dijawabnya panggilan tersebut dengan terburu-buru tanpa melihat siapa yang menelpon.

Tidak ada yang menjawab, jadi Zee melirik layar HPnya dan spontan menutup mulut dengan tangannya.

“Kamu masih berhubungan dengan cowok itu?” tanya Brian terdengar marah.

“Hmmm….. Kamu kan tidak pernah melarang.” jawab Zee polos.

“Apa aku perlu mengatakan dengan tegas kalau kamu tidak boleh berhubungan dengan cowok lain? Kamu sudah menjadi tunanganku, Zee.”

“Belum kan, Brian? Atau kamu lupa kamu memerlukan pengakuan dariku untuk hal itu?”

“Calon tunangan atau tunangan bagiku sama saja. Itu membuktikan kamu sudah terikat dengan seseorang.”

“Tentu saja berbeda!” tolak Zee.

Mana mungkin calon dengan tunangan dianggap sama? Memangnya nilai bahasa Brian berapa sih? Apa perlu ia menjelaskan masalah ini dengan bahasa Inggris, karena Zee yakin ia sanggup menjelaskannya dengan baik.

“Aku cinta padamu Zee. Aku ingin kamu menjadi istriku.”

Pengakuan Brian terlalu tiba-tiba dan tidak masuk akal kalau menurut Zee. Jadi jangan salahkan Zee, jika ia semakin kesal dan menolak cowok itu lagi.

“Omong kosong! Kita baru bertemu berapa kali, Brian? Dan kamu mengatakan cinta? Apa cinta semudah itu untukmu?”

“Cinta memang semudah itu untukku.” tandas Brian.

Zee membisu. Ia tidak punya kalimat bantahan lagi karena orang tuanya sendiri seperti itu. Jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tapi apa artinya ia harus mengikuti jejak orang tuanya? Padahal ia tidak merasakan debaran seperti yang selalu mamanya ceritakan dulu. Atau perasaan ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Brian seperti yang Papa rasakan saat betemu Mama.

Jadi yang bisa Zee katakan pada Brian hanya, “Beri aku waktu untuk berpikir.”

“Zee, aku adalah jodohmu. Orang yang diyakini oleh orang tuamu, dapat menjagamu dengan baik. Pertimbangkan itu juga dalam waktu berpikirmu.” ujar Brian mengakhiri pembicaraan mereka.

Zee melempar ponselnya dengan dongkol. Membuat benda mungil itu mental dan mendarat kembali ke atas kasur.

Zee menarik bantal dan membenamkan kepalanya di sana.

Ia tidak suka mendengar ucapan Brian. Cowok itu terlalu memaksa dan apa katanya tadi. Disetujui oleh orang tua? Apa Brian berniat mengancamnya sekarang?

Karena Brian tahu betapa Zee menghormati neneknya itu, kalau Brian sampai membawa-bawa nenek dalam urusan ini, Zee tidak akan berani menolak. Ia pasti dengan patuh berjalan menelursuri pelaminan dan menikah dengan cowok itu.

Bukannya Brian buruk atau apa, tapi sungguh, Zee hanya ingin merasakan apa yang dirasakan oleh orang tuanya. Debaran yang menyesakkan, perasaan berbunga-bunga dan merasa bersyukur akan kehadiran orang itu. Nenek tentu tidak ingin melihat dia menikahi orang yang tidak ia cintai bukan?

“Uuuugh, kenapa harus bawa-bawa nenek sih!!!!!!” erang Zee gemas. Ia menendang-nendang kakinya ke kasur seperti anak kecil.

Lamunan dan erangan Zee terpaksa ditangguhkan begitu mendengar ponselnya yang kembali berbunyi.

“Ada apalagi?!” jawab Zee galak.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu Zee! Ada apa mencariku malam-malam?! Lalu apa maksudmu memberitahu mereka nama pangilan buatanmu itu? Mereka mulai memanggilku dengan Obelix sejak sore tadi.” gerutu Max.

Dalam sekejap tawa Zee memenuhi ruangan. “Kamu memang Obelix-kan? Bayi besar dengan nafsu makan 100 orang belum lagi kegemaranmu memanggul orang layaknya Obelix memanggul menhir?!” balas Zee.

“Ya ya ya…. Aku memang mirip Obelix, tapi tanpa perut buncit dan rambut berkepang. Kamu sendiri? HellBoy? Monyet dengan kepala merah!”

“Enak saja! Apa yang mirip coba?”

“Dan sekarang kamu kembali menjadi si Dory? Pelupa tingkat tinggi? Atau kamu perlu dibawakan cermin? Di rumah kamu masih belum ada cermin kan?”

Zee terdiam. Sial, lagi-lagi dia kalah. Walau dongkol, senyum lebar tetap menghiasi wajah Zee. Pikiran kusutnya mendadak lebih lurus.

“Buka pintu.” perintah Max tiba-tiba.

“Heh?”

“Buka pintu atau aku akan masuk sendiri. Kamu ingatkan …..”

