M to Z – Tie 9

“Max tolong ambilkan coklat.” teriak Zee dari dalam kamar Max.

Max mengerang menjawab permintaan Zee yang ke 13 kalinya untuk hari ini. Padahal ini baru jam 9 pagi. Ia mulai menyesali keputusannya beberapa hari lalu yang mengatakan ia akan merawat Zee.

Namun tetap saja ia mengambil coklat dari kulkas dengan kesal lalu berjalan menuju kamarnya sambil tersenyum jahil.

“Ini coklatmu.”

“Sangkyu….”

Zee membuka bungkus coklat lalu mengigit dengan lahap.

“Ah, aku lupa bilang. Coklat itu aku temukan di pojokan kulkas. Sepertinya itu coklat yang dulu tertinggal, berarti 1 tahun yang lalu.” celetuk Max sengaja. Itu pembalasan kecilnya pada Zee.

Zee langsung terbatuk-batuk dan melepeh isi mulutnya ke tissue.

Puas melihat Zee termakan bualannya, Max terkekeh dan keluar dari kamarnya. Kembali ke pekerjaan yang ditinggalkannya tadi.

Ia sedang membongkar gudangnya mencari tongkat yang dulu dipakai Jack. Supaya cewek itu bisa berjalan lebih mudah.

“Max……” teriak Zee lagi.

“Apa?”

“Kamu sedang apa?!”

Max mengerang lagi. Ia pasti berhutang nyawa pada Zee di kehidupan dulu hingga harus melayani cewek itu seperti ini. Ia melepas kaosnya yang basah oleh keringat, masuk ke kamar sambil mengelap mukanya dengan kaos tersebut.

“Ternyata kamu memiliki otot yang bagus yah.” puji Zee sambil meneliti Max bak meneliti objek percobaan dan tersenyum jahil pada Max.

Tidak ada yang genit dari cara Zee menatapnya tapi tetap saja membuat Max malu. Ia bukan tipe show off.

“Ada apa memanggilku?” tanya Max mengalihkan perhatian Zee.

“Aku bosaaaa.nnnnn.” keluh Zee manja.

Max menghela nafas. Astaga, ia sudah lelah luar biasa, melayani Zee dan sekarang cewek itu berkata apa? Bosan? Rasanya Max ingin mencekik leher Zee.

“Jadi kamu mau apa Regina Sundoro…?” tanya Max mulai tidak sabar.

“Jalan-jalan…. Aku bosan sekali Max. Rasanya aku bisa membuat peta di selimut-mu ini.” keluh Zee menjadi-jadi.

Membayangkan Zee mengubah selimut sutra biru langitnya menjadi gambar peta, langsung membuat Max takut. Lebih baik ia membawa Zee pergi sebelum rumahnya ini hancur berantakan.

Jadi Max menyuruh Zee berganti pakaian dan bersiap-siap. Sedangkan ia sendiri masuk ke dalam dapur menyediakan bekal. Lalu menarik asal pakaiannya yang baru dicuci dan kembali menengok Zee.

Ia mengetuk pintu terlebih dulu sebelum melongokan kepala ke dalam kamarnya. Zee sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos garis-garis.

“Astaga, kaos kita sama.” celetuk Max sambil menunjukan kaosnya pada cewek itu.

“Oh No! Copot, ganti!” teriak Zee asal.

“Wah mana bisa begitu, kamu saja yang ganti, kan aku duluan yang pakai.”

Ia mengambil tas selempang milik Zee dan membawanya keluar, “Aku tunggu di luar. Ah, hampir lupa. Ini untukmu. Lalu hamstermu sudah aku titipkan pada tetangga. Si kecil Darren kan?”

Max meletakan tongkat di samping Zee kemudian kembali berjalan keluar, membawa semua barang ke dalam mobil. Benar mobil BMW-nya, dengan Zee yang sudah mengetaui identitasnya ia tidak perlu menyembunyikan kendaraannya lagi.

Ia menyusul kembali ke atas ketika mendengar Zee berteriak memanggilnya. Apalagi sih yang dibutuhkan cewek itu? Walaupun kesal, tapi senyum ceria terpampang di wajah Max.

Ia berhenti ketika melihat Zee berdiri dengan bertolak pinggang, eh, tongkat. Kesulitan untuk menuruni tangga.

“Gendong aku turun….” gerutu Zee tidak sabar.

