M to Z -Tie 17

Max tiba di depan rumah Zee cukup pagi, lebih pagi dari biasanya ia bangun ketika dirinya sendiri yang bekerja, karena ia mengenal dengan baik cewek bodoh yang satu ini.Tidak bisa bangun sebelum jam 8. Sedangkan pekerjaannya menuntut Zee untuk tiba lebih pagi.

Jangan samakan dengan dirinya dulu. Saat itu ia sedang berlibur. Ia berhak untuk setiap menit yang ia habis di atas kasurnya. Karena saat ia bekerja, paling banyak ia tidur 4 jam sehari.

Ia mengebel sekali, dua kali, tiga kali. Tetap saja cewek itu tidak keluar. Max menarik kunci dari kalungnya, kunci rumah Zee.

Hembusan angin menyambut Max, membuat cowok itu kelilipan.

“Cewek bodoh itu pasti lupa mengunci pinta beranda lagi.” omel Max sambil berjalan menuju ujung ruangan, menutup pintu kaca.

“Zeee….” panggil Max di luar kamar cewek itu.

Lagi-lagi hening. Max menelepon HP Zee, hal yang seharusnya ia lakukan dari tadi. Max tidak bisa mendengar suara ringtone Zee yang super norak, kalau belum tahu cewek itu memakai suaranya sendiri sambil bernyanyi tidak jelas.

“Yosh… Maxie…. ada apa?” jawab Zee.

“Kamu dimana Non?” tanya Max. Ia menyandar di pinggir meja makan.

“Aku? Sedang lari pagi.” jawab Zee santai.

Dahi Max mengerut, “Kamu? Lari pagi? Omong kosong! Dimana Zee? Setengah jam lagi kamu harus masuk kerja.”

“Kalau begitu Tuan Maha Pintar, coba tebak aku dimana?”

Max mendengar suara deru mesin dari kejauhan. Cewek itu pasti benar-benar ada di luar. Tapi dimana?

“Aku tidak tahu.” jawab Max akhirnya, mengakui kekalahannya dan ia sangat mengerti hal itu tentu membuat Zee senang luar biasa.

“Aku akan memberikan kamu satu hari untuk menemukanku. Selamat berjuang.”

“Hey… Zeee….. aku harus ke Papua.” seru Max terlambat. Cewek itu sudah memutuskan telepon. Menyisakan Max memaki-maki.

Benar, ia harus ke Papua, ada satu pulau kecil di sana yang bernama Raja Ampat, dekat dengan Sorong juga. Ia dan teman-temannya akan melakukan shooting video klip di pulau tersebut. Pantai mereka terkenal yang paling indah dengan pasir putih dan air bening berwarna biru.

Masalahnya ia harus pergi selama 1 minggu. Oleh karena itu pagi ini ia bermaksud menghabiskannya dengan Zee. Dan mengucapkan salam perpisahan padanya.

Ia mencoba menelepon HP Zee kembali, tapi sudah mati total.

“AARGHHHH!!! Dasar cewek bodoh!!!” maki Max sambil memukul meja. Untung meja itu terbuat dari kayu, kalau dari kaca, pasti sudah hancur berantakan.

Max meninggalkan voicemail pada Zee, memarahinya sebelum mengatakan jadwalnya. Setidaknya cewek itu harus tahu kalau ia akan pergi.

Di tempat lain, di sebuah ruko bertingkat 4 dengan gaya arsitektur Roma, Zee sedang duduk dengan sabar. Ia diminta menunggu kedatangan Cynthia. Rupanya calon boss-nya itu sedang rapat dan tidak bisa diganggu.

Zee memperhatikan foto-foto yang tergantung di dinding, ada banyak artis dalam dan luar negeri, beberapa politisi juga terpampang di sana. Mungkin mereka adalah klien-klien perusahan styling ini.

“Zee….” panggil Cynthia super ramah dan memeluk Zee.

Sedangkan Zee? Ia hanya bisa pasrah, dan merutuki dirinya yang tidak memilih pakaian lebih baik. Berhadapan dengan Cynthia yang mengenakan dress rancangan designer luar dan sepatu bertumit 12cm, Zee seperti anak kecil.