Max tidak perlu melanjutkan ucapannya karena berikutnya ia mendengar suara pintu di banting, derap langkah terburu-buru dan suara klik dan pintu terbuka.

“Suprise!!!!!” teriak Max mengagetkan Zee.

Tapi kemudian ia sendiri yang berteriak.

Ia memelototi rambut Zee, mengambil sejumput rambut biru menyala itu lalu melepaskannya sambil berseru, “Kenapa rambut kamu?!!”

Zee mendorong Max masuk ke rumahnya. Cowok ini yah, baru juga datang sudah berisik minta ampun.

“Kenapa dicat biru ngejreng seperti itu?” tanya Max melingking.

Dengan cemberut Zee mencopot wig yang ia kenakan hari ini. Wig ini juga yang digunakannya waktu bertemu Micky dan kawan-kawan. Ia sengaja membuat kesan yang berbeda dengan dirinya sendiri, sehingga tidak ada orang yang mengatakan bahwa Zee, cewek berambut merah bertemu dengan FoxT.

Melihat kepala Zee berubah botak, Max kembali berteriak dan memaki.

“Dasar manusia purba! Ini hair holder.” kata Zee memberi penjelasan. Ia mencopot hair holder tersebut dan membiarkan rambut merah panjangnya tergerai. Ia memijit-mijit kepalanya sedikit, rasanya agak gatal. Padahal ia baru memakai wig itu beberapa jam saja.

Ia melirik Max takut cowok itu pingsan karena cowok itu sama sekali tidak bersuara sejak ia melepas hair-holdernya. Zee menyerengit melihat Max bengong sambil melihatnya. Sampai-sampai  Zee mengecek dirinya sendiri takut ada sesuatu pada wajahnya yang terlihat aneh.

Karena tidak melihat adanya perbedaan ataupun hal yang aneh, Zee memutuskan untuk bertanya langsung pada Max, “Kenapa melihatku seperti itu?”

Max hanya mengeleng. Sesaat tadi ia terpana. Rasanya rambut cewek itu lebih merah dari yang ia ingat. Lebih panjang dari yang ia kenal dan kenapa ia jadi melihat Zee mirip perempuan? Bahkan sempat membuatnya jantungnya berdebar-bedar dan perutnya teremas-remas.

Dahi Max menyerengit, pusing dan mulas? Ada apa dengan dirinya? Ia berpikir ulang dan tersenyum sendiri. Ia pasti lapar. 5 jam berlatih di gym tentu membuat semua orang lapar. Jadi perasaan tadi itu pasti tanda-tanda asam lambungnya mulai naik.

“Sudah makan?”tanyanya, ia mengecek isi kulkas Zee. Tetap sama, kosong. Hanya ada air putih dan coca cola.

“Belum. Kamu mau memasak?”

“Dengan apa Dory? Kulkasmu kosong begitu.” tanya Max gemas.

Cewek itu malah tertawa lalu menghilang ke kamarnya. Max mengotak-atik lemari Zee yang lain. Barangkali ada mie atau apalah. Ia belum sempat makan sehabis dari gym tadi. Dan perutnya mulai keroncongan.

“Aku baru beli ini.” ujar Zee dengan mata berbinar-binar iseng.

“Ah!” seru Max melihat sosis dan telur. Tapi kemudian menyerengit. “Kenapa itu ada di kamarmu?”

“Jangan berpikir yang aneh-aneh deh! Cuma terbawa ke kamar.” tepis Zee. Ia memang terbiasa untuk langsung masuk ke kamarnya begitu tiba di rumah, Yang sering kali juga berarti membawa apapun yang sedang ditentengnya ke dalam kamar.

Untungnya kali ini hanya telur dan sosis, coba kalau seperti kemarin, es krim dan daging, iiih, membayangkan baunya saja, Zee kembali mengelincing.

“Nasi goreng sosis?” tanya Max basa-basi, ia sudah sibuk mengeluarkan perkakas dapur milik Zee. Sedangkan cewek itu mulai memotong sosis.

“Kamu bisa masak sekarang?” tanya Max melihat gerakan tangan Zee yang lebih teratur memotong-motong sosis.

“Tidak juga. Tidak seru memasak sendirian.”

Senyum Max mengembang dan ia menoleh pada Zee. “Jadi kalau denganku, kamu baru mau masak?”

“Dengan siapa saja sih. Waktu itu Brian juga mengajariku.”

“Aaah…. Bagaimana tunanganmu itu?” tanya Max balik, sambil mengaduk-aduk minyak dan bawang di kuali. Memusatkan pikirannya ke hal-hal yang lebih penting dibanding perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyerangnya.

“Calon, Max. Bukan tunangan. Yang artinya sama saja tidak punya hubungan apa-apa denganku.” ujar Zee dengan tegas meluruskan. Kenapa sih semua orang memgangap dua hal itu sama saja?

“Ada sesuatu yang terjadi dengan Brian? Kamu kelihatan marah padanya?”

