M to Z – tie 6

Max berhasil mengejar Zee ketika cewek itu kesulitan menaiki tangga. Mungkin cewek itu kecapaian. Tapi hal itu tidak menghentikan dirinya untuk menghukum Zee.
Ia mengangkap pinggang Zee dan memanggul cewek itu.
“Sekarang minta maaf.” tuntut Max.
“Tidak!” teriak Zee sambil tertawa.

Dan sebagai hukuman kekeraspalaan Zee, pinggannya dikelitiki oleh Max. Ia tidak bisa melawan karena dirinya masih digendong oleh Max.

Tapi Zee akan selalu menjadi Zee yang sering ngotot dan keras kepala untuk hal yang menyangkut harga dirinya. Walau geli setengah mati tapi ia tidak akan minta maaf. Ia kan hanya membuat cowok iu terjatuh bukannya terluka atau bagaimana.
Tiba-tiba Max menurunkannya dan menatap kaku ke arah pintu apartmanet Zee. Membuat Zee ikut-ikutan menengok dan memerjap kaget ketika melihat Brian berdiri di sana.

 

“Hai.” sapa Brian sambil menyerahkan buket rose berwarna pink pada Zee. Kemudian dengan sopan menjulurkan tangan pada tetangga Zee dan disambut ramah oleh cowok itu.

Jantung Zee berdegup kencang ketika melihat senyum Brian. Satu karena ia memang kehabisan nafas, hal itu memaksa jantungnya untuk bekerja lebih keras. Kedua karena ia merasa was-was karena sepertinya cowok disampingnya ini sedang merencanakan sesuatu. Ia menangkap kerlingan jahil di mata tetangganya ketika sekilas ia melirik cowok itu tadi.

Setelah berjabat tangan, Max berkata, “Maaf, kalau aku tahu akan datang, aku tidak akan menculik pacarmu ini.”
Dan Zee memekik kencang, menghalangi Brian untuk mendengar dengan jelas omongan Max yang sangat tidak bertanggung jawab tadi. Ia mendorong Brian masuk ke apartmentnya.
“Tidak usah mendengarkan ucapan orang gila itu.” ucap Zee meminta maaf. Ketika mereka sudah berduan di dalam rumah Zee. Lega karena cowok di hadapannya mengeleng dan tertawa padanya. Bukti kalau Brian malah merasa terhibur dengan ucapan tadi.

“Aku dengar itu Zee.” teriak Max dari balik pintu, membuat wajah Zee pucat dan tersenyum kecut pada Brian. Ia meminta maaf sekali lagi pada Brian atas kelancangan tetangganya itu.
“Tidak apa, aku tidak keberatan dianggap pacarmu, Zee.” ujar Brian sambil tertawa.
Zee menyerengit dan ikut tertawa kaku.
“Kamu lucu juga yah.” ucap Zee disela tawanya.
Ketika dilihatnya Brian menatapnya dengan serius, ia menyadari kalau cowok itu tidak main-main.
“Tidak mungkin, kita baru bertemu kemarin.” seru Zee tidak percaya.
“Aku memutuskan untuk mencoba serius denganmu. Toh orang tua kita sudah saling mengenal dan setuju.”
Zee memandang Brian gelisah. Ia tidak pernah menganggap cinta sebagai permainan dan tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Walaupun hal itu terjadi pada orang tuanya. Menurutnya ia harus mengenal Brian lebih jauh untuk mempertimbangkan cowok itu lebih serius. Sebab sejauh ini, ia tidak merasakan apapun yang istimewa tentang Brian.

Di sebelah rumah Zee, Max mondar mandir di ruang tamu sambil sesekali menempelkan kupingnya ke tembok perbatasan antara rumahnya dengan rumah Zee. Sebalnya ia tidak berhasil mendengar sepatah katapun. Padahal ia ingin tahu apa yang dibicarakan dua orang itu di dalam.

Apakah ia perlu ke sana dan menjelaskan kalau ia hanya bercanda tadi? Bagaimana kalau dua orang itu ribut karena ucapannya tadi?
Tidak tahan dengan perasaan bersalahnya, Max mengambil mangkok toples berisi ayam dari kulkasnya dan keluar rumah. Menuju rumah Zee. Ia akan menganggu dua orang itu.

