M to Z – Tie 7

Area depan cineplex dibagi menjadi dua bagian. Satu untuk antrian publik dan satu lagi untuk karpet merah yang akan dilintasi oleh artis undangan dan socialites. Bintang-bintang yang hadir meliputi artis dalam dan luar negeri. Tetapi yang menjadi sorotan utama adalah kehadiran Jackie Chan itu sendiri.

Zee, tentu saja berada diantara orang awam lainnya, mengantri dengan manis bersama Brian. Walaupun kepansan dan merasa kakinya pegal.

Ia berusaha menikmati dengan memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Namun karena ia tidak mengenal bintang-bintang yang hadir, ia terus bertanya pada Brian. Syukurlah cowok cukup mengerti dan tidak mengeluh. Malah terkadang cowok itu mengomentari pakaian atau gaya para bintang tersebut.

“Itu Jackie Chan!” seru Brian diikuti dengan teriakan orang-orang di sekitar mereka. Tapi Zee bingung karena yang dielukan bukan hanya nama Jackie Chan saja tapi juga Alex? Ben? Jack? Micky? Lalu Max? Siapa mereka?

Brian lagi-lagi dengan sabar menjawab pertanyaan Zee, “Mereka itu penyanyi paling terkenal di Indonesia saat ini.”

“Kalau cewek-cewek itu?” tanya Zee menunjuk cewek berambut pendek yang digandeng Jackie Chan.

“Itu Han Yunna, pacar Micky. Sepertinya acara hari ini diselengarakan oleh perusahaannya. Han Yunna itu salah satu wanita paling sukses dan kalau kamu bingung yang mana Micky. Itu cowok yang berjalan di belakangnya persis. Ben yang bersama cewek rambut pendek satunya. Jack yang dengan cewek berambut panjang, aku tidak ingat nama pacar-pacar mereka.”

Zee mengangguk-angguk kemudian menunjuk satu cowok yang sedari tadi menarik perhatiannya. Cowok dengan perawakan tinggi, berambut pendek dan amat mirip dengan Leon tetangganya itu.

Hanya saja cowok ini lebih rapi, lebih tampan dan bisa membuat jantungnya meloncat-loncat tidak karuan. Padahal cowok itu berdiri jauh darinya dan memasang tampang galak.

“Itu Max, agak mirip dengan tetanggamu itu kan? Tadinya malah kupikir mereka orang yang sama. Bagaiamana menurut kamu?” tanya Brian melihat Zee memperhatikan cowok janggung itu terus. Ia sedikit cemburu tapi juga penasaran apa tanggapan Zee mengenai kemungkinan tersebut.

Zee tidak berkomentar. Sejak saat itu ia berusaha memperhatikan Max.

Sayang kursi mereka terpaut jauh. Zee hanya bisa melihat lingkaran kepala Max. Dan film pun diputar. Sesaat Zee lupa dengan Max, menikmati adegan laga dan komedi dalam film tersebut.

Ketika film selesai, Zee ribut membahas setiap adegan yang ia ingat. Saking serunya sampai tidak memperhatikan langkahnya. Brian harus terus menarik dan mengatur agar Zee tidak menabrak sesuatu atau ditabrak orang yang lewat. Tapi semakin dengan dengan area parkir, rasanya mereka semakin berdesakan. Sepertinya mereka ada di antara kerumunan massa.

“Buruan, nanti kita tidak keburu melihat FoxT.” seru cewek menarik temannya. Menyelinap di sebelah Zee.

“FoxT ada di sana!!!” teriak cewek lainnya.

Dan semakin ramai orang lewat, menghimpit Zee dan Brian. Kaki Zee terinjak beberapa kali tapi ia hanya memekik pelan, menahan diri karena ada Brian di sampingnya.

“Sepertinya kita tidak mungkin bisa sampai ke mobil.” keluh Brian

“Andaipun berhasil, kita juga tidak mungkin bisa keluar.” tambah Zee melihat banyaknya orang di halaman parkir tersebut.

Zee merasa kakinya semakin sakit. Siang tadi ia memang merasa pergelangan kaki kanannya sedikit bengkak tapi tidak terlalu sakit. Jadi ia mengabaikannya. Mungkin karena kakinya terinjak dan mengenakan sendal bertumit tinggi, bengkaknya semakin parah. Inginnya sih Zee melepas high heelsnya dan berjalan telanjang kaki. Tapi Brian pasti menganggapnya gila nanti.

Tiba-tiba ia tersengol dan terdesak ke depan, terpisah dari Brian. Ia masih berusaha mengengok dan berjalan kembali menuju tempat cowok itu. Tetapi berjalan melawan arus dengan kaki terkilir hanya membuat ia kembali terseret ke depan. Semakin jauh dari Brian.

