M to Z – Epilog (Tie 25)

Zee sedang duduk di taman, menghadap danau besar, di Puncak. Ini perayaan 6 bulan sejak ia dan Max berpacaran. Walau Zee ragu apakah 6 bulan ini bisa dianggap berpacaran. Rasanya ia lebih banyak bekerja. Ia sudah menjadi stylist pribadi FoxT. Cynthia menganggap itu kontrak besar, karena mereka bersedia membayar 500 juta untuk kontrak 1 tahun. Zee masih sering meringkis melihat besarnya nilai kontrak tersebut. 500 juta untuk seorang stylist rasanya agak berlebihan. Walau pada akhirnya ia sadar mengapa ia dibayar sebesar itu.

Pekerjaannya amat gila dan tidak mengenal waktu. Sehari ia bisa ada di Jakarta, esoknya mereka di Singapura. Sebulan di Jepang, bulan berikutnya di Korea. Zee rasa passportnya sudah diperbaharui 3 kali dalam 6 bulan ini.

Tapi apa yang bisa ia keluhkan? Dibanding teman-teman atau dalam hal ini pacar-pacar mereka, ia bisa selalu bersama Max.

 

Lamunan Zee terputus ketika merasa hp-nya bergetar, Max yang menelepon.

“Kamu dimana sih?” tanya Max galak.

“Katanya ketemu di taman??”

“Aku sudah di taman. Kamu dimana?”

“Bangku sebelah jam besar kan?”

“Jam besar? Batu besar, Zee. Kamu tuh, ah sudah, kamu diam saja di sana. Nanti malah nyasar entah kemana.”

Klik, telepon terputus begitu saja. Zee mendengus. Belakangan Max rasanya marah-marah melulu.

Sesuai perintah Max, Zee tetap duduk di bangku itu walau gerimis mulai turun. Membuat Zee meringkuk lebih rapat dalam jaketnya.

“Seandainya ada kopi panas…” gugam Zee seorang diri. Dipikirnya Max masih belum tiba.

Tapi kemudian ia meihat cowok itu berlari ke arahnya dengan ransel.

Zee menyerengit, untuk apa cowok itu membawa ransel?

Sebelum Zee membuka mulutnya bertanya, Max sudah mengomelinya terlebih dahulu.

“Kamu tuh betul-betul tidak bisa dipercaya. Masa batu dengan jam bisa salah sih, non!”

Malas menanggapinya, Zee hanya mendengus. Max duduk di sampingnya setelah meletakan ransel di tanah. Zee merasa hangat seketika, mungkin karena Max habis berlari.

“Selamat hari jadi.” seru Zee kencang ke kuping Max, sengaja membuat pacarnya marah. Ia menyodorkan kotak kecil yang sedari tadi dikantonginya.

“Apa itu?” tanya Max setelah mengelus-elus kupingnya yang mendadak budek mendengar teriakan Zee. Ia membuka kotak tersebut dan menemukan gelas berbentuk wajahnya dan wajah Zee.

“Aku tidak tahu kamu mengingkan yang mana, jadi lebih baik dua-duanya aku berikan padamu.” ucap Zee dengan wajah berbinar-binar senang.

“Thank you!” ujar Max dan memeluk Zee sebentar, sebelum kembali memperhatikan gelasnya. “Zee, memangnya hidung aku sebesar itu??”

“Memang!”

“Terus, dagunya kenapa kasar begitu?”

“Oh itu, sempeet jatuh.” jawab Zee asal.

“JATUH?!” suara Max naik satu oktaf tapi buru-buru mendengus ketika melihat Zee tersenyum centil padanya. Cewek ini!

“Itu jenggot ceritanya, Max. Kamu tuh bawel banget!”

“Tentu saja bawel, kalau kamu membuat gelasku gemuk sedangkan punyanya kurus langsing.”

“Yah suka-suka aku dong.”

Zee kembali membuang muka, sedikit tersinggung atas komentar Max.

“Zee…” panggil Max dengan nada merayu. Cewek itu tetap membuang muka, jual mahal.

“Kalau kamu tidak mau menoleh, aku akan membuang hadiahmu ke danau.” ancam Max.