Setelah ketukan ketiga, pintu tersebut terbuka.
“Apa ada Leon?” tanya Zee sambil melipat tangan di depan dada.
Melihat Zee cemberut dan menatapnya masam. Max merasa bersalah. Tapi ia tidak mengerti mengapa rasa bersalah itu dengan cepat berubah menjadi niat usil untuk mejahili Zee lagi. Ia masuk ke dalam dan langsung menuju dapur Zee. Menyalakan kompor dan menuang minyak.
“Kamu tidak akan memasak di sini kan?” tanya Zee panik.
“Sssst…… Dimana dia?” tanya Max setengah berbisik.
“Di parkiran.” jawab Zee sebal.
Max menyemplungkan beberapa potong ayam dengan gembira. Bagus cowok itu sudah pulang. Ia bisa makan malam dengan Zee. Ia bahkan mulai bersiul-siul riang, sengaja tidak mempedulikan tatapan kesal Zee.

“Ya sudah, terserah kamu. Aku pergi dulu.” seru Zee dan ia membalikan badan. Keluar, ia sudah membiarkan Brian menunggu lama di bawah sendirian.
Max menarik tangan Zee, terkejut dengan ucapan cewek itu, “Kamu mau kemana?”
“Brian mengajakku nonton premier film Jackie Chan. Memangnya kamu tidak lihat aku sudah menganti pakaian?”
Max menatap Zee dari ujung rambut ke ujung kaki. Sama sekali tidak senang dengan baju tanpa lengan dan terbuka yang dikenakan Zee.

Zee tetap keluar dari rumahnya tidak peduli dengan ledekan-ledekan dari tetangganya tentang pakaiannya serta dandanannya. Ia takut Brian marah karena sudah lebih dari lima belas menit ia membuat cowok itu menunggu di bawah.
Tapi apa benar pakaiannya membuatnya gendut? Zee memperhatikan lagi kemben putih serta celana skinny jeans yang ia kenakan. Tidak, itu pasti hanya omong kosong Leon seperti biasa, gugam Zee dalam hati. Meyakinkan dirinya sendiri.
Sampai di depan mobil Brian, cowok itu mempersilakannya masuk mobil dan membantunya memasang seat belt.
“Kamu cantik.” puji Brian dan Zee menunduk malu-malu.
Tuh, kan. Komentar Leon memang tidak perlu ia pikirkan. Cowok itu hanya senang mengodanya.

Di rumah Zee, Max mematikan kompor dan berdiri dengan pikiran kusut. Bingung apakah ia harus melanjutkan memasak dan makan seorang diri atau pergi ke restaurant. Ia tidak pernah suka makan sendirian. Terlebih jika malam ini Zee akan bersenang-senang dengan kencannya.

Max mendapatkan ide yang luar biasa. Tapi untuk itu, ia harus menelepon seseorang dulu. Tidak ada salahnya mencari bala bantuan di saat seperti ini.

Ia menekan nomor telepon Micky dan temannya itu mengangkat dengan cepat.
“Hei, ada Yunna?” tanya Max.
Micky mengoper telepon ke pacarnya tanpa bertanya apa yang dibutuhkan oleh temannya itu. Sudah terbiasa kalau teman-temannya ini sering meminta tolog pacarnya yang berpengaruh ini untuk melakukan permohonan tidak masuk akal.
Melihat Yunna tersenyum, Micky yakin ada sesuatu yang terjadi dengan Max. Ia tidak menunggu telepon dikembalikan padanya untuk bertanya.
“Kenapa? Max meminta bantuan apa darimu?” tanya Micky sambil merangkul Yunna dari belakang. Saat ini mereka sedang ada di Pulau Jeju, Korea Selatan. Pacarnya ini berhasil menculiknya dari Jepang dengan pesawat jet pribadi.
“Adik kecil-mu yang usil itu memintaku kembali ke Jakarta dan menghadiri premier film.” ucap Yunna sambil tersenyum geli.
Micky menyerengit bingung, tidak mengerti kenapa harus Yunna seorang diri yang diminta datang.
“Hanya kamu?” tanya Micky lagi takut ia salah mendengar.
“Sepertinya Max sedang merencanakan sesuatu karena ia memintaku menjadi partnernya. Dan aku terlalu penasaran untuk tidak menyetujuinya.”
“Kamu dan Max, orang-orang licik dan gila.” gerutu Micky dengan nada memuja.
“Jadi kamu akan terbang sekarang?” ujar Micky menanyakan rencana Yunna sekarang.
“Yes darling, tapi kamu juga ikut, aku baru saja mengirim text ke Keiko untuk datang, Jack juga pasti ikut. Dan artinya Alex pasti akan hadir juga. Kamu mau mengajak Ben?”

Jauh di Jakarta, Max tersenyum puas di depan cermin. Kalau ia ingin membuat kegaduhan, maka ia akan menciptakan kehebohan yang tidak tanggung-tanggung.


 

Advertisements

2 thoughts on “M to Z – tie 6

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s