 

Max menyengir malas, ia sudah menduga kalau Zee pasti akan meminta bantuannya. Zee akan selalu menjadi Zee, cewek merepotkan.

Ia mengendong Zee seperti mengendong tas ransel. Seharusnya dengan posisi seperti itu, Zee merasa lebih nyaman. Tapi Max malah merasa sedang mengendong monyet yang tidak bisa diam. Sedikit-sedikit Zee tertawa dan kegelian. Melonjak-lonjak dalam bopongannya. Membuatnya kesulitan menuruni tangga.

“Zee, berhenti bergerak aku tidak bisa menjamin kepala kamu aman kalau kamu terus seperti ini.” marah Max tidak sabar.

Zee memang berhenti bergerak dan berhenti tertawa. Tapi ia bisa merasakan pundak Zee tetap naik turun dan bergetar menahan tawa. Dengan sengaja Max melempar Zee sedikit, mau menakuti cewek itu.

Tapi sialnya, tongkat Zee yang berada di bawah dagunya mengenai lehernya. Rasanya lumayan, jiwanya melayang sedikit.

“Ooopss…” celetuk Zee dan rasanya super menyebalkan.

 

Max tidak menutupi emosinya, dengan sengaja ia menjatuhkan Zee ke jok mobil cukup keras. Ia menutup pintu mobil tersebut, tidak mempedulikan keluhan Zee.

Ketika ia masuk ke dalam mobilnya cewek itu menyambutnya dengan pertanyaan sinis.

“Pamer Max?” sindir Zee soal mobil mewah yang Max kendarai. Seharusnya ia tidak terlalu terkejut, Max seorang artis sekaliber Jackie Chan kan? Sudah sewajarnya cowok ini mempunyai satu atau dua mobil mewah. Tapi tetap saja ia merasa aneh, melihat perubahan mendadak dari sepada menjadi mobil mewah. Cowok berantakan menjadi rapi dan tampan?

“Bawel.” balas Max siap memulai perdebatan baru, tapi ketika ia menolehkan wajahnya, Zee memasang tampang puas dan senang malah bisa dibilang semuringah.

Max mengucek rambut Zee gemas. Cewek ini memang sulit untuk dipuaskan. Tapi reaksinya selalu berhasil membuatnya merasa bersyukur sudah membuat cewek ini senang.

 

Sepanjang perjalanan ke tempat tujuan mereka, perdebatan terus terjadi. Bisa tentang apa saja. Awalnya mereka membicarakan mobil Max yang menurut Zee kelewat bersih dan bahkan terkesan masih baru. Max tidak terlalu bisa berdebat tentang hal itu, karena mobilnya memang baru ia beli sebelum liburan ini. Kebetulan juga jarang ia pakai, karena ia harus selalu mengendarai sepeda selama hidup dengan Zee.

“Lho, memangnya itu salah aku?” tanya Zee tidak terima ia dipersalahkan.

“Tidak juga, tapi aku saja yang ketakutan kamu akan bersikap berbeda.”

“Berbeda bagaimana maksudmu, Obelix!?”

“Obelix? Kamu tidak baru saja menamaiku dengan panggilan itu kan?”

“Tentu saja kamu! Memangnya kamu meliat cowok lain yang punya nafsu makan sebesar Obelix, suka membopong orang layaknya barang, selain kamu, Max?” ledek Zee.

“OBELIX!?!” tanya Max sengit, tapi otaknya berpikir dengan cepat dan menciptakan nama baru untuk Zee, “Kalau begitu kamu si Pokoyo!”

“Po..Koyo?” tanya Zee bingung, setahunya Pokoyo itu bayi kecil yang suka membuat masalah dalam proses belajarnya.

“Benar, si sok tahu dan ceroboh!”

 

Nama baru terus tercipata oleh Zee dan Max sepanjang perjalanan itu. Karena tidak ada yang menang dalam adu silat lidah. Mereka memutuskan gencatan senjata sebentar. Zee tertidur akibat pengaruh painkiller.

Saat terbangun kembali, mereka sudah memasuki area pegunungan dan semakin masuk ke dalam. Zee yang sudah lama tidak pernah melihat deretan gunung dan langit sebiru dan sedamai yang ia lihat sekarang, tidak bisa menahan diri. Ia dengan tidak sopannya, mematikan AC dan membuka kaca mobil. Mengeluarkan tangan serta sedikit kepalanya, sambil terpejam menghirup semua udara segar yang ada. Tidak ada matahari yang terlihat, mungkin sekarang sudah sore atau matahari itu bersembunyi di balik awan, Zee tidak peduli, ia menyukai terpaan angin yang menyentuh mukanya, tangannya.

