M to Z – Tie 8

Sudah cukup lama waktu berlalu sejak mereka tiba di depan apartment. Tapi Max sengaja berputar-putar sebentar, memberikan waktu lebih panjang untuk Zee tidur. Namun segera menghentikannya ketika melihat beberapa pejalan kaki yang cekikikan melihat dirinya. Max merasa malu. Dengan sengaja, ia mengerem mendadak, membuat tubuh Zee meloncat hingga kepala Zee menabrak punggung Max.

Tentu saja Zee bangun, dengan kepala pusing dan kebingungan.  Memerlukan beberapa menit untuk mengumpulkan kembali arwah dan pikirannya. Kemudian mukanya berubah memerah dan semakin merah seiring kembalinya ingatan tersebut.

Astaga ia sudah menangis di depan tetangganya ini!!!!!!

 

Zee turun dari sepeda kembali dengan tangan bersilang di dada, menatap tetangganya yang sudah tersenyum jahil. Siap meledeknya.

“Apa?” tanya Zee malu sekaligus kesal.

“Muka kamu waktu menangis je……” kata-kata Max terhenti ketika melihat kaki kanan Zee bengkak. “Kenapa dengan kakimu?” ujar Max menganti ucapannya.

“Tidak kenapa-napa. Bentuknya saja yang menyeramkan. Tapi tuh tidak sakit kok.” ujar Zee sambil mengerak-gerakan kakinya. “Dikompres sedikit juga beres.” ujar Zee berbohong. Ia yakin jika cowok itu mengetahui keadaan yang sebenarnya maka ia akan dibawa ke rumah sakit. Zee benci rumah sakit.

 

Max tidak percaya dengan ucapan Zee sama sekali. Jadi ia turun dari sepeda, tidak peduli sepedanya jatuh dan menimbulkan suara yang cukup kencang. Ia berjongkokm dan meletak kaki Zee yang bengkak di atas lututnyad dengan hati-hati. Pergelangan kaki Zee berukuran nyaris dua kali kaki yang satunya.

“Kamu bilang ini tidak sakit?!”

“Tidak kok, tuh lihat.” ujar Zee sambil memainkan pergelangan kakinya namun kali ini ia memekik kesakitan.

Max tidak tertawa sebagaimana biasanya ia menanggapi kebodohan Zee. Tidak ada yang lucu dari kejadian kali ini. Ia tidak pernah menganggap sebuah luka itu lucu.

Diturunkannya kaki Zee, rencananya ingin memakaikan kembali sendal Zee. Tapi begitu melihat hak setinggi 6 cm di sepatu tersebut, Max mengambil kaki Zee yang lain, mencopot dengan kasar sendal tadi dan melemparnya sejauh mungkin.

Dan Zee, cewek bodoh itu malah berlari mengambil kembali sendal tadi dan meneriakinya bodoh, brengsek serta makian lainnya.

Dengan geram, Max menarik lengan Zee, merebut sendal cewek itu lalu melemparnya lagi. Kali ini ke seberang jalan dan langsung dilindas oleh mobil yang lewat.

“Brengsek Leon! Itu satu-satu sendal layak pakai yang aku punya!” bentak Zee marah.

Max menyungingkan senyum muak, “Aku bisa membelikan kamu sendal! 10 kalau perlu! Tapi tidak ada gunanya kalau kaki kamu diamputasikan?!” bentak Max balik.

Zee mematung. Terkejut karena tidak pernah melihat cowok itu semarah itu.

“Kita ke rumah sakit sekarang!” perintah Max sambil menarik Zee, menuju bus stop di depan kompleks apartement mereka. Tidak mungkin membawa Zee ke rumah sakit dengan sepeda jika ia ingin kaki Zee segera dirawat.

“Tidak! Aku tidak mau! Please….. I hate hospital… Please don’t take me there….” ratap Zee tidak sadar kalau ia berbicara dalam bahasa Inggris.

Tapi Bahasa Inggris bukan bahasa yang tidak dikuasi Max, jadi cowok itu menjawab, “No. You have to. It’s an order.

Mereka sampai di bus stop, tempat mereka bisa memanggil taksi. Karena yakin Zee tidak akan kabur, Max melepas cengkramannya, ia perlu menelepon dokter tulang yang dulu merawat kaki Jack. Temannya itu dulu sempat terjatuh saat latihan dan terkilir. Persis seperti keadaan Zee sekarang. Ia tidak pernah lupa diagnosis dokter saat itu. Kaki Jack bisa diamputasi kalau telat sedikit lagi dibawa ke rumah sakit.

Selagi Max sibuk menelepon, Zee memakai kesempatan itu untuk melarikan diri. Ia berlari sekencang mungkin sambil menyeret kakinya yang sakit.

Pokoknya ia tidak mau ke rumah sakit. Ia tidak mau mencium lagi bau kaporit serta antiseptik.

Max menangkapnya dengan cepat. Padahal rasanya Zee sudah berlari sangat jauh, kenapa ia masih di sekitar bus atop itu juga.