Zee menghentikan tangannya lalu menghadap cowok di sampingnya itu. Rasanya ada yang salah. Tapi tidak jelas apa.

“Dia….. Ah sudahlah, memikirkannya saja sudah membuat aku marah.”

Zee kembali memotong sisa sosis di talenan dengan suara menhentak-hentak lalu menuang sosis tersebut ke wajan Max.

Melihat Max yang mendadak diam, membuat Zee menyerengit. Jelas ada yang salah di sini. Max mana pernah sediam ini.

“Ada apa?” tanya Zee tidak tahan dengan keheningan yang semakin mengerapai. Rasanya sebentar lagi sesuatu akan muncul, hantu maksudnya.

“Apa?” tanya Max bingung.

Nasi gorengnya sudah jadi. Mereka pindah ke meja makan sekarang dengan wajan di tengah mereka. Makan langsung dari sana lebih nikmat karena nasi goreng tersebut tetap panas.

“Apa?” ulang Max.

Zee mendongkak kaget. “Oh, aku sedang berpikir. Soal Brian. Rasanya aneh, dia sedikit memaksa soal hubungan aku dengan dia. Padahal kemarin-kemarin itu biasa saja. Being friend, tidak lebih.”

“Memaksa bagaimana?” tanya Max, mengulurkan tangannya, mengelap nasi yang menempel di bibir Zee.

Spontan Zee memundurkan badan, menjauh dan ikut-ikut mengelap bibirnya yang sudah bersih.

“Ada nasi.” jelas Max dan Zee ber-ooo lalu kembali bercerita soal Brian. Makin didengar, Max juga merasa semakin aneh. Tidak terpikirkan olehnya kalau tunangan Zee itu menghabiskan waktu lebih sedikit dari dirinya dan Zee bahkan tidak mengenal cowok itu dengan baik.

“Jadi kalian tidak pernah teleponan selain kalau dia mengajak kamu keluar? Itu pun kalian cuma bertemu sebentar karena kamu lebih sering pulang duluan?” ulang Max mendengus tapi kemudian sedikit marah, “Pulang sendiri? Dia tidak mengantar?”

Mau tidak mau Zee tertawa, heran cowok ini selalu saja panik kalau soal keselamatan dirinya. Seakan-akan dia ini orang paling ceroboh sedunia saja.

Zee mengeleng di sela-sela tawanya.

“Yah, tidaklah. Dia mengantarku pulang kok. Tapi yah begitu. Jadi ketemu sebentar doang.”

“Aku kira! Jadi tidak ada sengatan listrik?”

“Sengatan apa?”

“Yah, itu…” Max mengaruk kepalanya bingung, bagaimana ia harus menyampaikan pertanyaan ini tanpa terkesan murahan atau sok ikut campur?

Ia mendengus, sekarang kan ia berbicara dengan Zee, cewek bodoh.

Zee temannya.

Cara langsung dan blak-blakan pasti lebih bisa diterima oleh Zee.

“Kamu tidak suka padanya?” tanya Max tanpa canggung. Seperti orang yang menanyakan apakah mereka suka makan telur atau tidak.

Zee mengangkat bahunya. “Kecewa iyah. Makanya bingung sekali, kok tiba-tiba dia ngotot ingin tunangan.”

 

Nasi goreng di hadapan mereka tandas begitu saja. Zee mencuci sedangkan Max membantu merapikan meja, seperti dulu. Selesai, mereka duduk di lantai, Zee masih juga tidak memiliki sofa, jadi dengan karpet sebagai alas duduk, TV menyala dan Max sibuk mengupas mangga. Max yang membawa buah itu.

“Beli sofa dan meja dong Zee… kenapa sih susah banget belinya. Pegal nih duduk seperti ini.” omel Max.

“Bukannya lebih enak? Aku malah mau mencari head cushion dan menempelnya di tembok, jadi cukup dengan bantal aku bisa nonton di sini. Sambil bawa selimut kalau perlu.” ujar Zee sambil mempraktekan omongannya. Menyandar dengan bantal di kepala dan memeluk bantal.

 

“Kamu sudah terima pekerjaan dari Cynthia?” tanya Max tiba-tiba teringat ucapan cewek itu tadi sore.

“Aku masih bingung.”

“Dipertimbangkan saja, kamu tidak mau terus menerus menganggurkan? Tapi tidak perlu deh, nanti aku bisa menjulukimu Zeobless.” ledek Max.

Zee melempar bantal ke muka Max tapi cowok itu dengan siggap mengelak dan bantal tersebut mendarat di belakang Max.

“Jadi anak manis ok, besok datang ke tempat Cynthia.” pinta Max sambil menyuapi Zee dengan mangga. Dengan mulut penuh, Zee cuma tersenyum bodoh.

Max mengeleng. Mungkin dia sendiri yang harus membawa Zee ke tempat Cynthia besok. Benar, sebaiknya begitu.


 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 16

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s