“Kita ke ruanganku yah.”

Zee tidak bisa melihat kemana. Cynthia menarik masuk Zee ke dalam ruangan yang terletak di ujung kanan. Kalau tidak mau mengatakan Zee terseret olehnya.  Zee tidak diberi kesempatan untuk melihat rekan-rekan kerjanya atau seperti apa tempat kerja barunya ini.

Begitu masuk, Zee spontat terbelalak melihat betapa berantakannya ruangan itu. Bahkan lebih berantakan dari kamarnya yang 1 minggu tidak dirapikan. Padahal kata Max kamarnya itu sudah seperti lubang kuda nil.

Sofa di ruangan tersebut tidak bisa didudukin dengan adanya timbunan baju di sana. Mejanya dipenuhi berbagai macam aksesoris dan majalah. Sepatu di pojokan lain.

Zee berdiri seperti monyet bingung di depan pintu di samping Cynthia yang mengatakan dengan bangga, “Ini ruangan styling kita. Aku tahu tempat ini sangat kacau. Asistentku sudah tidak masuk beberapa hari jadi…. Begitulah, aku bersyukur kamu menerima tawaranku.”

Cynthia maju beberapa langkah ke depan dan mendadak berbalik badan serta memasang senyum yang entah mengapa Zee menganggapnya menyeramkan. Seperti kucing ibu tiri Cinderella????

“Zee, aku akan sangat berterima kasih jika kamu bisa merspikan ruangan ini hari ini. Besok kita akan kedatangan beberapa tamu dan akan sangat menyulitkan kalau para styler senior kita tidak bisa membedakan dimana baju dan dana gaun. Kamu bisa mengambil kardus atau stand pakaian di luar jika kurang. Tapi yolong selesaikan hari ini juga.”

Zee cuma bisa mengangguk bodoh. Memangnya mungkin apa kalau dia menolak tugas pertamanya ini atau mengatakan tidak mungkin menyelesaikannya dalam satu hari.

Tapi ucapan Cynthia berikutnya yang membuat Zee panas.

“Zee, besok tolong datang rambut coklat yah. Aku tidak suka karyawanku ada yang berambut lebih merah dari rsmbutku sendiri.”

Rasanya Zee ingin melempar tasnya ke muka Cynthia. Tapi entah bagaimana ia sanggup menahan diri dan mengangguk.

Cynthia keluar dari ruangannya dengan senyum cerah.

Zee melempar tasnya kesal. Ia tidak terima Cynthia mempermasalahkan soal warna rambutnya. Padahal rambut Cynthia sendiri nyaris pirang. Jadi sejak kapan warna merah lebih terang dari pirang?

Ia mengecek beberapa barang di sana, menghitung-hitung berapa lama yang ia butuhkan untuk barang-barang tersebut. Setelah berpikir sejenak, ia mengambil kembali tasnya lalu keluar. Mencari supermarket terdekat. Ia harus mencari pewarna rambut dan mengecatnya sambil merapikan semua barang-barang ini.

Tidak ada yang memusingkan dirinya yang bolak balik ruangan dengan kepala digulung handuk. Bahkan tidak ada yang bertanya ia siapa ketika ia menarik hanger baju. Zee sepenuhnya diacuhkan.

Tapi siapa yang peduli apakah Zee mendapatkan teman atau tidak jika ada bertumpuk-tumpuk barang yang tidak beraturan dihadapannya, menunggu untuk dirapikan.

Zee merapikan pakaian tanpa kesulitan. Seperti  barang-barang itu hanya asal dilempar, tidak sepenuhnya berantakan. Tapi ketika menyusun aksesoris, Zee agak kesulitan.

Semua benda itu sepertinya bisa rusak atau rontok jika diperlakukan dengan salah. Zee harus mencari banyak kantong atau kotak bahkan beberapa diantaranya dia lilitkan agar tidak menyatu dengan yang lainnya.

Pokoknya Zee melakukan yang terbaik untuk urusan susun menyusun ini. Ia harus mendapatkan pekerjaan ini, apapun taruhannya. Ia ingin membungkam mulut Max yang mengatainya pengangguran.