Karena Zee makin terdesak maju, tidak terasa ia sudah sampai di bagian depan kerumunan, cukup dekat untuk melihat apa yang menjadi sumber keributan. FoxT.

Matanya membelalak dengan lebar ketika akhirnya ia bisa melihat wajah Max dengan jelas. Karena cowok itu juga menatapnya, dan tetap menatapnya sampai membuat orang-orang bingung serta ikut melihat padanya.

Pada detik itu, seseorang mendorongnya hingga ia menubruk cewek berambut pirang di hadapannya. Zee mundur sedikit untuk memberi jarak bagi dirinya dengan cewek itu. Tapi kakinya malah menginjak orang di sampingnya. Cewek dengan tampang galak dan berdada besar.

“Hati-hati dong.” ujar cewek busty

itu marah. Zee tidak sengaja menatap cewek itu kesal, merasa bukan dia yang bersalah.

“Kamu sengaja cari gara-gara ya?” tanya cewek busty itu semakin garang. Sekarang ada 2 cewek lain yang mengelilinginya dan menurut Zee, ia tidak akan bisa keluar hidup-hidup jika ia tidak meminta maaf. Atau ia bisa mengelabuhi cewek-cewek ini?

Zee berteriak sambil menujuk ke arah kanan, “Max!”

Ketika cewek-cewek itu menoleh, ia kabur secepat yang ia bisa. Namun dalam sekejap ia kembali tertangkap.

“Brengsek! Mau membodohi kami ya?” geram si cewek pirang sambil mencengkram lengan Zee.

Zee mengerang, sekarang ia betul-betul akan babak belur.

“Hai…” sapa Brian ketika akhirnya ia berhasil mencapai tempat Zee. Kedua

cewek menatap Brian, terpesona dengan senyumnya.

“Boleh berkenalan?” tanya Brian mengagetkan Zee.

Zee menatap Brian bingung tapi kemudian mengerti kalau cowok itu sengaja mengalihkan perhatian cewek-cewek ini. Dan memang cukup berhasil, Zee segera dilupakan. Mengendap-endap Zee menyelinap di antara kerumunan itu lalu berjalan secepat yang ia bisa menuju keluar gedung.

 

Setelah susah payah, akhirnya Zee sampai ke bus stop di depan gedung cineplex. Menghempas tubuhnya di bangku panjang dan mencopot sendalnya. Ia mengerang ketika melihat pergelangan kakinya yang semakin bengkak dan ada beberap tambahan lecet di sana sini.

“Kencan kedua yang menyenangkan.” gugam Zee sarkastik.

Ia membiarkan beberapa bus melewatinya. Merasa terlalu lelah untuk mengerakan tubuhnya. Mungkin ia akan beristirahat di sana saja sampai menemukan taksi kosong untuk membawanya pulang.

 

“Kamu mau terus duduk di sana atau ikut denganku?” tanya Max yang muncul entah dari mana.

Zee yang melihat cowok itu berdiri di hadapannya, saat itu juga langsung berdiri dan melemparkan dirinya dalam pelukan Max.

Max tentu saja kembali mengenakan pakaian belel, topi kupluk dan kacamata hitam. Hanya saja ia tidak bisa kembali menumbuhkan jenggot serta kumisnya tapi tampaknya Zee tidak tertalu memperhatikan semua perubahan itu. Cewek itu terus menangis tersedu-sedu.

Max tidak perlu bertanya mengapa Zee mengangis. Ia melihat seluruh kejadian tadi dan sebetulnya ia sendiri sedang berjalan untuk menolong Zee hanya saja Brian lebih cepat darinya.

“Berhentilah menangis. Aku tidak mau bajuku dipenuhi ingus.” ujar Max pura-pura mengeluh.

Zee memukul dada cowok itu dengan kencang dan dengan sengaja mengelap hidungnya yang berair ke lengan kaosnya.

Max mendorong Zee dan mengerang geli.

“Regina, kamu cewek paling jorok sedunia yang pernah kukenal. Buruan naik!”

Zee memberi hormat dan melompat ke belakang sepeda.

Max melaju dengan kecepatan santai, menikmati pelukan tangan Zee di pinggangnya dan tak lama ia merasa kepala Zee menyandarkan di punggung.

“Zee, kamu tidur yah?” panggil Max, ia lega ketika merasakan kepala Zee diusak-usakan ke punggungnya.

“Thank you…” gugam Zee lebih seperti berbisik. Ia mengencangkan pelukannya dan akhirnya benar-benar tertidur.

 

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 7

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s