“Masukan kepala dan tanganmu Zee, mobil ini design untuk hal-hal tertentu demi kesenanganmu itu.”

Max menurunkan kaca mobilnya lalu atap mobil. Dengan kap terbuka, Zee mengangkat ketdua tangannya dan berteriak kegirangan. Max tidak bisa tidak ikut tertawa atau bahkan sekedar tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan Zee.

“Dasar Pokoyo!” gugam Max.

 

 

 

 

 

Mereka sampai di Bandung atas, dekat Gunung Tanguban Perahu. Tadinya Max hanya ingin mencari daerah yang cukup tenang. Tempat dimana Zee bisa beristirahat, namun Max merasa ia harus memperkenalkan keindahan serta kemisteriusan alam Indonesia pada Zee.

Max sudah ingin melakukan perjalanan ini karena mendengar keindahan alamnya. Danaunya, ada sesuatu di sana yang menarik dirinya. Mungkin karena cerita sedih yang ia dengar, cowok yang ditolak cinta seperti dirinya?

Tiba di dekat danau, ia membantu Zee turun dari mobil dan mengendong cewek itu lagi sampai mereka tiba di dek dekat danau besar berwarna abu kehijauan.

Bukan pemandangan yang ingin ia lihat, karena danau ini tidak bisa dijadikan area peristirahatan, seperti menebarkan tikar dan duduk-duduk di sana. Daerah tepi danau Takuban Perahu praktis dikelilingi oleh bebatuan. Orang yang datang hanya bisa melihat-lihat dan berfoto. Jadi Max berencana untuk bertanya orang sekitar, mencari tempat lain untuk bersantai.

“Aku ingin menyuruh kamu menungguku sebentar, tapi kamu pasti akan melanggarnya. Jadi tolong jika kamu mau mengetes kakimu, jangan terlalu jauh. Aku akan kembali sebentar.”

 

Zee mengangguk lalu melemparkan senyum ceria. Kemudian membalikkan badan dan merentangkan tangannya. Cuaca sore ini begitu sejuk. Ia bisa merasakan desiran angin serta sedikit kehangatan sinar matahari. Cuaca yang paling ia rindukan dari Kanada.

Ia bisa mencium bau lembab dan rumput di sekitarnya.  Padahal baru bebrapa hari ia terkurung di rumah, tapi rasanya sudah berabad-abad ia tidak merasa bebas seperti ini. Ia tertawa, begitu bahagia sampai tidak sadar Max sudah kembali padanya.

“Tahu kamu begitu suka berada di luar, aku akan meninggalkan kamu di sini. Setidaknya aku pasti terselamatkan dari mulutmu yang bawel.” celetuk Max. Ia kembali dengan termos minuman untuk Zee. Cewek itu harus meminum obatnya sebentar lagi.

Max menatap ke arah danau sambil memicingkan mata, pura-pura menyelidiki keadaan danau di seberang sana. Padahal ia sedang memyuruh jantungnya untuk berdetak lebih pelan. Zee terlihat begitu berkilauan ketika tertimpa cahaya matahari tadi dan sungguh ia tertegun melihat senyuman Zee.

Terpesona? Ah, itu pasti karena Zee terlalu lama memasang tampang cemberut dan ia rindu dengan senyumam Zee, gugam Max dalam hati.

 

“Kamu tahu cerita dibalik danau ini?” tanya Max sedikit belagu padahal ia sendiri tidak begitu hafal dengan cerita Sangkuriang ini.

Tentu saja Zee mengeleng, cewek itu hidup terlalu lama di negeri orang, bagaimana mungkin tahu mengenai cerita rakyat di negara kelahirannya.

“Ceritanya ada cowok bernama Sangkuriang yang jatuh cinta pada Dayang Sumbi, tanpa mengetahui kalau cewek itu ibunya sendiri.”

“Ih, Mother-complex!!!”

“Aku bilang dia tidak tahu itu ibunya, Zee. Ceritanya si Dayang Sumbi ini punya ilmu gaib, jadi tidak bisa tua, dan ibu-nya sendiri tidak tahu kalau Sangkuriang itu anaknya dan ketika sadar sudah terlambat. Sangkuriang sudah terlanjur cinta. Katanya lagi, Dayang Sumbi meminta untuk dibuatkan perahu dan danau dalam 1 malam lalu sengaja menipu Sangkuriang agar gagal.”