Jam menunjukan pukul 9 malam ketika Zee meninggalkan gedung dan naik taxi pulang. Seluruh badannya seperti remuk dan rambutnya menjadi hitam pekat karena ia terlalu lama membiarkan pewarna rambut itu di kepalanya.

Ketika melihat rambutnya tadi, Zee hampir saja menangis. Ia sama sekali tidak suka dan bisa dikatakan benci melihatnya. Kulitnya jadi terlihat pucat dan menyeramkan.

“Zeee…. Telephone…… Angkat…..!!!!! Angkat dodolz!!! Cape nih teriak-teriak!!!!!” raung Handphone Zee dari dalam tas.

“Hallo?!” seru Zee terlalu panik dan malu karena ia masih ada di dalam taksi.

“Zee? Kamu dimana?” tanya Brian.

“Baru pulang kerja.” jawab Zee lemas. Brian adalah orang terakir yang ingin dia ajak bicara malam ini. Terlebih setelah pembicaraan mereka kemarin.

“Kamu kerja? Dimana? Kok tidak cerita? Aku tunanganmu Zee, ingat?”

“Calon, Brian! Calon! Berapa kali sih kita harus membahas masalah ini agar kamu menegerti? Aku tidak suka dipaksa dan aku yakin Nenek juga begitu.” tolak Zee.

“Kata siapa Zee? Aku sudah meminta ayahku untuk menghubungi nenekmu. Dan beliau dengan senang hati akan datang ke Jakarta untuk acara pertunangan kita.”

Zee membisu. Tidak mungkin! Neneknya tidak mungkin setuju datang ke Jakarta. Neneknya benci melakukan penerbangan jauh dan yang lebih penting. Neneknya kan belum menanyakan bagaimana tanggapannya soal Brian.

Seakan mengerti pikiran Zee, Brian berkata, “Aku mengatakan pada ayahku kalau kamu setuju dengan pertunangan kita.”

“Kamu pasti sudah gila! Orang tua kamu juga! Bagaimana mungkin mereka menikahkan anaknya dengan orang yang belum pernah mereka temui!” teriak Zee frustasi.

“Karena mereka percaya padaku Zee. Terlebih lagi, kamu ini calon yang diusulkan oleh kakek. Ayahku yakin kamu adalah yang terbaik. Karen ayahku juga percaya dengan pilihan kakek. Sama seperti aku.”

“Kamu gila! Kalian gila! Apa sedikit pun kalian tidak mikirkan bagaimana perasaan aku?” raung Zee lagi. Si supir taksi sampai menengok, melihatnya bingung.

“Apa kamu tidak menyukaiku Zee?”

“Bukan begitu!!!!”

“Kalau begitu tidak masalah kan? Perasaan bisa tumbuh belakangan, aku yakin aku bisa membuat kamu jatuh cinta padaku.”

Terus terang Zee bingung mau menjawab apa pada kepercayaan diri Brian itu. Jadi dia hanya melemparkan tantangan itu kembali.

Tapi kemudian ia mendengar Brian tertawa dan menjawabnya dengan riang, “Tentu Zee. Aku berjanji kamu tidak akan menyesal memilihku.”

Telepon terputus. Begitu saja. Dan sekarang ia menjadi target Brian? tanya Zee pada dirinya sendiri. Ia menyerengit kemudian menghela nafas. Bingung harus senang atau sedih karena untuk pertama kalinya ada cowok yang tertarik untuk benar-benar mengejarnya.

“Sampai non.” ujar si supir taksi mengagetkan Zee.

Setelah Zee membayarkan ongkosnya si supir taksi berkata, “Lain kali non, kalau berbicara melalui handphone jangan teriak-teriak yah. Kasihan supir taksinya. Kalau saya sih budek non. Jadi tidak jelas non ngobrolin apa. Met malam non.”

Kemudian taksinya melaju pergi. Zee dari berdiri bengong sampai tertawa sakit perut. Syukurlah supir itu budek, atau ia pasti akan ditertawakan karena sudah bertindak seperti orang gila dan berteriak-teriak di telepon.

Advertisements

One thought on “M to Z -Tie 17

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s