“Kenapa kamu begitu keras kepala?” tanya Max dengan suara tersiksa

“Aku… Please just don’t take me to hospital. I’ll tell you later. Just let me go home.

Max menghela nafas, putus asa. Ia menyerah, lebih ia mengalah dan mendengarkan alasan Zee. Dan sebaiknya alasan itu cukup bagus kalau tidak ia akan memaksa cewek itu lagi.

“Sekarang, ceritakan padaku. Dan berdoalah alasanmu itu cukup bagus untuk membuatku percaya.” tuntut Max ketika selesai membantu Zee duduk di atas ranjang Zee.

Ketiadaan sofa di rumah Zee mulai menjadi masalah sekarang. Ia bahkan harus menarik kursi dari meja makan untuk dapat duduk di samping cewek itu. Pintu kamar sengaja dibukanya lebar. Walau tidak ada gunanya juga. Zee kan tinggal seorang diri.

Zee menghela nafas dan terlihat bimbang sebentar. Baru ketika Max mengancamnya lagi, Zee mulai membuka suara, “Orang tuaku meninggal ketika aku kecil.”

“Ya, kamu sudah cerita itu.”

Zee tersenyum mendengar ketidaksabaran Max. Tapi itu membuatnya lebih rileks. “Waktu itu aku masih berusia 2 tahun. Kecelakaan mobil dan aku juga ada di sana. Aku nyaris mati kalau tidak segera ditemukan oleh pendaki gunung. Aku kehilangan pendengaranku, sebelah kakiku lumpuh total dan menghabiskan masa remajaku di rumah sakit di Kanada. Menyembuhkan diri. Sejak itu, aku bersumpah pada diriku sendiri, tidak akan menyentuh rumah sakit seumur hidupku.”

Max terdiam cukup lama. Ia tidak pernah membayangkan orang seriang Zee pernah mengalami hal naas seperti itu. Kehilangan pendengaran? Lumpuh? Ia tidak bisa membayangkan jika ia sendiri yang mengalmi hal tersebut. Ia  pasti akan mwnjadi orang paling brengsek sedunia, memaki setiap orang yang membantunya atau bahkan bunuh diri saking  putus asanya.

Tapi tidak dengan Zee, cewek ini melewatinya dengan baik. Membuat Max semakin kagum pada Zee.

“Apa itu alasan mengapa kamu punya masalah di sekitar sini?” tanya Max menunjuk kepalanya, meledek Zee agar cewek itu tersenyum kembali.

Ia tidak sanggup melihat wajah Zee yang sepertinya bisa menangis kapan saja. Sudah cukup air mata yang dikeluarkan oleh Zee hari ini.

“Aku tidak tahu apa hubungan kecelakaanku dengan kebodohanmu. Coba tanyakan pada mama-mu.” balas Zee.

Yang tentu saja membuat Max tergelak, “Itu Zee, alasan kenapa aku begiu menyukaimu.”

“Itu, Max adalah alasan mengapa aku membencimu.”

Mata Max melebar dan mulutnya menganga kemudian tertutup dan terbuka lalu tertutup kembali. Mendengar nama aslinya di sebut oleh Zee.

“Sekarang kamu berubah menjadi ikan mujair?” ledek Zee tidak memberi kelongaran dalam meledek Max.

“Kamu tahu? Sejak kapan?” tanya Max setelah mendapatkan suaranya kembali. Tidak berpikir kalau Zee akan menyudutkannya di saat seperti ini.

“Hanya orang bodoh yang tidak akan menyadarinya. Kupikir aku sudah cukup jelas membuktikan kalau aku bukan orang bodoh, keras kepala mungkin, tapi tidak pernah bodoh.”

Max merasa bersyukur dengan kecerewetan Zee. Ia tidak pernah repot untuk kembali bertanya karena cewek itu akan bercerita sendiri.

“Kamu tidak marah?”

“Untuk beberapa hal aku cukup paham alasan kamu menyembunyikan jati dirimu. Kalau aku ada di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi Max, apa setidak nyaman itu menjadi seorang artis? Aku tidak melihat kamu tersenyum sama sekali tadi. Kenapa kamu masih bekerja kalau tidak menyukainya?”

Max tersenyum kecut. Zee melihat dirinya seutuhnya. Sesuatu yang jarang terjadi. Kebanyakan orang hanya melihat dirinya sebagaimana mereka ingin melihat.

Terus terang ia mulai takut. Hubungannya dengan Zee menjadi terlalu akrab. Padahal waktunya hanya tinggal 3 hari lagi. Ia tidak bisa membawa Zee ke dalam dunia-nya. Tidak ada alasan apapun baginya untuk membuat Zee menderita.

 

Syukurlah dokter datang saat itu. Memberi Max alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Zee. Walau ia tahu, Zee pasti akan kembali menanyakan hal tersebut padanya nanti. Tapi nanti itu bisa ditunda.