Max menunggu Zee mengomentari ceritanya, tapi cewek itu hanya membisu, seperti sibuk dengan pikirannya sendiri jadi ia kembali bercerita, “Dayang Sumbi berdoa memohon bantuan sang Maha Agung untuk mendatangkan pagi lebih cepat. Ayam berkokok lebih cepat, menandakan kalau Sangkuriang sudah gagal. Kemudian ia tahu kalau Dayang Sumbi telah berlaku curang. Merasa kesal karena sudah dibohongi, Sangkuriang membalikkan perahu yang dibuatnya dan kemudian dikenal menjadi Gunung Tangkuban Perahu.”

Lagi-lagi Zee hanya membisu, membuat Max bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan Zee. Ia menoleh dan mendapati cewek itu memejamkan mata, kemudian tersadar kalau cewek itu tertidur sambil berdiri.

Apa ceritanya begitu membosankan hingga cewek ini bisa tertidur?

“WOY!!!!!” teriak Max mengagetkan Zee, membuat cewek itu tersentak ke depan.

Setengah badan Zee sudah terlempar ke seberang tiang pembatas jurang, seandainya Max tidak cukup cepat mengangkap Zee dan menariknya kembali.

“Brengsek Zee!!! Aku pikir kamu akan terjatuh ke sana.” tutur Max masih dengan jantung berdebar, kerigat dingin dan pikiran kacau.

“Kita pulang!” perintah Max lalu menarik Zee, lupa kalau kaki cewek itu sakit sampai ia mendengar Zee terisak.

Max mengerang, tidak, Zee tidak seharusnya menangis. Karena dirinya yang lebih pantas untuk meraung-raung di tempat ini. Ia hampir saja membunuh orang. Ia hampir membunuh Zee!

“Ada apa?!” tanya Max dengan mata melotot.

Ia benci apa yang ia lihat saat itu. Zee dengan kaki pincang dan muka merah penuh air mata. Ia benci sudah membuat cewek itu menangis. Benci karena dialah yang membuat Zee kesakitan.

“Sakit bodoh! Kamu tuh memang cowok kasar! Tongkatku juga tertinggal di sana! Dasar mahluk purba!” maki Zee disela-sela tangisannya.

“Maaf…” ujar Max dan menarik Zee dalam pelukannya, menenangkan cewek itu. Ia memang cowok bodoh.

“Kita jadi pulang?” tanya Zee setelah selesai menangis. Yang konyolnya itu hanya beberapa detik setelah dipeluk Max, dalam hati kecil Max merasa ia lagi-lagi dikerjai oleh Zee tapi tidak terlalu yakin juga.

“Terpaksa Pokoyo, aku tidak bisa tentang jika tidak memeriksa kakimu.” gugam Max.

Meliat wajah kecewa Zee, Max terdiam. Seandainya cewek ini juga thau kalau sebetulnya ia juga kecewa karena perjalanan mereka harus berakhir. Zee pasti akan merayunya dengan segala cara agar ia membatalkan niatnya untuk pulang. Max tahu ia pasti akan luluh pada rayuan Zee. Karena selalu seperti itu bukan? Ia tidak pernah bisa menang jika Zee sudah  memasang tampang jeleknya dan menekuk muka seperti ingin menangis.

Max menyuruh Zee membantunya membuka pintu mobil dan menurunkan cewek itu. Menyuruhnya menunggu agar ia bisa mengambil tongkat Zee.

Perjalanan kembali dilalui dalam diam. Max tahu Zee sengaja, karena tidak ada seorang pun yang sebetulnya ingin pulang. Tapi ia tidak bisa mengajak Zee berbicara atau bahkan sekedar meledek cewek itu sekarang. Ia perlu mengumpulkan keberanian dan menyusun pertahanan yang kuat, karena ia tahu, satu kata saja keluar dari mulut Zee, maka ia akan kembali melanjutkan perjalanan, menuju villa di atas bukit, tempat yang seharusnya mereka kunjungi.

Syukurlah, setengah jam kemudian Zee tertidur, membiarkan Max sendiri menelusuri jalanan malam kembali ke apartement.


 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 9

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s