Buru-buru, Zee menoleh. Ia tidak menyangka Max akan membelikannya hadiah. Ia bahkan tidak melihat cowok itu keluar sendirian tanpa dirinya.

Max menjuntai kalung berbentuk kunci dengan batu merah ditengahnya.

Zee menatap kalung tersebut dengan wajah terkejut. Ketika Max menyuruhnya berbalik dan berkata akan memakaikan kalung tersebut. Ia memainkan kalung tersebut dan menyadari ada grafiti yang diukir di gagang kunci tersebut.

“Max to Zee, vice versa.” baca Zee dan seketika itu juga airmatanya menyembul di pelupuk matanya. Ia mendongkak dan melihat Max tersenyum padanya, membuat dirinya sendiri tersenyum.

Saat ia melihat Max berdiri dan mengulurkan tangannya pada Zee. Ia cuma bisa menatap bingung.

“Buruan, tanganku pegel nih. Serahkan tanganmu padaku.”

Dalam kebingungan Zee menyerahkan tangan kanannya pada Max dan cowok itu  menariknya hingga berdiri dan berada dalam pelukan Max.

“Kamu Regina Sundoro adalah pemilik hatiku.”

Kalau tadinya Zee merasa terharu, sekarang tidak lagi. Ia tertawa tergelak. Tidak biasa mendengar Max mengucapkan kata-kata romantis kacangan seperti itu. Mungkin Micky atau Jack yang mengajarinya.

“Siapa yang mengajarimu? Biar aku marahi dia.” tanya Zee.

“Micky! Aku sudah bilang padanya kamu tidak mempan. Argh….” erang Max malu. Ia memeluk Zee dan meletakan dagunya di kepala Zee.

Zee tersenyum di dada Max dan balas memeluk pacar bodohnya ini.

“Max, kamu juga pemilik hatiku.” bisik Zee.

“Ngomong kencengan, Zee. Aku tidak dengar.”

Zee mencubit punggung Max, membuat cowok itu melepaskan pelukannya.

“Kamu berhutang sendal padaku!!” ujar Zee kemudian berlari secepat yang ia bisa.

 

Seperti biasa, Max marah-marah di tempat dan berteriak menyuruh Zee kembali sebelum akhirnya sadar, kalau cewek itu akan terus berlari menjauh sampai ia menangkapnya. Tapi bodohnya, Zee berlari ke arah taman kosong, memudahkan Max untuk mengejarnya.

Ia segera menyusul dan terus mengapaikan tangannya untuk menangkap jaket Zee. Ketika ia berhasil, mereka sama-sama terguling di atas rumput. Max menempatkan Zee di bawahnya, menahan cewek itu agar tidak kabur.

“Kamu bilang apa?” tanya Max sambil terengah.

Zee hanya tertawa bodoh sambil mengatur nafas dengan wajah terpejam, ketika ia membuka matanya, ia merasa jantungnya pindah ke perut karena wajah Max hanya bertaut beberapa senti darinya.

Max mau menciumnya.

Zee tidak tahu bagaimana ia tahu, mungkin dari kilatan mata Max yang tiba-tiba terasa dalam dan panas, atau karena dirinya sendiri merasa tegang luar biasa. Tapi ketika Max menundukan kepalanya, ia kembali memejamkan mata. Ia tahu Max semakin dekat dengannya. bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas Max yang panjang pendek.

Dan seketika ia mendengar bunyi splash splash dan mendadak merasa basah.

Max berguling ke samping dan tergelak. Membuat Zee ikut duduk dan menatap cowok itu bingung. Agak sulit melihat mengapa Max tertawa dengan matanya yang tersiram semprotan taman.  Sepertinya taman ini dilengkapi dengan springkel otomatis untuk memnyiram rumput.

“Pulang yuk.” ajak Max sambil mengulurkan tangannya pada Zee dan menarik cewek itu berdiri.

Sekarang mereka betul-betul basah kuyup dan entah mengapa, Max kembali tergelak. Ia menarik Zee dan kali ini tanpa aba-aba, mengecup bibir Zee.

Ciuman panjang yang akan selalu dikenang oleh mereka. Selain rasanya basah dan berbau rumput, mereka juga dikejar-kejar oleh satpam taman tersebut karena sudah berlari di atas rumput.

 

-The End-

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Epilog (Tie 25)

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s