“Kamu cukup beruntung lukanya tidak mengenai urat achilies. Tapi untuk lebih pastinya dirongent saja. Lalu untuk sementara jangan membebani kakimu. Kurangi bergerak sampai kakimu sembuh total. Ini obat untuk demam dan ini pain killer. Minum hanya jika benar-benar sakit.” perintah dokter yang lagsung disetujui oleh Zee. Ia akan melakukan apa saja asal tidak harus kembali ke rumah sakit.

Kemudian, Max mengantar dokter keluar. Ketika ia kembali, Zee sedang berdiri di ruang tengah.

“Zee? Kamu?!” geram Max dan ia kembali mengulang semua larangan dokter. Membuat Kuping Zee sakit.

“Aku mau ke toilet yang mulia. Kamu tidak berharap aku membuat di kasurku saat aku sudah cukup umur untuk memiliki anak, kan?” tanya Zee retorikal tapi sukses membuat muka Max memerah. Kemudian ia sendiri merona begitu menyadari arti ucapannya dan tatapan nakal Max padanya.

“Itu ide yang menarik Zee. Kalau saja aku tidak menganggapmu sebagai teman. Teman tidak meniduri temannya. Omong-omong, kita harus memikirkan sesuatu untuk urusan kamar mandi ini. Apa kamu mau pindah ke tempatku saja?”

“Kenapa?” tanya Zee singkat namun penuh kecurigaan.

“Karena tidak mungkin aku yang pindah kemari membawa sofa. Atau kamu mau berbagi ranjang denganku?”

“Dan katamu teman tidak tidur dengan temannya.” ledek Zee usil.

“Tidur dengan meniduri itu hal yang berbeda Zee. Atau kamu perlu aku ajari perbedaannya?”

Melihat Zee masang wajah jijik serta merinding, Max tertawa. Itu semua hanya candaan belaka. Baginya Zee sama seperti Jack atau Ben. Teman yang amat berarti, betul, kan?

Dan kenapa aku meragukan diriku sendiri? gugam Max berbicara dengan sendiri.

 

Zee menghampiri Max karena ingin tahu apa yang membuat cowok itu mendadak memasang mimik berubah-ubah. Ia menyentuh pipi Max dengan telunjuknya.

Knock… Knock… Who’s there?

Max terkejut dan mundur selangkah serta menurunkan telunjuk Zee dari pipinya. Tempat yang disentuh Zee terasa panas luar biasa.

Max menyentuh dahi Zee dan menghela nafas lega setelahnya. Zee tidak demam. Mungkin tadi hanya perasaannya saja.

“Max berhentilah memasang wajah khawatir. Kamu membuat aku merasa akan mati setiap waktu padahal kakiku hanya terkilir.” keluh Zee dengan nada dibuat semenderita mungkin.

“Kalau begitu jadilah anak baik dan pindah ke tempatku, ok? Setidaknya sampai kita yakin kakimu baik-baik saja.”

Zee mengangguk. Apalagi yang bisa ia lakukan jika melihat betapa besar perhatian Max padanya. Selagi cowok itu bersedia membantunya maka Zee tidak akan menyia-nyiakan hal tersebut.

 

“Zee, bagaimana dengan Brian-mu? Dia tidak akan marah melihat kamu serumah denganku?” tanya Max agak terlambat. Sebab mereka susah memindahkan semua barang yang diperlu Zee.

Zee mengangkat bahu. Ia tidak tahu. Cowok itu bahkan belum menghubunginya lagi padahal hari sudah malam.

“Sebaiknya kamu memberitahunya dulu. Aku tidak mau dia menghajarku ketika menemukan kita berduaan.”

“Seperti kamu akan membiarkannya saja. Kamu sadarkan Brian itu lebih kecil darimu?”

“Tapi dia tidak punya larangan untuk tidak berkelahikan? Sedangkan aku akan langsung dipecat jika sampai terlibat skandal.”

“Pantas kamu tidak senang menjadi Max. Kamu kan seorang penganiaya sejati.”

Max tertawa mendengar kelakar bodoh Zee. Syukurlah, cewek itu tetap riang dan usil seperti biasa. Tampaknya sikap positif cewek itu yang membiat Zee bisa melewati banyak masalah dengan tabah.

“Yah untung aku menemukanmu, jadi sekarang aku punya tempat untuk menyalurkan hobbyku.” jawab Max membalas ledekan Zee.

“Hobby yang buruk Max, tapi aku rela deh asal kamu bersedia menjadi kakiku sampai aku sembuh.”

“Lah, bukannya itu yang sedang aku lakukn sekarang? Menjadi kakimu? Atau kamu menganggap aku senang mondar-mandir mengambilkan barang untukmu?”

 

Pertengkaran mereka terus berlanjut sampai akhirnya Zee tertidur. Efek dari pain killer yang dimakannya.

Max memperhatikan sekali lagi kaki Zee yang sekarang sudah dibalut. Lalu menatap wajah damai Zee.

Kali ini ia akan melakukannya dengan baik. Melindungi Zee.


 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 8

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s